Amanah dan Esensi Maulid




Saat para tetua Quraisy bersepakat untuk mengusir seluruh pemeluk agama Islam sekaligus menghabisi Nabi Muhammad karena dianggap sebagai biang kekacauan dan akan mengancam eksistensi wisata syirik di kota Makkah. 

Di lain pihak, penduduk Yatsrib terus-menerus dengan sukacita menerima para pendatang sebagai muntahan penduduk Makkah yang tak henti-hentinya diintimidasi, disiksa, bahkan diusir dari kota kelahirannya oleh teroris-teoris sejenis Abu Jahal yang jahat beserta komplotannya. 

Yatsrib, berada di sebelah utara Makkah dan berjarak sekitar 550 kilo meter, kemudian hari berubah nama menjadi Madinah atau Madinatun-Nabiy, diartikan sebagai kota Nabi berada adalah kota agraris yang sedang terkoyak-koyak perang saudara. Perdamaian tak kunjung tiba, para penghulu kota telah mendengar seorang rasul amanah yang diperkirakan dapat mendamaikan puak-puak yang bertikai, dan delegasi pun diutus untuk menjemput sang nabi pamungkas: Muhammad shallallahu alaihi wasallam

Nabi setuju, kaum muslimin satu persatu meninggalkan Makkah karena memang hanya diberi dua pilihan: tinggal di Makkah namun menanggalkan iman atau meninggalkan Makkah tanpa menanggalkan iman. Mereka memilih yang kedua.

Nabi menyusun siasat, mengelabui para utusan tetua Quraisy yang mengincar jiwa dan raganya. Ia menemui Ali bin Abi Thalib untuk menggantikan posisinya dalam menjaga titipan orang-orang Quraisy dan mengembalikannya pada pemiliknya, sebelum ia menyusul hijra ke Madinah.

Tidak banyak sejarawan yang mengangkat sisi amanh Rasulullah yang jika saat ini terjadi maka akan dianggap aneh bin ajaib. Patutlah kita bertanya, mengapa Nabi mau repot-repot menjaga titipan orang-orang Quraisy yang para tetuanya telah sepakat untuk membunuhnya? Tidak hanya itu, kaum muslimin yang telah berangkat ke Madinah meninggalkan harta-harta mereka di Makkah lalu dijarah sama orang Quraisy. Mengapa, harta-harta yang dititipkan ke Nabi itu tidak diberikan saja kepada orang Islam? Yang lebih aneh lagi, kenapa orang Quraisy mau menitipkan barangnya pada musuh bebuyutannya sendiri?

Kisahnya adalah, bahwa orang-orang Quraisy sebagai penduduk asli Makkah melihat bahwa semua penduduk Makkah tidak ada yang bisa dipercaya kecuali Nabi, terlebih lagi jika barang itu sangat mahal dan tinggi harganya.

Begitulah mahalnya amanah, dapat dibayangkan, dua kelompok yang saling bermusuhan, perang terus menerus terjadi antar keduanya, baik fisik, maupun keyakinan apalagi prinsip, namun orang-orang Quraisy tetap mempercayakan benda-benda berharga dan arsip-arsip penting kepada orang yang paling mereka musuhi.

Dalam kisah lain, saat perang Badar, Nabi melakukan inspeksi barisan prajurit sebelum berangkat ke medan perang. Di tengah beliau ada kendi, lalu menemui Sawad bin Ghaziyah keluar dari barisan, lalu menolaknya dengan kendi tadi pada perutnya, seraya bersabda, Luruskan barisanmu wahai Sawad! Sawad menjawab, Wahai Rasulullah, engkau telah menyakitiku, padahal engkau diutus dengan kebenaran dan keadilan.

Seorang panglima tertinggi ditegur oleh prajurit rendah, namun menerima dengan legowo, itulah Rasulullah. Nabi, dengan lapang dada menjawab, Saya minta maaf! Belum cukup sampai di situ, Rasul mulia itu membukakan perutnya dan memberikan kendi yang dipegang kepada Sawad lalu berkata, Silahkan Balas. Maksudnya, 'sakiti aku sebagaimana aku menyakitimu'. Beliau minta dibalas dengan pukulan, padahal ia adalah sebaik-baik makhluk Allah.

Segenap sendi kehidupan beliau adalah kemuliaan dan keagungan, namun, walaupun demikian, Nabi adalah manusia yang paling takut kepada Allah dan paling banyak bersyukur. Bangun tengah malam untuk bermunajat, mendekatkan diri pada Allah, sampai-sampai dikatakan oleh Istrinya, kedua kakinya membengkak. Dari sinilah, Aisyah heran dan bertanya, Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang dahulu dan yang akan datang? Ia pun menjawab, Tidakkah aku lebih baik menjadi hamba Allah yang bersyukur?

***

Kisah di atas mengantarkan kita pada tiga kesimpulan utama. Pertama. Amanah adalah syarat utama seorang pemimpin. Dengan amanah, kedudukan pemimpin akan dicintai oleh khalayak ramai, tidak hanya oleh pendukungnya tapi juga oleh musuh-musuhnya atau yang berseberangan dengan kelompoknya sekalipun. 

Saat ini, amanah telah menjadi hikmah yang hilang dalam diri kaum muslimin, khususnya para pemimpin. Negara-negara Islam atau yang mayoritas berpenduduk Islam seakan telah melupakan konsep amanah yang di saat yang sama tidak sedikit negara-negara berpenduduk non-muslim jauh lebih amanah. Saksikanlah, kita tengkurap dalam kemiskinan, kelesuan ekonomi, penyelewengan kekuasaan, kesewenang-wenangan, hingga pengkhianatan kepada bangsa, negara, konstitusi, dan agama. Semua bermula dari hilangnya amanah.

Kedua. Pemimpin yang amanah adalah yang rela menerima kritikan dan masukan dari bawahan. Pemimpin bukanlah manusia makshum yang terbebas dari dosa kecil dan besar sebagaimana keyakinan menyimpang kaum Syiah. Dalam konsep Islam apalagi demokrasi, pemimpin adalah khadimul ummah, atau pelayan masyarakat dan umat, bukan minta dilayani. Konsep ini yang telah sirna dalam budaya kita. Pemimpin seakan tak pernah salah, dikritik sedikit saja lansung berang, dilecehkan via medsos saja langsung main tangkap tanpa pembelaan, padahal kita mengaku demokratis dan tidak otoriter. Kuncinya, pemimpin harus menjadi contoh sebagai manusia amanah dalam memegang kekuasaan, dan siap menerima kritikan dari mana pun asalnya, yang baik diambil dan diamalkan yang salah diabaikan tanpa harus ribut-ribut.

Ketiga. Manusia amanah adalah yang selalu bersyukur kepada nikmat dan karunia Allah. Hidup ini adalah cobaan, dan mereka yang lolos dari cobaan hanyalah manusia-manusia tangguh penuh amanah. Jika tertimpa musibah dia bersabar, dan itu baik baginya, jika dikaruniai nikmat ia bersyukur dan itu juga baik baginya, begitu sabda Nabi.

Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti telah dibebani amanah dari Allah. Dan amanah utama seorang beriman adalah melakukan amal saleh, saling berlomba dalam kebaikan, mencegah perbuatan munkar, nasihat-menasihati dalam kebenaran, dan sabar selalu menghadapi ujian dan cobaan hidup yang mutlak adanya.

Begitulah Nabi Muhammad mengajarkan pada seluruh umat manusia tanpa kenal ras, suku, dan agama. Peganglah amanah niscaya engkau akan dipercaya. Jadilah pemimpin yang siap menerima masukan dari mana pun asalnya, dan jadilah hamba Allah yang selalu besabar dan bersyukur. Itulah esensi sebuah peringatan atas kelahiran Nabi Muhammad.

Hanya perbuatan sia-sia memperdebatkan, apakah sunnah atau bid’ah memperingati maulid Nabi tapi justru mereduksi esensi ajarannya. Yang jelas, mengingat dan mencontoh Rasulullah tanpa kenal seting ruang dan waktu adalah sebuah keharusan bagi umatnya yang amanah. Selamat Hari Maulid 1437 H!

AQL, Tebet, 23 Des. 2015.
Ilham Kadir, Kandidat Doktor Pendidikan Islam Fakultas Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena