Islam Agama Toleransi



Dikisahkan bahwa Nabi Muhammad sering diganggu ketika hendak menunaikan
ibadah di Masjidil Haram. Saban hari ia dihina, dicaci, diludahi, bahkan dilempari kotoran oleh seseorang. Sampai Malaikat Jibril menawarkan untuk membalas kelakuan orang itu. Namun, Nabi tetap bersikap toleran dan memaafkan, Tak usah Wahai Jibril. Sahabat itu belum mengenal Islam. Biarkanlah dia dengan perilakunya. Demikian jawaban Nabi atas tawaran Jibril.

Hingga pada suatu hari Rasulullah tidak bertemu dengan orang yang biasa mengganggunya. Maka, beliau pun berusaha mencari tahu tentang nasib orang tersebut, diketahuilah bahwa pengacau itu sedang sakit keras, tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Begitu mendengar kabar, Rasulullah bergegas pergi untuk menjenguk pengacau itu. Tanpa menghiraukan pengalamannya yang dihina, dicemooh, dicaci, bahkan disakiti.

Ketika sudah berada di samping sang pengacau, Rasulullah meletakkan tangan lembutnya di dahi dengan suara lembut, Nabi bertanya tentang penyakit dan perasaan yang dirasakannya.

Mendengar bahasa halus Nabi, orang itu gemetar, perasaannya berkecamuk. Ia bahkan tak pernah menyangka bahwa manusia yang selama ini ia musuhi memiliki watak yang sedemikian mulia. Sama sekali tidak menampakkan rasa dendamnya. Justru memperlihatkan kepribadiannya yang penyayang dan penyantun. Sungguh perilaku mengetuk hati si pengacau. Tiba-tiba, orang itu mencium tangan Nabi. Dengan suara gemetar, orang itu berusaha berkata-kata. “Wahai Muhammad, ketika engkau akan beribadah, saya selalu mengganggumu. Saya selalu menyakitimu. Saya selalu berusaha agar kamu tidak dapat beribadah dengan segala caraku. Namun, semua usahaku ternyata gagal. Hari ini, saya sedang sakit. Tak seorang pun teman-temanku menengokku. Justru kamu adalah orang yang pertama menjengukku. Sungguh hatimu teramat mulia. Maka, persaksikanlah wahai Muhammad, bahwa saya masuk Islam.”

Kisah di atas adalah sikap toleran Sang Nabi yang harus dijadikan contoh pada umatnya sampai batas waktu tak terhingga. Dengan toleransi, sehingga musuh Nabi dan agama pun terpikat memeluk agama Islam. Dalam perjalannya, Islam menjadi agama paling toleran dalam sejarah umat manusia, sebagaimana akan kita buktikan.

Pada tahun 625 M. Saat Nasrani, Yahudi, Majusi berada dalam pasukan Quraisy dengan 1.000 pasukan, menyerang Nabi yang hanya memiliki 300 pasukan pada Perang Badar, banyak yang tertangkap lalu ditawan. Mereka pun dihukum sebagai guru lalu dibebaskan.

Demikian pula pada tahun 636 M, saat pasukan Nasrani menduduki Yerusalem, yang kemudian dibebaskan oleh tentara muslim, para penganut agama Kristen tetap diberi keleluasaan beribadah bahkan dibangunkan gereja oleh Khalifah Umar al-Khattab.

Sejarah juga mencatat bahwa pada tahun 1187 M, saat pasukan Kristen telah membantai 74.000 kaum muslimin di Perang Salib, namun ketika mereka berhasil dikalahkan, tak setetes darah tumpah oleh Sultan salahuddin al-Ayyubi dan pasukannya.

Penyerahan kunci Istana Al-Hamra oleh Sultan Muhammad As-Shaghir kepada Raja Ferdinand dan Ratu Isabella pada 2 January 1492 M menandai berakhirnya kekuasaan Islam di Spanyol. Itu artinya, secara politik Islam sama sekali tidak memiliki hak terhadap Spanyol.

Namun berakhirnya kekuasaan Islam di Spanyol tidak serta merta mengakhiri kisah kaum muslimin di negeri itu, penyerahan kekuasaan justru merupakan awal dari sejarah kelam kaum muslimin di sana. Piagam Granada yang menjanjikan kebebasan beragama bagi kaum muslimin rupanya tidak berumur panjang.

Pada tahun 1502 umat Islam diberi dua opsi, mameluk Kristen atau pergi meninggalkan bumi Spanyol. Artinya, menetap di Spanyol dengan tetap memeluk agama Islam sama artinya dengan bunuh diri. Banyak kaum muslimin yang memilih meninggalkan Spanyol, namun tidak sedikit yang memilih pindah agama secara zahir, namun tetap beribadah secara Islami dengan sembunyi-sembunyi. Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai kaum Moriscos.

Seiring dengan berjalannya waktu, keberadaan kaum Moriscos dianggap sebagai sebuah ancaman. Sehingga antara tahun 1508-1567 keluar sejumlah peraturan yang melarang segala hal yang bernuansa Islam, baik pakaian maupun nama.

Penggunaan bahasa Arab juga dilarang. Anak-anak kaum muslimin dipaksa untuk menerima pendidikan dari para pendeta Kristen. Puncaknya pada tahun 1609-1614 sebanyak 300.000 Moriscos diusir dari Spanyol oleh Raja Philip III. Benar-benar sebuah kenyataan sejarah yang pahit dan menyedihkan.

Dari Spanyol mari kita pindah ke belahan bumi yang lain, tepatnya ke Turky tempat di mana kekhalifahan Ottoman berpusat. Setelah mendengar penyiksaan yang dilakukan penguasa Spanyol terhadap kaum muslimin, Sultan Salim I marah besar, dia mengeluarkan Dekrit yang berisi perintah kepada seluruh penganut Yahudi dan Nasrani yang berada di bawah kekuasaannya untuk memilih satu dari dua opsi, tinggal menetap dengan catatan memeluk agama Islam atau pergi meninggalkan Tanah Kekhalifahan.

Mendengar Dekrit tersebut, Syaikh Ali Afandi At-Tirnabily selaku Mufti Ottoman saat itu menyampaikan penolakannya terhadap Dekrit Sultan. Mufti menjelaskan bahwa Dekrit tersebut tidak boleh dilaksanakan sekalipun kaum muslimin disembelih di negeri-negeri Salib. Mufti juga menjelaskan bahwa selamanya tidak ada paksaan dalam beragama.

Akhirnya Sultan Salim menarik keputusannya dan membiarkan penganut Yahudi dan Nashrani tinggal dengan aman dan damai di bawah pemerintahannya. Mereka semua tinggal dengan aman dan damai sentosa di saat pemerintah Spanyol menyembelih ratusan ribu kaum muslimin di negaranya.

Sikap Sultan Salim yang tunduk pada rambu-rambu keislaman sudah cukup sebagai jawaban bahwa Islam bukan teroris, namun sebagai rahmatan lil 'aalamin. Di mana bila Islam berkuasa, dia akan menjadi pengayom bagi semua.

Sayangnya, sebagian umat Islam dan lebih khusus umat Kristen sudah lupa akan sejarah bahwa agama Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, ketika dizalimi ia berusaha bersabar sampai pada batas tertentu, dan ketika ia merasa mampu untuk melakukan perlawanan atau memiliki kekuasaan, justru ia akan memaafkan (al-'afwu 'indal qudrah).

Adalah insiden penistaan dan pelecehan untuk umat Islam kembali terjadi (11/7/2015) di Bitung Sulawesi Utara, kali ini, kepala babi yang ditancapkan pada lokasi pembangunan masjid, serta usus dan kotorannya dilempar ke sebagian rumah penduduk muslim.

Dan yang teranyar dan menyentak serta menyita perhatian publik adalah tragedi pembakaran pemukiman, tempat usaha, dan masjid di Tolikara Papua. Merupakan sebuah kezaliman yang semestinya tidak berlaku di Indonesia yang memiliki penduduk muslim terbanyak di dunia, sebab, bukan saja akan mendatangkan masalah besar bagi umat Islam Papua karena terzalimi akan tetapi justru berbalik merugikan pihak umat Kristen, terutama yang tinggal di daerah mayoritas muslim.

Ironisnya, kerja-kerja sistematis, terencana namun biadab ini terjadi pada Hari Besar Umat Islam, 1 Syawal 1436 H/17 Juli 2015 M. Tragedi kelam ini akan menjadi sejarah buruk kerukunan umat beragama di Indonesia. Maka, pemerintah melalui perwakilannya, harus serius menuntaskan kedua masalah di atas agar pada masa yang akan datang peristiwa serupa dapat direduksi.

Sejatinya, umat Islam, sebagaimana pesan Rasulullah, harus bersifat dan bersikap seperti lebah. "Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan yang bersih, hinggap di tempat yang bersih, tidak merusak apalagi mematahkan tempat hinggapnya, (HR. Ahmad, Hakim, al-Bazzar).

Lebah hanya mengomsumsi saripati bunga, lalu mengeluarkan madu dan propolis yang terbukti memberi manfaat besar pada umat manusia. Tapi jangan salah, lebah jika diusik, lalu mengamuk, maka ia akan rela mati demi mempertahankan harga diri dan keyakinannya. Wallahu A'lam!


Enrekang, 22 Juli 2015. Dimuat Tribun Timur, 24 Juli 2015.

Ilham Kadir, Pengurus KPPSI Pusat & Peneliti MIUMI.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi