Raih Keutamaan Dzikir di Bulan Ramadan

Oleh: Ilham Kadir*

Dzikir dari segi bahasa adalah mengingat, maka dzikrullah sama dengan mengingat Allah. Banyak wadah yang Allah sediakan pada manusia untuk mengingat-Nya, salah satunya salat berdasarkan al-Qur'an, (QS. 20:14), Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada sesembahan selain Aku, maka sembahlah Aku, dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.

Namun, dzikir dalam pembahsan kali ini adalah bacaan-bacaan tertentu yang telah dicontohkan Rasulullah kepada umatnya yang dilakukan di luar salat atau pada waktu-waktu santai dan tidak memerlukan konsentrasi khusus.

Bacaan-bacaan dimaksud antaranya adalah, Subhanallah, al-Hamdulillah, La ilaha illalllah, Allahu Akbar, La haula wala quwwata illa billlah, Astagfirulah, hingga, Subhanallah wabihamdihi.

Kalimah thayyebah, atau perkataan yang baik di atas dapat dilakukan di mana pun kecuali di dalam tempat bernajis atau tempat-tampat buang hajat. Dapat diucapkan ketika baring, berjalan, duduk, dan lain-lain. Terlebih lagi pada saat berpuasa di bulan Ramadan ini. Ada pun manfaat yang diperoleh dengam bangak berdzikir antara lain:

Pertama, senantiasa berdzikir pada Allah menyebabkan seseorang tidak mungkin melupakan-Nya. Orang yang melupakan Allah adalah sebab sengsara dirinya dalam kehidupannya dan di hari ia dikembalikan. Seseorang yang melupakan Allah menyebabkan ia melupakan dirinya dan maslahat untuk dirinya.  “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hasyr: 19).

Kedua, dzikir adalah ra’sul umuur (inti segala perkara). Siapa yang dibukakan baginya kemudahan dzikir, maka ia akan memperoleh berbagai kebaikan. Siapa yang luput dari pintu ini, maka luputlah ia dari berbagai kebaikan, dzikir juga akan memperingatkan hati yang tertidur lelap. Hati bisa jadi sadar dengan dzikir.

Ketiga, orang yang berdzikir akan semakin dekat dengan Allah dan bersama dengan-Nya. Kebersamaan di sini adalah dengan kebersamaan yang khusus, bukan hanya sekedar Allah itu bersama dalam arti mengetahui atau meliputi. Namun kebersamaan ini menjadikan lebih dekat, mendapatkan perwalian, cinta, pertolongan dan taufik Allah. “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An Nahl: 128).

Keempat, dzikir itu dapat menyamai seseorang yang memerdekakan budak, menafkahkan harta, dan menunggang kuda di jalan Allah, serta juga dapat menyamai seseorang yang berperang dengan pedang di jalan Allah.

Kelima, dzikir adalah inti dari bersyukur. Tidaklah bersyukur pada Allah Ta’ala orang yang enggan berdzikir. Nabi bersabda pada Mu’adz, “Wahai Mu’adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Demi Allah, aku mencintaimu.” Lantas Nabi bersabda, “Aku menasehatkan kepadamu –wahai Mu’adz-, janganlah engkau tinggalkan di setiap akhir shalat bacaan ‘Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik’ (Ya Allah tolonglah aku untuk berdzikir dan bersyukur serta beribadah yang baik pada-Mu).“ Dalam hadits ini digabungkan antara dzikir dan syukur. Begitu pula Allah Ta’ala menggabungkan antara keduanya dalam firman-Nya, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah: 152). Hal ini menunjukkan bahwa penggabungan dzikir dan syukur merupakan jalan untuk meraih bahagia dan keberuntungan.

Keenam, makhluk yang paling mulia adalah yang bertakwa yang lisannya selalu basah dengan dzikir pada Allah. Orang seperti inilah yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Ia pun menjadikan dzikir sebagai syi’arnya. hati itu ada yang keras dan meleburnya dengan berdzikir pada Allah. Oleh karena itu, siapa yang ingin hatinya yang keras itu sembuh, maka berdzikirlah pada Allah.

Ada yang berkata kepada Al Hasan, “Wahai Abu Sa’id, aku mengadukan padamu akan kerasnya hatiku.” Al Hasan berkata, “Lembutkanlah dengan dzikir pada Allah.” Karena hati  ketika semakin lalai, maka semakin keras hati tersebut. Jika seseorang berdzikir pada Allah, lelehlah kekerasan hati tersebut sebagaimana timah itu meleleh dengan api. Maka kerasnya hati akan meleleh semisal itu, yaitu dengan dzikir pada Allah.

Ketujuh, dzikir adalah obat hati sedangkan lalai dari dzikir adalah penyakit hati. Obat hati yang sakit adalah dengan berdzikir pada Allah. Mak-huul, seorang tabi’in, berkata, “Dzikir kepada Allah adalah obat (bagi hati). Sedangkan sibuk membicarakan (‘aib) manusia, itu adalah penyakit.” Tidak ada sesuatu yang membuat seseorang mudah meraih nikmat Allah dan selamat dari murka-Nya selain dzikir pada Allah.

Maka, alangkah baiknya jika bulan mulia ini dimanfaatkan untuk meraih keutamaan dzikir dengan jalan memperbanyak dzikir pada waktu luang maupun sempit, susah maupun senang. Wallahu A'lam!

Enrekang, 15 Ramadan 1436 H.

Dimuat pada kolom Cahaya Ilmu ke-15 Harian INILAHSULSEL, 3 Juli 2015.

*Pakar Pendidikan Islam & Pengamat Sosial Keagamaan

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an