Takwa, Kurban, dan Pemimpin



Relasi antara tiga kata kunci dari judul di atas membawa kita pada momen yang sedang barlangsung hari ini. Hari kebesaran umat Islam, Hari Raya Idul Adha, atau Hari Raya Kurban. Hari yang disyariatkan bagi umat Nabi Muhammad untuk mempersembahkan kurban terbaiknya demi meraih ketakwaan. Di lain pihak, ketakwaan adalah puncak spritual seorang hamba, dan jika takwa melekat pada seorang pemimpin, alamat keberkahan Allah akan menyelimuti para masyarakat, pintu langit akan terus-menerus terbuka pada pemimpin dan masyarakat bertakwa. Tulisan ini akan merajut tiga kata kunci di atas, takwa, kurban, dan pemimpin.

Secara etimologis kata takwa merupakan bentuk masdar dari ittaqa–yattaqi yang berarti “menjaga diri dari segala yang membahayakan”. Kata ini berakar dari waqa-yagi-wiqayah yang berarti “menjaga diri menghindari dan menjauhi” yaitu menjaga sesuatu dari segala yang dapat menyakiti dan mencelakan, takwa juga berarti mengetahui dengan akal, memahami dengan hati dan melakukan dengan perbuatan, atau melaksanakan semua perintah allah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kehati-hatian, laksana berjalan di area penuh duri waktu malam gelap gulita.

Takwa mengandung pengertian yang berbeda-beda di kalangan ulama, namun semuanya bermuara pada satu pengertian yaitu seorang hamba melindungi dirinya karena takut akan kemurkaan Allah dan juga siksa-Nya. Hal itu dilakukan dengan melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang-Nya.

Afif Abdulullah Al-Fahah Thabbarah mengatakan Takwa adalah seorang memelihara dirinya dari segala sesuatu yang mengundang kemarahan Allah dan dari segala sesuatu yang mendatangkan mudharat baik dirinya maupun orang lain. Ibnu Rajab rahimahullah berkata bahwa asal takwa adalah seorang hamba membuat pelindung yang melindungi dirinya dari hal-hal yang ditakuti. Jadi ketakwaan seseorang hamba kepada Rabnya adalah ia melindungi dirinya dari hal-hal yang dia takuti, yang datang dari Allah berupa kemurkaan dan azab-Nya dengan melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi kemaksiyatan kepada-Nya.

Orang-orang bertakwa diberi berbagai kelebihan oleh Allah, tidak hanya ketika mereka di akhirat nanti tetapi juga ketika mereka berada di dunia ini. Beberapa kelebihan mereka disebutkan di dalam al-Quran, antara lain: (1) Dibukakan jalan keluar pada setiap kesulitan yang dihadapinya; (2) Dimudahkan segala urusannya; (3) Dilimpahkan kepadanya berkah dari langit dan bumi; (4) Dianugerahi furqân yakni petunjuk untuk dapat membedakan yang hak dan bathil; (5) Diampuni segala kesalahan dan dihapus segala dosanya; (6). Disediakan surga-surga yang mengalir dibawahnya air  terdapat dalam surat Ali Imran[3]: 15; (7). Dikaruniai istri-istri yang disucikan serta mendapat keridhoan allah, terdapat dalam surat Ali Imran[3]: 15.

Allah berfirman, Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepadaNya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam, (QS. Ali Imron[3]:102).

Jika seorang ingin mencapai derajat takwa mustahil ia dapatkan dalam waktu yang sekejap melainkan melalui proses yang sangat panjang dengan izin Allah. Allah pun tidak melihat hasil melainkan proses melalui ujian-ujian yang diberikan pada hamba-Nya baik dalam bentuk kebaikan maupun keburukan, kelonggaran maupun kesempitan dan sebagainya. Allah pun memberikan keluasaan untuk memilih bagi hambanya dua jalan yang terbentang dihadapannya berupa jalan fujur dan takwa. Fa alhamaha fujuraha wa taqwaha, (QS. As-Syams[91]:8).

Di sisi lain ayat-ayat al-Qur’an yang bertemakan takwa tersebut pada umumnya sangat berhubungan erat dengan “martabat” dan “peran” yang harus dimainkan manusia di dunia, sebagai bukti keimanan dan pengabdian kepada Allah. Misalnya, ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan masalah ini terungkap dalam Surat al-Hujarat[49]: 13. ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Dalam ayat tersebut, takwa dipahami sebagai “yang terbaik menunaikan kewajibannya”. Maka, manusia “yang paling mulia dalam pandangan Allah” adalah “yang terbaik dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya”. Inilah yang menjadi salah satu dasar kenapa Allah menciptakan langit dan bumi yang menjadi tempat berdiam makhluk-Nya serta tempat berusaha dan beramal, agar nyata di antara mereka siapa yang taat dan patuh kepada Allah.

Allah juga menegaskan bahwa yang paling mulia di atas semuanya bukanlah yang menjadikan keragaman sebagai faktor yang memunculkan disharmoni,  Orang paling mulia adalah orang yang dapat memanfaatkan keragaman itu untuk memaksimalkan peran dirinya, peran sosialnya, peran profesinya, dan peran beragamanya melalui amalan. Bukan hanya amal dalam pengertian shadaqah, akan tetapi amal dalam pengertian karya nyata dan amal shalih. Rasulullah bersabda, bahwa manusia yang paling baik adalah mereka yang menciptakan manfaat, karya, serta amal shalih yang lebih banyak dan lebih baik bagi sesama umat manusia.

Mengenai takwa, ada wasiat khusus dari Nabi, Aku wasiatkan kepadamu agar kamu bertakwa kepada Allah, mendengar dan mentaati, sekalipun kepada budak keturunan Habsyi [Negro]. Maka sesungguhnya, barangsiapa di antara kamu hidup pada saat itu akan menyaksikan banyak perbedaan pendapat. Oleh karena itu, hendaklah kamu mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu dan waspadalah kamu terhadap perkara yang diada-adakan (bid’ah) karena setiap bid’ah itu sesat,” (HR Ahmad IV , 126-127, Abu dawud, 4583). Dan, Ibnu Rajab mengartikan takwa dalam hadis di atas sebagai garansi untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.

Berkaitan dengan kurban


Sesungguhnya, semua ibadah yang Allah syariatkan kepada umat manusia lewat Rasul-Nya untuk meraih sebuah maqam yang disebut takwa, termasuk kurban. Maka, kurban yang dilakukan tanpa dengan tujuan meraih posisi takwa, tidak hanya sia-sia malah akan melahirka dosa, ini tidak jauh beda dengan puasa, salat, zakat, dan haji, semuanya untuk menjadi wasilah untuk meraih takwa. Ingat, ibadah harus didahului dengan niat yang benar.

Kurban adalah ibadah klasik, yang telah turun temurun sejak generasi awal umat manusia, hal ini direkam dalam al-Qur'an. Ketika itu, kedua putera Nabi Adam alaihissalam berselisih tentang jenis kurban sebagai jalan menuju ketakwaan yang diterima. “Ceritkanlah kepada mereka kisah kedua putera  Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang di antara mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Qabil berkata, ‘Aku pasti membunuhmu’, Habil menjawab, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa”, (QS. 5: 27).

Faktor utama diterimanya kurban Habil karena ketakwaan dan jenis kurban yang ia persembahkan, berupa hewan ternak miliknya yang terbaik, seekor kambing gemuk. Sedang Qabil, bertolak belakang, selain antagonis (jahat) dia juga seorang yang pelit, hanya mempersembahkan kurban kepada Allah berupa jenis hasil panen yang buruk dan tidak berkualitas.

Berkaca dari kisah di atas, maka seorang muslim jika hendak mempersembahkan sesuatu kepada Allah sebagai bentuk ketakwaan hendaklah yang terbaik, sesuai dengan kemampuannya. Sebab itulah, kebaikan (surga) hanya dapat diraih dengan mempersembahkan kepada Allah yang terbaik dari barang yang dimiliki. “Lan tanalul birra hatta tunfiqu mimma tuhibbun. Kamu sekali-kali tidak akan pernah sampai pada kebaikan—yang sempurna—sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai”, (QS. 3: 92).

Ayat di atas mendapat dukungan dari ayat lain, yang juga berbicara tentang syariat kurban, Dan telah Kami jadikan untuk kami unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, kamu mendapat kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri maupun terikat. Kemudian apabila telah mati, maka, makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang lain yang rela dengan apa yang ada padanya.  Demikianlah kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridahan Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat menggapainya, (QS. Al-Hajj[22]: 36-37).

Cukuplah ayat-ayat di atas menjadi lentera penerang bagi kita semua, bahwa syariat kurban memiliki tujuan utama sebagai jalan menuju takwa, walaupun tentu saja memiliki manfaat yang lain, terutama dimensi ekonomi, sosial, politik, pendidikan, hingga budaya, tapi itu hanya sekadar tujuan sekunder, primernya adalah takwa.

Tentu saja, puasa Ramadan yang telah berlalu dua bulan lebih yang juga sebagai bagian dari jalan menuju takwa, diperkuat dengan ibadah kurban, maka akan melahirkan pribadi agung, bersahaja, penuh manfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan agamanya.

Dan, takwa sebagai maqam yang akan mereduksi segala bentuk kemungkaran, dan menghidupkan segala bentuk kebaikan, jika itu terwujud, maka tatanan masyarakat bijak, beradab, adil penuh ketakwaan akan terwujud. Apalagi, dalam suasana hiruk-pikuk pilkada serentak yang akan dihelat akhir tahun ini, nampaknya, para calon pemimpin daerah sudah tancap gas, mondar-mandir kesana-kemari mencari dukungan, maka, masyarakat yang cerdas harus tau rekam jejak calon pemimpinnya, jangan beli kucing dalam karung. Pilihlah pemimpin yang saleh dan bertakwa. Pemimpin bertakwa pasti pancasilais, dan manusia pancasila harus selalu mengimplementasikan nilai-nilai pancasila dalam hidupnya, berketuhanan dan tidak ateis apalagi komunis, berkeadilan sosial dan tidak zalim, memimpin dengan hikmat bukan pencitraan apalagi asal-asalan.

Kerana itu, peristiwa kurban juga erat kaitannya dengan kepemimpinan. Saat Allah mengankat Nabi Ibrahim sebagai pemimpin (imam) bagi seluruh umat manusia, Inni ja'iluka linnasi imaman. Lalu Ibrahim meminta kiranya keturunannya pun bisa diangkat menjadi pemipin seperti dirinya, namun tidak semudah itu, Allah memberikan syarat bagi siapa pun yang ingin mengikuti jejak Ibrahim harus bersikap adil, dan orang yang zalim tidak akan bisa disebut pemimpin, La yanalu ahdiz zhalimin, (QS. Al-Baqarah [2]: 124).

Lalu, bagaimana dengan keturunan Ibrahim yang tersebar di mana-mana, dengan kezaliman merajalela terutama dari garis keturunan putranya Ishak yang disebut dengan bangsa Israil? Memang, mereka pemimpin dunia dengan materi, politik dan kekuasaan, tapi karena bukan dengan keadilan makanya tidak bisa dikategorikan pemimpin yang sesungguhnya, begitu pula yang berlaku di antara kita, sulit menemukan pemimpin adil, hanya layak disebut penguasa yang korup lagi zalim.

Semoga Idul Kurban kali in dapat melahirkan pemimpin adil dan bertakwa dambaan umat, plus masyarakaat beradab impian negara. Allahu Akbar walillahil hamdu. Selamat Hari Raya Kurban, 1436 Hijriah.

Enrekang, 21 September 2015 H.

Dimuat Harian Nasional Koran Sindo, 24 Sep.2015

Ilham Kadir, Pengamat Sosial-Kegamaan; Pakar Pendidikan Islam.


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an