Tafsir Bukan Cocologi



 
Khatib salat Jumaat, Ustad Rabuddin S.Ag mengungkapkan bahwa hancurnya gedung WTC telah termaktub dalam al-Qur'an, begitu ia katakan di Masjid Gedung Balai Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal (BPPNFI) Regional V, Jl Adyaksa, Makassar, Jumat (27/2/2015). 

“Hari runtuhnya gedung WTC, 11 September 2011. Ternyata kejadian ini telah terukir di dalam Al-Quran yang di turunkan sekitar 14 abad." Menurutnya lagi, di Kota New York yang merupakan tempat berdirinya WTC, yaitu jalan Jefr har sama dengan  Jurufin har, yang berarti tepi jurang yang runtuh.  

Rabuddin melanjutkan, WTC runtuh memiliki beberapa kesamaan dengan Firman Allah dalam al-Qur'an surah At-Taubah. Antara kesamaannya adalah: Tanggal 11 adalah tanggal terjadinya tragedi WTC Dan surah At-Taubah terletak pada juz ke 11 di dalam Al-Quran; Tahun terjadinya tragedi itu adalah tahun 2001, Dan jumlah huruf dalam surat At-Taubah terdiri dari 2001 huruf, dan; Jumlah tingkat di gedung WTC ada 109 tingkat, Dan firman Allah SWT tentang kejadian ini terletak pada ayat ke 109 surat At-Taubah.

Sang dai lalu mencocokkan dengan firman Allah dalam Al-Quran Surah At-Taubah Ayat 109 yang artinya, “Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang- orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang Zalim.” Benarkah demikian? Kita liat!

***

Ada beberapa tingkatan dalam memahami al-Qur'an, yang paling rendah dan mudah untuk orang yang tidak bertutur dengan bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur'an adalah metode terjemah, atau alih bahasa, dari Arab ke Indonesia, misalnya. Tahapan kedua adalah tafsir, dan ketiga adalah takwil.
Untuk yang pertama, tidak penting dibahas karena semua sudah mengerti apa itu terjemah, kitab "al-Qur'an dan terjemahnya" sangat muda didapat, dibaca, dan dimengerti. Ada pun jenis kedua, at-Tafsir, dari segi bahasa adalah "al-kasyf" atau membuka yang tertutup, dikatakan demikian karena makna dalam al-Qur'an sebagian masih tersirat dan tertutup. Dari segi istilah, tafsir adalah ilmu yang berusaha mengetahui makna al-Qur'an baik ayat muhkamat (bernuansa hukum) maupun mutasyabihat (abstrak) dengan menggunakan metodologi dan ilmu-ilmu tertentu.

Karena itu, untuk menafsirkan al-Qur'an ada dua perkara penting yang harus diketahui, pertama adalah metodologinya dan kedua adalah ilmu-ilmu terkait dengan tafsir. Bahwa menafsirkan al-Qur'an tidak bisa serampangan, harus ada aturannya, jika metodologinya sudah salah, maka apa pun hasilnya akan dianggap tidak benar. Para ulama tafsir sudah merumuskan bahwa, metode penafsiran bertingkat-tingkat, yang paling bagus adalah menafsirkan al-Qur'an dengan al-Qur'an, artinya, dalam sebuah ayat, tafsirannya dapat ditemukan pada ayat yang lain, metode ini disebut, tafsir al-qur'an bil-qur'an, atau istilah lainnya, al-qur'an yufassiru ba'duha biba'din, al-Qur'an saling menafsirkan satu dengan lainnya. 

Selanjutnya, al-Qura'an ditafsirkan dengan sunnah, tafsirul-qur'an bis-sunnah. Sebagaimana diketahui bahwa fungsi utama diutusnya Nabi Muhammad adalah menyampaikan wahyu al-Qur'an kepada umat Islam, maka, beliau satu-satunya manusia yang paling paham isi kandungan al-Qur'an, dan karena itu, beliau pula yang paling tau cara menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an.
Tingkatan berikutnya, adalah menafsirkan al-Qur'an dengan merujuk pada perkataan para sahabat Nabi, tabi'in, dan tabi' tabi'in. Mereka adalah, manusia-manusia yang paling dekat dengan Rasulullah, dan paling tau bagaimana memahami ayat-ayat yang susah dimengerti khususnya ayat mutasyabihat, karena itu, merujuk kepada penafsiran mereka sebagai manusia yang terbaik di generasi yang terbaik (khaerul qurun). 

Yang terakhir adalah, jika tidak menemukan tafsir dari ketiga metode di atas, maka, sebaiknya merujuk kepada para kitab-kitab tafsir yang telah ditulis para ulama tafsir muktabar yang jumlahnya tak terhitung, terutama yang berbahasa Arab, kita kenal tafsir-tafsir klasik, Jami'ul Bayan oleh Imam At-Thabari, Jami'ul Ahkam oleh Imam Al-Qurthubi, Tafsir al-Qur'anul azhim oleh Imam Ibnu Katsir, hingga karya para mufassir dari anak bangsa seperti, Al-Furqan oleh A. Hassan, An-Nur oleh TM Hasbi Ash-Shiddiqi, Al-Azhar oleh Hamka, hingga Al-Misbah oleh M Quraish Shihab.

Kalau ternyata, ingin menafsirkan sendiri ayat-ayat al-Qur'an maka kuncinya harus menguasai ilmu-ilmu tertentu yang berhubungan dengan al-Qur'an, seperti, Bahasa Arab meliputi, Nahwu [gramatika], Sharf [morfologi], Balaghoh [komunikasi] yang terdiri dari tiga cabang ilmu, Bayan, Badi', Ma'ani, Asbabun-Nuzul [latar belakang diturunkannya ayat], Tarikh at-Tasryri' [sejarah tasyri'], Nasikh wal Mansukh [ayat-ayat terhapus dan yang menghapus], harus pula didukung dengan ilmu-ilmu lain seperti, Hadis dan Ilmu Hadis, Fikih dan Ushul-Fikih, dan Sirah Nabi. 

Dengan metode dan syarat ketat yang telah disepakati para ulama muktabar di atas sehingga tafsir adalah ilmu yang menurut Prof Syed Muhammad Naquib Al-Attas dalam "The Concept of Educatian in Islam: A Framework for an Islamic Philosofhy of Education, 1980" adalah kebenarannya hampir sama dengan ilmu pasti, ia menulis, Karena sifat ilmiah struktur bahasa Arab sehingga ilmu yang pertama berkembang dalam Islam adalah ilmu tafsir. Jenis tafsir al-Qur'an beda dengan Hermaneutika Yunani atau Hermaneutika Kristen, juga tidak sama dengan sains atau ilmu penafairan kitab suci agama atau kebudayaan lain mana pun. Di dalam tafsir tidak ada tempat bagi sangkaan atau dugaan, tidak ada tempat bagi penafsiran yang didasarkan pada tanggapan-tanggapan subyektif atau pemahaman-pemahaman yang didasarkan hanya pada gagasan tentang reletivisme historis yang memnganggap bahwa perubahan semantik seakan -akan telah terjadi di dalam struktur konseptual kata-kata dan istilah yang membangun kosa kata teks suci tersebut.

***
  
Penting dicatat  bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan misi dan tujuan utama adalah, Hudan lil-muttaqien, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa; Hudan linnas, petunjuk bagi segenap umat manusia; Basyiran, berupa kabar gembira, khususnya bagi umat Islam yang melaksanakan petintah Allah dan menjauhi larangan, akan dimasukkan ke dalam surga; Naziran, peringatan, khususnya bagi yang tidak taat pada Allah (kafir) atau orang Islam yang bermaksiat. Seperti berbuat syirik, zalim, munafik dan semisalnya, akan diberi hukuman di akhirat kelak berupa siksa neraka; dan Al-Furqan, atau pembeda antara yang hak dan yang batil.

Dan yang terpenting, sebagaimana juga yang pernah dikemukakan Syekhul Azhar di Mesir, Mahmud Syaltut, agar umat Islam tidak muda mengait-ngaitkan fenomena alam dan kejadian-kejadian yang ada dengan ayat-ayat Al-Qur'an karena itu akan mereduksi fungsi utama al-Qur'an.

Dan tentu saja, bagi saya pribadi, tidak ada manfaatnya mengait-ngaitkan meledaknya menara kembar WTC dengan al-Qur'an, bahkan hanya akan menghilangkan fungsi utama al-Qur'an sebagai kitab wahyu. Al-Qur'an bukanlah kitab informasi!

Namun, andai sangkaan Rabuddin itu benar, maka sangat mungkin ulama tafsir muktabar zaman ini yang masih hidup akan mengemukakan hal itu, karena mereka lebih tau dan paham ilmunya, sebutlah misalanya, mufassir kontemporer Prof. Wahbah az-Zuhaili dari Damaskus yang menulis "Tafsir al-Munir", Syekh Ali ash-Shobuni "Shofwah at-Tafasir" dari Saudi Arabia, hingga Prof. Quraish Shihab penulis tafsir "Al-Misbah" dari Indonesia.
Kesimpulan saya, semua apa yang disampaikan sang ustad tentang ayat yang berhubungan dengan rontoknya gedung WTC hanya berada pada taham dugaan (wahn), yang tahap kebenarannya sangat meragukan dan tidak bisa dijadikan sebagai sebuah keyakinan yang bersumber dari ilmu yang jelas.
Jadi, saya tegaskan apa yg disampaikan hanyalah berupa mencocok-cocokkan lebih tepatnya, menurut istilah anak muda sekarang "cocologi", bukan melalui metodologi penafsiran yang tertuang dalam ulumut-tafsir, ilmu dan tatacara menafsirkan Al-Qur'an. 

Kalau metodologinya saja sudah salah, panti hasilnya akan salah. Rabuddin S Ag, menafsirkan Al-Qur'an juga bukan dengan bersandar pada ilmu tafsir yang menjadi prasyarat seorang mufassir, baik bil-ma'tsur (bersandar pada riwayat-riwayat ulama) maupum bir-ra'ye (bersandar pada pendapat dengan ilmu yang benar). Dan ini adalah masalah serius yang seharusnya tidak terjadi, karena siapa saja yang menafsirkan al-Qur'an mengedepankan akal dan pendapatnya tanpa melalui ilmu dan metode yang benar, maka hendaklah ia menyiapkan tempatnya di neraka. Man fassaral-Qur'an bira'yihi fal-yatabawa' maq'adahu minan-nar. Begitu Nabi mengancam lewat sabdanya yang diriwayatkan Imam Tarmizi dan Nasai.

Al-Zarkasyi dalam al-Burhan berkata, "Ketahuilah bahawa tidak tercapai pemahaman makna wahyu dan nyata segala rahasianya sedangkan dalam hatinya terdapat unsur bida'ah, takabbur, hawa nafsu, cinta dunia atau yang selalu melakukan maksiat, atau tidak mentahqiq iman atau tahqiq yang lemah atau bergantung kepada pendapat mufassir tanpa ilmu atau kembali kepada akalnya. Ini semua adalah penghalang dari tafsir."

Para ulama meyakini bahwa al-Quran dan Hadis adalah hak Allah dan Rasullah. Barangsiapa yang mentafsir dan mentakwil hanya bersandarkan akal fikiran dan hawa nafsunya tanpa memutuskan dengan apa yang dikehendaki Allah dan merujuk kepada keterangan ulama muktabar adalah batil. Wallahu A'lam!

Enrekang, 8 Maret, 2015.

Dimuat TRIBUN TIMUR, 13 Maret 2015

Ilham Kadir, Pengurus KPPSI Pusat & Kandidat Doktor Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun, Bogor.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi