Isra Mi’raj di Tahun Pelacuran



Saat fajar menyingsing, Nabi Muhammad didatangi Abu Jahal, kesempatan itu dimanfaatkan untuk menceritakan pristiwa dahsyat yang terjadi pada dirinya tadi malam. Sang Paman, hanya mengernyitkan kening mendengar penuturan ponakannya. Bagaimana pendapatmu jika aku kumpulkan para kaummu untukmu, apakah kau akan mengabarkan cerita itu? Abu Jahal memberi saran. Ya, jawab Nabi.


Pagi itu, berkumpullah penduduk Makkah untuk mendengar pengalaman Rasulullah melakukan isra mi'raj. Di antara mereka terdapat para pembesar Quraisy. Nabi menceritakan secara runtut, sementara orang-orang menyimaknya dengan khusyuk. Tiba-tiba Abu Jahal memotong, Muhammad, biasanya kami menempuh perjalanan menuju Baitul Maqdis selama satu bulan, dan kembali juga dalam satu bulan. Sementara kau mengaku telah pergi ke sana, lalu naik ke langit ketujuh, ke sindratul muntaha, dan kembali hanya dalam satu malam? Itu sama sekali tak masuk akal! Aku ingin engkau membuktikan kebenaran pengakuanmu, beritahukan pada kami perihal Baitul Maqdis, karena kami amat mengenalnya, pintu demi pintu, jendela demi jendela, lorong demi lorong.



Rasulullah mulai mendeskripsikan Baitul Maqdis dengan sangat detail. Mendengar uraian Nabi, Al-Walid berkomentar, Demi Allah, penjelasannya tidak lebih dan tidak kurang dari apa yang pernah kami saksikan.



Kami ingin bukti lain, kata Musyrik Quraisy. Nabi menjawab, Baik. Aku mencium aroma kafilah akan tiba besok yang dipimpin oleh salah seorang dari kalian. Di depan kafilah itu, ada seekor unta dengan dua titik putih di keningnya, dan seekor unta patah tulang kakinya.



Kami menunggu kebenaran ucapanmu, sergah salah seorang Quraisy. Keesokan harinya, kafilah yang dinanti pun muncul. Seekor unta dengan dua warna putih dikeningnya berada depan rombongan. Ada apa gerangan dengan unta si Fulan? Tanya orang Quraisy yang penasaran. Tulang kakinya patah, jawab kafilan. Mereka pun tidak bisa lagi membantah perkataan Nabi Muhammad, namun sayang hati mereka belum juga dapat hidayah.



Kisah di atas adalah salah satu perkara gaib yang disampaikan Rasulullah, sebagai ujian apakah orang-orang percaya atau tidak. Dalam peristiwa perjalanan super kilat Nabi dengan menempu rute, Masjidil Haram Makkah-Baitul Maqdis Palestina-Sidratul Muntaha langit ketujuh banyak sekali kisah-kisah gaib yang telah diutarakan Nabi, antara lain, terkait tournya untuk melihat-lihat surga dan neraka, dan golongan-golongan yang sedang disiksa di dalam.

 
Peristiwa ini menegaskan bahwa percaya apa yang terjadi dalam isra mi'raj itu artinya percaya akan adanya surga dan neraka, sekaligus percaya bahwa berbagai macam golongan yang dijanjikan Allah sebagai penghuni surga dan neraka. Dalam perjalanan itu, Nabi melihat setidaknya ada empat golongan wanita ahli neraka yang ia saksikan.



Pertama, dalam sebuah kesempatan, Rasulullah menceritakan neraka yang telah dilihatnya kepada para sahabatnya. Ia, memberitahukan bahwa mayoritas penduduknya adalah wanita, karena mereka kufur terhadap kebaikan suami. Nabi pun menarasikan, Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari itu, ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita. Sahabat bertanya, Mengapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah? Beliau menjawab, Disebabkan kekufuran mereka. Yang lain bertanya, Apakah para wanita itu kufur kepada Allah? Nabi menjawab, Tidak! Melainkan mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan [suami]. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu yang tidak berkenan di hatinya niscaya ia akan berkata, Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu. (HR. Bukhari dan Muslim).


Kedua. Ghibah, dalam bahasa sederhana adalah gosip, yakni menceritakan sesuatu tentang orang lain yang membuatnya tidak suka seandainya orang tersebut mengetahui/mendengarnya. Dalam Sirah Nabawiyah karya Syaikh Muhammad Ali Ash Shalabi diterangkan, Rasulullah saat isra mi’raj diperlihatkan para peng-ghibah disiksa di neraka dengan memakan bangkai-bangkai busuk manusia.


Ketiga. Dalam ar-Rakhiqul Makhtum, Al-Mubarakfury menyebutkan bahwa diantara penduduk neraka yang dilihat Rasulullah saat isra mi’raj adalah wanita-wanita yang suka memasuki tempat tinggal lingkungan laki-laki untuk berzina. Mereka disiksa di neraka dengan digantung di bagian payudaranya.

Keempat. Al-Mubarakfury kembali menjelaskan di dalam sirah nabawiyah-nya, ketika Rasulullah dimi’rajkan oleh Allah dan diperlihatkan neraka, beliau melihat pezina disika di neraka tersebut. Di dekat mereka ada daging yang baik dan ada daging yang busuk. Mereka mengambil daging yang busuk itu dan meninggalkan daging yang baik


Tentu, banyak golongan lain penghuni neraka yang diperlihatkan kepada Rasulullah saat isra mi’raj. Namun tidak semuanya dijelaskan dalam hadis dan sirah. Sebagaimana banyak pula golongan wanita ahli surga yang diperlihatkan kepadanya.


Penekanan atas banyaknya wanita penghuni neraka menguak fenonomena yang sedang hangat dibicarakan dan diberitakan saat ini. Berupa maraknya transaksi seksual dengan berbagai jalan. Baik terang-terangan di berbagai tempat, via online, atau pun lewat perantara yang disebut mucikari.


Pelacuran menjadi buah bibir pasca terbunuhnya Deudeh dan tertangkapnya seorang mucikari bersama pelacurnya berinisial AA di Jakarta-Selatan yang juga punya profesi sampingan sebagai model dan artis. Sampingan karena kerjaan jenis kedua ini lebih rendah honornya sementara berkubang dalam dunia pelacuran jauh lebih menjanjikan dengan tarif selangit, 80 hingga 200 juta. Presiden pun tidak memiliki upah setinggi itu. Mungkin berangkat dari ide bisnis menggiurkan ini hingga Gubernur DKI, Ahok punya wacana melegalkan pelacuran sebelum akhirnya urung karena ditolak mayoritas masyarakat.


Tahun ini memang layak disebut ‘tahun pelacuran’ sebab para pelacur semakin gila dan vulgar mengumbar nafsunya, di lain pihak para pelanggan dari kaum laki-laki lebih gila lagi, bahkan rela membayar setumpuk uang demi melampiaskan hasrat birahinya. Andai uang sebanyak itu dipakai di jalan benar, niscaya ceritanya akan beda. Atau bisa saja, uang para hidung belang adalah uang haram lagi panas, baik melalui korupsi, maupun dari dunia hitam seperti Narkoba, atau dari praktik ekonomi ribawi.


Jika asumsi ini benar, maka sesungguhnya pelacuran kelas kakap dengan menghamburkan uang begitu banyak sangat berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. Artinya, pelacuran mendorong terjadinya korupsi, menumbuhkan jual-beli Narkoba, Miras, dan terus-menerus terjadi praktek ribawi berupa rentenir ala modern hingga uang seakan bergerak dan ninikmati segelintir orang yang doyang beli artis walau harganya selangit.


Ada lagi jenis pelacuran yang tak kalah rusaknya, mereka adalah para pemimpin dan politisi korup, berselingkuh dengan pengusaha untuk menjual bangsa ini ke pihak asing, harta negara dijarah habis-habisan. Di otak mereka hanya meraup keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa peduli dengan kesengsaraan rakyatnya. Politisi pelacur adalah mereka yang tau bahwa kebijakannya itu salah dan dosa namun tetap dijalankan. Persis mereka yang berkubang dalam kenistaan, faham jika itu dosa tapi tetap menikmati, bahkan menjadikan sebagai mesin uang. Semoga isra mi’raj tahun ini menyadarkan kita,  agar terhindar dari siksaan neraka sebagaimana yang telah disaksikan dan diberitakan Rasulullah. Wallahu A’lam!


AQL-Tebet, 12 Mei 2015,

Dimuat Tribun Timur, 15 Mei 2015.

Ilham Kadir, Pengurus KPPSI Pusat & Mahasiswa Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor.


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an