Mesin Pelebur Pahala Puasa



Oleh: Ilham Kadir, MA.*

Antara tujuan seorang hamba beribadah dengan menjalankan perintah Allah adalah untuk meraih pahala, karena dari pahala itulah seseorang kelak akan menentukan nasib abadinya setelah wafat, apakah akan sengsara dalam kubur lalu disambung dengan azab neraka tiada tara pedihnya atau sebaliknya, nyaman dalam liang lahat dan meraih kenikmatam surga abadi.

Puasa pun demikian, sebagai sarana untuk menangguk pahala sebanyak-banyaknya. Karena itu umat Islam benar-benar dirhapkan agar dapat memanfaatkan momentum emas tersebut, jangan sebaliknya, berpuasa tetapi tidak mendatangkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.

Banyak orang yang berpuasa namun dia hanya menggugurkan kewajibanya terhadap Allah. Orang seperti ini laksana insan yang berjalan namun tak tau tujuan akhirnya. Hanya menjalankan kewajiban namun tidak dilandasi dengan ilmu dan kesabaran, hingga perkara-perkara terlarang dalam puasa tetap ia lakukan.

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga. Demikian Hadis Riwayat Ath-Thabraniy dalam Al-Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targib wa At-Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shahih ligairihi atau shahih dilihat dari jalur lainnya.

Berdasarkan dalil di atas maka dapat dipastikan bahwa banyak orang berpuasa namun sia-sia, alias tidak dapat pahala, walaupun puasanya tidak batal secara hukum dengan kata lain telah gugur kewajiban. Yang dimaksud dengan merusak secara maknawi adalah bahwa orang berkenaan tidak akan mendapatkan pahala apapun dari jerih payahnya berpuasa. Akan tetapi secara hukum, dia telah melakukan puasa secara lahiriyah, maka tidak dituntut untuk mengganti puasanya.

Antara pelebur pahala puasa adalah. Pertama. Memandang segala sesuatu yang dapat menggugah nafsu syahwat seperti melihat secara terus-menerus dibarengi dengan niat sehingga memunculkan syahwat. Seumpama seorang laki-laki melihat perempuan yang berpenampilan seksi dan juga perempuan yang melihat laki-laki, lalu dalam fikiran mereka tumbuh syahwat.

Kedua. Mengucapkan kata-kata yang sia-sia atau tercela. Mengucap berarti berbicara, bercengkrama namun dalam penggunaan bahasa atau kosa kata masuk dalam kategori jelek. Seperti mesum dan jorok, atau mengatakan orang lain dengan konotasi yang buruk sehingga menyakiti hati orang tersebut.

Ketiga. Mendengarkan sesuatu yang dibenci agama seperti berita gossip. Ada pula mendengarkan ceramah agama yang berisi menjelek-jelekkan agama Islam,  Mendengarkan propaganda dan secara tidak langsung sedikit mempercayainya. Atau membuat cerita tentang Islam alternnatif selain yang dicontohkan oleh Nabi dan para Sahabatnya. Termasuk yang sedang santer dibicarakan, Islam Nusantara digagas penggiat liberal. Islam jenis ini kabur maknanya dan tidak jelas manhajnya. Menghabiskan waktu mendengar apalagi percaya propaganda mereka akan meleburkan pahala puasa, kecuali kalau bertujuan ingin mengoreksi maka tak apa menyediakan waktu untuk menelaah kekeliruan mereka.

Keempat. Melakukan perbuatan tercela atau perbuatan yang dapat merugikan orang lain seperti berkelahi, memittnah, pergi ke tempat maksiat atau perbuatan haram seperti markas judi, dsj. Inilah yang disitir dalam sebuah Hadis, Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu, katakanlah, Aku sedang puasa, aku sedang puasa.

Kelima. Berdusta. Seorang yang terlanjur Berdusta sekali dapat memicu kedustaan berikutnya. Orang Arab menyebutnya, ra'su dzunibi al-kadzib, Pusat dari sebuah dosa adalah berdusta. Nah, dalam hal berpuasa sebisa mungkin harus dihilangkan sifat yang suka berdusta dalam hal apapun, dalam pekerjaan, sosial masyarakat, keluarga bahkan dalam diri sendiri. Dikutip dari Abu Hurairah, Nabi berpesan, Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan tetap mengamalkannya, maka tidaklah Allah Azza wa Jalla butuh atas perbuatannya meskipun meninggalkan makan dan minumnya (berpuasa).

Keenam. Mengghibah. Dikatakan bahwa ghibah lebih kejam dari perzinahan karena menggibah berhubungan dengan orang lain, jika kita belum meminta maaf ke orang yang di ghibah tersebut, maka Allah tidak akan mengampuni pelakunya. Ghibah atau bahasa kerennya "gossip" biasa dilakukan oleh kaum hawa beserta kumpulanya. Membicarakan aib prang lain bahkan berujung kepada fitnah, seperti ini juga dapat menghilangkan pahala dalam perpuasa. Lebih baik berdzikir atau berbicara yang  perlu saja.

Ketujuh. Namimah atau Adu domba. Menyebarkan isu-isu yang dapat menimbulkan perpecahan maupun perselisihan baik itu di lingkungan keluarga, tempat kerja maupun yang lainnya.

Kedelapan. Sumpah palsu. Hati-hatilah dalam berjanji, hati-hati dalam berbicara ataupun bersumpah, janganlah mudah mengatakan “Demi Allah”. “Lima hal yang dapat menghilangkan pahala orang yang berpuasa, yakni berbohong, menggunjing, mengadu-domba, bersumpah dusta dan memandang dengan syahwat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kesembilan. Memandang dengan pandangan syahwat. Pada poin ini adalah dikhususkan bagi seorang yang melihat lawan jenis dan menimbulkan syahwat artinya baik dari media massa berupa tabloit, koran, majalah ataupun media online seperti facebook, twitter, instagram atau website hal tersebut jika dibarengai dengan adanya syahwat, maka pahala puasanya dapat berkurang.


Kesepuluh. Syirik. Ini adalah pembatal segenap ibadah paling utama, bukan saja pahala puasa yang hilang, tetapi seluruh amalan-amalan akan hangus dan rontok, bahkan pelakunya akan terjerumus pada kekufuran. Nyatanya, masih banyak di antara kaum muslimin yang sangat percaya kepada benda-benda tertentu yang akan mendatangkan bahaya dan keuntungan, atau tempat-tempat tertentu yang dianggap keramat, termasuk datang ke kuburan membawa sesajen lalu makan sisa jin. La'in asyrakta layahbathanna amaluka walatakunna minal khasirin. Jik engkau syirik akan rontoklah amal ibadahmu, dan pasti akan masuk dalam golongan yang merugi, (QS. 39: 65).

Dalam Kitab "Hidayatus Shalihin" beberapa perkara dapat menjadi mesin pelebur pahala puasa yang berhubungan dengan hati, di antaranya, iri atau tidak senang melihat orang lain, dengki dengan berbuat sesuatu agar orang lain jadi rugi atau jelek reputasinya dengan memitnah, berbohong, tamak dan sejenisnya. Wallahu A'lam!

Enrekang, 8 Ramadan 1436 H.

Dimuat Koran Go Cakrawala 9 Ramadan 1436 H/26 Juni 2015 M.
*Peserta Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) Baznas-DDII/Mahasiswa S3 UIKA Bogor.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an