Posts

Showing posts from August, 2015

Membangun Komunitas Harmonis

Image
Oleh: Ilham Kadir. Pengamat Sosial-Keagamaan & Kandidat Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor. Tidak hanya anak dituntut beradab pada orang tuanya, tetapi harus dimulai dari orang tua, berupa menunaikan hak-hak anak, serta mengamalkan adab-adab yang telah digariskan oleh agama kita. Pendidikan adab harus bermula dari orang tua sebagai contoh. Bagi orang tua terutama sang ayah, adab-adab terhadap anaknya yang harus ditunaikan antara yang terpenting adalah: Memilihkan ibu yang salehah (baik), memberi nama yang baik, menyembelihkan aqiqah pada hari ketujuah dari kelahirannya, mengkhitannya, menyayangi dan berlaku lembut padanya, memberi nafkah, mendidiknya dengan baik, memperhatikan pendidikannya, menanamkan ajaran Islam sejak dini, membimbingnya untuk melakukan kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah dalam agama. Apa bila telah dewasa, hendaklah menikahkan mereka dengan suami atau istri yang baik dan dapat menuntunnya untuk berbakti pada Allah dan kedua orang tua. Adab terhadap

Bunuh Diri Bukan Solusi

Image
Oleh: Ilham Kadir, Peneliti Majelis Intelektual-Ulama Muda Indoensia; Pengamat Sosial-Keagamaan. Suster cantik yang bertugas di Puskesmas Pontap, Kota Palopo, Salma, ditemukan tewas tergantung di rumahnya di Kelurahan Pontap, Kecamatan Wara Timur, Palopo, Jumat (28/8/2015) malam. Kasus ini pertama kali ditemukan adiknya tergantung di ayunan lantai atas rumahnya. Posisi Salma saat ditemukan masih terikat sebuah tali nilon, dengan posisi duduk dengan kaki terlipat kebelakang dengan pakaian lengkap, (pojok.sulsel.id. 29/1/2015). Kabar meninggalnya Salma karena bunuh diri mendadak bikin heboh Kota Palopo dan sekitarnya. Di tengah kehebohan itu beredar kabar kalau Salma memutuskan mengakhiri hidupnya karena tak tahan lagi hubungannya dengan sang kekasih tak kunjung naik pelaminan disebabkan uang panaik yang memberatkan pihak lelaki, sedang pihak orang tua Salma tidak mau kompromi. Sebuah masalah klasik yang selalu berulang-ulang.  Tulisan ini meneropong sisi hukum bunuh diri da

Pemimpin Palsu di Negeri Dongeng

Image
Ilham Kadir. Peserta Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) BAZNAS-DDII & Kandidat Doktor UIKA Bogor.   Kisah dari "Negeri Dongen", diceritakan bahwa di ruang sidang pengadilan, seorang hakim, Marzuki namanya, duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa Penuntut Umum (PU) terhadap seorag nenek yang dituduh mencuri singkong, nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, dan cucunya lapar. Namun manajer salah satu PT Raksasa di negeri itu tetap pada tuntutannya, agar menjadi contoh, pelajaran, dan pendidikan bagi warga lainnya.   Hakim Marzuki menghela nafas, dia memutus di luar tuntutan jaksa PU. 'Maafkan saya', katanya sambil memandang nenek itu, "Saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi Anda harus dihukum. Saya mendenda Anda satu juta rupiah dan jika Anda tidak mampu bayar maka Anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU".  Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam, sementara hakim Marzuki

Jangan Berdusta

Oleh: Ilham Kadir. Pakar Pendidikan; Pengamat Sosial-Keagamaan. Berdusta atau berbohong secara sederhana diartikan sebagai, berkata sesuatu yang tidak sesuai kenyataan. Dalam ranah teologis, bohong dikategorikan sebagai munafik, berdasarkan sabda Nabi bahwa tanda-tanda orang munafik adalah, jika berkata ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanat ia khianat. Ketiga ciri munafik di atas, dalam konteks keindonesiaan adalah kerja-kerja bohong yang terus terjadi di berbagai kalangan. Ironisnya, semestinya yang manjadi contoh dalam menghindari sifat munafik seperti para poliitikus dan pemimpin justeru tak mampu memberi yang terbaik. Maka, pennting kiranya, kita mengulang-ulang kisah orang-orang saleh dari para pendahulu umat ini, supaya menjadi pelajaran, pendidikan, dan contoh untuk diikuti. Siapakah dia dan bagaimana kisahnya? Ikuti saya. Dikisahkan bahwa Imam asy-Syafi sebelum berangkat ke Madinah untuk belajar kepada Imam Malik, beliau berkata pada Ibunya,