Raih Kemuliaan di Bulan Haji



Ramadhan telah dua bulan berlalu meninggalkan kita, dan tetap berharap semoga ia  kembali lagi pada tahun-tahun mendatang dalam suasana yang lebih indah. Namun musim-musim ketaatan dan bulan ibadah akan terus ada dan datang silih berganti demi memperbaharui iman kita dan mensucikannya dari noda dosa dan maksiat.

Tak terasa pula, kini kita berada di awal bulan Haji yang hari-harinya sangatlah agung dan mulia. Bulan Haji dimaksud dalam tulisan ini adalah bulan Dzul-Hijjah yang Bulan terakhir dalam penanggalan hijriyah ini, penuh dengan ragam keutamaan dan barangsiapa yang melewatinya dengan ibadah dan ketaatan maka ia telah terpilih sebagai hamba pilihan, sebaliknya siapa yang melewatinya dengan kelalaian dan bahkan dengan maksiat dan dosa, maka ia telah merugikan dirinya sendiri.

Allah telah memuliakan sepuluh hari pertama bulan Haji dengan bersumpah atasnya, “Wal fajr, walayalin 'asyr. Demi fajar dan malam yang sepuluh”, (QS. Al Fajr: 1-2). Menurut para Ahli Tafsir, yang dimaksud dengan layalin ‘asyr (malam yang sepuluh) dalam ayat di atas adalah sepuluh hari pertama bulan Haji. Sumpah Allah dengan makhluk-Nya adalah menunjukkan kemuliaan dan keutamaan makhluk tersebut.  Kemuliaan ini klop dengan pernyataan Baginda Rasulullah dalam sabdanya, Tidak ada amal perbuatan yang lebih utama dari amal yang dilakukan pada sepuluh hari bulan Haji. Para shahabat bertanya, Tidak juga jihad lebih utama dari itu? Beliau menjawab, Tidak juga jihad, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya kemudian kembali tanpa membawa sesuatupun, (HR Bukhari: 296).

Dalam riwayat lain dengan redaksi agak beda namun maksud yang sama, “Tidak ada hari-hari yang di dalamnya amalan shaleh, yang paling dicintai oleh Allah kecuali hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama bulan Haji,” (HR Abu Daud: 2440 dan Tirmidzi: 747).

Mengenai faktor keutamaan sepuluh hari bulan Haji dijelaskan oleh, Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah, “Tampaknya sebab mengapa sepuluh hari bulan Haji diistimewakan adalah karena pada hari-hari tersebut merupakan waktu berkumpulnya ibadah-ibadah utama, yaitu shalat, puasa, sedekah dan haji, yang semua ini tidak terdapat pada hari-hari yang lain.” (Fathul Baari, 2/460). Selain itu di dalamnya juga terkumpul hari-hari ibadah yang agung yaitu hari tarwiyah [mabit di Mina tanggal 8], hari Arafah [tanggal 9] dan hari raya haji/berkurban [tanggal 10] dilanjutkan dengan hari tasyriq 11,12, dan 13.

Lantaran agungnya kemuliaan bulan Haji hingga sebagian ulama sampai-sampai lebih mengutamakan sepuluh hari ini daripada Ramadhan, namun yang benar adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibnul-Qayim al-Jauziyah, “Jika dilihat pada waktu malamnya, maka sepuluh terakhir bulan Ramadhan lebih utama dan jika dilihat waktu siangnya, maka sepuluh hari pertama bulan Haji lebih utama”, (Zaadul Ma’ad: 1/57).

Siang hari bulan Haji lebih utama daripada siang hari bulan Ramadhan karena pada siangnya terdapat hari tarwiyah, hari 'arafah, dan hari raya haji. Sedangkan malam-malam Ramadhan maka lebih utama dengan alasan karena pada malamnya terdapat Lailatul-Qadr yang lebih utama dari seribu bulan.

Oleh karena itu saking agungnya hari-hari yang mulia ini para salafus-shalih sangat antusias dan berijtihad dalam mengisi hari-hari dan malamnya dengan berbagai ibadah dan ketaatan, sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Darimi dan Al-Baihaqi tentang Said bin Jubair. “Adalah Sa’id bin Jubair, jika datang sepuluh hari pertama bulan Haji sangat bersungguh-sungguh [beribadah] hingga hampir saja dia tidak mampu melaksanakannya,” (HR Darimi: 1774 dan Al Baihaqi Asy-Syu'ab: 3476, dengan sanad hasan).

Pada hari-hari yang sarat dengan keutamaan dan kemuliaan ini seorang muslim sangat dianjurkan memperbanyak ibadah dan melakukan ketaatan serta menjauhi segala macam maksiat dan dosa. Wallahu A'lam!

Oleh: Ilham Kadir, Pengamat Sosial Keagamaan dan Peneliti MIUMI.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi