Nasihat Untuk Pemburu Dokter


Menjelang penerimaan mahasiswa baru tahun 2015, para orang tua mulai ancang-ancang, di mana gerangan putra-putrinya akan melanjutkan kuliah. Hingga saat ini, perguruan tinggi negeri masih menjadi pilihan utama karena dinilai lebih murah dan bermutu, walaupun penilain ini lebih cenderum subjektif sebab, ada juga universitas swasta yang bermutu dengan biaya lebih terjangkau.
Kecuali itu, jurusan andalan yang dianggap paling bergengsi masih berhubungan dengan 'penyakit' dan 'kesehatan', psikis dan fisik, terutama Fakultas Kedokteran, baik itu program studi pendidikan kedokteran, kedokteran gigi, keperawatan, fisioterapi, hingga kedokteran hewan dan psikologi.

Karena itulah Harian TRIBUN TIMUR edisi Jumat 13 Maret mengangkat tajuk ulasan "Jangan Paksa Anak Jadi Dokter", sangat vulgar bahwa memang banyak orang tua yang ngotot agar anaknya jadi dokter. Tentu saja jika niat mereka baik untuk mengabdi pada umat, bangsa, dan negara akan mendapatkan pahala yang besar, sebab Islam sangat menilai amal seseorang berdasarkan dengan niat. Jika sudah berniat baik, maka sudah ditulis sebagai sebuah amal saleh. Begitu pula sebaliknya, jika niat para orang tua menyekolahkan anaknya di FK demi meraih status sosial yang terpandang, gengsi, dan keuntungan duniawi, maka semuanya bisa saja ia akan dapatkan di dunia, namun di akhirat hanya mendatangkan kehinaan.
Masalahnya, apakah anak mereka mampu mengikuti selera dan kemauan orang para tua?

Buktinya tidak sedikit mahasiswa kedokteran berjatuhan karena terkena drop out (DO) di tengah jalan, mereka tidak mampu mengikuti syarat dan ketentuan yang berlaku pada FK, selain ada pula yang memang tidak punya minat sama skali untuk menjadi dokter. Anehnya, anak dosen pun ada yang kena 'tendang'.

Menurut Prof Idrus Paturusi, mantan Dekan Fakultas Kedokteran dan Rektor Unhas bahwa mereka yang masuk Fakultas Kedokteran lewat jalur mandiri kebanyakan orang tuanya yang mau anaknya jadi dokter. Sang orang tua tidak mau memedulikan kemampuan anaknya yang pas-pasan, (TRIBUN TIMUR, 13/3/2015).

Tidak sampai di situ, masuk kuliah dengan jalur khusus, yang bisa dikatakan 'jalan tol' menuju kampus dan fakultas dambaan menyisakan 'bau busuk' sebab, tidak sedikit dosen dan segenap civitas akademika mendadak jadi calo dengan iming-iming mampu menggolkan anak pemburu dokter dengan bayaran ratusan juta rupiah.

***

Ditinjau dari sudut pandang Islam atau Islamic Worldview, belajar ilmu-ilmu kesehatan, atau kedokteran masuk dalam kategori ilmu fardhu kifayah, artinya tidak diwajibkan untuk setiap muslim, jika ada satu atau dua orang dalam satu daerah yang telah mempelajari ilmu kedokteran lalu dapat bekerja di daerah tersebut maka yang lain akan gugur kewajibannya, namun, jika tak satu pun yang tau dan mampu mengobati orang sakit di suatu daerah, maka semua penduduk akan menanggung dosanya. Dokter adalah wakil Allah di bumi untuk menghilangkan penyakit yang diturunkan oleh-Nya sendiri, itulah maksud hadis Nabi, Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali Ia telah menurunkan penawarnya. Ma anzalallah da'an illa anzalahu dawa'.
Para ulama terdahulu mempelajari ilmu fadhu ain, atau yang wajib dipelajari setiap manusia mengaku umat Nabi Muhammad termasuk syarat-syarat dan rukun-rukun setiap ibadah, seperti syarat dan rukun "La Ilaha Illallah", salat, puasa, zakat, haji, nikah, tata cara bersuci, mandi junub, membaca dan menghafal [sebagian] Al-Qur'an dan sejenisnya. Ilmu-ilmu itu harus dipelajari baik orang tua maupun anak, karena itu, orang tua wajib memaksa anaknya mempelajari ilmu fardhu 'ain, juga tetap mempelajari ragam ilmu fardhu kifayah, termasuk kedokteran, bahkan ilmuan muslim seperti Ibnu Sina (wafat 1037 M) dianggap sebagai Bapak Kedokteran dunia, kitab kedokterannya, "Al-Qanun fit-Tibbi" dijadikan diktat kuliah di berbagai universitas Eropa selama lima ratus tahun.

Saya terkesima dengan ceramah seorang dai dari Pinrang, bahwa ada orang tua yang memiliki bebera anak yang sukses, ada yang jadi dokter hingga menjadi guru besar di Australia. Ketika orang tuanya dalam keadaan sakratul maut, anak-anaknya tak bisa hadir semuanya untuk mendampingi sang ayah karena terlalu sibuk bekerja. Begitu ia wafat, dan segala syarat-syarat yang harus dilakukan oleh seorang anak pada orang tuanya, seperti memandi dan mengafani tidak dilakukan. Hingga, sebelum diusung menuju peristirahatan terakhir, mayat itu harus disalatkan, ustad kampung yang mengurus jenazah itu pun menghadap kepada anak-anak si mayat, agar kiranya untuk terakhir kalinya mereka maju menyalati orang tuanya karena memang begitulah agama memerintahkan bahwa orang yang paling dekat ke mayat seharunya mengurus, menyalati dan mendoakan, terutama para anak-anak, doa-doa mereka tanpa penghalang. Sang Ustad pasti paham sabda Rasulullah bahwa ketika anak cucu Adam telah wafat, maka--setidaknya--ada tiga amalnya yang tak terputus sahamnya, sedekah yang terus mengalir (shadaqatun jariyah), ilmu yang bermanfaat ('ilmun yuntafa' bih), anak saleh yang mendoakan (waladun shaleh yad'u lah).

Sang Professor menjawab, Kenapa mesti saya yang menyalati, kan ada petugas dari masjid! Sang Ustad kampung yang dipanggil Pa' Katte itu menjawab, Ini Professor tapi bodoh, dia tidak tau apa kewajibannya pada orang tuanya!

Dalam belajar, para ulama pendahulu umat ini, tidak membeda-bedakan mana ilmu fardhu ain, dan mana fardhu kifayah, selama masih mampu, semua mereka pelajari karena niat belajar untuk beribadah, bukan karena nama, status, dan uang. Alasan dan motivasi utama untuk memeroleh ilmu pengetahuan dan pendidikan merupakan kerja seumur hidup yang mulia di sisi agama. Kemiskinan, cacat, faktor lingkungan yang tidak kondusif tidak bisa menjadi alasan untuk mencapai tingkat kesuksesan dalam menggapai ilmu.
Maka, sebelum belajar ada dua perkara yang harus dipersiapkan, niat baik dan kemanfaatan ilmu, bukan sekadar gengsi dan keuntungan duniawi. 

Seorang hamba terutama yang bergelut dalam dunia keilmuan dianjurkan oleh Nabi, berdasarkan riwayat Ibnu Majah untuk selalu berdoa, Allahumma inna nas'aluka 'ilman nafi'an warizqan thayyeban wa 'amalan mutaqabbalan. Ya Allah aku bermohon kepad-Mu, ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal ibadah yang diterima. 

Tidak mesti jadi dokter untuk sukses dunia-akhirat. Semoga dapat menjadi inspirasi kepada para orang tua pemburu dokter. Wallahu A'lam!

Dimuat TRIBUN TIMUR 20 Maret 2015
Ilham Kadir, Peneliti Majelis Intelektual-Ulama Muda Indonesia (MIUMI) & Kandidat Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi