Revolusi Batu Akik

Secara denotatif, revolusi berarti 'kembali lagi' atau 'berulang kembali'. Ibarat
musim yang terus berganti secara siklikal untuk kembali ke musim semula. Maka, dalam sains, istilah revolusi mengimplikasikan suatu ketetapan (konstanta) dalam perubahan; pengulangan secara terus menerus yang menjadikan akhir sebagai awal. Pengertian seperti inilah yang terkandung dalam frase "revolusi planet dalam orbit".

Tahun 1543, Nicolaus Copernicus memublikasikan "De Revolutionibus Orbium Coeletium" yang sering dinisbatkan sebagai penanda revolusi paradigmatik dalam sains yang mengubah keyakinan tentang pusat alam semesta dari geosentrisme (berpusat di bumi) menuju heliosentrisme (berpusat di matahari). Perubahan mendasar dalam keyakinan ilmiah ini lalu dikenal sebagai 'revolusi Copernican'.

Istilah revolusi di atas berbeda dengan pengertian yang didefinisikan Thomas Kuhn sebagai 'perubahan dalam susunan keyakinan saintifik atau dalam paradigma'. Dengan kata lain, pengertian revolusi tidak lagi menekankan aspek kesinambungan dalam daur ulang, melainkan justru sebagai keterputusan dalam kesinambungan (break in continuity). Sejak itu, revolusi berarti suatu perubahan struktur mental dan keyakinan karena interuduksi gagasan dan tatanan baru yang membedakan dirinya dari gagasan dan tatanan masa lalu, (Latif, 2014).

Adapun pengertian revolusi dalam bidang politik semakin populer menyusul revolusi Amerika (1776), lanjut dengan Revolusi Prancis 1789. Seperti halnya sains, pada awalnya makna revolusi dalam politik bermakna ramah, hingga revolusi Prancis berubah jadi ekstrim dalam bentuk teror yang menakutkan. Konotasi menakutkan dari makna revolusi diperkuat menyusul publikasi The Communist Manifesto pertengahan abad ke-19, revolusi 1848, dan gerakan komunis internasional dengan agenda revolusi berskala dunia yang mengandung ekspresi kekerasan terkait dengan perubahan cepat.

Batu Akik

Karena revolusi dari sudut linguistik dan sains dapat bermakna antara lain, 'kembali lagi' atau 'berulang kembali', maka sejatinya gila batu akik juga demikian. Artinya, berabad-abad yang lalu peradaban manusia telah mengenal batu akik, mungkin saja sejak 'zaman batu' non akik. Kata revolusi kembali santer ketika Jokowi melemparkan gagasan revolusi mental, tapi hingga kini gagasan itu telah terpental dan hilang ditelan bumi. Revolusi mental hanyalah jualan kecap musiman tanpa visi dan misi. Nampaknya, revolusi batu akik jauh lebih menarik dibahas.

Dalam sirah nabawiyah atau riwayat hidup Nabi Muhammad, terdapat beberapa hadis yang berbicara tentang batu akik lalu diterangkan oleh para ulama muktabar. Di antara sekian riwayat, hadis yang dipandang paling sahih adalah riwayat Imam Muslim (No. 2094), redaksinya, Dahulu, cincin Rasulullah SAW terbuat dari perak, dan mata cincinnya adalah batu dari Etopia. Para ulama lalu berlomba-lomba mengulas kata "batu" dalam hadis di atas. Di antara mereka ada yang berpendapat, batu itu adalah jaza' atau akik yang keduanya merupakan barang berharga di Etopia atau Yaman. 

Riwayat lain tentang batu akik, berasal dari Abu Abdillah az-Zarkasyi, memaparkan sebuah riwayat, Bercincinlah dengan akik karena dia bisa menghilangkan kefakiran. Ada pun Imam Badruddin al-'Aini, berpendapat, Tidak apa-apa memakai akik sebagai cincin. Para sahabat kami meriwayatkan berita ini, bahwa Nabi bercincin dengan akik, dan beliau pernah bersabda, Pakailah cincin dengannya, karena itu diberkahi. Ibnu Manjawaih meriwayatkan hadis lain, bahwa Nabi pernah bersabda, Barangsiapa yang memakai cincin dari yakut kuning [mutiara] dan batu zamrud bisa menolak kemiskinan, (Umdatul Qari, 22/37).


Syekh Syamsuddin As-Safiri juga berkata, Ada pun memakai cincin batu akik, hukumnya boleh saja, begitu pula mutiara, baik laki-laki maupun wanita. Bahkan ada yang mengatakan, sesungguhnya akik bisa menghilangkan kesedihan dan mutiara bisa menghilangkan kefakiran. Ibnul 'Imad mengatakan dalam "Syarh Sirah" bahwa, Ibnu Ghamin meriwayatkan dalam kitab "Al-Faaiq fil Lafzi ar-Raaiq" bahwa Nabi bersabda, Pakailah cincin akik karena hal itu diberkahi, pakailah cincin dari akik sebab kalian tidak akan pernah sedih selama itu masih dipakai, pakailah cincin yakut [mutiara] karena itu meniadakan kemiskinan, (Al-Majalis al Wa'zhiyah, 2/112). 

Sayangnya, Imam Nawawi sebagai imam besar mazhab Syafi'I yang menjadi anutan muslim Asia Tenggara termasuk Indonesia, lebih khusus Makassar, sama sekali tidak menerangkan tentang hadis cincin batu akik di atas, bahkan kedudukan hadisnya pun tidak ia komentari. Ada apa?

Ternyata, hadis-hadis tentang akik, kecuali yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di atas semuanya lemah bahkan ada yang palsu, Ibnu Rajab berkata, semua hadis tentang perintah bercincin dengan akik tak satu pun yang kuat. Al-Uqaili mendukung, Tidak ada sedikit pun yang sahih tentang bercincin dengan batu akik. Karena itu dalam kitab "Al-Mizan" telah dipastikan bahwa itu semua adalah palsu. Ibnul Jauzi dalam "Al-Maudhu'at" berkata, Semua hadis tentang cincin batu akik tidak ada yang sahih. 

Alhasil, memakai cincin batu akik hukumnya mubah saja, tidak ada perintah dan larangan, hanya saja, jika diyakini bahwa dalam batu tersebut mengandung kekuatan gaib yang dapat mengubah nasib seseorang baik menjadi buruk atau buruk manjadi baik, maka tidak diragukan lagi berubah status hukumnya menjadi haram karena masuk dalam kategori syirik besar.
Di Indonesia, sejak era Presiden Sukarno batu akik sudah menjadi buruan kalangan tertentu terutama para kolektor, namun semakin marak di zaman SBY, dan puncaknya sekrang di era Jokowi. Para pemburu akik pun tak henti-hentinya menemukan beragam jenis akik. Walau pun bacan tetap menjadi primadona, tapi Giok Aceh dan Sisik Naga Enrekang tak bisa diremahkan.

Keranjingan batu akik adalah sebuah revolusi yang dapat meredam berbagai masalah yang melanda negeri ini. Carut-marut politik dengan terbelahnya partai pohon beringin yang dianggap memiliki kader paling matang dalam jagad politik Indonesia, demikian pula partai kakbah yang selayaknya menjadi contoh sebagai partai Islam. 
 
Pemberantasan korupsi juga stagnan sebab, Komisi Pemberantasan Korupsi, jangankan menangkap para koruptor, membenahi dapurnya saja masih kewalahan sebab para pimpinannya terancang dikerangkeng satu persatu. Jika di era SBY para koruptor sangat ngeri dengan KPK, kini keadaan itu sudah terbalik.

Dunia hukum di era Jokowi juga kian amburadul, lihatlah kasus nenek Asyani berusia 70 tahun asal Situbondo, gara-gara dituduh mencuri tujuh potong kayu, sehingga yang bersangkutan dikerangkeng sejak 15 Desember 2014, dan mendapatkan penangguhan pada Senin 16 Maret 2015. Ia dijerat pasal 12 juncto Pasal 83 Undang-undang Nomor 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dengan ancaman 5 tahun penjara. Padahal, menurut pengakuan sang nenek yang menebang kayu itu adalah suaminya yang telah meninggal dunia dan kayu yang ditebang pun miliknya sendiri. Hukum hanya tajam ke bawa tapi tumpul ke atas!

Ekonomi pun demikian, anjoknya nilai tukar rupiah terhadap dollar pada level tiga belas ribu lebih adalah musibah terburuk pasca krisis moneter/ekonomi tahun 2008 yang memaksa Soeharto lengser dan membuka pintu repormasi. Kini kemerosotan ekonomi kembali terulang, walau pemerintah terus berkelik, bahwa anjoknya rupiah menguntungkan para eksportir. Masalahnya, kita bukan Jepang atau Korea Selatan yang lebih banyak mengsekspor, kita adalah negara konsumen. Garam dan beras saja kita impor, apalagi otomotof dan elektronik. 

Batu akiklah yang mampu mengalihkan pikiran masyarakat untuk menuntut perbaikan. Walaupun, sebenarnya, fenomena serupa tapi tidak sama sudah pernah terjadi, dimulai dari ikan lohan, lalu bunga jemangi dan gelombang cinta yang harganya pernah menembus 950 juta untuk satu pot, dilanjutkan dengan harga tokek besar ratusan juta per ekor, kemudian datang ayam ketawa. Ketika suara tokek hilang, kokok ayam ketawa redup, muncullah aneka batu akik. Itulah Indonesia, negara yang penuh masalah namun kaya budaya dan penuh dengan keunikan berdaya tarik tinggi. Wallahu A'lam!
Enrekang, 25 Maret 2015.

Ilham Kadir, Peneliti MIUMI & Kandidat Doktor Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun Bogor

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an