Bunuh Diri Bukan Solusi




Oleh: Ilham Kadir, Peneliti Majelis Intelektual-Ulama Muda Indoensia; Pengamat Sosial-Keagamaan.

Suster cantik yang bertugas di Puskesmas Pontap, Kota Palopo, Salma, ditemukan tewas tergantung di rumahnya di Kelurahan Pontap, Kecamatan Wara Timur, Palopo, Jumat (28/8/2015) malam. Kasus ini pertama kali ditemukan adiknya tergantung di ayunan lantai atas rumahnya. Posisi Salma saat ditemukan masih terikat sebuah tali nilon, dengan posisi duduk dengan kaki terlipat kebelakang dengan pakaian lengkap, (pojok.sulsel.id. 29/1/2015).

Kabar meninggalnya Salma karena bunuh diri mendadak bikin heboh Kota Palopo dan sekitarnya. Di tengah kehebohan itu beredar kabar kalau Salma memutuskan mengakhiri hidupnya karena tak tahan lagi hubungannya dengan sang kekasih tak kunjung naik pelaminan disebabkan uang panaik yang memberatkan pihak lelaki, sedang pihak orang tua Salma tidak mau kompromi. Sebuah masalah klasik yang selalu berulang-ulang. 

Tulisan ini meneropong sisi hukum bunuh diri dalam pandangan Islam (islamic worldview) dengan tujuan memberikan penjelasan dan edukasi kepada pembaca agar tidak muda mengakhiri hidup dan pada orang tua, agar menutup pintu rapat-rapat terkait hal-hal yang bisa mencelakakan sang anak di tengah cepatnya pertumbuhan fisik generasi modern diiringi dengan lambannya pertumbuhan psikis (kedewasaan). Banyak anak berbadan besar namun berakal kerdil, sebagaimana yang terjadi pada kasus suster cantik di atas. 
Kecuali itu, pemahaman keagamaan juga menjadi faktor penentu. Untuk mengetahui syariat Islam terkait bunuh diri, ikuti saya.

Diskusi Islam kontemporer tentang bunuh diri berjalan di sepanjang garis tradisi dan penafsiran klasik. Tema-tema akrab dikemukakan, bunuh diri adalah dosa karena hanya Allah yang berhak mengambil kehidupan yang telah Dia berikan. Terlarang bagi umat Islam untuk mengharapkan kematian. Tak peduli bagaimana pun kondisi mereka. Dan, orang yang bunuh diri boleh dishalati.

Allah secara tegas melarang tindakan bunuh diri berdasarkan Firman-Nya.  Janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Mahapenyayang kepadamu. Dan, Barangsiapa yang melakukan bunuh diri dengan melanggar ketetapan Allah lagi zalim, akan Kami masukkan dia ke dalam nearaka, (QS. An-Nisa’[4]: 29-30).

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ad-Dahak disebutkan, “Barang siapa terjun dari sebuah bukit untuk menewaskan dirinya maka kelak ia akan masuk neraka dalam keadaan terlempar jasadnya. Ia kekal dalam neraka selama-lamanya.”

“Barang siapa yang meneguk racun dan racun itu menewaskan dirinya, maka racun itu akan tetap dalam genggaman tangannya sambil meneguknya di dalam neraka jahanam. la juga kekal di dalamnya selama-lamanya.”

Imam asy-Syathibi menyatakan bahwa semua ajaran yang ditetapkan oleh Islam adalah untuk menjaga kemaslahatan yang lima. Berdasarkan dalil-dalil di atas jelas bahwa bunuh diri merupakan perbuatan yang dilarang dan bertentangan dengan perintah agama. Karena besarnya dosa akibat perbuatan tersebut maka tempat kembali orang yang melakukannya adalah neraka jahanam.

Dengan bunuh diri, seseorang akan merasakan penderitaan tiga kali, yaitu penderitaan di dunia yang mendorongnya berbuat seperti itu, penderitaan menjelang kematiannya, dan penderitaan yang kekal di akhirat nanti.

Kadang-kadang ditegaskan pula oleh para pemikir Muslim modern bahwa bunuh diri menunjukkan penurunan keimanan karena agama cenderung mengurangi depresi mental dan pedihnya tragedi kehidupan. Dan, bahwa ateisme adalah sebab utama dari menyebarluasnya kasus bunuh diri. Hal ini bisa mengindikasikan suatu kesadaran terhadap kesimpulan penelitian Barat tentang masalah bunuh diri dan agama.

Nashih Nashrullah dalam
(www.republika.co.id, 22/1/2013) mengungkapkan sebuah studi statistik lintasbangsa (Miles E Simpson dan George H Conklin, “Socio-economic Development, Suicide and Religion: A Tes of Durkheim’s  Theory of Religion and Suciede”) menyimpulkan, persentase Muslim dalam penduduk suatu bangsa menunjukkan relasi negatif yang signifikan dengan tingkat bunuh diri bangsa tersebut. Sebuah hasil yang tetap bertahan, bahkan ketika menjadi pengendali untuk modernitas ekonomi, sosial, dan demografi.


Angka bunuh diri di kalangan kaum Muslim pada masa modern tampak sangat rendah. Angkanya hanyalah sepersekian dari tingkat bunuh diri di negeri-negeri Barat dan juga jauh lebih rendah daripada yang terjadi di kebanyakan negara berkembang non-Muslim.

Lebih jauh lagi, dalam masyarakat heterogen kaum Muslim secara konsisten memperlihatkan tingkat bunuh diri yang lebih rendah daripada non-Muslim, kendati angkanya bisa lebih tinggi secara dramatis di kalangan kaum emigran berlatar belakang Barat, sebagaimana yang tampak terjadi di Prancis.
Kendati demikian, prilaku bunuh diri dari berbagai kalangan terus meningkat di Indonesia. Motifnya beragam, tidak melulu terkait himpitan ekonomi sebagaimana yang terjadi pada beberapa kasus. Problematika rumah tangga, asmara, dan kondisi psikis yang tidak stabil adalah bagian dari pemicu utama, terutama generasi muda yang panjang angan-angan namun pendek akal.

Tidak ada jalan lain untuk menghentikan tren bunuh diri pada generasi sosmed kecuali dengan melakukan edukasi sejak dini bahwa bunuh diri tidak hanya merugikan pelakunya di dunia akan tetapi di akhirat akan mendapat siksaan. Bunuh diri, pada dasarnya adalah dosa yang paling besar, bahkan mengalahkan kekafiran dan syirik. Demikian adanya, karena pelaku bunuh diri telah merampas hak Tuhan secara paksa sambil menutup pintu taubuat untuk dirinya sendiri.

Bunuh diri, selain mencelakai diri sendiri dunia akhirat juga meninggalkan beban psikologis pada keluarga korban yang sangat sulit diterima sehingga dapat mendatangkan penderitaan yang lebih besar. Maka, pihak keluarga seharusnya lebih bijak dalam mengambil keputusan terkait masa depan sang anak.

Jika benar kasus Salma di atas berlatar-belakang pernikahan yang tak kunjung terwujud disebabkan karena uang panaik, maka kesalahan terbesar justru datang dari orang tua yang tidak mampu membaca situasi psikologis sang anak.

Dalam Islam pernikahan adalah sebuah ibadah yang agung, karena itu, jika seorang anak perempuang sudah masuk akil baligh lalu datang lelaki yang baik-baik (saleh) maka pihak orang tua wanita seharusnya menerima apalagi jika sang anak sudah saling mencintai. Akan lebih fatal jika orang tua menolak lamaran dan di kemudian hari sang putri justru terjerumus perbuatan dosa, maka dosanya tidak hanya ditanggung pelakunya, akan tetapi seluruh komponen yang telah mendukung untuk menghalangi pernikahan tersebut. Termasuklah bagi mereka yang memberatkan pihak lelaki ketika datang melamar  harus bertanggung jawab memikul dosa bunuh diri yang dilakukan Salma.

Namun harus tetap ditekankan bahwa problem apa pun yang dihadapi dan betapa pun beratnya, bunuh diri bukan solusi malah akan mendatangkan masalah besar dunia-akhirat. Di dunia pihak keluarga akan stres, dan di akhirat pihak korban akan merana. Wallahu A’lam!

Tebet-Jaksel, 30 Agustus 2015. Dimuat Koran Seruya 31 Agustus 2015.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi