Membangun Komunitas Harmonis



Oleh: Ilham Kadir. Pengamat Sosial-Keagamaan & Kandidat Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor.

Tidak hanya anak dituntut beradab pada orang tuanya, tetapi harus dimulai dari orang tua, berupa menunaikan hak-hak anak, serta mengamalkan adab-adab yang telah digariskan oleh agama kita. Pendidikan adab harus bermula dari orang tua sebagai contoh.

Bagi orang tua terutama sang ayah, adab-adab terhadap anaknya yang harus ditunaikan antara yang terpenting adalah: Memilihkan ibu yang salehah (baik), memberi nama yang baik, menyembelihkan aqiqah pada hari ketujuah dari kelahirannya, mengkhitannya, menyayangi dan berlaku lembut padanya, memberi nafkah, mendidiknya dengan baik, memperhatikan pendidikannya, menanamkan ajaran Islam sejak dini, membimbingnya untuk melakukan kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah dalam agama. Apa bila telah dewasa, hendaklah menikahkan mereka dengan suami atau istri yang baik dan dapat menuntunnya untuk berbakti pada Allah dan kedua orang tua.

Adab terhadap saudara adalah sama dengan perlakuan antara orang tua dan anak. Maka, kewajiban terhadap saudara yang lebih tua adalah seperti kewajiban orang tua terhadap anak, dan kewajiban saudara yang lebih mudah adalah sama dengan kewajiban anak terhadap orang tuanya. Sabda Nabi, “Berbaktilah kepada ibu dan bapakmu, kemudian saudara perempuanmu, kemudian saudara laki-lakimu, kemudian yang lebih bawah darimu, kemudian yang lebih bawah lagi,” (Al-Hakim: 4/168).

Ada pun hubungan antara suami dan istri, adalah hubungan timbal-balik. Keduanya memiliki hak yang sama, dan ada pula berbeda di antara keduanya. Hak yang sama adalah amanah, sehingga tidak ada khianat di antara keduanya. Suami istri adalah sebuah sekutu yang harus saling amanah, loyal, dan ikhlas dalam semua urusan kehidupan mereka, baik yang bersifat umum maupun khusus. Cinta dan kasih sayng, harus saling mencintai dan menyayangi dengan sebesar-besarnya, cinta yang tulus dan kasih sayang harus timbal-balik dari keduanya. Harus saling percaya di antara keduanya; dan adab-adab umum, seperti harus saling berlemah lumbut dalam bertindak dan bertutur kata, bermanis muka, saling menghormati dan menghargai ucapan.

Hak-hak istri terhadap suami adalah, diperlakukan secara patut, sesuai firman Allah, “Dan bergaullah dengan mereka secara baik,” (QS. An-Nisa’: 19); Mengajarinya tentang perkara-perkara agama yang penting jika istri belum paham, mengizinkan untuk menghadiri majelis-majelis ta’lim untuk belajar, membelikan mereka buku-buku bacaan yang mencerahkan.

Kebutuhan seorang istri dalam memperbaiki agamanya adalah lebih utama dari segala kebutuhan fisik. Mendidik untuk menjalankan ajaran-ajaran dan adab-adab Islam serta menghukumnya bila menyelisihinya. Jika memiliki istri lebih dari satu (poligami) harus bersikap adil dengan memberi makan dan minuman, pakaian, tempat tinggal, dan giliran. Tidak berat sebelah, apalagi curang atau bersikap aniaya.

Istri juga demikian, berkewajiban terhadap suaminya, dengan melaksanakan adab-adab berikut: Istri harus selalu taat suami, selama bukan dalam perkara kemaksiatan. Sabda Nabi, “Jika seorang laki-laki mengajak istrinya ke tempat tidur lalu si istri tidak memenuhi, kemudian laki-laki itu kesal terhadapnya, maka wanita itu dilaknat oleh malaikat hingga pagi,” (Bukhari: 3237; Muslim: 1436).

Juga sabdanya, “Seandainya aku dibolehkan memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, pasti aku perintahkan wanita untuk bersujud kepada suaminya,” (Abu Daud: 2140; Al-Hakim: 2/206; At-Tirmidzi: 1159).

Memelihara harga diri dan menjaga kehormatannya, menjaga harta dan anak-anak, serta segenap urusan rumahnya. Dan, tetap tinggal di rumah suaminya, sehingga tidak keluar rumah kecuali dengan izin dan kerelaan suami disertai dengan menundukkan pandangan, merendahkan suara, menahan diri dari berbuat buruk, memeliharan lisan dari perkataan kotor dan jorok, dan selalu memperlakukan kerabat suami dengan baik, sebagaimana juga suami harus berbuat baik pada kerabat istri.

Adab terhadap kerabat—bibi, paman, sepupu, dst.—adalah  memperlakukan mereka sebagaimana memperlakukan orang tua, anak, dan saudara kandung. Dengan cara menghormati mereka yang lebih tua, menghargai yang lebih muda, menjenguk ketika sakit, menolong bagi mereka yang kesulitan, dan yang tertimpa musibah.

Harus tetap menjaling silaturrahmi walaupun mereka memutuskannya, tetap bersikap lembut walaupun mereka kasar, berbuat baik, kendati mereka berbuat jahat. Ketika Nabi ditanya oleh seorang sahabat. “Kepada siapa seharusnya aku berbakti?’, beliau menjawab, ‘Ibumu, lalu ibumu, lalu ibumu, lalu ayahmu, kemudian kerabat terdekat, lalu kerabat terdekat,” (At-Tirmidzi: 1897; Abu Daud: 5139). Bahkan Nabi menegaskan kedudukan bibi (saudara perempuan dari ibu). “Sesungguhnya kedudukan bibi seperti ibu,” (An-Nasai: 2582).

Semoga dengan mengamalkan adab-adab di atas kita dapat meraih ridha Allah, serta mampu mewujudkan kekuarga sakinah, mawaddah, warahmah hingga tercapai sebuah komunitas hamonis yang tidak hanya mendapatkan kebahagiaan dunia, tetapi di akhirat masuk surga bersama keluarga dan kerabat. Semoga!

Camba-Maros, 20 Agustus 2015. dimuat koran SeruYa, 21 Agustus 2015.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena