Membungkam Dakwah



Terbang di laut di hujung karang
Kupu-kupu terbang melintang
Hati di dalam menaruh bimbang
Dari dulu sampai sekarang

Bunga melati di Tanah Abang
Jatuh ke tanah diinjak orang
Betapa hati tak rasa bimbang
Pabila dakwah makin dikekang
----------------------------
Butterflies roam about freely
Flying to the sea by the reef away
My heart has felt uneasy filled with worry
From yesterday up till the present day

Jasmine flowers in Tanah Abang
Fell to the ground trampled by people
How come I'm not disturbed
When dakwah is increasingly curbed.
    (Al-Batawi, Maret 2015).

Agama samawi mengenal seorang nabi Allah bernama Idris, sebagian ulama merujuk pada Kitab Perjanjian Lama, dianggap sebagai kakek dari Nabi Nuh dengan nama Henokh sedang Nabi Nuh menurut Perjanjian Lama adalah Lamekh putra Metusalah putra Henokh. 

Al-Qur'an dan orang Arab menamainya Idris dengan mengambil dari kata darasa-yadrisu-idris yang bermakna belajar, kabarnya nama itu disematkan padanya karena beliau adalah pionner atau orang pertama yang mengenal tulisan dan belajar-mengajar.

Orang-orang Yunani dan Mesir Kuno menamainya Hurmus ada pula yang berkata, orang Mesir menamainya Tut (Shihab, 2001: 214). Siapa pun beliau, dan siapa pun yang menemukan tulisan, yang pasti tulisan adalah anugerah terbesar dan revolusi budaya teragung bagi manusia. 

Sejarah manusia dapat dibagi menjadi dua priode. Pertama, era sebelum manusia mengenal tulisan, dan kedua, setelah tulisan dikenal oleh umat manusia. 

Tulisan, diperkirakan pertama kali dikenal sekitar 5000 tahun lalu dalam bentuk heroglifia yang berhasil diungkap rahasianya oleh Peneliti dan orientalis Prancis, Champillion (1790-1832 M) walaupun ada pula pendapat, bahasa pertama yang tertulis ditemukan di Yangshau wilayah Cina sekitar 4000-5000 tahun sebelum Masehi.

Dengan tulisan, manusia mampu memindahkan pengetahuannya pada generasi pelanjutnya, dengan tulisan, manusia walau telah meninggal, tetap mampu berdialog dengan orang lain yang masih hidup, sebagaimana Ahli Hikmah berkata, al-khat yabqa ba'da katibihi, wa katibuhu tahtal ardh madfun. Tulisan para penulis tetap kekal berkata-kata walau penulisnya telah tertimbun dalam tanah. Maka Allah pun bersumpah dalam Al-Qur'an, Nun wal qalam wama yasthurun. Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis (QS Al-Qalam [68]: 1). 

Tentu saja jasa T'sai-lun (48-121 M) sebagai manusia yang pertama kali menemukan tekonologi kertas tidak bisa diabaikan, sebab, tanpa kertas dan pena, dunia tulis menulis mengalami kendala yang berarti. Menggunakan batu, kulit binatang, kayu, daun lontara, pelapa kurma sebagai alat menulis sangatlah susah.

Dahulu, alat tulis adalah kayu yang diruncing ujungnya, karena itu pena dinamai qalam yang terambil dari akar kata bahasa Arab qalama berarti memotong. Pena kemudian berkembang, masa kini, lahir teknologi cetak mencetak, dan berkembang pada teknologi informasi nirkabel, dengan lahirnya kedua teknologi ini, maka, selain membaca dengan media kertas, orang-orang juga dapat membaca melalui media elektronik, termasuk handphone atau ragam jenis gadget. Media ini tentu saja sangat membantu dalam menyebarkan beragam tulisan yang berisi informasi, pengetahuan, dan ideologi tertentu, termasuk dakwah. Pengetahuan tidak hanya kian bertambah, tapi kecepatan mengaksesnya pun sangat deras.

***

Saat ini, kita berada pada era informasi. Artinya, kekuatan sebuah negara, atau lembaga apa pun itu sangat tergantung pada tingkat penguasaannya terhadap informasi. Dan, negara-negara maju pun berlomba-lomba memasarkan tekonologi informasinya, terutama Amerika, Swiss, Korea, dan Jepang. Indonesia adalah salah satu negara juara bertahan dalam hal konsumen ala-alat informasi. 

Derasnya informasi tak terbatas selain menimbulkan efek positif juga meninggalkan jejak buruk, nilai-nilai budaya yang dianggap normal pada sebuah negara ternyata merusak bagi negara lain, atau ideologi sebuah peradaban, seperti sekularisme Barat jika diterapkan di negara berpendudukan muslim sangat merusak, pendek kata, derasnya informasi juga menghasilkan fenomena sosial yang kompleks. 

Masalah-masalah keagamaan pun juga demikian, permasalahan umat makin kompleks dan membutuhkan penanganan cepat cepat dan tepat. Maka, media informasi adalah solusinya termasuk yang tersaji dalam situs-situs Islam online. Keberadaan situs Islam online sangat membantu para generasi 'dunia maya' untuk mendalami berbagai kajian keislaman. Situs Islam adalah media dakwah yang ampuh memberi resistensi pada generasi muda untuk melawan kebatilan dari para penjahat ideologi dan akidah.

Tak syak lagi, langkah Kementrian Informasi dan Komunikasi (Kemenkominfo) yang menutup belasan situs Islam atas rekomendasi Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) adalah tindakan gegabah, mengebiri dan membungkam dakwah, tidak hanya melukai umat Islam tetapi telah melawan Tuhan dengan menghalangi orang-orang yang berjalan di jalan Allah, yashudduna 'an sabilillah. Pantun Al-Batawi di atas adalah gambaran yang tepat bagi duri penghalang dakwah.

Tentu saja saya tidak bermaksud memojokkan BNPT dan mendiskreditkan Komenminfo, ini hanyalah bagian dari watawashau bil-haq, saling menasihati dalam kebenaran, agar bangsa ini tidak termasuk golongan bangsa yang merugi, sebab jika azab Allah turun akibat ulah para duri dakwah, maka kita semua akan kena batunya.

Dan, hanya orang-orang sombong lagi angkuh yang tidak mau merima nasihat, sebagaimana iblis yang aba wastakbara, enggan menuruti perintah Allah dan bersikap sombong, akibatnya, mereka diberi segala bentuk kesenangan duniawi tapi di akhirat akan dijebloskan dalam neraka.Wallahu A'lam!

Ciawi-Bogor, 5 April 2015

 dimuat oleh TRIBUN TIMUR, 10 April 2015
Ilham Kadir, Penulis tetap di hidayatullah.com & Pengurus KPPSI Pusat

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an