Jangan Berdusta



Oleh: Ilham Kadir. Pakar Pendidikan; Pengamat Sosial-Keagamaan.

Berdusta atau berbohong secara sederhana diartikan sebagai, berkata sesuatu yang tidak sesuai kenyataan. Dalam ranah teologis, bohong dikategorikan sebagai munafik, berdasarkan sabda Nabi bahwa tanda-tanda orang munafik adalah, jika berkata ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanat ia khianat.

Ketiga ciri munafik di atas, dalam konteks keindonesiaan adalah kerja-kerja bohong yang terus terjadi di berbagai kalangan. Ironisnya, semestinya yang manjadi contoh dalam menghindari sifat munafik seperti para poliitikus dan pemimpin justeru tak mampu memberi yang terbaik.

Maka, pennting kiranya, kita mengulang-ulang kisah orang-orang saleh dari para pendahulu umat ini, supaya menjadi pelajaran, pendidikan, dan contoh untuk diikuti. Siapakah dia dan bagaimana kisahnya? Ikuti saya.

Dikisahkan bahwa Imam asy-Syafi sebelum berangkat ke Madinah untuk belajar kepada Imam Malik, beliau berkata pada Ibunya, "Wahai ibu, berilah saya nasehat." Ibunya berkata, "Wahai anakku, berjanjilah untuk tidak berdusta." Saya berjanji kepada Allah lalu kepada mu untuk tidak berdusta, jawab sang anak.

Kala itu, usianya masih kecil, dibekali oleh ibunya uang 400 dirham. Beliau menaiki hewan tunggangannya dan keluar bersama rombongan menuju Madinah, Imam asy-Syafi menyimpan uang itu di dalam sebuah kantong yang ia jahit di sela-sela bajunya.

Dalam perjalanannya, ada perampok yang merampas seluruh harta rombongan tersebut, tatkala sampai di hadapan Imam asy-Syafi'i yang masih kecil, para perampok itu bertanya, "Apakah kamu membawa uang?" Syafi'i kecil menjawab dengan tenang, Iya. "Berapa ?" Tanya perampok. "Saya membawa uang 400 dirham."

Para perampok tersebut tertawa sambil mengejek beliau dan berkata, Pergilah, apakah kamu hendak mengolok-olok kami? Pergilah sana. Apakah orang sepertimu membawa uang sebanyak empat ratus dirham?

Kemudian asy-Syafi'i berhenti di samping rombongan kafilah yang dirampok. Pemimpin rampok berkata kepada anak buahnya, "Apakah kalian telah mengambil semuanya?" Mereka menjawab, "Ya". Apakah kalian tidak meninggalkan seorang pun? Para anak buah menjawab, Tidak, kecuali seorang anak kecil yang mengaku telah membawa uang sebanyak 400 dirham, namun anak tersebut gila atau hanya ingin mengolok-olok kita, sehingga kami pun menyuruhnya pergi. Pemimpin rampok berkata, "Bawa anak itu kemari." Mereka pun membawa Syafi'i kecil. Kemudian pemimpin rampok itu bertanya kepada beliau, "Apakah kamu membawa uang, wahai anak kecil?" Syafi'i kecil menjawab, "Ya" Pemimpin Rampok ke,bali bertanya, "Berapa uang yang kamu bawa?" Syafi'i kecil menjawab, "400 dirham". Di mana uang itu? Syafi'i kecil mengeluarkan uang tersebut dari balik pakian nya dan menyerahkan nya kepada pemimpin kawanan perampok tersebut. Lalu, pemimpin rampok itu menuangkan uang-uang tersebut kepangkuannya, lalu ia memandangi syafi'i kecil dengan keheranan dan berkata, "Kenapa kamu jujur kepadaku ketika aku tadi bertanya kepada mu, dan kamu tidak berdusta kepadaku, padahal kamu tahu bahwa uang mu akan hilang?"

Syafi'i pun menjawab, "Saya jujur kepadamu karena saya telah berjanji kepada ibuku untuk tidak berdusta kepada siapa pun." Mendengar penuturan Syafi'i kecil itu, tiba-tiba tangan pemimpin rampok itu berhenti memain-mainkan uang 400 dirham tersebut, karena hatinya telah bergetar karena hidayah dari Allah.

Lalu pemimpin rampok itu berkata sambil mengembalikan uang tersebut kepada Syafi'i kecil, Ambillah uangmu, kamu takut untuk mengkhianati janji mu kepada ibumu, sedangkan aku tidak takut berkhianat kepada janji Allah Subhanhu wa ta'ala. Pergilah, wahai anak kecil dalam keadaan aman dan tenang, karena aku telah bertaubat kepada Zat yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang melalui kedua tanganmu dengan taubat ini dan aku tidak akan pernah mendurhakai-Nyalagi selamanya.

Kemudian pemimpin kawanan perampok itu memandang anak buahnya dan berkata, Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada orang yang berhak menerima nya, (An-Nisa: ayat 58).

Lalu anak buahnya berkata sambil membawa harta dan berbagai perhiasan rombongan kafilah yang mereka rampok tadi dan mengembalikan nya, dan mereka berkata kepada pemimpin mereka, "Wahai tuan kami, anda telah bertaubat dengan Zat Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang, sedangkan anda adalah pemimpin kami. Oleh karena itu kami lebih pantas untuk bertaubat daripada anda."

Akhirnya mereka semua bertaubat kepada Allah, lewat kejujuran Imam asy-Syafi'i kecil.
Semoga kisah yang disadur dari karya Abdul Aziz asy-Syinawi berjudul "Al-Aimmah Al-Arba'ah Hayatuhum Mawaqifuhum Ara'ahum Qadhiyusy Syariah al-Imam asy-Syafi'i" mendatangkan manfaat bagi saya dan segenap pembaca. Wallahu A'lam!

Enrekang, 13 Agustus 2015/Dimuat koran SeruYa, 14 Agustus 2015.


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an