Kemuliaan Lailatul Qadar



Oleh: Ilham Kadir, Pengamat Sosial-Keagamaan.

Ada dua jenis sepuluh yang sangat dicintai Allah dan di dalamnya bergelimang keutamaan dan berkah. Pertama adalah sepuluh hari pertama bulan Muharram dan kedua sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Saat ini, kita berada pada jenis sepuluh yang kedua.

Inilah momen yang paling ditunggu-tungu umat Islam sehat iman karena di dalamnya ada satu malam yang terdapat lailatul qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Lantas, mengapa malam ini dinamakan malam lailatul qadar?

Malam itu dinamakan lailatul qadar karena keagungan nilainya dan keutamaannya di sisi Allah Ta’ala. Juga, karena pada saat itu ditentukan ajal, rizki, dan lainnya selama satu tahun, sebagaimana firman Allah, “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad-Dukhaan: 4).

Kemudian, Allah berfirman mengagungkan kedudukan lailatul qadar yang Dia khususkan untuk menurunkan Al-Qur’an, “Dan tahukah kamu apakah lailatul qadar itu?” Selanjutnya Allah menjelaskan nilai keutamaan lailatul qadar dengan firman-Nya: “Lailatul qadar itu lebih baik dari pada seribu bulan.

Beribadah di malam itu dengan ketaatan, shalat, tilawah, dzikir, do’a, salawat, dan semisalnya, sama dengan beribadah selama seribu bulan di waktu-waktu lain. Seribu bulan sama dengan 83 tahun 4 bulan.

Lalu Allah memberitahukan keutamaannya yang lain, juga berkahnya yang melimpah dengan banyaknya malaikat yang turun di malam itu, termasuk Jibril ‘alaihis salam. Mereka turun dengan membawa semua perkara, kebaikan maupun keburukan yang merupakan ketentuan dan takdir Allah. Mereka turun dengan perintah dari Allah. Selanjutnya, Allah menambahkan keutamaan malam tersebut dengan firman-Nya, “Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar”, (Al- Qadar: 5).

Maksudnya, malam itu adalah malam keselamatan dan kebaikan seluruhnya, tak sedikitpun ada kejelekan di dalamnya, sampai terbit fajar. Di malam itu, para malaikat -termasuk malaikat Jibril mengucapkan salam kepada orang-orang beriman. Dalam satu hadis shahih, Rasulullah menyebutkan keutamaan melakukan qiyamul lail di malam tersebut, “Barangsiapa melakukan shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (H.R. Muttafaq ‘Alaih).

Lailatul qadar adalah keistimewaan para nabi, dan akan terus turun tiap Ramadan pada umat Rasulullah hingga hari kiamat, dalilnya, Dari Abu Dzar bahwasanya ia bertanya, Wahai Rasulullah, kabarkan aku tentang lailatul qadar, apakah turun pada bulan Ramadan atau selainnya? Nabi menjawab, Ia turun pada bulan Ramadan. Abu Dzar kembali bertanya, Apakah lailatul qadar turun di kala para nabi masih ada dan setelah mereka meninggal ia pun tak turun lagi, atau akan turun terus tiap Ramadan sampai hari kiamat? Ia akan turun sampai hari kiamat, jawab Nabi. (HR. Ahmad dan Nasa'i).
Tentang waktunya, Rasulullah bersabda, “Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya).

Yang dimaksud dengan malam-malam ganjil yaitu malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dan malam dua puluh sembilan. Ibnu Hajar Al Asqalani berkata, “Ada beberapa dalil yang membicarakan tanda-tanda lailatul qadar, namun itu semua tidaklah nampak kecuali setelah malam tersebut berlalu,” (Fathul Bari, 4: 260).

Di antara yang menjadi dalil perkataan beliau di atas adalah hadis dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, “Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.” (HR. Muslim no. 762).

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath-Thayalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18: 361. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahihul Jaami’ no. 5475).

Melihat keterangan Rasulullah dan para ulama di atas, nampaknya tanda-tanda turunnya Lailatul Qadar hanya dapat diketahui setelah berlalu, namun ada kepastian bahwa ia akan datang menyapa pada malam-malam ganjil berdasarkan hadis Nabi yang diriayatkan Imam Bukhari di atas, Carilah dengan semangat Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil sepuluh terakhir bulan Ramadan.

Ya Allah, bukalah bagiku di bulan ini pintu-pintu anugerah-Mu, turunkanlah kepadaku di bulan ini berkah-berkah-Mu, berikanlah taufik kepadaku di bulan ini untuk mencapai keridhaan-Mu, dan tempatkanlah aku di bulan ini di tengah-tengah surga-Mu, wahai Pengabul permintaan orang-orang yang ditimpa kesulitan.

Enrekang, 9 Juli 2015 M/22 Ramadan 1436 M. Dimuat 10 Juli 2015 Go Cakrawala Makassar.



Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi