Setan Ramadan Menurut AGH Sanusi Baco



Ramadan tiba, bulan kesembilan dalam hitungan tahun Hijriah ini memiliki sejuta rahmat, ampunan, hingga berbagai keutamaan lainnya termasuk waktu paling berpotensi meraih ridha atau surga Allah dan terbabas dari murka dan siksa neraka. Karena itu umat Islam yang sehat imannya akan selalu mengoptimalkan waktunya untuk beribadah dalam bulan yang terdapat satu malam setara dengan seribu bulan.

Ada yang menarik, ketika berbicara dengan Ramadan, yaitu adanya sebuah dalil yang menyatakan, Apabila bulan Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari, No. 1899. Muslim, No. 1079 bersumber dari Abu Hurairah.

Masalahnya di Indonesia dan mungkin juga di negara luar memiliki kasus yang sama,  berupa maraknya aksi-aksi kemungkaran dan maksiat di bulan puasa, bahkan di Makassar, kemungkaran seakan meningkat begitu masuk Ramadhan, pencurian, balapan liar, hingga tawuran dan perkelahian kian marak.

Jika demikian adanya, kita pun bertanya, benarkah setan dirantai? Kalau iya, kenapa kemungkaran makin menggila dan kemaksiatan tetap langgeng di bulan Puasa? Kita liat ulasannya.

Al-Hafidz Ibnu Hajar berpendapat seraya menukil dari Al-Hulaimy. Kemungkinan maksudnya adalah para setan tidak bersungguh-sungguh menggoda kaum muslimin, sebagaimana yang mereka lakukan di bulan lainnya, karena kesibukan manusia beribadah. Atau yang dimaksud para setan yang dibelenggu adalah sebagian mereka, yaitu dari jenis pembangkang kelas kakap, atau dibelenggu dengan puasa yang berfungsi menekan dorongan syahwat, atau dengan bacaan Al-Qur’an dan dzikir.

Yang lainnya berkata, maksud dibelenggu adalah diikat dengan rantai. Iyadh berkata, Ada kemungkinan maknanya sesuai zahir dan hakekatnya. Yaitu sebagai tanda bagi para malaikat akan masuknya bulan Ramadan, agar mereka mengagungkan kesuciannya dan melarang para setan mengganggu orang beriman. Atau sebagai simbol banyaknya pahala dan pengampunan. Dan berkurangnya gangguan setan, sehingga seakan-akan mereka dibelenggu. Dia Berkata, yang menguatkan kemungkinan kedua ini adalah ungkapan dalam riwayat Yunus dari Ibnu Syihab dalam riwayat Muslim, 'Pintu-pintu rahmat dibuka'. Dia juga berkata, bahwa  kemungkinan makna dibelenggunya setan adalah simbol dilemahkannya dalam menggoda dan menghias syahwat. Zain bin Munayyir berkata, 'Pendapat pertama dengan makna dibelenggu secara zahir lebih tepat. Lafaz ini tidak perlu dialihkan dari zahirnya.' (Fathul Bari, 4/114).

Syekh Ibnu Utsaimin berpendapat bahwa artinya adalah 'Setan-setan pembangkang dibelenggu pada bulan Ramadan' atau diikat, maksud 'dibelenggu' adalah dibelenggunya setan dari upayanya menyesatkan manusia, dengan dalil banyaknya kebaikan dan orang yang bertaubat kepada Allah di bulan Ramadan. Maka, makna  setan dibelenggu adalah bersifat hakiki nyata, Allah yang lebih mengetahui tentang hal tersebut. Dan tidak harus berarti bahwa kejelekan dan kemaksiatan tidak terjadi di antara manusia.

Pendapat Anregurutta

AGH Sanusi Baco sebagai Ketua Majelis Ulama Sulsel adalah salah satu ulama yang kerap menjadi referensi dalam mengurai persoalan agama. Ceramah-ceramahnya selalu menawarkan solusi-solusi jitu terhadap masalah kekinian, walaupun kerap diulang-ulang, namun tetap saja menarik sebab bahasa dan kemasanannya terkesan up todate. Termasuk pembahasan setan yang dirantai pada bulan Ramadan.

Dalam pandangan Gurutta Sanusi Baco, setan bulan Ramadan ada pasa setiap orang, hanya saja, apakah pemilik setan itu mampu menundukkan setannya, atau dia yang diperbudak oleh setan.

Jadi, menurut Gurutta, rantai dan pintu  setan ada pada diri kita masing-masing yang  bersumber dari dua tempat: mulut dan kemaluan. Menurutnya, siapa yang mampu menjaga mulutnya dengan menahan dari berkata dusta, makan makanan haram, dan sejenisnya, sesungguhnya ia telah menutup pintu setan dan membelenggu kaki-tangannya. Ada pun setan kemaluan, maka, siapa yang kuasa menjaga kemaluannya dari perbuatan keji, sesungguhnya ia telah membelenggu setan, dan mengikatnya dengan rantai. Pendapat Gurutta Sanusi Baco juga singkron dengan pesan Nabi, "Yang paling banyak menjerumuskan orang ke dalam neraka adalah mulut dan kemaluan".

Nyatanya, hampir setiap kemungkaran (munkarat), seperti penipuan, pembohongan termasuk taqiyah, hingga, perkelahian dan peperangan diawali dengan adu mulut. Demikian pula, hampir segala bentuk kekejian (fakhsya') seperti perbuatan nista dengan memperkosa, mesum, zina, kumpul-kebo, hingga prostitusi mengarah pada kemaluan.

Karena itu, pendapat AGH Sanusi Baco sangat tepat bahwa kemampuan menahan nafsu mulut dan syahwat kemaluan sama dengan menutup rapat pintu setan. Dan, puasa serta amalan-amalan mulia Ramadan seperti baca Al-Qur'an, salat jama'ah, taraweh, menyegerakan buka dan mengakhirkan sahur, bersedekah, banyak bedzikir dan bersalawat, tidak menyakiti orang lain dengan tangan dan lisan, adalah kunci-kuci untuk merantai para setan.

Jika tidak peduli akan kemuliaan Ramadan, sesungguhnya manusia jenis ini telah dikurung dan dirantai dengan setan, hingga perbuatan mungkar dan keji menjadi bagian dari hidupnya sebagaimana para koruptor dan pelacur berbagai tipe yang kian marak di negeri ini.

Apa itu setan?

Setan menurut bahasa berasal dari ‘syathana’ dengan arti ‘menjauh’. Dinamakan setan karena jauhnya dia dari kebenaran. Ada pula yang mengatakan bahwa syaithan dari kata ‘syâtha’ yang berarti terbakar atau batal. Pendapat yang pertama ‘syathana’ lebih kuat menurut Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir, sehingga kata ‘syaithan’ artinya adalah jauh dari kebenaran atau rahmat Allah. Istilah setan kemungkinan juga diambil dari bahasa Ibrani ‘syatan’ yang artinya lawan atau musuh, sebagaimana ditulis oleh Syamsuddin Arif dalam “Orientalis dan Dioabolisme Pemikiran, 2008” dengan merujuk pada W. Gesenius dalam Lexcon Manuale Hebraicum et Chaldaicum in Veteris Testamenti Libros, s.v. ‘s-t-n’.

Ibnu Jarir menyatakan, setan dalam bahasa Arab adalah setiap yang durhaka dari jin, manusia atau hewan, atau dari segala sesuatu. Firman Allah, Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia, (Al-An’am [6]: 112). Ibnu Jarir berpendapat, Allah menjadikan setan dari jenis manusia, seperti halnya setan dari jenis jin. Dan hanyalah setiap yang durhaka disebut setan, karena akhlak dan perbuatannya menyelisihi akhlak dan perbuatan makhluk yang sejenisnya, dan karena jauhnya dari kebaikan, (Tafsir Ibnu Jarir jilid I). Ibnu Katsir, dalam memahami ayat di atas menyatakan bahwa setan adalah semua yang keluar dari tabiat jenisnya dengan kejelekan, (Tafsir Ibnu Katsir Jilid II).

Masih tentang setan. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar, ia berkata, aku datang kepada Nabi dan beliau berada di masjid. Akupun duduk dan, beliau menyatakan, ‘Wahai Abu Dzar apakah kamu sudah shalat?’ Aku jawab, ‘belum’. Beliau mengatakan, ‘Bangkit dan shalatlah.’ Akupun bangkit dan shalat, lalu aku duduk. Ia berkata, ‘Wahai Abu Dzar, berlindunglah kepada Allah dari kejahatan setan manusia dan jin.’ Abu Dzar berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah di kalangan manusia ada setan?’ Rasul menjawab, ‘Ya.’

Setan adalah musuh nyata bagi manusia  (QS. 5: 7, 17: 53, 35: 6), itu karena setan adalah pembangkang (‘ashiy), berwatak jahat, liar, dan kurang ajar (mârid dan marîd). Setan selalu menggelincirkan (istazalla), menjerumuskan (yughwi) dan pastinya, menyesatkan (yudhillu) orang banyak dengan segala trik dan strategi yang dimiliki. Caranya, dengan menyusup dan memengaruhi (yatakhabbath), merasuk dan merusak (yanzaghu), menaklukkan dan menjatuhkan (istawâ), menguasai (istahwadza), menghalang-halangi (yashuddu), menakut-nakuti (yukhawwifu), merekomendasi (sawwala) dan menggiring (ta’uzz), menyeru (yad’u) lalu menjebak (yaftinu). Tidak hanya itu, setan juga menciptakan imej positif untuk kebatilan (zayyana lahum ‘a’maluhum), membisikkan hal-hal negatif ke dalam hati dan fikiran seseorang (yuwaswisu), menjanjikan dan memberikan iming-iming (yaiduhum wa yumannihim), memberdaya dengan tipu muslihat (dalla bi-ghurûr), membuat orang lupa lagi lalai (yunsî), menyulut konflik dan kebencian (yûqi’u al-‘alâdawah wal-baghda’), menganjurkan perbuatan maksiat dan amoral (ya’muru bil fahsya’i wal-munkar), serta menyuruh orang supaya kafir (qâla lil insan ukfur). a'udzubillah min syarri syaithan ar-rajim!

Wadi-Mubarak, Megamendung Bogor, 7 Juni 2015.
Dimuat Harian Tribun Timur 19 Juni 2015.
Ilham Kadir, Peserta Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) Baznas-DDII/Pengurus KPPSI Pusat.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi