Keutamaan Salat Dhuha


Oleh, Ilham Kadir.

Secara bahasa “Dhuha” diambil dari kata ad-Dhahwu berarti ‘siang hari yang mulai memanas’. Menurut istilah, ‘waktu ketika matahari mulai meninggi sampai datangnya zawal atawaa tergelincir’, (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 27/221). Sedangka salat dhuha adalah salat yang dilaksanakan pada waktu dhuha.

Pada dasarnya hanya ada tiga waktu yang dilarang mengerjakan salat berdasrkan sabda Nabi yang bersumber dari Uqbah bin Amir. Katanya,  Ada tiga waktu di mana Nabi melarang kami untuk melaksanakan shalat di tiga waktu tersebut atau menguburkan jenazah kami: (1) ketika matahari terbit sampai tinggi; (2) ketika seseorang berdiri di tengah bayangannya sampai matahari tergelincir; dan (3) ketika matahari miring hendak tenggelam sampai benar-benar tenggelam, (HR. Muslim no. 1926).

Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu mulainya shalat dhuha. Syafi’iyah berpendapat bahwa waktu mulainya shalat dhuha adalah tepat setelah terbitnya matahari. Namun dianjurkan untuk menundanya sampai matahari setinggi tombak. Pendapat ini diriwayatkan An-Nawawi dalam kitab Ar-Raudhah. Demikian yang menjadi pendapat Imam Abu Syuja’ dalam matan At-Taqrib, ia menjelaskan waktu-waktu yang terlarang untuk shalat. Hal yang sama juga menjadi pendapat Imam Al-Albani. Beliau ditanya tentang berapakah jarak satu tombak. Beliau menjawab, Satu tombak adalah dua meter menurut standar ukuran sekarang, (Mausu’ah Fiqhiyah Muyassarah, 2/167). Sebagian ulama’ menjelaskan, jika diukur dengan waktu maka matahari pada posisi setinggi satu tombak kurang lebih 15 menit setelah terbit.

Adapun diantara keutamaan atau manfaat shalat dhuha sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim, Abu Daud dan Ahmad dari Abu Dzar bahwa Rasulullah bersabda,”Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab setiap kali bacaan tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh orang lain agar melakukan amal kebaikan adalah sedekah, melarang orang lain agar tidak melakukan keburukan adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu maka cukuplah mengerjakan dua rakaat shalat dhuha.”

Hadis lain, Ahmad dan Abu Daud dari Buraidah, Rasulullah bersabda, “Dalam tubuh manusia itu ada 360 ruas tulang. Ia harus dikeluarkan sedekahnya untuk tiap ruas tulang tersebut.” Para sahabat bertanya,”Siapakah yang mampu melaksanakan seperti itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,”Dahak yang ada di masjid, lalu pendam ke tanah dan membuang sesuatu gangguan dari tengah jalan, maka itu berarti sebuah sedekah. Akan tetapi jika tidak mampu melakukan itu semua, cukuplah engkau mengerjakan dua rakaat shalat dhuha.” Dalam riwayat lain, Imam Bukhari-Muslim dari Abu Hurairoh berkata, Nabi kekasihku telah memberikan tiga wasiat kepadaku, yaitu berpuasa tiga hari dalam setiap bulan—di luar Ramadhan, mengerjakan dua rakaat dhuha dan shalat witir sebelum tidur.

Jumhur ulama mengatakan bahwa shalat dhuha adalah sunnah bahkan para ulama Maliki dan Syafi’i menyatakan bahwa ia adalah sunnah muakkadah berdasarkan hadits-hadits di atas. Dan dibolehkan bagi seseorang untuk tidak mengerjakannya. Wallahu A’lam!

 (Kolom 'Cahaya Ilmu' edidsi-11 Harian INILAHSULSEL 05/06/2015).

AQL. Tebet-Jakarta, 02 Juni 2015

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an