Teror Paris, Syiah, dan Makar Yahudi


Oleh: Ilham Kadir, Perserta Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) BAZNAS-DDII; Kandidat Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor

Jumat malam tanggal 13 Nopember 2015, kota Paris mengalami sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat mencekam dan menyita publik seantero jagad, akibat dari serangkaian penembakan dan pengeboman yang terjadi secara serentak di enam titik. Aksi terorisme itu menewaskan sedikitnya 153 orang dan 200 lainnya luka-luka. Dan, yang bertanggungjawab atas aksi terror itu adalah komplotan kerajaan Islam di Suria dan Irak atau yang lazim disebut ISIS atau Islamic State of Iraq and Suria.

Serangkaian aksi terorisme yang menghantui Prancis di atas tentu saja menyasar kelompok ekstrimis yang diwakili oleh ISIS. Namun, persoalannya tidak sesederhana itu, sebab adanya label Islam dalam aksi teror yang diperankan ISIS secara otomatis menyeret agama Islam ke dalam ranah terorisme, sehingga golongan picik dan islamophobia atau mereka yang selalu dihantui dan ditakut-takuti oleh keberadaan Islam kian memuncak amarahnya, lalu melampiaskan pada kaum muslimin, terutama yang berdomisili di Barat, bahkan serangkaian aksi balasan dengan merusak masjid. Tentu saja ini adalah sebuah masalah besar yang harus ditelaah secara cermat dan hati-hati agar dapat bersikap adil dan bijak.

Dari berbagai aksi teror yang dialamatkan pada umat Islam akhirnya menimbulkan pertanyaan besar, apakah ada ajaran Islam yang jika dipahami secara fundamentalis bisa melahirkan seorang teroris?

***

Secara sederhana aksi-aksi terorisme dapat  dideskripsikan sebagai serangkaian aksi bertujuan pada upaya penebaran kepanikan, intimidasi, dan kerusakan di dalam masyarakat, yang dalam operasinya bisa dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang yang biasanya mengambil posisi oposan terhadap negara.

Seorang fundamentalis sebenarnya dapat memegang kuat teologi dan penghayatan agamanya, tanpa kenal dengan istilah teroris. Artinya, terorisme tidak identik dengan fundamentalisme, baik dalam Islam maupun lainnya. Seorang fundamentalis sangat bisa menjadi warga masyarakat yang damai, ramah, dan santun.

Kalau fundamentalisme dipahami sebagai akar terorisme dalam Islam, itu jelas konyol. Disebut konyol karena jika seorang muslim benar-benar fundamentalis, maka ia akan mengalami kesulitan besar untuk melakukan aksi terorisme. Bagaimana tidak, secara gamblang al-Qur'an sendiri sebagai panduan hidup dengan lantang menyatakan pengingkaran dan penolakan terhadap kekerasan, apalagi terorisme.

Masalahnya adalah, sebagian oknum fundamentalis itu tidak berhenti pasa level penghayatan teologi skriptualistik semata, melainkan terus berlanjut pada sikap militan tanpa didasari dengan ilmu syar'i yang benar. Kita tau bahwa militansi keberagaman dalam Islam meniscayakan dua penyikapan secara sekaligus: positif dan negatif.

Ke dalam, seorang militan akan bertindak positif bahwa kelompoknya adalah kawan dan teman perjuangan yang harus dibela. Sementara ke luar, ia akan bersikap negatif dengan memandang kelompok lain sebagai musuh dan ancaman yang harus diserang. Dengan paradigma kacau seperti itu, maka perbedaan yang semestinya menjadi khazanah dan sumber kekayaan harmoni, dipangkuan fundamentalis-militan berubah menjadi musibah kemanusiaan.

Sejarah mencatat dengan apik bahwa orang atau golongan yang menjadi teroris memang hampir selalu didahului dengan sikap keberagamaan militan yang mayoritas terikat dalam satu sekte atau organisasi, sebutlah misalnya yang fundamentalis-militan yang membunuh khalifah Usman bin Affan, sekaligus melukai istrinya, juga fundamentalis-militan Majusi Abu Lu'luah yang menikam Umar bin Khattab ketika sedang memimpin salat Subuh.

Setelah itu, berbagai fitnah muncul dari golongan fundamentalis-militan yang menyimpang itu. Ada khawarij yang membunuh khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib, lalu muncul pula pendukung Ali yang melembaga secara membabi buta tanpa iman dan ilmu yang disebut Syiah. Golongan yang terakhir inilah yang hingga sekarang terus melahirkan teroris-teroris dari masa ke masa, mereka selalu melawan pemerintah yang sah, hingga kekacauan terus berlangsung. Saksikanlah Iraq, Libya, Lebanon, dan saat ini Surah dan Yaman yang sedang berkecamuk. Para teroris-teroris Syiah menjadi sutradara sekaligus aktor dalam fitnah yang terjadi di mana-mana.

Islam sebagai agama rahmatan lil-alamin, sekali lagi, jelas menolak dan melarang pemakaian kekerasan demi untuk menjustifikasi dan mencapai tujuan yang baik sekalipun. Sebuah kaidah ushul dalam Islam menegaskan, al-ghayah la tubarrir al-wasilah, tujuan tidak bisa menghalalkan segala cara. Lebih jauh, Islam menegaskan bahwa pembasmian suatu jenis kemungkaran tidak boleh dilakukan dengan menggunakan kemungkaran pula, al-nahyu 'an al-munkar bi ghair al munkar.

Tidak ada alasan etik-moral sedikit pun yang bisa membenarkan suatu tindakan kekerasan, terlebih terror tanpa alasan syar’i. Dengan demikian, kalau ada tindakan teror yang dilakukan oleh kelompok Islam tertentu, maka sudah pasti alasannya bukan karena ajaran etik-moral Islam, melainkan karena agenda-agenda lain yang bersembunyi di balik aksi teror tersebut.

Saat ini, kita sedang membutuhkan upaya yang lebih serius ke arah pembersihan Islam dari para fundamentalis-radikal, seperti Syiah dengan sejarah pemberontakannya yang hingga kini masih awet. Islam, sudah terlalu lama dibajak oleh aliran sesat Syiah yang selalu mengatasnamakan agama dan akhlak, lalu memperkosanya, demi mencapai syahwat kepuasan dan kekuasaan.

Islam sudah sering dijadikan sebagai pembenar bagi tindakan penghancuran komunitas lain. Sungguh, gerakan kelompok fundamentalis-militan seperti Syiah yang kerap menggunakan cara-cara kekerasan dalam menjalankan tafsir agamanya adalah iklan buruk bagi Islam sebagai rahmatan lil alamanin. Sayangnya, lakon menyimpang ini juga dipraktikkan oleh ISIS yang notabene-nya adalah anti Islam dan antek Yahudi-Amerika.

Islam sebagai agama yang mencintai perdamaian tidak boleh lagi berkamar dalam  ruang yang ekslusif-primordial, melainkan harus menjadi payung yang menaungi segenap umat manusia. Islam rahmatan lil-alamin adalah keputusan final dan tuntas, sehingga tidak boleh lagi ada kekuatan apa pun baik perorangan, kelompok maupun institusi-kelembagaan yang diperkenankan untuk mengamandemen,menistakan, apalagi menghancurkan eksistensinya.

Untuk menggapai level itu, semua pihak harus berperan, secara struktural, pemerintah harus memberikan pengajaran yang benar kepada generasi muda umat Islam. Sebab, selama ini, buku ajar pendidikan agama Islam masih dibajak oleh organisasi dan aliran tertentu, diperparah dengan menyebarnya ajaran sekularisme, liberalisme, dan pluralisme dalam berbagai macam mata pelajaran, peran Tuhan telah dicampakkan dalam proses penciptaan dan pengaturan alam, dan segenap perangkap undang-undang pun terlepas dari nilai ketuhanan.

Bahkan, sekte Syiah pun sudah masuk dalam proyek buku-buku ajaran Islam untuk level nasional. Ini semua menjadi masalah internal yang harus segera dibenahi secepat kilat, sebelum terlambat, dan menyambar nilai-nilai kebenaran yang berdasarkan dengan al-Qur'an dan hadis shahih yang telah dicontohkan oleh Nabi bersama para sahabatnya, tabi'in, dan pengikut para tabi'in.

Secara eksternal, hegemoni negara-negara Barat, termasuk Prancis terhadap negara Islam, juga masih terus berlanjut, kebijakan-kebijakan politik luar negeri atau dalam negerinya selalu menjadikan umat Islam tersudutkan. Inilah semua yang terakumulasi menjadi bara dalam sekam yang berpotensi menjadi dinamit penghancur nilai-nilai kemanusiaan.

Barat semestinya banyak berkaca pada diri sendiri bahwa apa yang telah mereka dapat dari negara-negara Islam sangat tidak sebanding dengan apa yang mereka berikan. Sejak kolonialisme bermula pada abad ke-17 sebagai hasil dari revolusi industri Prancis, dan terus lenggeng dengan metode yang berbeda hingga saat ini. Barat sudah terlalu banyak berbuat zalim dengan menjustifikasi bahwa kezalimannya pada negara-begara berpenduduk Islam, baik di Asia maupun Afrika adalah bagian dari keadilan dan penegakan Hak Asasi Manusia.

Hemat penulis, tragedi Paris semestinya dijadikan bahan renungan dan evaluasi baik umat Islam maupun Barat. Bagi kaum muslimin, ini adalah tragedi kemanusiaan yang lahir dari insan-insan tak paham nilai-nilai kemanusiaan yang bersumber dari ajaran Islam bahwa haram hukumnya membunuh manusia tanpa alasan yang dibenarkan (bighairi haqq). Tidak dibenarkan membunuh orang yang lemah seperti wanita, anak-anak, lansia, atau orang yang tak bersalah dan yang sudah menyerah. Bahwa membunuh seorang manusia yang bukan pembunuh dan bukan pula perusak adalah sama statusnya dengan membunuh seluruh umat manusia (QS. Al-Maidah: 32).

Pun, demikian, Barat, wabil khusus Prancis agar memperlakukan umat Islam di negaranya dengan manusiawi dan sesuai dengan standar hak asasi manusia, tidak mencurigai terus-menerus sebagai pembuat dan penebar teror, memberikan kebebasan dan keleluasaan mengamalkan dan mengenakan simbol agama mereka tanpa rintangan. Perbedaan ras, etnis, dan suku semestinya mendorong manusia agar saling mengenal, saling menghargai, dan saling melindungi (QS. Al-Hujuran: 13). Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh ras atau garis keturunan nenek-moyang, tetapi tergantung kadar ketakwaan (QS. Al-Hujurat: 13), tidak boleh mengejek, melecehkan, atau saling menjatuhkan satu sama lain. Juga dihimbau agar jangan saling curiga dan mencari-cari kesalahan atau kelemahan orang lain, (QS. Al-Hujurat: 11-12), dan marilah bekerjasama, bahu-membahu dalam meraih kebahagiaan dan mengatasi masalah bersama (QS. Al-Maidah: 2). Begitulah Islam mengajarkan umat manusia untuk hidup harmoni tanpa kenal ras, golongan, dan agama. Jika ayat-ayat ini dijadikan patokan, baik Islam maupun Barat, damailah dunia.

Hanya satu cara untuk mereduksi segala bentuk kemunkaran, termasuk aksi-aksi radikalisme yang bertentangan dengan kemanusiaan sebagai ajaran inti agama Islam adalah, adzhiril haq yamutul bathil, Tampakkan kebenaran, kebatilan akan tereduksi. 

Last but least, teror Prancis kemungkinan juga terkait atas dukungan dan pengakuan Prancis terhadap kedaulatan Palestina, sebab jamak diketahui, negara asal legendan hidup sepak Bola, Zinedin Ziden ini adalah yang paling bertanggungjawab atas pengakuan PBB terhadap berdirinya negara Palestina yang sangat tidak diinginkan oleh Israel dan Amerika. Jika skenario ini benar, maka tak pelak lagi, Yahudi dan Amerika bermain di belakang layar—mendorong ISIS sebagai tukang gebuk—lalu menjadikan umat Islam sebagai tumbal  sebagaimana kasus peledakan WTC pada 11 September 2001. Wallahu A'lam!

UIKA-Bogor, 21 Nopember 2015
Dimuat Harian AMANAH Makassar, 24-25/11/2015.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi