Dakwah Pembebasan Muhammadiyah




Refleksi Atas Muktamar ke-47 Muhammadiyah


Para santri sudah merasa bosan dengan pelajaran yang dibawakan sang kiyai, pasalnya sudah satu minggu mereka hanya berkutat pada surah al-Ma'un surah ke-107 dalam al-Qur'an yang artinya "Barang-barang Berguna".

Lalu salah seorang santri memberanikan diri mempertanyakan sikap kiyainya itu, mengapa pelajaran tafsir tidak ditambah, melangkah ke surah dan ayat yang lain? "Membaca al-Qur'an itu harus mengerti artinya, memahami maknanya, dan mengamalkannya," Jelas sang kiyai. "Bila cuma menghadapi tanpa melaksanakannya, lebih baik tak menambah bacaan al-Qur'an," tambahnya lagi.

Kiyai yang dikisahkan di atas adalah KH Ahmad Dahlan pengasas Persyarikatan Muhammadiyah yang kini sedang muktamar ke-47 di Makassar. Sedangkan, surah al-Ma'un yang kali ini jadi bahan kajian dengan para santrinya adalah redaksi makananya sebagai berikut: Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka, celakalah bagi orang-orang yang salat, yaitu mereka lalai dalam salatnya, dan enggan menolong dengan barang yang berguna.

Karena itu, KH Ahmad Dahlan, lalu mengamalkan surah di atas dengan cara mengajak para santrinya ke Pasar Berimingharjo, lalu ke Malioboro, dan ke Alun-alun Utara Yogyakarta. Di sanalah berkeliaran para pengemis, kaum fakir, dan anak jalanan. Pendiri Muhammadiyah itu memerintahkan setiap santrinya untuk membawa para fakir miskin dan anak jalanan itu ke Masjid Besar. Di hadapan para santri, Kiyai Dahlan lalu membagi-bagikan makanan, pakaian baru, sabun dan kebutuhan lainnya. Lalu meminta mereka tampil rapih dan bersih.

Sejak saat itu, Ahamd Dahlan, terutama setelah berdirinya Muhammadiyah aktif menyantuni fakir miskin dan yatim piatu, dengan membentuk Penolong Kesengsaraan Umum. Bagian itu selanjutnya berkembang, mendirikan rumah sakit dan badan sosial lainnya. Jadi inilah sebenarnya embrio segala amal usaha dan sosial Ormas Muhammadiyah, berasal dari landasan filosofi surah al-Ma'un.

Dalam hirarki ilmu tafsir, metodologi Ahmad Dahlan berada pada posisi tertinggi, karena, selain mengarahkan para santrinya membaca, menghafal, memahami, mentadabburi, juga langsung melakukan praktik dengan mengamalkan pesan-pesan yang terkandung dalam ayat.

Dasar penafsiran semcama ini telah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnnya, dalam mempelajari al-Qur'an dan mengajarkannya. Setelah mereka mempelajari satu sampai sepuluh  ayat, biasanya mereka  tidak melanjutkan pada ayat selanjutnya sehingga mereka mengamalkannya. Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Apabila kami mempelajari sepuluh ayat al-Qur'an dari Nabi, kami tidak melanjutkannya dengan ayat setelahnya sehingga kami mengamalkannya”.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Abdurrahman as-Sulami. Ia berkata, “Kami  berbicara  dengan  orang  yang  membacakan  kepada  kami  dari sahabat Nabi, mereka biasa membacakan sepuluh ayat lainnya sampai mereka tahu ilmu dan pengamalannya”.

Di masanya,  dan  juga masih berlaku saat ini, di berbagai tempat, sebagian besar umat Islam terjebak dalam pensakralan al-Qur'an secara keliru. Al-Qur'an misalnya hanya digunakan sebagai pajangan dan dimusabaqahkan, bahkan dibaca dalam serimonial dengan langgam Jawa segala, lalu hanya dikeramatkan sebagai jampi-jampi. Karena itu, Ahmad Dahlan melakukan pembebasan dari bentuk-bentuk khurafat seperti ini. Dan, haqqul yakin, ini adalah bagian dari teologi pembebasan yang disematkan Ahmad Dahlan kepada Muhammadiyah.

Sebagai saudagar batik yang sukses, Ahmad Dahlan tidak memanfaatkan posisinya untuk menumpuk-numpuk harta, malah, kekayaannya digunakan menyantuni mereka yang butuh. Ini tercermin, saat seorang fakir miskin yang suatu ketika menghampirinya, memberitahu bahwa dirinya tidak punya pakaian yang bersih untuk salat. Dahlan, tanpa pikir panjang mengajak orang tersebut masuk dalam kamarnya, membuka almari pakaiannya, dan mempersilahkan sang fakir memilih baju mana saja yang ia suka. Sang fakir, kemudian menjadi pengurus Muhammdiyah di Sumber-Pucung Yogyakarta.

Namun, perlu dicatat, bahwa dakwah-dakwah sosioal Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah, seperti mendirikan lembaga pendidikan, dari Taman Kanak-kanak hingga perguruan tinggi, panti asuhan, klinik, rumah sakit, amal usaha, dan semisalnya adalah bukanlah menjadi tujuan Muhammadiyah berdiri, itu semua hanya sebagai washilah atau alat penunjang dakwah.

Dan, dakwah utama Muhammadiyah adalah "dakwah pembebasan" dengan tauhid menjadi materi intinya. Karena itulah Ahmad Dahlan yang dalam hidupnya tidak banyak menulis buku juga menghasilkan sebuah karya mini yang sangat berguna "Aqa'idul Iman", dalam buku itu dengan jelas bahwa akidah islamiyah adalah pondasi utama dalam beragama.

Buku di atas merujuk pada pandangan tauhid Muhammad bin Abdul Wahhab yang menggunakan teori "an-nafyu wal itsbat" ketika menafsirkan "La Ilaha Illallah" yang dibagi menjadi dua, "La Ilaha" berarti "Tiada Tuhan" itulah disebut penafian, sedangkan "Illallah" bermakna "Kecuali Allah" adalah al-itsbat atau penetapan. Arti keseluruhannya adalah, Tiada Tuhan berhak disembah kecual Allah". Dapat dianalogikan, jika kita hendak menanam jagung, maka kita harus membersihkan dulu semak dan rumput lahan, maka itulah penafian. Lalu kita tanami bibit jagung, maka itulah penetapan (al-itsbat). Jadi, jika ingin beribadah kepada Allah dengan sempurna maka harus menyingkirkan segala bentuk sesembahan selain Allah. Dan inilah teologi pembebasan Muhammadiyah yang paling agung, selain pemberantasan pada Tahayul Bid'ah, Churafat (TBC).

Pemimpin bodoh

Di tengah krisis kepemimpinan yang dialami bangsa ini, dan dalam momen menghadapi pilkada serentak akhir tahun ini, maka ada baiknya untuk merenungi dan mengamalkan nasihat-nasihat KH Ahmad Dahlan yang tertuang dalam "Tajdid Muhammadiyah dari Ahmad Dahlan hingga Syafi'i Ma'arif, Jakarta, 2005".

Menurut pendiri Muhammadiyah itu, ada tiga sebab para pemimpin belum besatu. Pertama, yang satu mengabaikan yang lain, saling bertentangan pendapat dan pengetahuan, padahal pengetahuan itu diperlukan manusia. Ini menjadi pertanda bahwa pengetahuan para pemimpin itu masih kurang. Kekurangan itu menjadikan seseorang berfikir sempit. Mereka seolah-olah masih meraba dalam kegelapan yang mengakibatkan terjadinya perdebatan, dan menyebabkan kerusakan.

Kedua, para pemimpin belum menyatukan perkataan dengan perbuatan, lebih banyak dengan suara saja. Sesungguhnya hal demikian itu baru merupakan usaha mencari pengertian dan memberikan pengertian pada orang lain yang belum memperhatikan tindakan dan perbuatan. Pemimpin seperti itu mayoritas hanya memerlukan suara agar tampak pendapatnya baik, walau tindakannya mengecewakan, rusak, dan merusakkan. Orang seperti itu, lanjut Dahlan, telah dipermainkan oleh hawa nafsunya tanpa menyadari dan mengerti bahwa nafsu mengajak malas dan kikir apabila berhubungan dengan kewajiban, berbeda jika berhadapan dengan kesenangan.

Ketiga, sebagian para pemimpin belum menaruh perhatian pada kabaikan dan kesejahteraan manusia, akan tetapi baru memperhatikan kaum dan golongan bahkan hanya badannya sendiri. Jika badannya sudah mendapat kesenangan, mereka merasa sudah dapat pahala dan sampai pada tujuan dan maksudnya. Hal seperti itu sudah banyak terjadi dan terlihat buruknya, yang akhirnya menyebabkan rusaknya perhimpunan dan kesatuan, dan terpecahnya yang dipimpin sebelum mendapat pemimpin. Umat pun jadi kecewa, kemudian mereka jera!

Ahmad Dahlan juga memberikan tips berharga agar jangan salah memilih pemimpin, dan dijauhi dari orang-orang bodoh. Ia menulis bahwa, orang pintar itu mengerti sesuatu yang mendatangkan senang dan susah, sedang orang yang bodoh tidak mengerti. Orang pintar akan selalu berikhtiar, berusaha mencari jalan yang mengantarkan kepada kesenangan dan menghindarkan diri dari sesuatu lingkungan yang mengarah kepada kesusahan dan penderitaan. Akan tetapi, sesungguhnya orang yang pintar, namun melalaikan petunjutk Tuhan Allah dan tidak ingat akan takut kepada Allah, lupa ajakan nafsu, secara berlahan namun pasti, akan terjerumus ke dalam kesusahan dan kealpaan.

Dalam Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar tanggal 3-7 Agustus 2015, dengan membawa tema "Gerakan Perubahan Menuju Indonesia Berkemajuan" adalah momen untuk membuktikan bahwa Organisasi Bentukan KH Ahmad Dahlan ini menjadi pioner dalam membebaskan masyarakat Indonesia dari segala bentuk kesyirikan dengan menebarkan ajaran tauhid, di samping kembali menggelorakan pemberantasan TBC.

Dan, bangsa Indonesia tidak akan pernah maju jika memiliki pemimpin yang bodoh dan bebal, tidak dapat membedakan yang hak dan yang batil, dan paling berbahaya jika tidak menyadari kesalahannya dan hanya terus berbohong demi menjustifikasi kebijakannya yang menyimpang. Contoh pemimpin jahil adalah, ketika salah urus negara, ia malah menyalahkan negara lain. Ketika krisis ekonomi melanda, dollar terjuan bebas, yang disalahkan justru Amerika dan Cina.

Semoga Muktamar Muhammadiyah kali ini dapat melahirkan pemimpin berilmu dan berbudaya ilmu, membebaskan bangsa dari sikap bebal, jumud, dan jahil, demi terwujudnya Indonesia bertauhid dan berkemajuan. Wallahu A'lam!

Enrekang, 5 Agustus 2015.Dimuat Go Cakrawala.

Ilham Kadir. Kandidat Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor/Peserta Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) BAZNAS-DDII.




Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an