Meneropong Isra Mi'raj



Salah satu peristiwa paling fenomenal pada diri Nabi Muhammad adalah Isra Mi'raj. Demikian adanya, karena ia menjadi pembeda dengan para nabi dan rasul sebelumnya, sekaligus sebagai ujian bagi pendukung dan musuhnya dari bangsa Quraisy Makkah saat itu. Tentang kebenaran kisah ini, Al-Albani dalam bukunya, "Al-Isra` wal Mi’raj" menyebutkan sedikitnya enam belas hahabat yang meriwayatkan kejadian ini. Antara lain, Anas bin Malik, Abu Dzar, Ibnu ‘Abbas, dll.

Antara riwayat menyebutkan peristiwa agung itu adalah hadis Anas bin Malik, Rasulullah mengisahkan, Didatangkan kepadaku Buraaq, yaitu hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya [sejauh mata memandang]. Maka, aku pun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu menambatnya di tempat yang digunakan untuk mengikat tunggangan para nabi. Kemudian aku masuk ke masjid dan salat dua rakaat lalu keluar. Datanglah kepadaku Jibril dengan membawa bejana berisi khamar dan air susu. Aku memilih bejana yang berisi air susu. Jibril kemudian berkata, Engkau telah memilih sesuai fitrah. Jibril lalu naik bersamaku ke langit pertama dan meminta dibukakan pintu, maka dikatakan kepadanya, Siapa engkau?  Jibril, jawabnya. Siapa yang bersamamu? Dia menjawab, Muhammad. Apakah dia telah diutus? Dia telah diutus, jawab Jibril. Maka dibukakan bagi kami pintu langit dan saya bertemu dengan Adam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku... ...maka, dibukakan bagi kami pintu langit dan aku bertemu dengan Musa. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit ketujuh dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan kepadanya, Siapa engkau? Dia menjawab, “Jibril”. Siapa yang bersamamu? Muhammad, jawabnya.  Apakah dia telah diutus?” “Dia telah diutus”, jawab Jibril. Maka dibukakan bagi kami pintu langit ketujuh dan bertemu dengan Ibrahim. Beliau sedang menyandarkan punggungya ke Baitul Ma’muur. Setiap hari masuk ke Baitul Ma’muur tujuh puluh ribu malaikat yang tidak kembali lagi. Kemudian Ibrahim pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, diapun berubah sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup mengambarkan keindahannya.

Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 salat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Musa. Lalu dia bertanya, Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu? Aku menjawab, 50 salat. Dia berkata, Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya aku telah menguji dan mencoba Bani Israil. Beliau bersabda, Maka aku pun kembali kepada Tuhanku seraya berkata, Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk umatku. Maka dikurangi dariku 5 salat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata, Allah mengurangi untukku 5 salat. Dia berkat, Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan. Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman, Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 salat sehari semalam, setiap salat pahalanya 10, maka semuanya 50 salat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis dosa baginya sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis baginya satu kejelekan. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata, Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan. Maka sayapun berkata, Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya, (H.R Muslim:162).

Waktu dan Hikmah

Sebagian orang meyakini, termasuk bangsa Indonesia, bahwa peristiwa ini terjadi pada tanggal 27 Rajab. Namun, para ulama ahli sejarah berbeda pendapat tentang tanggal kejadian kisah ini. Ada beberapa perbedaan pendapat mengenai penetapan waktu terjadinya Isra Mi’raj, antara lain, (1) Peristiwa tersebut terjadi pada tahun tatkala Allah memuliakan Nabi dengan nubuwah (kenabian). Ini adalah pendapat Imam Ath-Thabari; (2) Isra Mi'raj terjadi lima tahun setelah diutus sebagai rasul. Ini adalah pendapat yang dirajihkan oleh Imam An-Nawawi dan Al-Qurthubi; (3) Jatuh pada malam tanggal dua puluh tujuh Bulan Rajab tahun kesepuluh kenabian. Ini adalah pendapat Al-Allamah Al-Manshurfuri; (4) Ada yang berpendapat, peristiwa tersebut terjadi enam bulan sebelum hijrah, atau pada bulan Muharram tahun ketiga belas setelah kenabian; (5) Pendapat lain, peristiwa tersebut terjadi setahun dua bulan sebelum hijrah, tepatnya pada bulan Muharram tahun ketiga belas setelah kenabian; (6) Bahwa peristiwa tersebut terjadi setahun sebelum hijrah, atau pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ketiga belas setelah kenabian.

Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri menjelaskan, Tiga pendapat pertama tertolak. Alasannya karena Khadijah r.a., meninggal dunia pada bulan Ramadhan tahun kesepuluh setelah kenabian, sementara ketika meninggal belum ada kewajiban salat lima waktu. Juga tidak ada perbedaan pendapat bahwa diwajibkannya salat lima waktu adalah pada saat peristiwa Isra Mi’raj. Sedangakan tiga pendapat lainnya, aku  tidak mengetahui mana yang lebih rajih. Namun jika dilihat dari kandungan surat Al-Isra’ menunjukkan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada masa-masa akhir sebelum hijrah.

Keterangan ini melemparkan kita pada kesimpulan bahwa Isra dan Mi’raj tidak diketahui secara pasti pada kapan waktu terjadinya. Ini menunjukkan bahwa mengetahui kapan waktu terjadinya Isra Mi’raj bukanlah suatu hal yang penting. Penetapan 27 Rajab dipilih di Indonesia untuk menghilangkan perdebatan.

Berita-berita yang datang dalam kisah Isra Miraj seperti sampainya beliau ke Baitul Maqdis, kemudian berjumpa dengan para nabi dan salat mengimami mereka, serta berita-berita lain yang terdapat dalam hadis yang shahih merupakan perkara ghaib. Sikap Ahlussunnah Wal Jama’ah terhadap kisah-kisah seperti ini harus menerima berita tersebut; mengimani tentang kebenaran berita tersebut; dan idak menolak berita tersebut atau mengubah berita tersebut sesuai dengan kenyataannya.

Hendaknya kita meneladani sifat para sahabat terhadap berita dari Allah dan rasul-Nya. Dikisahkan bahwa orang-orang musyrikin datang menemui Abu Bakar As-Shiddiq.  Mereka mengatakan, Lihatlah apa yang telah diucapkan temanmu itu, Muhammad. Abu Bakar menjawab, Apa yang beliau ucapkan? Orang-orang musyrik berkata, Dia menyangka bahwa telah pergi ke Baitul Maqdis dan kemudian dinaikkan ke langit, dan peristiwa tersebut hanya berlangsung satu malam. Abu Bakar menjawab, Jika memang beliau yang mengucapkan, maka sungguh berita tersebut benar sesuai yang beliau ucapkan karena sesungguhnya beliau adalah orang yang jujur! Orang-orang musyrik kembali bertanya, Mengapa demikian? “Aku membenarkan seandainya berita tersebut lebih dari yang kalian kabarkan. Aku membenarkan berita langit yang turun kepada beliau, bagaimana mungkin aku tidak membenarkan beliau tentang perjalanan ke Baitul Maqdis ini?” Jawab Abu Bakar. (H.R. Imam Hakim dalam Al Mustadrak 4407 dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha). Dengan peristiwa ini, Abu Bakar dijuluki "as-Shidddiq", artinya, yang membenarkan.

Pertanyaan pun muncul, kenapa Allah memperjalankan hamba-Nya terlebih dahulu harus transit di Batul Maqdis, mengapa tidak langsung naik ke langit tertinggi? Bukankah tujuan utamanya untuk serah terimah kewajiban salat?

Perlu ditekankankan bahwa perjalanan Isra’ dari Mekkah ke Baitul Maqdis lebih memperkuat hujjah bagi orang-orang musyrik. Jika beliau langsung Mi’raj ke langit, seandainya ditanya oleh orang-orang musyrik maka beliau tidak mempunyai alasan untuk memperkuat kisah perjalanan yang beliau alami. Oleh karena itu ketika orang-orang musyrik datang dan bertanya kepada Nabi, beliau menceritakan tentang kafilah yang ditemui selama Isra. Tatkala kafilah tersebut pulang dan orang-orang musyrik bertanya kepada mereka, baru dapat mengetahui benarlah apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad.

Juga, agar menampakkan hubungan antara Makkah dan Baitul Maqdis yang keduanya merupakan kiblat kaum muslimin. Sekaligus ini menujukkan keutamaan beliau melihat kedua kiblat dalam satu malam. Dan, sebagai bentuk keutamaan Rasulullah dibandingkan para nabi lainnya. Beliau berjumpa dengan mereka di Baitul Maqdis lalu beliau salat mengimami mereka.

Kisah Isra Mi’raj termasuk tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah, sekaligus menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad atas seluruh nabi dan keimanan para sahabatnya. Mereka meyakini kebenaran berita tentang kisah ini, tidak sebagaimana perbuatan orang-orang kafir Quraisy.

Isra dan Mi’raj terjadi dengan jasad dan ruh dalam keadaan terjaga. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, muhadditsin, dan fuqaha, serta pendapat yang paling kuat di kalangan para ulama Ahlus sunnah. “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra [17] : 1).


Penyebutan kata ‘hamba’ digunakan untuk ruh dan jasad secara bersamaan. Inilah yang terdapat dalam hadis-hadis Bukhari dan Muslim dengan riwayat yang beraneka ragam. Imam Ibnu Qudamah dalam Lum’atul I’tiqad menyatakan, Contohnya hadis Isra dan Mi’raj, beliau mengalaminya dalam keadaan terjaga, bukan dalam keadaan tidur, karena kafir Quraisy mengingkari dan sombong pada peristiwa itu, padahal mereka tidak mengingkari mimpi? Sedang, Imam Ath-Thahawi berkata, Mi’raj adalah benar. Nabi telah melakukan Isra dan Mi’raj dengan tubuh beliau dalam keadaan terjaga ke atas langit.

Penetapan akan ketinggian Allah Ta’ala dengan ketinggian zat-Nya dengan sebenar-benarnya sesuai dengan keagungan-Nya, Maha Tinggi berada di atas langit ketujuh, di atas ‘arsy-Nya. Ini merupakan akidah kaum muslimin seluruhnya dari dahulu hingga sekarang; Mengimani perkara-perkara ghaib yang disebutkan dalam hadis di atas, seperti: Buraaq, Mi’raj, para malaikat penjaga langit, adanya pintu-pintu langit, Baitul Ma’mur, Sidratul Muntaha beserta sifat-sifatnya, surga, dan selainnya; Penetapan tentang hidupnya para Nabi ‘alaihimus-salaam di kubur-kubur mereka, akan tetapi dengan kehidupan barzakhiah, bukan seperti kehidupan mereka di dunia. Karena itu pula, tidak ada dalil yang membolehkan seseorang untuk berdoa, bertawasul, atau meminta syafa’at kepada para Nabi dengan alasan mereka masih hidup.

Syaikh Shalih Alu Syaikh, menjelaskan bahwa Nabi Muhammad dalam Mi’raj menemui ruh para nabi kecuali Nabi Isa. Rasulullah menemui jasadnya, karena jasad dan ruhnya dibawa ke langit dan belum wafat; Banyaknya jumlah para malaikat dan tidak ada yang mengetahui kecuali Allah; Nabi Muhammad digelar sebagai kalimur-rahman (orang yang diajak bicara langsung oleh Ar-Rahman). Dan, Allah memiliki sifat kalam (berbicara) dengan pembicaraan yang sebenar-benarnya; Tingginya kedudukan salat wajib dalam Islam, karena Allah langsung yang memerintahkan kewajiban ini; Kasih sayang dan perhatian Nabi Musa terhadap umat Islam, ketika beliau menyuruh Rasullah untuk diringankan kewajiban salat; Penetapan adanya nasakh (penghapusan hukum) dalam syariat Islam, serta bolehnya me-nasakh suatu perintah walaupun belum sempat dikerjakan sebelumnya, yakni tentang kewajiban salat yang awalnya lima puluh rakaat menjadi lima rakaat; Serta, surga dan neraka sudah ada sekarang, karena Nabi telah melihat keduanya ketika Mi’raj.
  
Para ulama berbeda pendapat apakah Nabi melihat Allah pada saat Mi’raj. Ada tiga pendapat yang populer: Nabi melihat Allah dengan penglihatan; Nabi melihat Allah dengan hati; dan Nabi tidak melihat Allah namun hanya mendengar kalam Allah.

Peristiwa Isra Mi’raj hanya berlangusng satu kali saja dan tidak berulang. Barangsiapa yang mengingkari Isra, maka dia telah kafir, karena dia berarti menganggap Allah berdusta.

Perayaan Isra Mi’raj

Dari tropong syari’at, perayaan ini tidak memiliki landasan. Jika bagian dari syariat Allah, maka pasti akan dikerjakan oleh Nabi dan para sahabatnya, atau minimal beliau sampaikan kepada umatnya, dan jika para sahabat mengerjakannya atau menyampaikannya, maka ajaran tersebut akan sampai kepada kita. Jadi, tatkala tidak ada sedikitpun dalil tentang hal tersebut, maka perayaan Isra Mi’raj  tidak ada syariatnya. Dalam konteks keindonesiaan, ini hanya bagian dari manifestasi syiar Islam dan cinta Nabi dan ajarannya, tidak lebih dari itu.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, pertanyaan ini tentang perayaan malam Isra Mi’raj yang terjadi di Sudan. Kami merayakan malam Isra Mi’raj rutin setiap tahun,  Apakah perayaan tersebut memiliki sumber dari Al-Qur’an dan Sunnah atau pernah terjadi di masa Khulafaur Rasyidin atau pada zaman tabi’in?

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjawab, Perayaan seperti itu tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an dan Sunnah dan tidak pula pada zaman Khulafaur Rasyidin. Petunjuk yang ada dalam Al-Qur’an  dan sunnah rasul-Nya justru menolak perbuatan bid’ah tersebut karena Allah  mengingkari orang-orang  yang menjadikan syariat bagi mereka selain syariat-Nya, termasuk perbuatan syirik. Firman Allah, Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? (Asy Syuura [42]: 21). Diperkuat sabda Rasul, Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari Allah dan rasul-Nya maka amalan tersebut tertolak. Wallahu A'lam!

Arrahman College, Megamendung, 12 Mei 2015.

Dimuat harian Go Cakrawala 13 & 15 Mei 2015.

Ilham Kadir, Pesera Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) Baznas-DDI; Kandidat Doktor Pemikiran Pendidikan UIKA Bogor.



Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an