Tujuan Manusia Diciptakan

Dalam perspektif teologis, ada dua alasan penciptaam manusia, sebagai khalifah di muka bumi, dan sebagai abdullah alias hamba Allah.

Terkait alasan dan tujuan utama kita diciptakan, dengan berulang kali Allah menegaskan dalam firman-Nya. Misalnya (QS. Al-Baqarah[2]: 30), Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku akan menciptakan khalifah di bumi. Malaikat protes, Apakah Engkau akan menciptakan makhluk yang selalu membuat kerusakan, dan melakukan pertumpahan darah? Allah menjawab, Sesungguhnya aku lebih mengetahui apa yang tidak kalian tau.

Allah pun menciptakan Adam sebagai manusia pertama, menyusul Hawa sebagai manusia kedua sekaligus sebagai pelengkap. Jadilah sepasan insan, laki-laki dan perempuan. Seiring berjalannya waktu, maka dari pasangan inilah kelak melahirkan keturunan yang kini jumlahnya sudah mencapai miliaran.

Masalah kemudian muncul, sebab prediksi malaikat bahwa khalifah yang telah diciptakan Allah benar-benar menjadi biang kerok kerusakan, kekacauan,  hingga pertumpahan darah. Mereka lupa tujuan utama diciptakan. Khalifah dan abdullah.

Secara bahasa, khalifah berasal dari kata, khalafa-yakhlufu berarti wakil atau mengganti. Maka khalifatullah fil ardhy bermakna, wakil Allah di muka bumi. Sedangkan, tujuan Allah menciptakan bumi, antara lain, sebagai mustaqarrun wa mata' ilahin. Tempat tinggal dan kesenangan hidup hingga batas waktu tertentu, (QS. Al-Baqarah[2]: 36).

Makna lain khalifah yang masih berhubungan sebagai wakil Allah adalah sebagai pemakmur di bumi. Artinya, manusia harus menyadari bahwa fungsi mereka diciptakan untuk memakmurkan bumi, dan, kalau ternyata ada yang malah merusak bumi, dan menyengsarakan umat manusia, maka sudah jelas mereka bukanlah manusia sesungguhnya, jiwa dan ruh manusianya sudah jadi setan dan iblis, jasadnya saja yang ada sehingga masih disebut manusia.

Selain sebagai khalifah, manusia juga adalah perwujudan hamba Allah, atau Abdullah. Artinya, tugas utama ia diciptakan untuk menghamba kepada Allah. Dan tugas utama seorang hamba adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Dan untuk melaksanakan perintah-Nya, maka Allah pun selalu mengutus nabi dan rasul, untuk mengajari umat manusia tata cara beribadah dengan baik dan benar. Sebab, ada dua jalan untuk diterimahnya sebuah ibadah: ikhlas untuk Allah ta'ala dan harus mengikuti petunjuk  Rasul. Ikhlasun-niyah wa ittiba'urrasul.

Setelah rasul terakhir datang, Muhammad SAW, maka tidak ada lagi yang berhak mengaku diri sebagai nabi dan rasul, kalau ada, maka pasti itu palsu. Sejarah telah mencatat bahwa hampir tiap zaman nabi dan rasul palsu datang dan pergi lalu menguap seperti buih di lautan.

Bahkan pernah ada anekdeot: suatu saat seorang datang menghadap pada khalifah, dia mengaku bahwa dirinya adalah tuhan. Khalifah bertanya, Apakah engkau tidak mendengar berita bahwa minggu lalu ada yang mengaku nabi dan saya penggal kepalanya? Tuanku benar, sebagai tuhan saya tidak pernah mengutus nabi, dan pasti itu palsu!

Khalifah-Abdullah

Dalam sejarah peradaban Islam, khalifah dengan artian sebagai pemimpin dan pemakmur benar-benar pernah ada, bukan dongeng dan bukan pula isapan jempol belaka. Dan, ternyata, di mana ada pemimpin yang berfungsi sebagai khalifah dalam artian sesungguhnya, di sanalah masyarakat merasa nyaman, terlindungi dan sejahtera.

Di antara khalifah yang hingga kini masih sering disebut-sebut itu adalah, Khalifah Umar bin Abdil Aziz (682-720 M), cucu Umar bin Al-Khattab. Khalifah bani Umayyah ini, tidak lama memimpin, cukup singkat (717-720 M), tapi prestasinya luar biasa, dan termasuk pemimpin paling banyak dibahas oleh ulama, politisi, dan sejarawan dari zaman ke zaman, hingga saat ini.

Memang pemimpin yang banyak jasanya, akan hidup jauh lebih lama dari umurnya sendiri. Di antara jasa dan kebijakannya yang banyak dicontohi oleh pemimpin yang ingin memajukan negara dan bangsanya adalah teori kesejahteraan dan hukumnya yang terkenal yaitu: Jika berbicara masalah kesejahteraan maka harus dimulai dari rakyat biasa, namun jika berbicara masalah penegakan hukum makan harus dimulai dari para penguasa.

Dengan menegakkan ekonomi dari rakyat jelata, maka pasti kesejahteraan akan merata sebab orang yang termiskin saja bisa sejahtera, dan jika hukum ditegakkan kepada para pembesar dan penguasa di sebuah negara, maka itu alamat hukum tak pandang bulu. Dan, sayangnya di sini, kita hanya mengenal, kesejahteraan bagi golongan kelas menengah ke atas, dan hukum hanya buat rakyat kecil. Antitesa dari teori Umar bin Abdil Aziz.  Padahal, bangsa ini, yang mayoritas pemimpin dan rakyaknya beragama Islam akan lebih baik jika berusaha dan mencoba menerapkan teori Umar bin Abdil Aziz di atas.

Selain sudah pernah berhasil diterapkan juga tidak bertentangan dengan konstitusi kita yang memang sangat mendewa-dewakan kekuatan hukum dan dikenal dengan slogan, hukum adalah panglima. Bukan hanya untuk rakyat jelata, bagi para pembesar dan penguasa terutama para koruptor belum merata, atau orang-orang tertentu, dan cenderung tebang pilih, dan koruptor yang dihukum pun hanya beberapa saat, dan setelah itu bebas kembali menikmati uang korupsinya. Konyolnya lagi, saat dalam masa tahanan yang semestinya dikerangkeng, mereka masih bisa berkeliaran.  Dalam hal kesejahteraan pun demikian, pengangguran kian marak, ekonomi memburuk, mata uang belum juga stabil, di saat yang sama berbagai persoalan pelik terus melanda negeri ini. Untunglah asap sudah mulai menghilang karena hujan mulai turun, air sungai dan sumur mulai terisi. Tapi tetap harus waspada, sebab jika musim hujan tiba, banjir, tanah longsor, pohon tumbang, kemcetan, siap mengintai.

Islam sebagai agama yang besar, tidak boleh hanya benostalgia dengan sejarahnya yang gemilang, tapi harus membuktikan bahwa konsep-konsep kesejahteraan dan penegakan hukum adalah sangat sesuai kapan dan di mana pun.

Dan, yang terpenting, dengan menjadi pemimpin yang mampu menegakkan keadilan dan menyejahterakan rakyat, memakmurkan dan melestarikan bumi adalah bagian dari tujuan manusia diciptakan. Yaitu sebagai khalifah dan abdullah. Wallahu A'lam!

Dimuat Harian Tribun Timur,  Jumat 13 Nopember 2015.
Ilham Kadir, Pengurus KPPSI Pusat & Peneliti MIUMI Sulsel.


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an