Makar Syiah dalam Tragedi Mina 2015

Tulisan ini, secara pribadi saya persembahkan pada seorang  rekan yang wafat dalam tragedi Mina 2015. Sebuah musibah yang hingga saat ini belum dipastikan berapa jumlah korban, namun diperkirakan lebih dari seribu, dan khusus jamaah Indonesia, lebih dari seratus orang. Salah satunya adalah teman seangkatan saya di Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Dikdik Muhammad Tasdik. Kami adalah peserta program Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) kerjasama antara Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), untuk priode 2014-2015, terjaring 30 calon doktor dan 50 magister. Kami berdua adalah di antara para kandidat doktor pendidikan Islam di UIKA.

Saya tidak banyak mengetahui latar belakang teman saya itu. Hanya tau kalau beliau adalah alumni LIPIA dan juga menyelesaikan sarjananya di Libya, negara yang pernah makmur ketika dipimpin Muammar Qaddafi, namun kini menjadi hancur lebur bersamaan setelah Qaddafi dikudeta dan tertembak.

Dikdik adalah tipe ulama muda yang rendah hati. Pertemuan terakhir saya pada awal bulan September 2015 di kampus, seminggu sebelum berangkat naik haji, sekaligus menjemput syahid bersama istrinya. Panggilan hajinya adalah panggilan Allah untuk selamanya. Ketika sama-sama makan siang di kantin kampus. Saat itu, ia mengungkapkan keinginannya, Saya ingin sekali bisa menulis seperti Antum. Saya mau belajar. Katanya. Saya jawab, "Terbalik itu, semestinya saya yang harus belajar sama Antum. Saya ini ibarat seorang koki yang bisa memasak tapi tidak banyak bahan, sementara antum adalah punya banyak bahan, hanya butuh sedikit latihan. Jika saja antum terbiasa menulis pasti jauh lebih hebat". Saya tau betul kapasitas beliau, dalam diskusi-diskusi dalam kelas sangat menonjol penguasaan kitab turatsnya.

Selesai makan siang, kami pun beranjak ke perpusatakaan, melihat contoh-contoh disertasi, di sanalah kami berpisah untuk selamanya. Saya sempat minta didoakan kiranya suatu saat saya pun dapat naik haji.

Karena kematian sahabat saya, Dikdik Muhammad Tasdik tidak terlepas dari takdir dan kesalahan manusia,  besar kemungkinan terjadi sabotase dari pihak Syiah Iran. Maka ada baiknya kita menelaah secara komprehensif, bahwa masalah ini tidak berdiri sendiri.

Harus diyakini bahwa saat ini, umat Islam benar-benar berada dalam sebuah masa yang sulit. Secara global, negara-negara tempat  nabi-nabi turun dan agama Islam berkembang yang seharusnya menjadi contoh bagi negara berpenduduk muslim lainnya satu-persatu terlibat konflik dan pada tahap tertentu berada dalam titik nadir kehancurannya. Sedangkan yang masih survive pun tetap diganggu bahkan sengaja dibuat kacau supaya ikut masuk dalam kubang perselisihan dan kekacauan. Bahkan negara-negara Islam yang dipandang kuat selalu didesain sedemikian rupa agar menjadi lemah tak berdaya, kategori terakhir ini lebih menunjuk hidung sendiri.

Setidaknya itulah yang dapat kita pahami jika menelaah peristiwa dan tragedi Mina yang menimpa jamaah haji tahun ini, 2015. Arab Saudi sebagai penguasa tunggal penyelenggara haji dan sebagai pelayan dua kota suci (khadimul haramayn) tetap   menjadi bulan-bulanan pihak tertentu, terutama mereka yang melakukan politisasi tragedi Mina dengan mengusulkan, bahkan mendorong pihak ketiga untuk ikut campur tangan dalam pelayanan haji.

Syiah misalnya, sehari setelah tragedi Mina, langsung melakukan demo besar-besaran di London Inggris, meminta agar penyelenggaraan haji diserahkan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa.  Bagi saya secara pribadi, ini adalah usulan yang sangat konyol dan tidak masuk akal. Sebab, selama ini PBB masih didominasi oleh negara-negara non-muslim yang bahasa agamanya adalah kafir, sedangkan orang kafir haram untuk menginjakkan kaki di Haramayn. Selain itu, negara-negara yang memiliki hak veto pun mereka terkesan anti-Islam atau minimal tidak respek pada Islam.

Buktinya, Palestina sampai saat ini terus-menerus berada dalam jajahan Israil, bahkan Masjidil Aqsha pun sudah dikuasai zionis, di sana, hanya untuk melakukan salat saja tidak semudah yang kita bayangkan. Korban, dan korban terus berjatuhan, sementara PBB tidak mau peduli. Lalu bagaimana mereka akan melayani jamaah haji?

Secara kasat mata, tragedi Mina 2015 adalah bagian yang tidak terpisah dari rentetan yang berlaku di Timur Tengah, khususnya perseteruan Suni dan Syiah. Lengsernya Saddam Husain yang berujung di tiang gantungan, disusul Muammar Qaddafi yang mati secara tragis, adalah contoh kongkrit bahwa ada yang bermain dibalik itu semua. Sebab, setelah kedua pemimpin kuat di atas mati secara tragis, sampai saat ini belum bisa tergantikan dan negaranya benar-benar tenggelam dalam konflik yang tak berkesudahan.

Pun, negara-negara yang dipandang lemah mengalami hal serupa, seperti Yaman dan Suriah, sampai hari ini terus bergejolak dan menghasilkan penderitaan berkesinambungan, jutaan rakyat mengungsi, dan terkatung-katung tanpa harapan dan masa depan. Itulah harga yang harus dibayar mahal bagi umat Islam yang mengundang pihak ketiga untuk menyelamatkan mereka, yang terjadi justru tragedi tak berkesudahan.

Syiah-Iran sangat menginginkan Arab Saudi berada dalam kondisi seperti itu, agar ideolgi sesat mereka tersebar tanpa hambatan, selain persaingan posisi tawar mereka dapat mengalahkan Saudi. Syiah adalah Assasin abad ke-12, menebar teror ke segala penjuru, bekerjasama dengan tentara Salib menghabisi tokoh dan pemimpin kunci pembawa panji jihad, hingga datang Salahuddin membasmi mereka seperti seorang ibu rumah tangga mengejar kecoak. Nampaknya, Saudi, wabil khusus Pangeran Salman akan melakukan hal serupa pada Syiah.

Propaganda Syiah

Dalam menyikapi tragedi Miina 2015, dunia internasional terbagi menjadi dua kelompok.
Pertama dimotori oleh media massa yang berkedudukan di Iran. Satu sikap yang beranjak dari fakta bahwa sekitar 450 korban tewas dari jumlah keseluruhan (seribu lebih) berasal dari negeri ini, dipastikan jika mereka adalah aktor dan pelaku utama tragedi ini.

Tehran Times, harian berbahasa Inggris terbesar di Iran, misalnya. Pada penerbitan Sabtu, 26 September 2015, tiga dari lima berita di halaman depan mengupas tentang Tragedi Mina. Pernyataan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, diturunkan sebagai headline dengan judul Arabia Must Admit Responsibility for Mina Disaster.

Dua berita lain adalah Iranian Official Hold Saudi Officials Responsible for Hajj Tragedy dan Call Rise to Put Hajj Under OIC Authority. Editorial yang ditempatkan di halaman pertama, juga membahas topik serupa, Who Should Take Responsibility for Mina Catastrophe?  Diulis langsung oleh Pemimpin Redaksi Tehran Times, Hassan Lasjerdi.Media-media dari Lebanon, Turki, Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat, berada di kelompok yang sama.

Setelah serangkaian perkembangan kabar dari Mina, dalam kolom berjudul The Iranian-Saudi Rivalry is Overdone yang ditulis Rami G. Khouri, harian berbahasa Inggris yang terbit di Beirut, The Daily Star, menunjukkan ke arah mana mereka berpihak. Pula demikian harian dari Inggris, Guardian dan Daily Mail, dan juga The New York Times, Washington Post, Boston Globe, serta jaringan televisi raksasa seperti CNN dan BBC.

Guardian bahkan menuliskan satu laporan panjang yang mencoba memberikan gambaran lebih jelas perihal pergesekan itu, Iran Blames Saudi Mismanagement for Deadly Hajj Crush.

Kontra mereka adalah media-media Arab Saudi. Koran-koran beroplah besar seperti Al Jazirah, Al Riyadh, Al Watan, maupun koran-koran berbahasa Inggris seperti Asharq al Awsat, Arab News, dan Saudi Gazette, ramai-ramai berdiri di belakang Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Sembari memaparkan langkah-langkah dan strategi kerajaan dalam menyikapi tragedi, media-media ini melancarkan serangan balik ke Iran.

Arab News, misalnya, menuliskan feature berjudul Overcrowding to Blame for Stampede: Eyewitnesses. Di sekujur tubuh tulisan dipaparkan perihal pra dan pascamusibah, dan tidak ada satu kalimat pun di sini yang mengarah pada selentingan bahwa tragedi terjadi karena human error dari panitia penyelenggara haji Arab Saudi.

Pembelaan lebih keras terdapat dalam berita Saudi Army Not Behind in Reaching out to Hajis dan King: No One Will Be Allowed to Disrupt Islamic Harmony, yang secara terbuka "menuding" ada pihak-pihak yang merusak keharmonisan Islam di Timur Tengah.Tak sulit menebak negara mana yang menjadi pihak tertuding. Iran, Lebanon, dan Barat, yang dalam beberapa waktu belakangan memang paling sering mengusik Arab Saudi. Tak terkecuali dalam hal proyek-proyek pembangunan fasilitas di sekitar Masjidil Haram, yang tahun ini ternyata ikut meminta korban pula, demikian kultwit @agiskhaidir yang diolah oleh Muslimmoderat.Com.

Ambisi Iran

Yang paling lantang berteriak memojokkan dan memprotes Saudi Arabia adalah Iran. Saya minta pemerintah Arab Saudi bertanggung jawab atas bencana ini dan memenuhi kewajiban legal dan Islaminya terkait hal ini, ujar Rouhani menirukan pernyataan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang juga menyalahkan pemerintah Saudi. "Dunia tak akan menerima alasan-alasan seperti cuaca panas atau para jemaah tidak bisa diatur," cetus salah seorang ulama Iran, Mohammed Emami-Kashani.

Iran berbuat demikian karena agama Syiah, yang dalam perjalanan sejarahnya memang sangat memusuhi Islam dan kaum muslimin Ahlussunah wal Jamaah. Mereka sangat berkepentingan untuk menyukseskan ide internationalisasi Mekah dan Madinah.Walaupun sebenarnya ide internasionalisasi Mekah dan Madinah ini bukanlah barang baru.

Pada dekade 80-an ide ini pernah dipopulerkan oleh pemimpin spiritual tertinggi Syiah sekaligus pemimpin revolusi Iran, Khomeini. Khomeini meminta agar pengelolaan dua Kota Suci umat Islam itu dikelola oleh Komite Islam Internasional dan tidak di bawah pemerintah Kerajaan Saudi Arabia.

Seruan Khomeini ini pun berujung kepada tragedi Mekah pada 1987 M, saat itu sedikitnya 400 lebih warga Iran tewas setelah membuat kerusuhan saat ibadah haji berlangsung di Tanah Suci. Berbagai kalangan menilai insiden Mekah 1987 itu hasil provokasi dari Khomeini.

Padahal, tidak ada jaminan penyelenggaran haji dan pengelolaan dua kota suci akan menjadi lebih baik jika dialihkan dari tangan Saudi Arabia. Justru tantangan kompleks akan menanti dengan terlibatnya sejumlah pihak dalam mengaturnya.Kita perlu juga menyadari bahwa mengatur 3.000.000 jiwa ditambah 48.000 jamaah haji domestik berasal dari budaya yang berbeda, bahasa yang berbeda dalam satu titik yang sama, bukanlah kerjaan yang mudah.

Di Indonesia saja, hanya sekadar bagi-bagi sembako dan uang recehan Rp. 10.000 selalu menelan korban, bagaimana dengan jumlah jutaan manusia?Bahkan Kerajaan Arab Saudi menghabiskan miliaran riyal untuk manajemen haji, dan selalu berbenah dari masa ke masa, mereka telah mengerahkan sumber daya terbaik untuk melaksanakan proyek raksasa di tempat-tempat suci. Kerajaan menganggap tugas ini sebagai kewajiban Islaminya. Pemerintah tidak mengambil keuntungan apapun dari operasi masif Haji ini.

Mungkin bisa dibandingkan dengan negara-negara gabungan Eropa yang tidak mampu menampung 120 ribu pengungsi dan mengadakan berbagai macam konferensi-konferensi. Iraq tidak mampu menampung 50 ribu pengungsi dari Sholahud-dien dan mayoritas mereka meninggal sebelum masuk gerbang-gerbang (perbatasan), sedangkan Amerika tidak mampu menampung 10 ribu pengungsi.

Biasa terjadi desak-desakan di stadion sepak bola, sehingga menyebabkan kematian ratusan orang, sebagaimana terjadi di Mesir dan negara lain. Termasuk di Iran sendiri terjadi desak-desakan oleh penonton sepak bola, sekali lagi penonton sepak bola. Padahal jumlah mereka hanya 20 ribu supporter dan menimbulkan petaka hingga yang mati mencapai 500 dan korban luka 700.

Sementara Saudi Arabia mampu menampung 2,5 juta penduduk Suriah tanpa gembar-gembor di media, tanpa menyebutkan satu pengungsi pun. Juga membenahi keadaan setengah juta penduduk Yaman yang mukim di sana. Bahkan Saudi tidak menganggap mereka pengungsi, mereka pun hidup nyaman, tempat tinggal layak dan fasilitas sekolah. Sebelum ikut berbicara tentang pengelolaan haji dan pelayanan jama'ah dengan tertib, aman, lancar, dan nyaman; pihak-pihak pengkritik Saudi Arabia hendaknya berkaca diri terlebih dahulu.

Terutama Indonesia yang tidak pernah beres persoalan hajinya, menterinya sudah dua yang dikrangkeng gara-gara korupsi dana haji. Dan sampai saat ini, pelayanan haji paling amburadul dan penuh korupsi masih ada di negara kita. Bagaimana mau turut ikut campur tangan dalam mengelolah Haramayn. Persis kata pepatah, Gajah di pelupuk mata tak terlihat, nyamuk di seberang lautan begitu jelas.

Protokol Zionisme

Iran tahu persis kekuatan militer Saudi saat ini, di mana sejak diangkatnya Raja Abdullah bin Abdulaziz pada 1995, Saudi melakukan modernisasi besar-besaran peralatan militernya. Tercatat Saudi membeli peralatan tempur super canggih dari Amerika Serikat dan negara barat lainnya berikut transfer teknologi sekaligus pelatihan militer terhadap personil-personilnya. Bahkan saat ini pertumbuhan belanja militer Saudi merupakan yang terbesar di dunia mengingat situasi Timur Tengah yang semakin memanas. Arab Saudi sendiri tercatat memiliki belanja militer terbesar ke-empat di dunia setelah Amerika, China dan Rusia.

Sementara Iran sejak diembargo Amerika tahun 1980 dan menyusul Uni Eropa pada 2012 praktis tidak bisa berbuat banyak untuk mengembangkan negaranya dibanding jika tidak diembargo. Peralatan tempurnya saat ini banyak mengandalkan persenjataan lama sisa perang Irak-Iran, sebagain hasil produksi sendiri dengan bantuan alih teknologi dari Rusia, China, Kuba dan negara-negara komunis sosialis lainnya sebagai sekutunya. Modernisasi alutsistanya sebagian besar dari Rusia dan China, dan baru dikembangkan akhir-akhir ini mengingat rivalnya (Saudi) telah lebih dulu melakukannya.

Jika melihat kekuatan blok masing-masing sekutunya-pun, Iran sepertinya ketar-ketir mengimbangi Arab Saudi.

Blok Iran adalah Rusia, China, Kuba, Venezuela, Korea Utara, Checnya dan kemungkinan India akan bergabung ke blok ini. Sedangkan blok Arab Saudi adalah Amerika, Inggris, Prancis, Jerman, Turki, Qatar, Liga Arab minus Irak dan Suriah, Uni Eropa, dan Pakistan

Di kancah internasional pun, Iran sepertinya berat mengambil simpati umat Islam dunia melebihi Saudi, dimana Saudi sudah seperti kiblat bagi umat Islam karena di dalamnya terdapat dua kota suci, Mekah dan Madinah sekaligus dua masjid suci di kedua kota tersebut.

Untuk merebut simpati, Iran melakukannya dengan propaganda isu wahabi, dengan menggambarkan bahwa wahabi adalah takfiri, suka mengkafirkan, suka menyesatkan kelompok lain, ideologi wahabi adalah peletak dasar terorisme di dunia, wahabi bengis, kejam, haus darah, intoleran, radikal dan segudang label buruk lain yang disematkan kepada paham wahabi. Hasilnya-pun cukup signifikan membuat sebagian umat Islam meragukan Arab Saudi sebagai negeri Islam, terutama kalangan pemuda yang penuh semangat tanpa dilandasi ilmu yang cukup.

Iran menggelontorkan dana besar-besaran mengkampanyekan isu wahabi ini keseluruh dunia. Dana tersebut mengalir ke media, yayasan, NGO, sekolah, pondok pesantren, kampus dan institusi lain. Hasilnya-pun bisa Anda saksikan hari ini, betapa Iran dengan media-medianya di Indonesia begitu gencar menyebar fitnah dan membuat tuduhan serampangan kepada negeri Saudi dan kepada kelompok yang mereka namakan wahabi, hingga kadang anak kecil-pun tertawa membaca fitnah dan tuduhan mereka, karena saking ngawurnya!

Andai Saudi benar-benar takfiri, maka yang berhak menginjak Haramayn hanya mereka yang wahabi, namun faktanya, seluruh umat Nabi Muhammad dapat menginjak Mekah dan Madinah di bawah kekuasaan wahabi bahkan Syiah yang sesat dan sebagiannya mungkin kafir masih bisa berhaji.

Tapi begitulah cara Iran menjatuhkan musuhnya, wahabi dan Saudi. Karena Iran dengan syiahnya sadar, perang opini dan debat head to head melawan Saudi dengan ideologi wahabinya tidak akan menang. Demikian juga dengan perang militer, semakin remuk! Nasib bangsa Persia (Iran) memang tidak akan pernah baik, Persia akan selalu kalah dan dikalahkan, Persia tidak akan pernah bisa membangun imperiumnya lagi, karena dulu Raja Persia telah sombong dengan merobek surat ajakan masuk islam dari Nabi Muhammad, (http://www.masjumat.com/).

Saat ini, konflik di Suria pun seakan menjadi lahan unjuk kekuatan dua blok di atas. Masuknya Rusia dan Iran melakukan serangan atas nama memerangi ISIS tapi hakikatnya ingin menghabiskan para mujahidin telah menjadi sebuah tragikomedi. Iran, Rusia, Cina, Korsel dan sekutunya dengan ideologi Syiah-Komunis akan bertarung dengan mujahidin dengan bantuan negara-negara Ahlussunnah, baik Saudi, Turki,  dan gabungan negara teluk.

Ada pun Indonesia jika mengikuti arus pemerintah, nampaknya lebih memilih berpihak pada Cina, Iran, dan Rusia. Tapi secara umum, rakyat yang mayoritas Ahlussunnah wal Jamaah mendukung penggulingan Basar Assad yang sudah terlalu zalim dengan rakyatnya. Karena itu, kita berharap agar pemimpin bangsa ini lebih bijak dan hati-hati dalam bersikap dan membuat keputusan.

Namun secara de jure, Indonesia saat ini tengah membangun poros baru, khususnya dalam kepemimpinan Jokowi-JK. Besarnya nilai investasi Cina, khususnya dalam ranah transportasi, wabil khusus kereta cepat, setelah mengalahkan pesain beratnya Jepang, maka dipastikan hubungan Beijing-Jakarta akan lebih erat, plus melimpahnya jumlah buruh kasar ke Indonesia dari Negeri Tirai Bambu itu.

Iran tak mau ketinggalan. Transaksi bisnis dengan Indonesia pun kian meningkat, khususnya dibidang energi, termasuk minyak yang disinyalir telah lama berlangsung dengan harga di bawah pasar internasional, konpensasinya, adalah permintaan lahan seluas-luasnya untuk perkebunan dan perumahan. Walaupun jika berbicara dengan Iran, tujuan mereka adalah penyebaran ideologi Syiahnya, bisnis hanyalah sampingan. Iran ingin menjadikan Indonesia basis penyebaran dan pergerakan Syiah Asia Tenggara, apalagi Malaysia telah lebih dulu mengusir Iran, dan memotong seluruh interaksi bisnisnya, serta menutup segenap lembaga sosialnya yang menjadi martil penyebaran Syiah.

Ada pun Rusia, kini telah melakukan investasi dalam bidang nuklir di Indonesia, karena itu hubungannya dengan Indonesia pada zaman Jokowi-JK kian mesra walaupun  posisinya belum sama dengan Amerika sebab volume dagang kita dengan Rusia jauh lebih rendah.

Last but not least. Tragedi Mina 2015 adalah kerja-kerja provokatif pihak Syiah yang menajdikan jamaah haji Syiah Nigeria yang menjadi martil untuk membuat kekacauan di Mina, dan ini sukses besar, opini liar pun berkebang telah memberikan kesan kepada dunia bahwa Pemerintah Kerajaan Arab Saudi tidak mampu menjamin keamanan para jamaah haji. Berikutnya adalah untuk memberikan rasa takut kepada umat Islam agar mempertimbangkan kembali niatnya untuk beribadah haji karena Mina adalah kuburan massal, siapa yang datang ke Mina sama artinya dengan setor nyawa.

Ronde berikutnya, sebagaimana tulisan Prof Ali Mustafa Yaqub, Imam Madjid Istiqlal dalam Harian Repubika (8/10) adalah munculnya pendapat bahwa kota suci Mekah harus dikelola secara internasional karena Mekah milik umat Islam. Apabila wacana ini menggelinding, maka akan terjadi negara-negara muslim saling berebut untuk mendapatkan kesempatan mengelola tanah suci Makkah.

Akhirnya, yang terjadi justru konflik antarumat Islam. Maka sangat baik merenungkan kembali Protokol Zionisme nomor 7 yang menyatakan, "Untuk kawasan Eropa dan demikian pula benua-benua lain, kita wajib menciptakan konflik, mengobarkan api permusuhan dan pertentangan." Dalam kurun waktu paling lama 10 tahun, tidak mustahil, tragedi serupa akan terulang lagi karena memang sudah ada yang mendesain kecuali apabila aktor intelektual dan kelompok jamaah haji yang selalu membuat keonaran di tanah suci itu tidak dizinkan lagi memasuki Arab Saudi. Wallahu A'lam!

AQL, Tebet-Jakarta, 8 Oktober 2015.

Ilham Kadir. Peneliti Majelis Intelektual-Ulama Muda Indonesia (MIUMI);  Kandidat Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an