Konsep Cahaya Dalam Islam



Cahaya dan ilmu, adalah dua kata kunci dalam Islam yang memiliki makna sangat filosofis dan mendalam. Keduanya sarat makna dan memiliki konsep masing-masing. Kita mulai dari 'konsep cahaya dalam Islam'.

Agama Islam yang berpandu pada wahyu dan tertuang dalam Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah, menggunakan kata "nur" sebagai cahaya. Nur, dalam bahasa Al-Qur'an dapat bersifat ganda, kadang menjadi nama benda "isem" di lain waktu menjadi "fi''il" atau kata kerja. Karena itu, cahaya adalah kata kerja sekaligus benda.

Demikian adanya, karena cahaya pada hakikatnya adalah benda aktif, cahaya bekerja menerangi kegelapan pada saat yang sama, ada sumber cahaya yang terus bekerja.

Kita liat Firman Allah dalam Al-Qur'an Surah Annur [24]: 35, Allah pemberi cahaya kepada langit dan bumi, perumpamaan cahaya-Nya, laksana sebuah lubang yang tak tembus, di dalamnya terdapat pelita besar. Pelita itu dalam kaca, kaca itu seperti bintang yang bercahaya seumpama mutiara dinyalakan dengan minyak pohon berberkah yaitu zaitun, tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya [berlapis-lapis], Allah membimbing kapada cahaya-Nya siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah membuat tamsil-tamsil bagi manusia, lagi Maha Mengetahui segala sesuatu.

Harus disadari bahwa cahaya yang ada di bumi, berasal dari matahari, bulan, dan bintang adalah atas perintah dan petunjuk Allah, dan karena itu pula, di hari kiamat, ketika sumber cahaya itu sudah dimusnahkan Sang Pencipta, "Apabila matahari digulung dan bintang-bintang berjatuhan" (QS. At-Takwir[81]: 1-2) maka cahaya menjadi urusan masing-masing. Artinya, cahaya yang kita miliki berasal dari kinerja sewaktu kita masih hidup di dunia, maka, Allah memberi pentunjuk hamba-Nya, lewat lisan Nabi-Nya agar melakukan amalan yang dapat menjadi penerang di hari kiamat, plus agar menghindari kerja-kerja sia-sia yang justru memadamkan cahaya dan mendatangkan kegelapan.

Antara sumber cahaya adalah rajin ke masjid menunaikan salat berjamaah sambil berdoa, Ya Allah, berilah cahaya pada hati, telinga, dan mata saya. Ya Allah, jadikanlah di depan dan belakang saya cahaya, di samping kiri-kanang saya cahaya, atas dan bawah saya cahaya. Atau, hadis Nabi lainnya, Barangsiapa membaca sepuluh ayat pertama dan terkahir Surah Al-Kahfi di malam Jumat Allah akan beri dia cahaya di hari kemudian. Sebaliknya, kezaliman, ia akan menjadi sumber kegelapan di hari kiamat, "az-zhulmu zhulumatun yaumul qiyamah," begitu sabda Nabi.

Lalu apa korelasi antara cahaya dan ilmu? Di sinilah pentingnya kita mengkaji khazanah keilmuan para ulama terdahulu, Assalafus-shaleh hadzihil ummah, Imam Syafi'i (wafat 204 H) menulis syair yang sarat pesan, katanya, Syakautu ila waki''i an su'a hifdzhi, fa-arsyadani ila tarkil ma'ashi, fa-akhbarani biannal-'ilma nur, wanurullah la yuhda lil-'ashy. Aku curhat pada guruku tentang susahnya menghafal, ia lalu mengajarkan padaku untuk meninggalkan maksiat, dan memberi petunjuk bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan menerangi mereka yang bermaksiat.

Dalam epistemologi Islam, maksiat terbagi dua, maksiat kepada Allah dengan tidak taat perintah-Nya dan melanggar larangan-Nya. Dan, maksiat sesama manusia, bohong, menipu, khianat, bahkan korupsi yang merampas hak orang banyak.

Kolom ini, akan menjadi media berbagi cahaya ilmu kepada para pembaca. Berbagi berarti tidak ada yang dominan apalagi menggurui, malainkan memiliki posisi tawar yang sama, penulis hanyalah bagian dari pembaca yang terus-menerus belajar dan berdakwah demi agama dan bangsa, menuju Indonesia yang lebih beradab.

Cahaya ilmu dapat diraih dengan merujuk pada panduan wahyu, inilah yang membedakan agama Islam dengan lainnya, sebab, menurut Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, hanya Islam satu-satunya agama wahyu, selain itu, hanya agama budaya. Karena itu, kebenaran dalam Islam bersifat paten dan kekal, berbeda dengan konsep kebenaran menurut agama budaya, ia bersifat relatif selalu berubah sesuai tuntutan zaman.

Pada akhirnya, hanya Allah satu-satunya sumber cahaya dan ilmu menjadi sandaran kita semua. Apa yang benar itu semua dari Allah, dan yang salah pasti dari diri pribadi penulis. Wallahu A'lam!

 
Enrekang, 22 Februari 2015.

Ilham Kadir, Pakar Pendidikan Islam


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an