Klasifikasi Bid'ah Menurut KH Lanre Said



Refleksi atas hari lahir ke-40 Pondok Pesantren Darul-Huffadh, Tuju-Tuju, Bone.


"Santri Pondok Pesantren Darul Huffadh Tidak Sejalan dan Searah Tujuan dengan Ahli Bid'ah Akidah dan Bid'ah Ibadah~KH Lanre Said"

Hari ini, empat puluh tahun silang, seorang ulama mendirikan lembaga pendidikan dalam bentuk pondok pesantren yang bertempat di Tuju-Tuju, Bone, Sulawesi Selatan.

Ulama dimaksud adalah KH Lanre Said (1923-2005), dan lembaga pendidikan yang didirikan adalah Majelisul Qurra' Wal Huffadz yang kemudian pada tahun 1992 berubah nama menjadi Pondok Pesantren Al-Qur'an Darul Huffadh. Lanre Said, mulai merintis lembaga pendidikan milik umat tersebut tepat pada jam 07.00 WITA, tanggal 7 Agustus tahun 1975 dengan 7 santri di Tuju-Tuju. Terkait waktu, jumlah santri, dan tempat yang penuh dengan warna 'Tujuh', maka, itu membutuhkan bahasan tersendiri baik secara historis maupun filosofis, dan telah saya bahas panjang-lebar dalam buku, "Jejak Dakwah KH Lanre Said: Ulama Pejuang dari DI/TII hingga Era Reformasi. Yogyakarta: Aynat Publishing, 2010".

KH Lanre Said yang disebut oleh orang Bugis sebagai 'Anregurutta' atau 'Gurutta' yang berarti 'Mahaguru Kita' namun akrab di mata santri dan keluarga dengan panggilan "Petta Lanre" adalah ulama tulen kelahiran Salomekko-Bone, dan jebolan Madrasah Arabiah Islamiyah (MAI) Sengkang-Wajo, yang merupakan produsen ulama nomor wahid di Indonesia bagian timur di bawah asuhan KH Muhammad As'ad Al-Bugisi, untuk menelaah riawat hidup KH Lanre Said secara tuntas, juga dapat ditemukan dalam buku saya tersebut.

Tulisan ini, hanya akan fokus mengungkap sisi pemikiran dan pemahaman keagaman sang kiyai, yang saya peruncing hanya terkait dalam masalah bi'ah. Penelitian penulis menemukan bahwa, untuk masanya, dan dalam ruang lingkup tertentu khususnya di Kabupaten Bone, belum ada seorang ulama pun yang berani tampil berdiri tegak, pasang badan, sebagaimana Gurutta untuk memberantas beragam jenis mungkarat berbentuk bid'ah. Maka, sangatlah penting untuk menyebut-nyebut jasa beliau sebagai seorang ulama pemberani anti bid'ah.

Ritual-ritual keagamaan yang saat ini kadang kala masih diperdebatkan bid'ah tidaknya, ternyata, Lanre Said telah memberikan garis demarkasi sejak ia mendirikan ponddok, sebut saja misalnya, tentang tahlilan di rumah orang yang telah meninggal dunia dengan cara kumpul-kumpul sambil makan-makan, shalat sunnah nishfu Sya'ban, Yasinan yang terkait waktu dan peristiwa, perayaan keagamaan selain yang telah dicontohkan Nabi dan para sahabatnya, pembacaan Kitab Barzanji untuk sebuah momen, dan banyak lagi, dengan tegas telah dicap oleh murid kesayangan Al-Bugisi itu sebagai bagian dari bid'ah ibadah yang dhalalah atawa sesat. Pun, ketika ia menyerang jenis bid'ah yang kedua yang jauh lebih berbahaya dari bid'ah ibadah, yang ia sebut sebagai bi'ah akidah dan akan mengeluarkan pelakunya dari Islam, antara lain adalah Syiah, Islam Jamaah, dan Ahmadiyah. Jika bid'ah ibadah adalah sesat, maka bid'ah akidah mengantarkan pelakunya pada kekufuran.
Agar tidak meleset dari tema bahasan kita, maka ada baiknya jika terlebih dahulu menelaah terminologi bid'ah serta ruang lingkupnya dengan memaparkan pendapat para ulama yang ahli di bidangnya. Berikut penjelasannya.

****

Bid’ah secara bahasa adalah setiap perkara baru yang diadakan atau diciptakan tanpa adanya contoh terlebih dahulu. Sebagaimana firman Allah, Badi'us samawati wal ardh. “Allah pencipta langit dan bumi (tanpa contoh)”. (QS Al Baqarah : 117).

Makna secara bahasa ini mencakup perkara dunia dan akhirat, sehingga dapat dikatakan bahwa mobil, kereta, pesawat, handphone, ilmu mushtalah hadits dan lain-lain adalah bid’ah secara bahasa, karena tidak ada contoh sebelumnya. Namun sesuatu yang menurut bahasa bid’ah, belum tentu secara istilah dianggap bid’ah.

Memang tidak ada dalam Al-Qur’an atau sunnah nash yang menyebutkan definisi bid'ah secara istilah syari’at, akan tetapi para ulama memberikan definisi setelah mengumpulkan nash-nash syari’at.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,” Bid’ah ada dua macam: pertama, bid’ah syari’at seperti sabda Nabi, Fainna kulla muhdatsatin bid'ah wa kulla bid'ah dhalalah. [Sesungguhnya setiap yang ada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat]. Kedua, bid’ah lughawiyah (bahasa) seperti perkataan Umar bin Khaththab ketika mengumpulkan manusia untuk shalat tarawih, ”Inilah sebaik-baiknya bid’ah”, (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anil ‘Adziem 1/223).

Yang harus difahami bahwa Allah dan Rasul-Nya selalu menyampaikan syari’at ini dengan makna syari’at yang biasa juga disebut "isthilahan" atau istilah, seperti ketika menyebutkan shalat, dalam segi lughawiyah atau bahasa bermakna do'a, namun dalam terminologi syariat berarti perbuatan dan perkataan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. demikian pula kata bid’ah, bila diucapkan oleh pemilik syari’at maka harus dibawa kepada makna syari’at, bukan makna bahasa.

Para ulama berbeda-beda ungkapan dalam mendefinisikan bid’ah. Imam Asy Syafi’I dalam riwayat Ar-Rabie’ berkata, "Bid’ah adalah sesuatu yang menyelisihi Al-Qur’an, atau sunnah, atau atsar para shahabat Rasulullah“, (I’lamul Muwaqqi’in 2/151, tahqiq Masyhur Hasan Salman).

Asy-Syathibi berkata, Bid’ah adalah sebuah tata cara dalam agama yang dibuat-buat yang menyerupai syari’at yang maksudnya adalah berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala”, (Al I’tisham 1/50, tahqiq Salim bin ‘Ied Al-Hilali).

Ibnu Rajab rahimahullah berkata,” Yang dimaksud dengan bid’ah adalah setiap yang diadakan dari apa-apa yang tidak ada asalnya dalam syariat yang menunjukkan kepadanya, adapun bila ada asal (dalil) syari’at yang menunjukkan kepadanya maka bukanlah bid’ah secara syari’at walaupun dianggap bid’ah secara bahasa”, (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 2/127 tahqiq, Syu’aib Al Arnauth).

As-Suyuthi berkata, ”Bid’ah adalah ungkapan tentang perbuatan yang bertabrakan dengan syari’at dengan cara menyelisihinya atau melakukannya dengan cara menambah atau mengurangi”, (Al-Amru bil ittiba’ wan Nahyu ‘anil Ibtida’).

Dari definisi para ulama di atas dapat kita simpulkan dalam beberapa poin. Pertama. Ruang lingkup bid’ah secara istilah hanya terbatas dalam masalah agama (ibadah), ini di tunjukkan oleh definisi As-Syathibi. Bid’ah inilah yang maksud oleh Nabi bahwa setiap bid’ah adalah sesat.

Maka keluar dari batasan “agama” adalah masalah yang bersifat duniawi. Karena dalil-dalil syari’at menunjukkan bahwa pada asalnya segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah duniawi adalah halal dan suci, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala QS Al Baqarah: 29. “Dialah (Allah) yang menciptakan untukmu semua yang ada di bumi ini”. Redaksi ayat ini dalam rangka imtinan (mengungkit kenikmatan) dan imtinan pastilah dengan sesuatu yang mubah dan halal.

Dalam Hadits Muslim dari ‘Aisyah, Tsabit dan Anas, sesungguhnya Nabi melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan (bunga kurma), maka Nabi bersabda. ”Kalau kamu tidak lakukan itu, ia tetap akan bagus”. Maka pohon kurma itu mengeluarkan buah yang jelek. Suatu ketika Nabi melewati mereka lagi dan bertanya, ”Ada apa dengan pohon kurma kalian? Mereka berkata, Engkau mengatakan begini dan begitu, Beliau bersabda,“Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian“, (Muslim. 4/1836 no 2363).

Maka urusan menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, demikian juga pensyari’atan ibadah, serta penjelasan jumlah, tata cara dan waktunya, dan peletakan kaidah-kaidah umum dalam mu’amalat hanya berasal dari Allah dan Rasul-Nya, bukan urusan ulil amri dari kalangan ulama ataupun umara’. Kita dan mereka setara dalam masalah ini, maka segala perselisihan dalam urusan ini tidak boleh dikembalikan kepada mereka, namun harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Adapun untuk urusan dunia mereka lebih faham dari kita, para ahli pertanian lebih mengetahui apa yang dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitasnya, apabila mereka mengeluarkan sebuah perintah yang berhubungan dengan pertanian, maka kewajiban umat adalah mentatati mereka. Demikian juga ahli perniagaan dan ekonomi ditaati dalam urusan yang berhubungan dengannya.

Kembali kepada ulil amri dalam kemashlahatan umum sama dengan kembali kepada para dokter dalam mengetahui obat yang berbahaya agar tidak dikonsumsi dan obat yang bermanfaat agar dapat digunakan.

Namun ini bukan berarti dokter yang menghalalkan kepada kita yang bermanfaat dan mengharamkan yang berbahaya, akan tetapi ia hanya sebagai pembimbing saja. Yang menghalalkan dan mengharamkan hanyalah Allah saja, sebagaimana firman-Nya, “(Allah) Yang menghalalkan untuk mereka segala yang baik dan mengharamkan atas mereka segala yang buruk”. (QS Al A’raaf : 157), (Muhammad Ahmad Al’Adawi, Ushul fil Bida’ Wassunan).

Ini adalah madzhab jumhur ushuliyyin (para ahli ushul fiqih) dan Muhaqqiqin, bahwa pada asalnya segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan dunia ini adalah halal, maka kita boleh memeroduksi apa saja yang bermanfaat dalam kehidupan ini, walaupun di zaman Nabi tidak ada, seperti berbagai jenis perabotan, sarana transportasi, pengeras suara, dan berbagai kemajuan tekhnologi lainnya. Walaupun ini semua dikatakan bid’ah, namun hanya sebatas bid’ah secara bahasa saja dan bukan bid’ah secara istilah syari’at.

Sedangkan Ibnu Abi Hurairah dari Syafi’iyyah dan Mu’tazilah serta Syiah-Rafidhah berpendapat bahwa pada asalnya sesuatu yang berhubungan dengan dunia ini adalah haram, alasan mereka yang paling kuat adalah bahwa bumi milik Allah, sedangkan pada asalnya milik orang lain adalah terlarang kecuali dengan izin pemiliknya.

Namun pendapat ini adalah pendapat yang lemah bahkan keliru, karena Allah telah memberikan izin kepada manusia untuk mempergunakan apa yang ada di bumi ini selama tidak haram atau tidak menimbulkan mudlarat yang besar, sebagaimana yang ditunjukkan oleh ayat dan hadits di atas.

Ketika Ibnus Subki Asy-Syafi’i menemukan sebagian Syafi’iyah berpendapat bahwa pada asalnya segala sesuatu itu haram, beliau berkata dalam (Al-Ibhaj 1/138), ”Al-Qadli Abu Bakar menyebutkan dalam 'at-Talkhish' bahwa mereka itu tidak mempunyai kekokohan dalam ilmu kalam, dan barang kali mereka membaca kitab-kitab Mu’tazilah dan menganggap baik kaidah tersebut, sehingga mereka berpendapat dengan pendapat tersebut, dan lalai bahwa kaidah tersebut adalah keluar dari pokok firqah Qadariyah”,(Syaikh Masyhur Salman, At-Tahqiqat Wattanqihat Assalafiyat ‘ala Matnil Waraqat ).

Bila kita telah mengetahui bahwa masalah duniawi pada asalnya adalah halal, maka yang harus kita ketahui juga adalah bahwa masalah ibadah pada asalnya adalah haram kecuali bila ada dalil yang memerintahkan.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata dalam I’lamul Muwaqqi’in, ”Telah diketahui bahwa tidak ada yang haram kecuali yang diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya, dan tidak ada dosa kecuali yang dianggap dosa oleh Allah dan rasul-Nya. Sebagaimana tidak ada yang wajib kecuali yang diwajibkan oleh Allah dan rasul-Nya, dan tidak ada agama kecuali yang Allah syari’atkan. Maka pada asalnya dalam ibadah adalah terlarang sampai tegak dalil yang memerintahkannya. Sedangkan dalam ‘aqad dan mu’amalat pada asalnya adalah sah sampai tegak dalil yang membatalkannya. Perbedaan antara keduanya adalah bahwa sesungguhnya Allah tidak diibadahi kecuali sesuai dengan apa yang Dia syari’atkan melalui lisan para rasul-Nya, karena ibadah itu hak Allah atas hamba-hambaNya, dan hak-Nya adalah yang Allah ridlai dan syari’atkan“, (Syaikh Ali Hasan, Ilmu Ushul Bida’).

Karena ibadah adalah hak Allah semata, maka tidak mungkin tata caranya diserahkan kepada selera manusia, karena yang menurut manusia baik belum tentu disisi Allah baik. Maka sangat aneh ketika seseorang yang melakukan bid’ah diingkari, lalu bertanya,” Mana dalilnya kalau perbuatan itu terlarang atau bid’ah? Padahal justru karena tidak ada dalilnya perbuatan itu jadi terlarang, sebab pada asalnya ibadah itu terlarang sampai ada dalil yang memerintahkannya.

Kedua. Bid’ah adalah sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh dalil dalam syari’at, adapun yang ditunjukkan oleh kaidah-kaidah syari’at maka bukanlah bid’ah secara istilah syari’ walaupun dari sisi bahasa ia dikatakan bid’ah.

Ini ditunjukkan oleh definisi Ibnu Rajab. Maka yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah bukanlah bid’ah secara istilah syari’at walaupun dianggap bid’ah secara bahasa, contohnya adalah mengumpulkan Al-Qur’an, shalat tarawih berjama’ah dengan satu imam, mengadakan adzan jum’at kedua, memberi harakat dan titik kepada Al Qur’an, dan menyusun ilmu-ilmu syari’at seperti ilmu nahwu, sharaf, musthalah hadits, ushul fiqih, daftarnya terus berlanjut.

Dan inilah makna perkataan Umar bin Khaththab ketika mengumpulkan manusia untuk shalat tarawih berjama’ah dengan satu imam, ”Inilah sebaik-baik bid’ah“. Maksudnya adalah bid’ah menurut bahasa bukan menurut istilah syari’at, karena bagaimana mungkin perkataan Umar tersebut dibawa kepada bid’ah menurut istilah syari’at, padahal Nabi sendiri yang mencontohkannya, sebagaimana yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam sunannya no 1373. Dari Aisyah istri Nabi bahwa sesungguhnya Rasulullah pernah shalat tarawih di masjid, maka orang-orang mengikutinya, kemudian di hari kedua beliau shalat lagi, maka manusia menjadi banyak yang hadir, kemudian di malam yang ketiga manusia telah berkumpul, akan tetapi Rasulullah tidak keluar. Di pagi harinya beliau bersabda, “Aku telah melihat apa yang kalian lakukan, tidak ada yang menghalangiku keluar kepada kalian kecuali karena aku takut diwajibkan atas kalian“, dan itu terjadi pada bulan Ramadan. Sanad hadits ini tidak diragukan lagi keshahihannya, karena semua perawinya masyhur akan ketsiqahannya.

Al-Hafidz ibnu Rajab berkata, ”Adapun yang ada pada perkataan ulama salaf terdahulu yang menganggap baik sebagian bid’ah, maka ia adalah bid’ah menurut bahasa bukan bid’ah menurut istilah syari’at, di antaranya adalah perkataan Umar bin Khaththab, ” inilah sebaik-baiknya bid’ah”. Maksud beliau adalah bahwa belum dilakukan dengan cara seperti itu sebelum waktu tersebut. Akan tetapi ia mempunyai asal dalam syari’at yang menjadi rujukan, di antaranya adalah anjuran Nabi untuk qiyam Ramadan, dan adalah manusia di zamannya melakukan shalat (qiyamulail) di masjid menjadi beberapa jama’ah yang terpencar dan ada juga yang melakukannya sendirian, kemudian Nabi shalat bersama para shahabatnya di bulan Ramadan lebih dari satu malam, kemudian beliau berhenti dengan alasan takut diwajibkan kepada mereka, dan alasan ini telah hilang setelah beliau wafat”. (Ibnu Rajab, Jami’ul ulum wal hikam 2/128. Tahqiq, Syu’aib Al Arnauth).

Ini pula yang diinginkan oleh imam Asy Syafi’I, ia membagi bid’ah menjadi dua macam : bid’ah mahmudah (yang terpuji), dan bid’ah madzmumah (yang tercela). Beliau mendefinisikan bid’ah yang terpuji sebagai bid’ah yang sesuai dengan sunnah atau tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, Atsar maupun ijma’.

Sesuatu yang sesuai dengan sunnah tidak boleh disebut bid’ah menurut istilah syari’at, walaupun dianggap bid’ah menurut bahasa. Sedangkan yang bertentangan dengan sunnah maka itulah hakikat bid’ah yang sesat, sebuah contoh adalah bahwa Imam Syafi’I menganggap tahlilan sebagai sesuatu yang diharamkan, beliau berkata, “Dan aku mengharamkan ma’tam yaitu berkumpul (di rumah keluarga mayit), meskipun disitu tidak ada tangisan, karena hal itu malah akan menimbulkan kesedihan baru”, (Al Umm. 1/248).

Bahkan madzhab Asy-Syafi’iyah sendiri mengharamkan tahlilan dan menganggapnya sebagai bid’ah yang mungkar, sebagaimana disebutkan dalam kitab "I’anatu Thalibin" 2/165. Yang konyolnya sebagian orang berdalil dengan perkataan Imam Syafi’I untuk menjustifikasi adanya bid’ah hasanah di antaranya adalah tahlilan, padahal Imam Syafi'i dan para pengikutnya menganggapnya sebagai bid’ah yang mungkar.

Ketiga. Setiap perkara yang menyelisihi Al-Qur’an, atau sunnah atau atsar para shahabatnya adalah bid’ah yang sesat.

Ini ditunjukkan oleh definisi Imam Syafi’I dalam riwayat Rabie’ di atas. Antara maknanya adalah melakukan suatu ibadah atau tata cara ibadah yang tidak pernah dilakukan Nabi dan para shahabatnya. Oleh karena itu Imam Syafi’I mengharamkan ma’tam (tahlilan) sebagaimana telah kita sebutkan. Dan ini yang ditunjukkan oleh perkataan para ulama setelahnya.

Ibnu Katsir ketika menafsirkan Surah An-Najm: 39, merajihkan tidak sampainya pahala bacaan Al-Qur’an kepada mayat, beliau beralasan, ”Karena Nabi tidak pernah menyunnahkannya kepada umatnya, tidak pula menganjurkannya, dan tidak pula membimbing untuk melakukannya baik dengan nash maupun dengan isyarat, dan perbuatan itu juga tidak pernah dinukil dari para shahabat seorang pun, kalaulah itu baik tentu mereka telah mendahului kita kepada perbuatan tersebut. Dan masalah qurubat (ibadah) hanya terbatas dengan apa yang ada dalam nash dan tidak boleh dipergunakan pada qiyas tidak juga ra’yu. Adapun do’a dan shadaqah maka ia sampai kepada mayat dengan kesepakatan ulama karena adanya nash dari Syari’ (Allah)”, (Ibnu Katsir, Tafsir AlQur’anil ‘Adziem 7/356-357. Cet. Maktabah Taufiqiyah, ta’liq Hani Al-Haaj).

Imam An-Nawawi ketika menganggap shalat raghaib dan nishfu Sya’ban sebagai bid’ah yang mungkar beliau berkata,” Alhamdulillah, dua shalat tadi tidak pernah dilakukan oleh Nabi, tidak juga seorangpun dari shahabat tidak pula imam yang empat, tidak pernah juga dilaksanakan oleh ulama yang dijadikan panutan, dan tidak sah satupun hadits mengenai hal itu, ia baru diadakan pada generasi-generasi terakhir, dan mengerjakan dua shalat tersebut termasuk bid’ah yang mungkar…”, (Al-Bida’ al-Hauliyah).

Syaikh Abdul Qadir Jailani rahimahullah ketika menetapkan keyakinan bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arasy, beliau berkata, ”Bersemayam dzat-Nya di atas ‘Arasy bukan dengan makna duduk menyentuh sebagaimana yang dikatakan oleh mujassimah dan karomiyah, bukan juga dengan makna berkuasa sebagaimana yang dikatakan oleh mu’tazilah, karena syari’at tidak menyebutkan demikian, tidak pula ada nukilan dari para shahabat, tabi’in dan salafusshalih dari kalangan ashhabul hadits seorang pun juga “, (Al-Gunyah 1/56).

Perkataan-perkataan para ulama di atas memberi pemahaman kepada kita, bahwa setiap ibadah atau keyakinan yang tidak pernah dilakukan atau tidak pernah diyakini oleh Nabi dan para shahabatnya adalah bid’ah yang mungkar, dan ini berlaku kepada banyak amalan di zaman ini seperti perayaan maulud Nabi, perayaan isra mi’raj, perayaan tahun baru dan lain-lain karena semua itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para shahabatnya, walaupun diperbolehkan dengan dalih adanya fatwa sebagian ulama, karena ulama dapat diterima perkataannya bila tidak menyelisihi Al-Qur’an, sunnah dan atsar para shahabat.

***

KH Lanre Said dalam karya tulisnya, "Az-Dzikra" menulis pembagian bid'ah dengan begitu mendalam. Bahkan ia melakukan klasifikasi bid'ah yang masih jarang dibahas--untuk tidak mengatakan belum ada--ulama yang sezaman dengannya di Indonesia apalagi di daerah Bugis. Antara klasifikasi bid'ah menurut ulama yang dianggap wali oleh banyak orang ini adalah: bid'ah fi'liyah, bid'ah tarkiyah, bid'ah 'amaliyah, bid'ah i'tiqadiyah, bid'ah zamaniyah, bid'ah makaniyah, bid'ah haliyah, bid'ah haqiqiyah, bid'ah idhafiyah atau qabihah, bid'ah kulliyah, bid'ah juz'iyah, bid'ah ibadiyah, dan bid'ah 'adiyah. Setiap jenis bid'ah dikupas tuntas sampai ke akar-akarnya, dan bagi pembaca yang ingin penjelasan lebih lanjut, ruang ini tidak cukup, akan lebih baik jika merujuk langsung ke karya Lanre Said, "Az-Dzikra" edisi "Beberapa Masalah-C".

Saya hanya ingin menarik benang merah bahwa apa yang telah ditegaskan oleh para ulama muktabar di atas tentang terminologi dan ruang lingkup bid'ah sangat sesuai dengan pandangan Lanre Said, ini menegaskan dengan sangat terang bahwa kadar keilmuan ulama yang kita bicarakan ini sangat mumpuni dan tidak perlu disangsikan, bahkan pemikiran dan pemahaman keagamaannya yang dulu dianggap kontroversi oleh banyak orang, kini terbukti kebenarannya, terutama ketika melawan dengan tegas para pelaku bid'ah akidah seperti Syiah. Bid'ah secara istilah atau syariat itulah yang masuk dalam kategori bid'ah ibadah dan akidah bagi Gurutta.

Klasifikasi bid'ah bagi Gurutta Lanre Said lalu dikerucutkan menjadi dua bagian utama, sebagaimana ia tegaskan, "Segenap ulama Ahlussunnah wal-Jamaah menetapkan bahwa yang terlarang dalam urusan agama ialah bid'ah mengenai urusan akidah dan ibadah. Tiada seorang pun dari mereka yang tidak mencela dan melarang bid'ah dalam bentuk akidah dan ibadah".

Untuk memperkuat argumennya, ulama yang empat kali menikah dalam hidupnya ini mengutif hadits shahih riwayat Imam Bukari, Muslim, dan Nasai, yang redaksi maknanya seperti ini, "Allah mengutuk orang yang menyembelih binatang selain karena Allah, Allah mengutuk orang yang mengutuk orang tuanya, Allah mengutuk orang yang membantu mengadakan bid'ah--membela bid'ah dalam agama--Allah mengutuk orang uang mengubah atau merusak tanda pembatasan tanah 'kebun'.

Dengan itu saya juga perlu tegaskan bahwa terkutuklah siapa pun, terutama, santri, apalagi menantu, dan terlebih anak keturunan KH Lanre Said yang memelihara dan bahkan mengampanyekan bid'ah, terutama bid'ah akidah seperti Syiah. Dan lebih terkutuk lagi yang mengatakan, "KH Lanre Said menyesatkan Syiah karena beliau tidak paham tentang Syiah". Kata-kata seperti ini adalah sebuah kedunguan yang tidak pantas diucapkan oleh siapa pun, terlebih jika orang tersebut menantu sang kiyai. Dan, hanya pantas didudukkan bersama kelas satu KMI untuk kembali belajar dan menelaah kitab "Az-Dzikra" agar ia bisa paham bahwa Syiah adalah bagian dari bid'ah akidah. Atau agar dia mengerti bahwa Gurutta adalah ulama muktabar yang tidak akan berkata dan berbuat kecuali dengan ilmu, "al-'Ilmu qablal qaul wal 'amal".

Coba lihat ketegasan beliau dalam menetapkan sebuah aliran sesat, "Santri Pondok Pesantren Darul Huffadh tidak akan bekerja sama dengan golongan ingkarussunnah atau golongan sesat lainnya seperti: Ahmadiyah, Islam Jama'ah, Syiah, dll." Dan poin ini dipertegas dalam Qanun Asasiyah (Undang-Undang Dasar) Pondok Pesantren Darul Huffadh lainnya yang tertera pada pembukaan artikel di atas.

Saya kembali menegaskan bahwa KH Lanre Said mendirikan lembaga pendidikan empat puluh tahun silang dengan tujuan antara lain adalah memberantas segala bentuk bid'ah, baik ibadah maupun akidah, dan karena itu para santri, alumni, dan trahnya harus tetap berjuang dan berada di garis terdepan melawan dan mereduksi segala jenis bid'ah yang menyesatkan sesuai kemampuan dan kapasitas masing-masing. Dan, jika ada di antara murid dan keturunannya yang justru akur dengan para pelaku bid'ah bahkan melakukan kerjasama, maka ingatlah pesan KH Lanre Said yang sering diutarakan di hadapan para santrinya, "Kita di pondok ini sedang berperang melawan setan, jika ada sepuluh santri yang masuk di pondok, namun yang lulus cuma lima, maka kita sudah kalah dengan setan sebab bagian kita dengn setan sama, semestinya kita mendapat jatah lebih banyak!", dan tidak diragukan lagi, para pembela bid'ah terutama ajaran sesat seperti Syiah adalah santri yang telah dirampas oleh setan atau tersetankan. Dan kata 'lulus' bukan saja dimaknai tamat menghafal dan selesai Kulliatul Mu'allimin al-Islamiyah (KMI) tetapi yang paham benar tujuan pondok didirikan.

Last but not least, kata-kata lain yang kerap diucapkan Gurutta selama hidupnya adalah, "Kita sedang berlayar menuju pulau impian, pulau Al-Qur'an dan Hadist Shahih, dan bila para santri tidak mengetahui arah tujuan perahu ini, maka perjanan kita akan semakin berat!" Yang dimaksud Lanre Said sebagai perahu adalah pondok pesantren Darul Huffadh yang kini telah masuk pada fase kematangan karena telah berumur empat puluh (40) tahun, ada yang mengatakan 'ulang tahun emas'. Untuk memperjelas impian Sang Ulama, maka dapat ditafsirkan lewat Qanun Asasiyah lainnya, sebagai berikut, "Santri Pondok Pesantren Darul Huffadh berusaha mencari, mengetahui, dan mengamalkan tuntunan Al-Qur'an dan Hadits Shahih, yang telah dicontohkan atau digariskan oleh Rasulullah beserta para sahabat yang dilalui oleh Ahlussunnah dari segi ibadah dan akidah".

Namun, apakah segenap santri, alumni, dan para penerus cinta-cita KH Lanre Said paham betul arah dan tujuan ke mana kapal akan berlayar lalu berlabuh? Semoga. Wallahu A'lam!

Enrekang, 3 Agustus 2015. Dimuat Harian Go Cakrawala 7 Agustus 2015.

Ilham Kadir, Alumni Perdana Pondok Pesantren Darul Huffadh Tuju-Tuju; Kandidat Doktor Filsafat Pendidikan Islam UIKA Bogor.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi