Desakralisasi Rumah Tangga



Ilham Kadir, Kandidat Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor.

Manusia dengan fitrah normalnya pasti mendambakan pasangan lawan jenis.  Laki-laki dengan perempuan. Ada pun pasangan sesama jenis, laki-laki dengan sesamanya, dan perempuan dengan perempuan, maka itu di luar pembahasan ini.

Keterikatan antara laki-laki dan perempuan sebagai calon pasangan suami istri hanya dengan melalui proses pernikahan yang ditentukan syarat dan hukumnya oleh agama. Lalu, diperkuat dengan perangkat undang-undang negara. Ini menandakan bahwa tidak sepenuhnya Negara Indonesia sebagai negara sekuler, sebab negara campur tangan dalam urusan perkawinan warganya yang notabene-nya adalah urusan agama.

Dari perkawinan terbentuklah sebuah ikatan yang erat lahir batin, Islam menyebutnya, "mitsaqan galizan". Suami istri dalam Al-Qur'an (QS.2:223) berfungsi sebagai, hunna libasun lakum wa antum libasun lahuna, istri itu pakaian bagi suaminya, dan suami itu pakaian bagi istrinya.

Istilah pakaian digunakan Al-Qur'an dalam mengumpamakan pasangan suami-istri sebab, keduanya tidak ada lagi rahasia, semua kelemahan dan kekurangan tersingkap. Dan, keduanya harus saling menutupi 'aurat', rasa malu, dan segala bentuk kekurangan.

Jika salah satu dari keduanya telah menyingkap 'pakaian' untuk membuka aurat dan segala kekurangannya pada orang lain apalagi di ruang publik, maka itu alamat jika pungsi sebagai pakaian yang saling menutupi sudah lucut, dan perceraian tinggal menunggu waktu. Namun, jika dalam jangka masa yang lama tidak juga berpisah tapi tetap saling membuka aurat dan aib lalu dinikmati orang lain, dipastikan bahwa pasangan suami istri tersebut berada dalam masalah dan tidak akan hidup kedamaian di antara keduanya. Pungsi utamanya telah sirna, rumah tangga bukan lagi tempat membangun harmoni (sakinah), cinta (mawaddah), dan rahmat (rahmah).

Tren Selingkuh

Dalam pengamatan penulis, tahun 2015 ini memang sejumlah persoalan besar melanda bangsa dan negara Indonesia. Dalam ranah politik misalnya, aroma pertarungan kubu Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP) hingga akhir tahun ini terus berlangsung tanpa jeda yang membuat rakyat muak akan prilaku para politisi. Dalam ranah ekonomi, Indonesia masih menjadi salah satu negara yang rakyatnya terus menjadi juara bertahan dalam lembah kemiskinan. Pendidikan pun demikian, setiap ganti menteri, setiap itu pula ganti kebijakan hingga saat ini kita belum menemukan sebuah formulasi pendidikan yang komprehensif dan holistik.
Dalam persoalan sosial lainnya, seperti tindakan perampokan uang negara (korupsi), prilaku kriminal, aksi-aksi teroris begal hingga baku bunuh antarsesama terus terjadi di berbagai tempat. Bahkan di daerah saya, Desa Watangcani-Bontocani, Bone, aksi kriminalitas dengan saling tikam-menikam antar tetangga dan keluarga kerap terjadi, dan konyolnya, aparat seakan tak berdaya. Yang terhangat dan teranyar adalah pembunuhan yang terjadi di Sinjai.
Namun, yang paling menggegerkan, bagi saya adalah prilaku seorang istri pengusaha terkenal di Makassar pada bulan September 2015 ini. Heboh dan geger karena yang bersangkutan kebetulan berparas cantik, hidup mewah, dan berbusana muslimah syar’i di dapati selingkuh tanpa busana di sebuah kamar kontrakan sekitar Perumahan BTP Makassar. Berita ini menjadi topik hangat sepanjang bulan September dan dimuat di berbagai media nasional, cetak maupun elektronik.
Nampaknya, fenomena selingkuh, layak menjadi bahan renungan tersendiri, sebab jika dulu masalah perceraian terjadi karena latar belakang ekonomi, maka saat ini perceraian dan perselingkuhan terjadi justru karena kemapanan ekonomi. Lalu bagaimana Islam memandang masalah kontemporer ini?
Kehidupan modern yang melanda bangsa Indonesia, terutama masyarakat perkotaan atau kaum urban dapat dikatakan sebagai sebuah kemajuan yang fantastis. Kemajuan dari berbagai sisi, perekonomian individu dan keluarga meningkat, ditunjang dengan alat komunikasi yang memudahkan, hingga media-media informasi begitu banyak pilihan ditunjang dengan aneka ragam transfortasi untuk mempermudah ruang gerak (mobile).

Namun di sisi lain, juga menghasilkan dampak negatif, termasuk penyumbang terbesar desakralisasi rumah tangga. Banyaknya media sosial yang dapat menghubungkan antara satu indivudu dengan lainnya menjadi sarana paling efektif dalam menjaling hubungan terang maupun 'gelap'.

Seorang suami dengan muda berbohong bahwa dirinya masih single, begitu pula seorang istri, begitu mudahnya mencari pasangan yang sesuai dengan fantasinya. Atau keduanya dengan sadar dan sama-sama 'menikmati' perselingkuhan, tau sama tau kalau mereka sudah berkeluarga, namun satu dan lain hal sehingga ia butuh selingkuh. Dan, ini diawali dari tombol alat komunikasi pintar yang disebut 'smartphone', pintar ngeles, pintar ngibul, pintar merayu, dsj. Inilah antara golongan yang menjadikan alat komunikasi sebagai 'sarang setan'.

Walaupun tidak semuanya perselingkuhan terjadi karena faktor komunikasi antara suami-istri, atau berawal dari media sosial, tapi setidaknya telah menjadi bagian tak terpisahkan bagi masyarakat urban. Demikian pula, tidak selalu perceraian terjadi karena faktor selingkuh, tapi bisa juga dari berbagai macama alasan lainnya, termasuk merasa sudah tidak sejalan.

Setiap tahun hampir 50 ribu pasangan suami-istri mengajukan perceraian. Dari jumlah itu, 20 ribu di antaranya berhasil diselamatkan dan sisanya berakhir dengan perceraian. Berdasarkan data Kementerian Agama, jumlah kasus perceraian hingga 2013 mencapai 14,6 persen atau 324.527 kasus dari 2.218.130 pernikahan. Naik 4 persen berdasarkan data 2009 di mana jumlah masyarakat yang menikah 2.162.268 dengan tingkat perceraian 10 persen atau 216.286 kasus. Tahun 2010, jumlah pernikahan tercatat sebanyak 2.207.364 dan kasus naik 3 persen dari tahun sebelumnya, yakni 13 persen atau berjumlah 285.184 peristiwa. Selanjutnya 2011 sebanyak 158.119 kasus cerai dan  2012 sebanyak 372.577 kasus cerai dari 2.291.265 pernikahan.

Dari kasus tersebut, 70 persen perceraian terjadi karena gugat cerai dari pihak istri yakni istri meminta dilepas atau dibebaskan dari suami. Dilihat dari data di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sebagai kota religius dan bergelar Serambi Madinah,  tren perceraian pada 2014 sebanyak 90 persen pihak istri menggugat cerai karena faktor selingkuh.  Bahkan, daerah seperti Pare-Pare pun ketularan, puluhan kasus perceraian terjadi tiap bulannya (TRIBUN TIMUR 1/12/2015). Lalu bagaimana dengan kota-kota metropolitan?

Menurut data Dirjen Badilag Mahkamah Agung RI pada 2011, penyebab perceraian pertama  adalah faktor ekonomi. Namun hasil survei menyebutkan sekitar 14 persen istri dan 22 persen suami di kota-kota besar melakukan perselingkuhan yang mayoritas merupakan golongan mapan. Pasangan selebritas bahkan diklaim turut menyumbang fenomena kawin-cerai, diperparah dengan pemberitaan berlebihan dari beragam media, terutama infotaimen.

Kokohkan Agama

Antara pegangan dan pedoman yang bisa menekan angka perceraian tersebut bagi umat Islam adalah kembali kepada syariat yang berlandaskan Al-Qur'an dan Hadis. Penerapan syariat Islam dalam keluarga, harus diwujudkan dalam segala aspek kehidupan. Jangan karena di KTP beragama Islam dan nikah secara Islam, tapi dalam keseharian tidak menerapkan syariat Islam. Akibatnya, terjadilah banyak perselingkuhan. Di sinilah penting mengokohkan agama dalam institusi rumah tangga .

Mengingat pihak penggugat mayoritas dari kaum wanita, demi menghindari perselingkuhan, faktor pertama yang harus ditekankan bagi pihak wanita, atau muslimah misalnya, harus memilih calon suami yang dapat ia banggakan kepemimpinan atas dirinya, dan merasa senang mendampinginya, serta tidak pernah merasa menyesal atas pernikahan dengannya. Dia menginginkan suami yang selalu menggandengnya kemana ia pergi jika memang memungkinkan. Saling berbagi tugas, membangun keharmonisan, mendidik anak. Perbedaan karakter semestinya diolah menjadi sebuah kekuatan untuk membangun rumah tangga yang sakral.

Ketika masih single, setiap orang berhak memilih siapa pun calon pasangannya, namun, ketika telah menikah, maka itulah yang terbaik, sudah bukan masanya untuk menyesal. Jika berpikiran seperti ini, maka angka perceraian semestinya bisa dihindari, walaupun dalam Islam, cerai hukumnya hanya makruh, namun, selalu mendatangkan petaka bagi anak-anak yang merupakan generasi bangsa.

Aktor kriminal, termasuk begal yang meresahkan negara, juga prilaku asusila, pelacuran, pemerkosaan, pencabulan, kerap digawangi oleh keluarga yang broken home. Menyelamatkan rumah tangga Indonesia dari desakralisasi pada dasarnya telah menyelamatkan bangsa dari krisis moral.

Sebagai penutup, ini ada wejangan untuk suami yang suka selingkuh, atau selalu tertarik pada wanita lain, titah Nabi, Apabila salah seorang di antara kalian merasa kagum kepada seorang wanita dan tertarik kepadanya, maka hendaklah dia lekas pulang dan bertemu istrinya lalu bercinta dengannya, karena yang demikian itu akan meredam gejolak nafsu yang ada pada dirinya, (HR. Muslim).

Dan seorang istri, selain sebuah kewajiban, juga ibadah, dan cara efektif mereduksi selingkuh adalah mengikuti sabda Rasul berikut, Apabila salah seorang di antara kalian mengajak tidur istrinya, lalu dia tidak mengindahkannya, sehingga suami itu marah kepadanya, maka malaikat melaknatnya sampai pagi tiba. (HR Bukari-Muslim).

Konteks hadis di atas, walaupun berbicara masalah kehidupan di atas kasur yang didominasi suami, tapi juga berlaku untuk istri. Jika istri melihat lelaki lain dan tertarik padanya, maka lekaslah berjumpa suami dan minta jatah, begitu pula, jika istri yang lebih dulu naik libidonya, lalu mengajak suami bercinta, maka suami wajib melayani.

Begitulah Islam mengajarkan umatnya, sebagai umat terbesar di Indonesia, dan penyumbang angka perselingkuhan, perzinahan, dan perceraian. Generasi rusak, berupa begal, jambret, pelaku asusia, hingga para kuruptor juga dari umat Islam yang tidak menutupi kemungkinan berasal dari keluarga broken home. Mari selamatkan masyarakat dari desakralisasi rumah tangga. Wallahu A'lam!

dimuat Tribun Timur, 4 Des. 2015.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an