MIUMI Sebagai Wadah Pemersatu Umat

Refleksi atas Silatnas Ke-V MIUMI di Makassar

 
Krisis multi dimensi ditandai dengan banyaknya masalah yang terus-menerus menerpa bangsa Indonesia, terutama umat Islam sebagai penduduk mayoritas. Mulai dari masalah kemiskinan, pengangguran, kesenjangan, konflik sosial, westernisasi, distorsi pemberitaan, korupsi, birokrasi yang buruk, eksploitasi kekayaan negara, penguasaan asing pada sumber daya alam, melimpahnya buruh Cina, migran dari muslim Rohingya yang terusir, atau dari negara-negara Islam yang berkonflik, hingga merebaknya penyakit sosial, dekadensi moral, perbuatan asusila, dan menjamurnya aliran sesat dan menyesatkan.

Satu masalah dengan masalah lainnya saling kait-mengait, terhubung dengan kompleks dari satu jalur ke jalur lainnya yang menjadikan ujung satu masalah menjadi pangkal dari masalah yang lain.

Pun, yang tak kalah serius adalah merebaknya problem syiahisasi dalam bentuk penyebaran akidah Syiah Imamiyah dari Iran, infiltrasi kader-kader Syiah ke berbagai sektor kehidupan, penghujatan akidah keislaman dan tokoh-tokoh panutan Ahlussunnah, agenda revolusi kaum Syiah, penampakan simbol-simbol dari ritual Syiah, lobi-lobi politik, dan sebagainya, (Waskito, 2012).

Tak pelak lagi, gerakan syiahisasi menambah rumit  persoalan umat. Saat kaum muslimin menghadapi 1001 masalah internal dan eksternal, pada saat yang sama kita harus menghadapi tantangan besar dari gerakan Syiah yang ingin merusak tatanan keagamaan yang benar.

Dalam kondisi demikian, maka kita harus berfikir arif, dan bijak dalam menghemat energi kehidupan, lalu memaksimalkan kerja dan peluang, merapatkan barisan, menambal berbagai kebocoran, saling menolong dalam kebaikan, saling menjaga agar tidak terjerumus dalam kemungkaran, saling mengasihi, peduli antarsesama. Intinya, harus bersatu menghadapi tantangan dan melawan segala bentuk keburukan dan penyesatan.

Namun, tidak mudah memang mewujudkan harapan agar umat ini dapat bersatu. Dalam situasi penuh tantangan ini, kita tidak tergerak untuk bersatu, atau mencari-cari jalan mengislahkan perselisihan; tetapi kita justru banyak terlibat dalam konflik dan perselisihan antar sesama.

Sekjend MIUMI, Ustad Bachtiar Nasir, pernah mengungkapkan bahwa bersatu saja kita belum tentu menang apalagi sendiri-sendiri. Ungkapan ini memperjelas betapa butuhnya kita kepada upaya menyatukan kaum muslimin untuk merapatkan barisan, serta saling kerjasama dan bahu-membahu dalam mengurai persoalan umat.

Benar, apa yang dikata UBN--panggilan Akrab Ustad Bachtiar Nasir--sebab, Imam Ali sudah pernah menemukan sebuah teori alamiah, katanya, Al-Haq bila nizham yaghlibuhul bathil bin-nizham. Kebenaran yang kocar-kacir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi.

MIUMI dalam agenda kerjanya, selain menegasi kristenisasi, dan membendung liberalisme, penguatan Ahlussunnah adalah menjadi agenda yang paling utama. Dan, sebuah karunia besar bagi umat Islam, terutama kita di Indonesia karena mayoritas umat Islam adalah berpaham Ahlussunnah wal Jamaah yang menyebar ke berbagai organisasi, komunitas, lembaga, hingga partai politik. Jika saja segenap Ahlussunnah menyadari pentingnya persatuan, maka, umat Islam akan berdiri kokoh menjadi pemimpin bangsa dan menjadi tuan di negeri sendiri. Sayangnya, sesama Ahlussunnah sendiri terus menerus mengalami perpecahan dan pelemahan. Salah satu penyebabnya, karena saling menafikan antarsesama.

Lihat misalnya, buku karya Ustad Yazid Abdul Qadir Jawwas, "Mulia dengan Manhaj Salaf" menulis bahwa paham Asy'ari dan Maturidi sebagai bagian dari kelompok sesat yang bertentangan dengan akidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Namun, jauh sebelum itu, KH Sirajuddin Abbas, telah menulis buku "I'tiqad Ahlussunnah wal Jamaah", isinya, dengan tegas menyebut bahwa pemikiran Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai aliran sesat, lalu keduanya dimasukkan sebagai bagian dari 72 golongan yang sesat dan akan masuk neraka. Konyolnya, Ibn Taimiyah dituduh sebagai Wahhabi atau pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab yang sejatinya datang berabad-abad setelah wafatnya Sang Syaikhul Islam.

Nampak jelas, ada kontradiksi dari kedua belah pihak, karena satu pihak mengasilkan pihak lainnya. Padahal keduanya adalah Ahlussunnah dan yang sama-sama merasa paling selamat. Kini situasinya lebih rumit, apalagi isu "Wahabi versus anti Wahabi" merebak di mana-mana, yang nyatanya diembuskan pihak tertentu demi memecah belah umat lalu mengais keuntungan dari peperpecahan: memancing di air keruh.

Tidak ada jalan lain, kecuali kembali pada jalan persatuan dan kesatuan, mereduksi segala bentuk onak perpecahan yang mengakibatkan kenistaan. Walaupun ini adalah tugas negara menjaga keutuhan umat, khususnya Ahlussunnah wal Jamaah, namun melihat realitas yang akhir-akhir ini terus terjadi, nampaknya kita tidak bisa banyak berharap pada negara sebab mereka malah merangkul pihak-pihak yang ditengarai menjadi pemantik pertikaian dari golongan yang telah divonis sesat, terutama Syiah.

Maka, dengan kerelaan hati, walau ini adalah kerja-kerja swasta, namun pahalanya sangat agung dan jika persatuan dapat terwujud maka umat akan akur, negara makin kokoh, dan keamanan negara akan terus terjaga, ulama generasi muda yang bergabung dalam Mejelis Intelektual-Ulama Muda Indonesia (MIUMI) harus menyisihkan waktunya untuk merekatkan umat yang berada dalam kubang perpecahan, mengeluarkan mereka dari kooptasi kesempitan komunitas dan pikiran menuju komunitas Ahlussunnah yang sangat luas, minimal dapat tercermin dari kesatuan rukun Islam dan Iman.

Secara historis, seruan ke arah persatuan umat sudah lama didengungkan, bahkan sejak era para sahabat Nabi, Ibnu Mas'ud berkata, Wahai manusia, hendaklah kalian selalu taat dan komitmen dengan al-Jamaah, karena ia adalah tali yang Allah perintahkan untuk berpegang padanya, sesungguhnya apa yang mereka benci dalam naungan al-Jamaah, lebih baik daripada apa yang mereka cintai dalam keadaan berpecah belah, (al-Ibanah al-Kubra li Ibni Batthah, I/144).

Juga, berkata Ibnu Batthah al-Akbari, Wahai saudara-saudaraku, semoga Allah senantiasa memberikan taufik kepada kami dan Anda semua, ke arah jalan yang lurus dan persatuan, menjaga kami dan Anda semua dari perpecahan maupun perselisihan. Allah telah mengajarkan kepada kita tentang perpecahan umat-umat sebelum kita, bahwa mereka telah berpecah-belah dan berselisih paham menjadi golongan-golongan, sehingga perselisihan itu membuat mereka marah pada Allah, mendustakan-Nya, mengubah kitab-Nya, membuang hukum-Nya, dan melanggar segenap ketentuan-Nya.

Persatuan umat Islam hanya dapat tercapai jika segenap komponen Ahlussunnah yanga terdiri dari berbagai aliran organisasi dan komunitas legewo untuk bersatu, menanamkan toleransi dalam furu'iyah sambil melakukan pembinaan bagi mereka yang ditengarai meyimpang jauh dari masalah pokok agama, dan jika memang tidak bisa dirawat, jalan satu-satunya adalah melakukan amputasi supaya tidak menjalar kemana-mana.

MIUMI adalah harapan dan masa depan umat, di tangan para ulama muda yang progresif ini, umat dapat dipersatukan, tercerahkan, dan menjadi pemimpin masa depan bangsa. Menuju Indonesia yang lebih beradab. Silaturrahmi Nasional ke-5 MIUMI dengan tema, "Mengukuhkan Cita Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Beradab" akan dihelat di Makassar, 18 hingga 20 Desember 2015 ini adalah bagian dari langkah-langkah strategis membangun sinergitas umat dan menegakkan keutuhan bangsa.

Saya tutup dengan perkataan Sekjen MIUMI, KH. Bachtiar Nasir bahwa menyatukan umat itu sangatlah sulit dan beresiko, tetapi putus asa untuk menyatukan mereka jauh lebih berbahaya. Wallahu A'lam!

Solo, 17 Desember 2015.  Diterbitkan Harian Amanah 19 Desember 2015.


Ilham Kadir, Peneliti MIUMI dan Kandidat Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor.



Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an