Memuliakan Al-Qur'an



Karena ulah Menteri Agama, bangsa Indonesia diributkan dengan bacaan Al-Qur’an. Bermula saat berlangsung acara Isra Mi’raj di Istana Negara Jakarta-Pusat, tepatnya pada hari Jumat (15/5/2015).  Muhammad Yasser Arafat membaca ayat suci dengan langgam Jawa, polemik pun berkembang yang pada akhirnya memaksa Menteri Agama selaku penanggungjawab acara meminta maaf kepada umat Islam. Ia pun dimaafkan, dan kontroversi langgam Jawa ditutup.

Jelang puasa, sang menteri kembali berkicau lewat twitter, isinya, warung-warung makan tetap buka seperti biasa, karena orang puasa harus menghormati yang tidak puasa. Sontak, banyak tanggapan bermunculan, pernyataan Menag di atas dinilai terbalik karena yang tidak puasa semestinya menghormati yang berpuasa. 

Seakan tidak ada habisnya, pemerintah kembali menuai kritik dari berbagai eleman. Pemicunya lagi-lagi berhubungan dengan Al-Qur’an. Dalam acara Ijtima Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) se-Indonesia di Pondok Pesantren Attauhidiyah, Tegal, Jawa Tengah, Senin (8/6/2015).

Permasalahannya yang ngaji cuma kaset dan memang kalau orang ngaji dapat pahala, tetapi kalau kaset yang diputar, dapat pahala tidak? Ini menjadi polusi suara, kata Pak JK yang juga  menjabat Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI). Ini dilatari oleh pengalamannya ketika pulang kampung ke Bone, Sulawesi Selatan. Dirinya merasa terganggu dengan suara pengajian yang disiarkan empat masjid di sekitar rumahnya. Di sana, kaset pengajian mulai diputar pukul 04.00, padahal salat subuh baru dimulai jam 05.00.

JK lalu meminta agar pengatur suara di masjid ditata secara rapi dan tidak perlu dimaksimumkan, empat masjid seolah 'berkelahi'. Kita bikin aturan suara tidak boleh saling melampaui. Kalau masjid jaraknya 500 meter, hanya boleh dipasang untuk 250 meter, ujarnya. Ia pun berharap supaya MUI turut mengatur masalah pengeras suara dan pemutaran kaset tilawah di masjid.

Tak plak lagi, pernyataan Wapres berdarah Bugis di atas menuai banyak tanggapan. Ustad Yusuf Mansur misalnya, dengan tegas meminta maaf kepada siapa pun yang merasa terganggu jika selama ini suara-suara tilawah Al-Qur’an diputar di masjid. Pasalnya, menurut pengalaman dai kondang ini, justru dengan banyak memperdengarkan suara baca Al-Qur’an akan mendatangkan banyak manfaat bagi pendengarnya. Bahkan dirinya sendiri dapat menjadi seperti sekarang berkat suara-suara Muammar ZA yang selalu ia dengar dari toa masjid dekat rumahnya di waktu masih kecil.

Prof. Dr. KH Ahmad Satori Ismail, Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (IKADI) ketika menanggapi pernyataan Wapres menyatakan bahwa penggunaan kaset rekaman di masjid masih diperlukan masyarakat. Sebab justru itu untuk mengingatkan kaum muslimin supaya beribadah. “Karena masyarakat masih butuh untuk diingatkan bangun pagi, maka sering kali beberapa masjid memperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an agar jamaah cepat bangun,” jelasnya  sebagaimana dilansir ROL (8/6/2015).

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia Pusat (MUI)  Cholil Nafis, Ph D menilai meskipun mendengar bacaan Al-Qur’an dengan kaset tetap bisa ditelaah. Menurutnya sebagaimana dikutif ROL, tak semua yang memutar melalui kaset itu tidak berpahala. Karena tadabbur Al-Qur’an dengan kaset pun bisa dilakukan, (9/6/2015). Nafis melanjutkan, memutar kaset bacaan Al-Qur’an itu bagian dari mengingatkan menjelang waktu salat.  Hal tersebut sangat diperlukan. Meskipun memang, pengajian itu jangan terlalu dini hari sebab dikhawatirkan mengganggu.

Namun pernyataan JK tidak semuanya bersebrangan dengan para ulama. Bahkan polemik serupa terjadi di Malaysia beberapa bulan lalu, saat itu Mufti Perlis Datuk Dr Mohd Asri Zainal Abidin dengan tegas melarang memperdengarkan baca Al-Qur’an dengan pengeras suara menjelang waktu salat kaerena akan mengganggu orang lain yang sedang istirahat. Atau dapat mengganngu konsentrasi jamaah lain yang sedang khusyuk beribadah dalam masjid. Katanya, Jika memasang kaset bacaan Al-Quran sebelum masuk waktu salat seperti salat Subuh, tentu akan menggangu orang lain di lingkungan masjid atau surau, yang mungkin sedang tidur, dan ini dilarang oleh Islam, ujarnya sebagaimana dikutif, Hidayatullah.com (14/3/2015).

Pernyataan JK dan Mufti Perlis di atas mendapat pijakan kuat dari berbagai dalil, baik Al-Qur’an maupun sunnah. Firman Allah, Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (al-A’râf[7]:205). Ayat lain yang serupa maknanya, Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkan, lalu diamlah, agar kamu dirahmati, (al-A’raf[7]:204). Ketika Al-Qur’an diperdengarkan melalui toa, orang-orang tidak terlalu peduli dan cendrung abai sehingga sangat sulit untuk mentadabburinya.

Senada dengan sunnah, bersumber dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi melewati para sahabatnya [di malam hari], sedang mereka masing melakukan salalat di masjid sambil mengeraskan suara dengan bacaan Al-Qur’an. Melihat keadaan itu, Nabi pun bersabda, Sesungguhnya orang salat itu bermunajat kepada Tuhannya, maka hendaklah memperhatikan kepada siapa ia bermunajat, dan janganlah saling mengeraskan bacaan Al-Qur’an di antara kalian, (HR. Ahmad). Masih bersumber dari sunnah, dari Abu Said al-Khudri bahwa Nabi  sedang melakukan i’tikaf di masjid, maka ia pun mendengarkan para sahabat membaca Al-Qur’an dengan suara keras, lalu beliau membuka tabir dan bersabda, Sesungguhnya kalian bermunajat pada Tuhan, maka janganlah saling mengganggu di antara kalian [dengan masing-masing mengraskan suara], dan janganlah saling berlomba mengangkat suara ketika baca Al-Qur’an, (HR. Abu Dawud, Nasai, Hakim).

Membaca Al-Qur’an di masjid dengan suara keras, terutama dalam salat sunat juga terjadi pada era kepemimpinan Abu Bakar dan Umar, bahkan tarawih pada masa Khalifah Abu Bakar, umat Islam melaksanakan salat sendiri-sendiri atau berkelompok tiga sampai enam orang perkelompok. Ketika itu, salat tarawih dengan satu imam di masjid belum ada, dan pelaksanaannya belum tertata, dan cenderung semrawut.

Setelah Sayyidina Umar mengamati fenomna itu, gagasan pun muncul dalam pikirannya untuk mengumpulkan para sahabat agar melaksanakan salat tarawih di dalam masjid dengan satu imam.

Dalam sebuah atsar dikisahkan, Dari ‘Abdirrahman bin ‘Abdil Qori’ beliau berkata, Saya keluar bersama Sayyidina Umar bin Khatthab ke Masjid pada bulan Ramadan. Didapati dalam masjid orang yang salat tarawih berbeda-beda. Ada yang salat sendiri-sendiri dan ada juga yang salat berjamaah. Lalu Umar berkata, Saya punya pendapat andaikata mereka aku kumpulkan dalam jamaah satu imam, niscaya itu lebih bagus. Lalu beliau mengumpulkan kepada mereka dengan seorang imam, yakni sahabat Ubay bin Ka’ab. Kemudian malam berikutnya, kami datang lagi ke masjid. Orang-orang sudah melaksanakan salat tarawih dengan berjamaah di belakang satu imam. Umar berkata, Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini salat tarawih dengan berjamaah, (HR: Bukhari).

Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka hemat penulis, pernyataan Pak JK semestinya ditanggapi lebih bijak tidak usah terlalu reaktif. Akan lebih bermanfaat jika momentum ini dipakai untuk mendorong pihak-pihak yang terkait termasuk MUI agar memberikan penyadaran kepada umat bahwa memutar kaset tilawah sebelum datang waktu salat harus proporsional. Tidak usah terlalu lama dengan suara bertalu-talu antara satu masjid dengan masjid lainnya hingga mengganggu orang-orang yang sedang istirahat atau beribadah.

Banyak cara memuliakan Al-Qur’an sesuai sunnah karena ibadah adalah perkara tauqifi atau telah jelas pijakan dalilnya, dan tidak ada satupun dalil yang menyerukan untuk memperderngarkan suara mengaji baik melalui bacaan sendiri apalagi dengan kaset murattal dan pembesar suara di masjid. Kendati pada esensinya masih mendatangkan beberapa manfaat, terutama untuk mengingatkan umat Islam akan masuknya waktu salat fardhu. Wallahu A’lam!

AQL Tebet-Jakarta, 10 Juni 2015.
Dimuat Jumat 19 Juni 2015.
Ilham Kadir, Peserta Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) Baznas-DDII; Kandidat Doktor UIKA Bogor.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an