Puasa dan Al-Qur'an Sebagai Syafaat

Syafaat, secara bahasa berasal dari kata as-syafa berari genap atau membuat sesuatu menjadi genap. Sedangkan secara istilah yaitu perantara bagi orang lain dengan cara mendatangkan manfaat dan mencegah kemudharatan. Syafaat terbagi menjadi dua, yakni batil atau salah dan syafaat yang haq atau benar.

Syafaat batil adalah syafaat diharapkan oleh orang musyrik dan kafir yang hanya berdasar sangkaan, firman Allah, Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata, Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah. Katakanlah, Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi? Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan, (QS. Yunus: 18). Firman Allah yang lain, "Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat, (QS. Al-Muddatsir, 48).

Hahikatnya yang dapat syafaat adalah mereka memenuhi tiga syarat yaitu: keridhaan Allah kepada pemberi syafaat; keridhaan Allah kepada orang yang mendapat syafaat; dan izin dari Allah untuk memberi atau menerima syafaat.

Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya, (QS. Al-Anbiya', 28). Firman Allah serupa, Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali syafaat orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya, (QS. Thaha, 109). Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai-Nya. (An-Najm, 26).

Adapun syafaat yang dimiliki Rasulullah adalah, syafaat al-udzma untuk seluruh manusia di padang mahsyar; syafaat untuk ahli syurga agar bisa memasukinya; dan syafaat bagi orang yang hendak masuk neraka agar tidak jadi memasukinya, serta syafaat bagi yang telah masuk neraka agar keluar darinya.

Adapun orang yang paling berhak mendapat syafaat adalah ahli tauhid atau yang tidak berbuat syirik sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah yang bertanya kepada Rasulullah, Siapakah orang yang paling beruntung mendapatkan syafaatmu? Beliau menjawab, Yaitu orang yang mengucapkan La Ilaha Illallah dengan ikhlas dari dalam hatinya, ‏(HR. Bukhari dan Ahmad).

Syafaat pada hakikatnya adalah senjata pamungkas umat Islam di hari kiamat nanti, ketika proses perhitungan telah selesai. Saat itu, akan banyak dari umat Nabi Muhammad yang, dosa dan pahalanya sama banyak, sehingga mereka seharusnya dijebloskan dulu ke dalam neraka untuk dicuci sebelum masuk surga. Nah, saat itulah syafaat berlaku, yang pada akhirnya membebaskan seorang hamba dari sengatan api neraka. Atau, mereka yang jelas-jelas timbangan kebaikannya lebih sedikit berbanding dosanya, harus masuk neraka, tapi karena ada syafaat hingga yang bersangkutan bisa lasngsung masuk surga.

Selain syafaat dari Allah untuk hamba-Nya, dan Nabi Muhammad untuk umatnya, adalagi syafaat yang berasal dari amal kita sewaktu di dunia. Di mana amal tersebut adalah yang teristimewa dari sekian amal ibadah yang ada dalam Islam, berdasarkan dalil berikut.

Nabi SAW bersabda, Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Wahai Rabb, aku telah mencegah dia dari makan dan syahwat, maka izinkanlah aku memberikan syafaat untuknya.’ Al-Qur’an juga berkata, ‘Aku mencegah dia dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberikan syafaat untuknya.’ Rasulullah bersabda, Keduanya [yaitu puasa dan Al-Qur’an] pun memberikan syafaat kepada si hamba. (HR. Ahmad, dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani).

Bahkan Sufyan bin Uyinah sebagaimana dikutif oleh Muhammad bin Saleh al-Utsaimi dalam "Majalis Syahri Ramadhan" menambahkan, Ketika seorang hamba di hari kiamat telah selesai dihitung amalnya, dan hasilnya tidak ada pahala yang tertinggal melainkan kezaliman, maka dia pun ditetapkan sebagai penghuni neraka. Namun, ternyata dia memiliki puasa sewaktu di dunia, maka puasa itu pun meminta agar yang bersangkutan tidak dinerakakan, dan ia pun masuk surga.

Demikianlah di antara dahsyatnya kekuatan puasa, kendati fungsi utamanya adalah mengantarkan orang untuk bertakwa (la'allakum tattaqun), namun manfaat lainnya pun tidak bisa disepelekan terutama kemampuannya menjadi senjata pamungkas  di hari perhitungan kelak.

Maka tidak heran jika umat Islam di mana pun dan dalam kondisi apa pun mati-matian berjuang untuk menunaikan ibadah puasa, kecuali mereka yang miskin dan fakir iman. Lihatlah di benua Eropa, di Swedia misalnya, puasa tahun ini lebih dari 23 jam. Umat Islam di sana berbuka pada pukul 06.00 dan imsak 38 menit kemudian (06.38). Itu artinya, hanya setengah jam waktu untuk berbuka, salat Magrib, Isya, Taraweh, Sahur dan salat Subuh. Demikian pula di Rusia, waktu berbuka hingga imsak kurang dari satu jam.

Namun itu belum seberapa, umat Islam Uighur di Tiongkok berjibaku dengan pemerintah yang melarang mereka melaksanakan segala bentuk ritual keagamaan termasuk puasa. Bahkan karena mereka protes supaya diizinkan berpuasa sehingga sampai saat ini sedikitnya 28 orang meninggal dunia. Sekali lagi, mereka berjuang untuk berpuasa demi menunaikan perintah agama untuk menjadi manusia bertakwa, dan tentunya agar mendapat syafaat di hari kemudian.

Sayangnya, di Indonesia, lebih khusus Makassar yang dikenal Serambi Madinah nuansa puasa tidak terlalu dihargai oleh beberapa pihak. Buktinya, di Pasar Butung warung-warung makan lebih ramai dari biasanya, dan yang datang untuk makan pun bukan hanya yang memiliki udzur syar'i. Demikian pula di berbagai tempat, dengan muda dijumpai mereka yang sedang santap siang, tertutup badan dan kepalanya oleh tabir namun terlihat jelas betisnya yang kekar. Andai saja mereka mau paham keutamaan puasa, niscaya akan menunaikan kewajiban mulia itu walau nyawa taruhannya, walaupun sampai saat ini belum ada orang Indonesia yang mati karena puasa.

Merujuk hadis di atas, selain puasa, Al-Qur'an adalah sumber syafaat kedua. Dapat dipahami karena Bulan Puasa adalah bulan di dalamnya Al-Qur'an diturunkan, syahru ramadhan alladzi unzila fihil-Qur'an. Karena itu, puasa dan Al-Qur'an adalah satu paket yang tidak dapat dipisahkan, keduanya akan menjadi syafaat di hari kemudian. Dan orang yang berpuasa tidak lengkap jika tanpa diiringi dengan bacaan Al-Qur'an.

Kesaksian penulis menunjukkan gejala sadar Al-Qur'an, budaya tilawah tumbuh subur, terurama di bulan puasa, bahkan gerbong commuterline Jabodetabek pun sudah biasa dengan lantunan ayat-ayat suci dari para penumpang, hingga para pedagang di Pasar Sentral Enrekang sibuk dengan bacaan Al-Qur'an sambil menunggu dagangannya laku, juga para penghafal semakin bertambah diiringi dengan maraknya sekolah tahfidz.

Untuk itu, pada hari-hari terakhir Ramadan kali ini akan lebih sempurna jika puasa dimaksimalkan dengan bacaan Al-Qur'an selain amalan-amalan utama lainnya seperti salat taraweh, bersedekah, dan memperbanyak dzikir, sebagai syarat menggapai Lailatul Qadar. Ibnul Qayyem berkata, "Seandainya Malam Lailatul Qadar itu ada dalam setahun penuh niscaya aku akan mengejarnya dengan shalat semalam suntuk setiap hari, maka bagaimana lagi kalau ternyata malam Lailatul Qadar itu hanya ada di dalam sepuluh hari terakhir Bulan Ramadan."

Ingat, umur dan amal itu ditentukan pada penghujung, orang saleh ditetapkan kesalehannya dengan khusnul khatimah, dan ibadah Ramadan ditentukan dengan kesungguhan pada hari-hari akhir menjelang habisnya bulan puasa, inilah yang disitir sabda Nabi, Wainnamal 'a'malu bikhawatimiha, Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada penghujungnya, (HR Bukhari-Muslim). Maka merugilah mereka yang menyibukkan diri dengan wara-wiri di tempat belanja, berjibaku untuk mudik, atau begadang mempersiapkan kue lebaran sambail melalaikan keutamaan malam-malam terakhir Ramadan. Wallahu A'lam!

Ilham Kadir, Peserta Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) Baznas-DDII; Pengurus KPPSI Pusat.


Enrekang 8 Juli 2015. dimuat oleh Tribun Timur, Jumat 10 Juli 2015.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena