Puasa Syawal



Oleh: Ilham Kadir, Pengamat Sosial Keagamaan.

Salah satu puasa sunnah yang sangat dianjurkan adalah, puasa enam hari di bulan Syawal yang sebetulnya sebagai lanjutan dari puasa bulan Ramadan. Tentang keutamaan puasa ini dapat disimak lewat sabda Rasulullah, "Siapa yang shaum sebulan ramadhan, kemudian ia iringi dengan shaum enam hari di bulan syawwal, maka ia mendapat pahala yang sama dengan shaum selama setahun".( HR. Muslim).

Sedangkan tata caranya, shaum enam hari di bulan syawal tidak mesti berturut turut, tidak mesti juga mendahulukan shaum qadha' bagi yang mempunyai utang shaum Ramadhan. Karena shaum Syawal adalah shaum sunnah yang terbatas waktunya (hanya sampai hari terakhir bulan Syawwal). Shaum qadha' hukumnya wajib, akan tetapi waktu pelaksanaannya terbuka sampai akhir akhir Sya'ban.

Shaum atawa puasa Syawwal boleh dilakukan pada hari senin, hari kamis, pada tiga hari ayyamul bidh. Khusus shaum pada hari jum'at, dianjurkan untuk shaum juga sehari sebelumnya, atau sehari setelahnya
Lalu, kapan waktu terbaik menunaikan puasa Syawal?
Musyaffa Ad Dariny mengutif pendapat Syeikh Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi berpendapat bahwa lebih utama adalah hendaknya seseorang menjadikan hari-hari lebarannya untuk kebahagiaan dan kesenangan (dengan tidak berpuasa).

Oleh karena itu, telah valid dalam sebuah hadits yang shohih dari Nabi bahwa beliau mengatakan untuk hari-hari (tasyriq) di Mina, ‘itu adalah hari-hari makan dan minum maka janganlah kalian berpuasa di dalamnya. Apabila hari-hari Mina yang tiga, karena dekat dengan hari Idul Adha mengambil hukum ini, tentunya hari-hari Idul Fitri tidak jauh keadaannya dari hukum ini.

Oleh karena itulah, kamu dapati orang-orang akan menjadi ‘tidak enak’ apabila mereka diziarahi oleh seseorang di hari raya, lalu dia menolak hidangan yang disuguhkan dan mengatakan ‘aku sedang berpuasa’, sebaliknya mereka senang bila hidangan itu dinikmati tamunya.

Dan telah datang keterangan dari Nabi bahwa ketika beliau diundang oleh seorang sahabatnya dari kalangan Anshor untuk menikmati hidangan bersama sebagian sahabatnya, lalu ada sahabatnya yang menjauh dan mengatakan, ‘sungguh aku sedang berpuasa (sunnah)’. Maka Nabi mengatakan kepadanya: ‘Sungguh saudaramu telah bersusah payah untukmu, jadi BATALKAN puasamu dan berpuasalah di hari lainnya’.

Ketika tamu masuk pada hari-hari ied, terutama hari kedua dan ketiga, tentu seseorang akan senang dan lega ketika melihat tamunya menikmati hidangannya. Jadi, keadaan seseorang bersegera untuk berpuasa pada hari kedua dan ketiga, ini perlu ditinjau lagi.

Sehingga lebih utama dan lebih sempurna bila seseorang menyenangkan perasaan orang lain (dengan tidak berpuasa). Bisa jadi di hari kedua dan ketiga ini ada acara-acara undangan, bisa jadi dia menjadi tamu mereka, dan mereka senang bila dia ada dan ikut menikmati hidangan mereka.

Maka perkara-perkara seperti ini; mementingkan silaturrahim dan membahagiakan kerabat, tidak diragukan lagi di dalamnya terdapat keutamaan yang lebih utama dari amalan (puasa) sunnah.

Ada sebuah kaidah mengatakan, ‘Jika ada dua keutamaan yang sama bertabrakan, dan salah satunya bisa dilakukan di waktu lain, maka hendaknya keutamaan yang bisa dilakukan di waktu lain diakhirkan’. Bahkan, silaturrahim tidak diragukan lagi termasuk diantara amalan taqorrob yang paling utama.

Di sisi lain, syariat telah melapangkan untuk para hambanya dalam puasa 6 hari Syawwal ini, dia menjadikannya ‘mutlak’ (tidak terikat), boleh dilakukan di seluruh hari bulan syawwal, maka pada hari apapun puasa itu dilakukan di bulan syawwal; ia dibolehkan selain pada hari ied.

Berdasarkan keterangan ini, maka tidak ada alasan bagi seseorang untuk mempersulit dirinya dalam bersilaturrahim dan membahagiakan kerabatnya dan orang yang menziarahinya pada hari ied.

Oleh karena itu, hendaknya dia mengakhirkan puasa 6 hari syawal ini, sampai setelah hari-hari yang dekat dengan ied, karena orang-orang membutuhkan hari-hari ied itu untuk menciptakan nuansa bahagia dan memuliakan tamu, dan tidak diragukan bahwa mementingkan hal itu akan mendatangkan pahala, yang bisa saja melebihi pahala sebagian amal ketaatan (puasa). (Kitab: Syarah Zadul Mustaqni’, 107/5). Wallahu A'lam!

Enrekang, 23 Juli 2015.



Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an