UN dan Budaya Ilmu



Buruk rupa pendidikan nasional kita akhir-akhir ini kembali menampakkan wajah aslinya. Jika tahun-tahun sebelumnya, permasalahan masih berkutat antara kepala sekolah, guru, da murid. Kini persoalannya lebih rumit (complicated) karena sudah melibatkan orang-orang di luar lembaga pendidikan, yaitu adanya oknum yang dengan sengaja membocorkan jawaban Ujian Nasional (UN) 2015 dengan cara mengunggah ke internet. Sedikitnya 30 paket soal UN yang ditemukan beredar di Google.

Pemerintah, melalui Wakil Presiden Jusuf Kalla  telah menginstruksikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan untuk menyelenggarakan UN ulang. Padahal  selama ini pemerintah terus mengklaim sudah melakukan persiapan secara matang.
Namun, dalam praktiknya timbul masalah cukup berat, yakni bocornya soal-soal UN tingkat SMA.
Mendikbud mengutarakan kekesalannya, Jika ada pola kebocoran, kita akan menuntut perusahaan, dan kita akan minta mereka bertanggung jawab dengan membiayai sepenuhnya pelaksanaan UN yang harus diulang.

Tidak hanya itu, minggu lalu (15/4/), setelah selesai UN para mahasiswa seakan telah memenangkan pertempuran di medan perang dengan berbagai macam cara. Di Jalan Ratulangi Makassar, siswa telanjang dan gendong cewek (Tribun-Timur.com, 18/4/2015).

Di Kendal lebih parah lagi, Satpol PP, ketika menggelar razia di obyek wisata Pantai Muara Kendal, Kamis (16/4) siang menemukan dan menjaring sepuluh pasang pria-wanita masih berusia muda. Mereka adalah siswa-siswi yang sedang asyik ngamar melakukan hubungan seks berjamaah. Ironisnya, sebagian pasangan tersebut ada yang baru saja usai UN meski tidak berseragam.
Di Medan, Tak hanya seragam sekolah, rambut dan bagian tubuh mereka yang lain pun  dicoret, termasuk wajah. Bahkan, para siswa melakukan aksi-aksi asusila saat melakukan aksi corat-coret seragam. Seperti yang terjadi di Jalan Kartini Pematangsiantar, sejumlah siswa pria tampak tak canggung memegang "bagian terlarang" siswi ketika membubuhkan tandan tangan. Beberapa dari mereka ada yang gendong-gendongan, melompat dan bersorak-sorak, sembari menyemprotkan cat pilox ke seragam teman (www.jpnn.com, 17/4/2015).
Akar Masalah
Kelihatannya ada yang salah dalam sistem pendidikan kita yang semestinya sudah ditemukan solusinya, sebab kita tidak kekurangan pakar pendidikan yang sebenarnya mampu mencari solusi terbaik bagi bangsa ini. Jika pendidikan sudah rusak, maka akan merambah ke medan lain, bahkan akan merusak segala tatanan masyarakat. Karena itu, jika ingin membangun atau merontokkan bangsa dan negara mulailah dari pendidikan.
Pemahaman umum para siswa-siswi kita, bahkan pada level mahasiswa masih memandang bahwa tujuan belajar untuk ujian, dan tujuan ujian untuk menentukan kelulusan dan mengukur tinggi-rendahnya nilai. Anak pintar akan bernilai tinggi, dan yang bodoh akan bernilai rendah. Tentu saja pandangan ini tidak salah, namun tidak sepenuhnya benar, sebab tujuan utama belajar dalam  pandangan Islam (islamic worlview) untuk ibadah, karena itu pada hakikatnya, ujian tidak lebih daripada bagian dari sistem belajar dan untuk mendapatkan ilmu.
Bukan pula berarti ujian tidak perlu. Jangankan dalam belajar-mengajar, dalam hidup pun dibutuhkan ujian. Filosofi ujian menurut Ahli Hikmah dari Arab adalah, al-imtihan syarrun walakinnahu syarrun la bu’da minhu. Ujian itu sebuah keburukan yang harus ditempuh. Dan disempurnakan dengan perkataan, Bil-imtihan yukramul mar’u wa yuhanu, dengan ujian seseorang akan tambah dimuliakan atau semakin dihinakan.
Para penuntut ilmu tidak akan dapat diketahui tahap dan taraf keilmuannya kecuali dengan ujian, dari situlah mereka dapat dinilai apakah layak naik ke jenjang lebih tinggi atau harus mengulangi pelajarannya. Sebab jika dipaksakan naik ke level yang lebih susah padahal tidak mampu hanya, akan merusak dirinya sendiri dan mengganngu teman-temannya. Begitulah pentingnya posisi ujian dalam belajar. Kegagalan bukanlah aib yang harus dihindari, dan semestinya menjadi cambuk untuk melakukan penataan ke dalam bahwa inilah kemampuan saya, untuk dapat bersaing harus belajar lebih giat. 
Budaya Ilmu
Adalah sebuah prilaku yang meletakkan ilmu sebagai “kebaikan utama”, dengan itu mereka yang berbudaya ilmu akan menunut ilmu demi menggapai kebaikan, dan bukan sekadar untuk lulus ujian, bukan pula hanya mengajar bagi guru dan dosen, lalu lepas tanggungjawab.
Keuntungan setiap usaha untuk mencari dan menyebarkan ilmu adalah sangat pribadi dan bernuansa teologis. Menurut hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah, Sesungguhnya kebaikan yang diamalkan oleh seorang manusia sangat tergantung pada tingkat akalnya [ilmu dan pemahaman]. Annasu ya’maluna bil-khairi ‘ala qadri ‘uqulihim. Oleh sebab itu, Islam meletakkan ilmu pengetahuan sebagai nilai tertinggi dalam sistem tata nilainya.
Di Makassar, sebelum penjajah masuk mencaplok, pada abad ke-16 dan 17 Masehi, budaya ilmu telah berjalan walaupun belum ada SD, SMP, SMA, dan Universitas, pendidikan berjalan di Istana, masjid, dan tempat-tempat umum.
Para penguasa kerajaan kembar Gowa-Tallo dikenal dengan daya intelektualnya, mereka menguasai beragam ilmu pengetahuan, termasuk kecakapan berbahasa asing. Sultan Alauddin dikatakan memiliki kemampuan menulis bahasa daerah dan bahasa Arab yang sempurna, pelanjutnya, Sultan Malikussaid, ia dapat menulis dan bertutur dengan bahasa asing khususnya bahasa-bahasa Eropa.
Namun, menurut Leonard Y Andaya, dalam disertasinya di Harvard University, “The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi [Celebes] in Seventeeth Century” bahwa yang paling dikagumi oleh Barat dari segi intelektualitas penguasa Gowa-Tallo adalah Karaeng Patingalloang, katanya, tidak hanya lancar berbicara Portugis, Spanyol, Inggris, Prancis, dan Arab tapi dia juga menguasai sastra dari bahasa-bahasa tersebut.
Seorang Jesuit yang berkunjung ke Makassar, Alexander de Rhodes menulis tentang Karaeng Patingalloang, Seorang yang bijaksana dan rasional, dengan minat tinggi dia telah membaca seluruh sejarah raja-raja Eropa. Dia selalu membawa buku-buku kita [Eropa], khususnya yang berhubungan dengan matematika yang sangat ia kuasai. Dia juga sangat tertarik dengan seluruh aspek ilmu pengetahuan sehingga dia mengerjakannya siang dan malam. Mendengarnya berbicara tanpa melihatnya, orang akan menyangka dia seorang asli Portugis karena menggunakan bahasa ini dengan amat lancar sebagaimana yang biasa kita dengar di Lisbon.
Karaeng Patingalloan adalah tipe penguasa haus ilmu, koleksi buku-bukunya, terutama dari Eropa begitu banyak, termasuk peta-peta dunia yang bergambar maupun yang globe. Gambaran pemimpin berbudaya ilmu, terus menerus mempelajari dunia baru sebagai kunci untuk menjadikan Gowa-Tallo sejajar dengan kota-kota metropolitan di Eropa. Namun, setelah ia mangkat, Sultan Hasanuddin Naik Tahta, yang harus berjibaku melawan gempuran Belanda dan penghianatan Arung Palakka, Gowa-Tallo akhirnya takluk pada 18 Nopember 1667 di bawah “Perjanjian Bongaya”.
Sayangnya, saat ini, kita di Makassar walaupun perguruan tinggi tumbuh laksana jamur di musim hujan, namun sama sekali belum mampu mewujudkan budaya ilmu. Kendala utama adalah mindset masyarakat kita yang terlalu pragmatis dan sekularis, kesuksesan selalu diukur berdasarkan dengan materi, jabatan dan pangkat. Hal ini semakin diperparah dengan keadaan politik yang carut-marut, memilih wakil dan pemimpin berdasarkan pada materi sehingga yang terpilih bukan dinilai dari budaya ilmu yang mereka miliki. Wallahu A’lam!

Ilham Kadir, Peneliti MIUMI dan Mahasiswa Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor.

dimuat Harian Tribun Timur, 25 April 2015

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an