Haji dan Panggilan Allah



Ibadah haji merupakan seruan dan panggilan  Allah kepada Hamba-nya. Yang dimaksud dengan seruan di sini adalah kewajiban yang harus dipenuhi bagi umat Islam yang telah mencapai level kemampuan (ista'tha'a) baik secara finansial maupun secara fisik.

Karena ibadah, termasuk haji adalah perintah Allah maka, hal pertama dan utama yang harus diperhatikan adalah niat. Niat ini akan menjadi pembeda dengan amal-amal lainnya. Maka, niat paling ideal bagi para jemaah haji adalah, untuk menyempurkan rukun Islam yang kelima dan sebagai jawaban atas seruan Allah. Inilah yang dimaksud dengan labbaika allahumma labbaik. Ya, Allah aku datang memenuhi seruan-Mu. Dan tentu saja sebagai bagian dari mendapat ridha Allah dunia akhirat yang akan diganjar dengan surga sambil dijauhkan dari murka dan neraka. Ada pula yang menunaikan ibadah haji karena panggilan Allah untuk selamanya, berhaji ke tanah suci Makkah sekaligus menjemput panggilan Malaikat Maut.

Tersebutlah Farry Mauluddin (37 tahun), jamaah haji kloter 12 asal Bekasi yang meninggal akibat tertimpa crane di Masjdlil Haram. Almarhum, sebenarnya sudah mendapat panggilan haji dari Kemenag sejak tahun 2011 sampai 2015. Bahkan dipertegas jika yang bersangkutan tidak bisa naik haji tahun ini, maka ia harus mengambil kembali dananya yang telah ia setor lalu mendaptar ulang, dan antre hingga belasan tahun kedepan.  Masalah utama  Ferry rahimahullah adalah persoalan kerja, sangat sulit mendapat cuti. Untunglah tahun ini ia bisa mendapat cuti dan berangkat memenuhi panggilan Allah untuk berhaji dan menetap di sana hingga manusia kembali dibangkitkan dari kuburnya.

Ferry hanyalah satu dari 108 korban tewas yang tersimpa robohnya crane di Masjidil Haram  pada hari Jumat (11/9) petang itu. Selain korban tewas, yang luka-luka juga mencapai 238 orang. Hingga kini tercatat ada 53 jemaah haji asal Indonesia yang menjadi korban luka dan meninggal dunia akibat peristiwa crane. Dari jumlah tersebut 23 korban sudah kembali ke kloternya masing-masing, sehingga tinggal 19 jemaah lagi yang dirawat, serta 11 orang meninggal dunia, (Tribunnews.com, 15/9).

Peristiwa bermula ketika badai debu menyapu Masjidil Haram sebelum hujan lebat turun sore itu, membuat ratusan jamaan berpindah tempat. Jamaah yang awalnya berada di areal pintu masuk utama sa'i memutuskan untuk merangsek masuk ke depan mendekati Ka'bah. Mereka berlindung di bawah tempat tawaf, khusus untuk jamaah berkursi roda. Lintasan tawaf di lantai dua laksana payung melingkar mengitari Baitullah. Namun, tiupan angin bercampur debu begitu kuat, pada saat bersamaan puing beton dan bandul crane jatuh dari lantai tiga atap bangunan masjid yang hampir lurus sejajar dengan maqam Ibrahim, korban pun berjatuhan, (Republika 14/9).
  
Pendiri Islamic Heritage Research Foundation, Irfan al-Alawi menuturkan, saat ini, Masjidil Haram dikelilingi 15 crane berukuran besar. Saudi harus berpikir ulang mengenai strategi keselamatan dalam proyek perluasan masjid, apalagi pada saat musibah, terdapat 800 ribu jamaah dalam masjid, katanya pada BBC (13/9).

Namun, jika melihat kronologis kejadian di atas,  musibah ini sangat terkait dengan bencana alam karena didahului dengan badai debu gurun diiringi dengan hujan lebat serta petir sambar-menyambar.

Kini otoritas setempat sedang manjalankan penyelidikan mengapa peristiwa tersebut bisa terjadi, hal ini harus diapresiasi. Dan yang terpenting agar pemerintah Arab Saudi terus berusaha berbenah, menangani jamaah haji dari segala penjuru terutama yang terkait dengan keselamatan jiwa jamaah. Kabar teranyar, untuk para korban crane yang meninggal dan cacat permanen akan diberikan santunan sebesar 1 juta real (3,8 M), dan untuk yang korban luka sebesar 500 ribu real (1,8 M). Selain Menghajikan dua orang dari keluarga korban yang wafat sebagai tamu kehormatan kerajaan pada musim haji tahun 1437 H. Pun, akan diberikan keleluasaan untuk menyempurnakan haji di tahun berikutnya bagi korban yang tidak bisa melaksanakan haji pada tahun ini, (http://www.alriyadh.com/1082991).
Karenanya, lebih baik mengurangi kuota haji tetapi pelayanan lebih maksimal, daripada menambah jatah kuota tetapi pelayanan jamaah acak-acakan. Apalagi kunjungan presiden Jokowi Dodo yang bertepatan dengan jatuhnya crane itu mendapat hadiah tambahan kuota haji untuk Indonesia sebanyak 10 ribu jamaah.

***

Dengan berpegang pada sabda Nabi, "Janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian, karena jika dia adalah orang yang suka berbuat kebajikan, maka bisa jadi dia akan terus menambah kebaikan, atau jika dia adalah orang yang selalu berbuat dosa, maka bisa jadi dia bertobat", maka tidak boleh seorang muslim mengharap dan mengangan-angankan kematian, tetapi sebaliknya berusaha bertahan hidup apa pun yang terjadi. 

Namun, jika semua perangkat keselamatan telah dioptimalkan, tetapi tetap mendapat musibah sebagaimana crane yang menimpa Masjidil Haram, maka ada beberapa keistimewaan yang terjadi pada mereka yang terkena musibah, antara lain:

Pertama. Meninggal di hari yang mulia, yaitu Jumat. Dari Abdullah bin ‘Amr bahwa Rasulullah bersabda, Tidaklah seorang muslim meninggal dunia pada hari Jumat atau pada malam Jumat melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah [pertanyaan] kubur,” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, Humaid, Abu Ya'la, dan Al-Baihaqi).

Kedua. Meninggal karena tertimpa reruntuhan. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha’un; orang yang meninggal karena penyakit perut; orang yang mati tenggelam; orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan; dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ketiga. Meninggal ketika sedang beramal shalih. Hudzaifah, salah seorang sahabat Nabi menyampaikan bahwa Rasulullah bersabda, Siapa yang mengucapkan 'La ilaaha illallah' karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang berpuasa sehari karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang bersedekah dengan satu sedekah karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga.” (HR. Ahmad, sanadnya shahih).

Sebagai seorang muslim, maka salah satu kewajiban yang harus terus diamalkan adalah saling mendoakan, baik yang masih hidup, apalagi yang telah wafat. Tak terkecuali para jamaah haji tahun ini. Mungkin ada yang beralasan, Doa untuk diri saya saja tidak diterimah, bagaimana hendak mendoakan orang lain.

Perlu diketahui, bahwa kadang doa kita tidak manjur untuk diri sendiri dan keluarga, namun justru makbul bagi orang lain. Jangan pelit berdoa untuk keselamatan kaum muslimin sekaligus untuk kesejahteraan bangsa dan negara yang tengah dihimpit kemelaratan ekonomi dan kegaduhan politik yang tak berkesudahan. Wallahu A'lam!

Dimuat Harian Amanah, 18 September 2015.

Ilham Kadir, Peserta Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) Baznas-DDII; Pengurus KPPSI Pusat.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an