Epistemologi Isra Mi'raj



Dalam sebuah seminar terbatas di Fakultas Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor, Prof. Ahmad Tafsir melemparkan guyonan, katanya, sejak dahulu hingga sekarang, para penulis dan penceramah terkait peringatan isra mi'raj ayatnya cuma satu, melulu merujuk pada awal Surah Al-Isra' yang menceritakan peristiwa perjalanan Nabi Muhammad dari Makkah pada malam hari menuju Batul Maqdis Palestina, lalu naik ke langit ketujuh, tempat yang tertinggi, Sidratul Muntaha'.

Ayat yang dimaksud Pakar Pendidikan Islam itu adalah, Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjid Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Dia Maha mendengar lagi Maha Mengetahui, (QS. Al-Isra', [17:01]).

Nampaknya--lanjut Prof. Tafsir--para dai kita seakan sudah kehabisan materi sehingga umat yang setiap tahun mendengarkan kisah isra mi'raj menjadi bosan dan jenuh. Karena itu, kalian harus membuat paradigma baru ketika berbicara tentang isra mi'raj. Salah satunya mengaitkan pristiwa besar itu dengan filsafat islami.

Selama ini, Prof Tafsir memang mengampu mata kuliah Filsafat Pendidikan Islami yang menjadi keahliannya. Buku-buku karangannya berjumlah sedikitnya enam belas buah, di antara yang sangat masyhur adalah, "Filsafat Pendidikan Islami" dan "Filsafat Ilmu Islami" menjadi buku pegangan wajib para mahasiswa Fakultas Tarbiyah di seluruh Indonesia, atau para mahasiswa pascasarjana magister dan doktoral yang mengambil konsentrasi pendidikan Islam. Namun, Apakah ada korelasi antara isra mi'raj dan filsafat? Kita liat.

Secara umum konten utama filsafat dapat disederhanakan menjadi tiga, epistemologi, ontologi, dan aksiologi. Pertama adalah asas pengetahuan atau metodologi dalam meraih ilmu, kedua, materi ilmu yang dipelajari, dan ketiga, kemanfaatan dari sebuah ilmu pengetahuan.

Karena isra mi'raj adalah bagian dari alam ghaib atau tidak pernah ada yang lihat dan hanya diketahui melalui informasi dari ayat Al-Qur'an dan perjalanan hidup Nabi, maka validasinya harus berdasarkan keyakinan pada firman Allah. Artinya kebenaran kepastian isra mi'raj harus merujuk akan kebenaran Al-Qur'an. Golongan yang tidak mengakui Al-Qur'an sebagai sumber ilmu dan informasi yang valid pasti tidak akan menerima kebenaran isra mi'raj, di sinilah pentingnya epistemologi isra mi'raj.

Filsafat Barat menekankan bahwa sumber ilmu selalu merujuk pada dua komponen utama, akal atau rasio, dan pancaindera. Keduanya, pun diakui oleh Al-Qur'an sebagai sumber ilmu dan sama sekali tidak ada pertentangan, artinya teori sumber ilmu dalam filsafat Barat yang merujuk pada akal dan pancaindera selaras dengan Islam, antara dalilnya adalah, Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur, (QS. An-Nahl [16]: 78).

Yang menjadi masalah adalah, menjadikan akal dan pancaindera sebagai sebuah kepastian mendapatkan ilmu sambil menyingkirkan wahyu yang bersumber dari Allah dan tertuang dalam Al-Qur'an dan hadis. Anehnya, pendapat ini pun diamini oleh mayoritas intelektual muslim tanpa melakukan kritik, bahkan balik menyerang Al-Qur'an dan menyerukan agar dilakukan revisi. Tentu saja ini masuk dalam kategori diabolisme pemikiran yang harus diluruskan.

Pada zaman modern ini, makna ilmu telah dipersempit hanya sebatas pengetahuan tentang informasi dan keterampilan. Dalam pengertian modern misalnya, terutama yang berpegang teguh pada prinsip sains, ilmu merujuk pada pengenalan atau persepsi jelas tentang fakta. Knowledge denotes acquaintance with, or clear perception of facts. Hanya merujuk pada masalah-masalah yang dapat dirasa oleh panca indera, yakin bersipat empiris. Begitulah pendapat mazhab empirisme, secara kasar, yang didukung oleh tokoh-tokoh seperti John Locke (w.1904), David Hume (w. 1776), Herbert Spencer (w. 1903), dan lain-lain.

Ada pun mazhab rasionalisme melakukan penekanan terhadap prinsip akal-rasional. Pendukung mazhab ini, seperti Socrates (w. 399 SM), Plato wafat 347 SM), dan Descartes (w. 1650 M). Mereka lebih cendrung kepada aspek kesatuan melalui metode duduktif, dibandingkan dengan pendukung mazhab empirisme yang menekankan multidimensi melalui metode induktif. Metode deduktif umumnya berangkat dari prinsip umum--yang diperoleh melalui akal--dan hasilnya dicari dalam pengalaman kongkrit; manakala metode induktif pula, yang dianggap penting dalam teori sains, berangkat dari fakta kongkrit untuk selanjutnya merumuskan prinsip umum. Perseteruan hebat antara mazhab empirisme dengan rasionalisme yang memiliki pengaruh mendalam dalam sejarah agama dan pemikiran Barat sudah dicoba untuk ditangani oleh golongan pragmatis seperti Charles S.Peircee (w. 1914), William James (w. 1910) dan John Dewey (w. 1952).

True Report

Ada satu lagi metode mendapatkan ilmu (epistemologi) selain rasio dan panca indera, yaitu khabar shadiq, berupa informasi yang kebenarannya tidak bisa disangkal atau disangsikan. Kaum muslimin, dan umat-umat beragama lainnya percaya bahwa kitab suci mereka adalah sumber ilmu pengetahuan. Umat Islam misalnya, meyakini bahwa wahyu baik Al-Qur'an maupun hadis berasal dari jalinan informasi yang tidak disangsikan kebenarannya karena dihafal oleh manusia-manusia yang saleh dengan jumlah banyak yang menutupi kemungkinan terjadinya distorsi informasi. Walaupun, berbeda kedudukan Al-Qur'an dengan hadis, dan setiap hadis pun memiliki tingkat kedudukan, ada yang dipastikan kebenarannya karena begitu banyak para perawinya, ada pula tingkat kebenarannya lebih rendah, bahkan ada yang lemah, dan palsu. Ada ilmu khusus terkait validasi hadis yang disebut "al-jarh wa al-ta'dlil", di sini dibahas macam-macam syarat untuk menentukan kedudukan sebuah hadis.

Khabar Shadiq, atau true report adalah sumber informasi yang kebenarannya tidak kita sangsikan dan berlaku dalam kehidupan harian kita. Misalnya, dalam mengetahui keberadaan tentang orangtua, siapakah yang melahirkan kita? Untuk membenarkan siapa sebenarnya wanita yang melahirkan, tidak mesti malakukan tes DNA cukup dengan mendapat informasi dari orang-orang yang ada di sekitar, mulai dari saudara, tetangga, tante, paman, dan seterusnya. Mereka inilah yang menjadi true report alias sumber berita yang tidak boleh disangsikan kebenarannya yang manjadi ilmu pasti.

Demikian pula, seorang penumpang pesawat, ketemu sama pilot, sang penumpang sudah menerima kebenaran mutlak bahwa sang pilot mampu menerbangkan pesawat, padahal baru saja ketemu. Informasi yang didapat penumpang bahwa pilot pesawat mengenakan baju yang khusus berpangkat dan bertopi menjadi sebuah kebenaran yang tak pernah ia bantah.

Jadi kebenaran tidak mesti didapat dari rasio dan pancaindera, true report adalah bagian dalam memastikan kebenaran. Wahyu Allah yang tertuang dalam Al-Qur'an dan hadis yang salah satunya menceritakan pristiwa isra mi'raj bagian dari kebenaran yang dapat diterangkan dengan ilmiah.

Tidak melulu mengulang-ulang satu ayat tanpa penjabaran yang memadai dan cenderung dogmatif, sehingga para pendengar yang terlalu mengandalkan rasio sulit menerima kisah agung itu sebagai sebuah fakta sejarah yang kebenarannya mutlak.

Filsafat sebagai ilmu dasar sains semestinya dijadikan alat untuk membenarkan wayu Allah sebagai sebuah kebenaran yang dapat menuntun umat ke arah yang lebih maju, bukan jumud bahkan mundur. Umat Islam harus mengoptimalkan pesan-pesan Tuhan sebagai sumber inspirasi berbuat baik, memakmurkan bumi, memanusiakan manusia, dan menjadi hamba yang saleh.

Filosofi isra mi'raj menekankan agar umat Islam percaya akan kebesaran Allah yang mampu berbuat di luar nalar logika, Dia mampu berbuat apa saja sesuai kehendak-Nya. Karena itu, salah satu hikmah israj mi'raj adalah adanya kewajiban salat untuk menghamba pada Tuhan yang gaib dan hanya dapat dimengerti dengan mengimani alam metafisika. Kebenaran tidak mutlak harus selalu dinalar dengan akal dan pancaindera. Wallahu A'lam!

Dimuat Go Cakrawala, 22 Mei 2015.

Ilham Kadir, Peneliti Majelis Intelektual-Ulama Muda Indonesia (MIUMI) dan Kandidat Doktor Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor.




Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena