Visi Misi Ramadan




Visi Misi Ramadan

Oleh,  Ilham Kadir, MA

Setiap aktivitas seorang muslim harus berlandaskan visi dan misi. Visi secara sederhana adalah sarana untuk mencapai misi. Artinya, sebuah visi tidak akan tercapai tanpa adanya misi.

Demikian pula orang berpuasa, visi utamanya adalah menjadi muttaqin, atau masuk dalam golongan orang-orang bertakwa. Sedangkan misi para muttaqin
adalah mendapat ridha Allah lalu masuk surga.

Hakikatnya, semua ibadah dalam Islam memiliki misi seperti di atas. Karena itulah setiap hamba, lebih-lebih di bulan Ramadan dianjurkan untuk membaca doa, Allahumma inni as'aluka ridhaka wal-jannah, wa na'udzu bika min sakhtika wan-nar. Ya Allah, aku mohon ridha dan ampunan-Mu dan berlindung dari murka dan api neraka-Mu.

Adalah tidak lengkap jika hanya berdoa dengan meminta salah satu dan mengabaikan yang lain. Meminta ridha tanpa surga atau surga tanpa ridha. Keduanya adalah bagian yang terpisahkan.

Walaupun dalam beberapa keadaan para sahabat terang-terangan beribadah karena mengharap surga. Dalam kasus ini, untuk para sahabat bisa dimaklumi sebab, mereka memang berada pada lingkaran Nabi dengan ibadah yang begitu lebih sempurna, sebab jika ada permasalahan langsung diselesaikan oleh Nabi sendiri. Setara dengan perjuangan mereka dalam membela agama Allah dari serangan musuh-musuh agama, terutama para kafis quraisy begitu dahsyat.

Lalu adakah perbedaan visi misi puasa antara generasi awal umat ini dengan sekarang? Tentu saja tidak. Kata-kata seorang sufi, Jika aku beribadah hanya mengharapkan surga-Mu, maka bakarlah aku dengan neraka-Mu. Adalah tidak sempurna, sebab distinasi terakhir seorang muslim adalah surga, karena itu, semua umat Nabi Muhammad menjadi pemburu surga, termasuk pembaca dan, saya pastinya.

Saya sendiri tidak akan menulis catatan ini melainkan untuk mengharap surga, kiranya dengan rangkaian kata ini dapat bermanfaat bagi orang lain, mendorong pembaca terutama saya selaku penulis untuk mengerjakan segala bentuk amalan yang dapat melahirkan ketakwaan, dan ketakwaan yang akan menghasilkan surga yang luasnya sama dengan bumi dan langit.

Mengharap saja tanpa usaha tentu sebuah kesia-siaan. Tarjunnajah walam tasluk masalikaha, fa'lam, anna as-safinata lan tajriya 'alal yabas. Engkau mengharap kesuksesan, tapi tidak meniti jalan kesuksesan itu, ketahuilah bahwa perahu tidak akan berjalan di daratan.

Mengharap ridha dan surga Allah, namun tidak meniti jalan ketakwaan tentu sebuah angan-angan belaka, tetapi jika sudah menunaikan segenap ketentuan-ketentuan Allah untuk meraih surga-Nya, maka semuanya diserahkan kepada Allah, Dia adalah pemilik otoritas, siapa saja yang dikehendaki maka ia akan dimasukkan ke surga dan dijauhkan dari neraka, dan meraka ini adalah golongan yang menang lagi untung.

Bulan Ramadan adalah salah satu sarana untuk meraih ketakwaan. Dengan Ramadan, umat Islam dapat mengoptimalkan waktunya beribadah baik ibadah wajib maupun sunnah. Mereka yang beribadah akan dinilai dengan peniliaian khusus yang beda dengan hari-hari lain selain Ramadan. Bahkan, salat sunnah rawajib, sebuah salat yang mengiringi salat wajib, setidaknya sepuluh rakaat, dua rakaat sebelum Subuh, dua rakaat sebelum dan sesudah zuhur, dua rakaat setelah magrib dan Isnya, akan disamakan pahalanya dengan salat wajib di luar Ramadan, sedangkan salat fadhu pada Ramadan akan dilipatgandakan sampai tujuh puluh kali bahkan lebih dari itu, sesuai tingkat keikhlasannya.

Adalah sebuah kerugian jika Ramadan datang tanpa ada perubahan volume ibadah, dan berlalu begitu saja. Idealnya, umat Islam menggenjot ibadah pada bulan mulia ini, sambil menghindari segala bentuk larangan Allah, agar kita semua berada pada golongan muttaqin sebagai visi Ramadan yang disediakan surga sebagai misinya. Sebuah kenikmatan yang tidak terbayangkan keindahannya oleh mata, belum terdengar oleh telinga dan belum terbesit dalam hati manusia. Wallahu A'lam!

Rafles Hills-Bekasi, 1 Ramadan 1436 H.
kolom "Cahaya ilmu-13" INILAHSULSEL, 19 Juni 015.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi