Keagungan Jumat Mulia

Oleh: Ilham Kadir, Pakar Pendidikan Islam
Hari Jumat adalah penghulu segala hari dan hari yang paling agung di sisi Allah. Bagi Allah, hari Jumat itu lebih utama daripada Idul Adha dan Idul Fitri, pada hari itu ada lima kejadian: Diciptakannya Adam; dia diturunkan ke bumi; dan dia wafat; dikabulkannya setiap doa selain doa yang tidak dibenarkan; dan pada hari itu juga akan terjadi kiamat. Para malaikat, langit, bumi, angin, gunung, dan lautan, semuanya mengagungkan hari Jumat, begitu redaksi Hadis Nabi bersumber dari Lubabah bin al-Mundzir, diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Demikian pula, hadis dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Nabi bersabda, Hari terbaik yang disinari matahari adalah hari Jumat. Pada hari itu, Adam diciptakan, lalu dimasukkan ke surga pada hari itu, dan dikeluarkan dari surga juga pada hari itu. Hadis lain yang bersumber dari Abu Hurairah namun dirawikan Ibnu Khuzaiman adalah, Terbit dan terbenamnya matahari yang paling baik adalah hari Jumat. Hanya jin dan manusia yang gundah gulana pada hari itu, sementara binatang melatah lainnya tidak demikian.

Hari Jumat adalah hari yang mulia, dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memuliakannya. Keutamaan yang besar tersebut menuntut umat Islam untuk mempelajari petunjuk Rasulullah dan sahabatnya, bagaimana seharusnya msenyambut hari tersebut agar amal kita tidak sia-sia dan mendapatkan pahala dari Allah ta’ala. Berikut ini beberapa adab yang harus diperhatikan bagi setiap muslim yang ingin menghidupkan syariat Nabi SAW pada hari Jumat.

Amalan Mulia

Pertama. Bersegera ke masjid. Berdasarkan hadis dari Abu Hurairah, sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah bersabda, Orang yang mandi pada hari Jumat sebagaimana dia mandi junub, kemudian berangkat ke masjid lebih awal, maka dia seolah berkurban dengan seekor unta. Orang yang berangkat pada waktu kedua seakan ia berkurban seekor sapi, orang yang berangkat waktu kedua seakan ia berkurban seekor sapi, orang yang berangkat waktu ketiga seolah ia berkurban seekor domba bertanduk panjang, dan orang keempat dan kelima, seolah berkurban dengan seekor ayam dan telur. Ketika Imam naik mimbar, para Malaikat ikut hadir mendengarkan khutbahnya. Dalam hadis lain, Abu Umamah ditanya, Apakah orang yang datang setelah imam naik mimbar tidak dapat pahala Jumat? Ia pun menjawab, Ya, dia mendapat pahala, tetapi tidak termasuk dalam buku absen para malaikat itu. Hadis lain, Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi berangkat ke masjid untuk salat Jumat dan tidur siang setelah salat Jumat.” (HR. Bukhari). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai salat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada salat Zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388).


Kedua. Memperbanyak Salawat. Nabi bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena salawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shahih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i).

Ketiga. Mandi Jumat. Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang balig berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhari dan Muslim). Mandi Jumat ini hanya diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat salat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi janabah biasa. Rasulullah bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi Jumat seperti mandi junub.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keempat. Menggunakan Minyak Wangi. Nabi SAW bersabda, “Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu salat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khutbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kelima. Salat Sunnah Ketika Menunggu Khatib, sebagaimana sebuah riwayat dari Abu Hurairah r.a., menuturkan bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa mandi kemudian datang untuk salat Jumat, lalu ia salat semampunya dan dia diam mendengarkan khutbah hingga selesai, kemudian salat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim). Dan, adab duduk berdasarkan sabda Rasululllah, bahwa Sahl bin Mu’ad bin Anas mengatakan bahwa Rasulullah melarang al-Habwah (duduk sambil memegang lutut) pada saat salat Jumat ketika imam sedang berkhutbah, (Hasan. HR. Abu Dawud, Tirmidzi).

Keenam. Salat Sunnah Setelah Jumat. Rasulullah bersabda, “Apabila kalian telah selesai mengerjakan salat Jumat, maka salatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi).

Ketujuh. Membaca Surat al-Kahfi. Barang siapa yang membaca surat al-Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat, demikian sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dalam Mustadrak. Abu Sa'I'd Al-Khudri sebagaimana diriwayatkan An-Nasai, Nabi bersabda, Orang yang membaca surah al-Kahfi pada hari Jumat, dia pasti diberi cahaya pada hari itu hingga Jumat berikutnya. Imam Syafi'I rahimahullah menyunahkan membaca surah al-Kahfi baik siang maupun malam Jumat. Hadis Abu Hurairah dirawikan Al-Ashbahani, Nabi bersabda, bahwa orang yang membaca surah Yasin pada malam Jumat, niscaya dia diampuni. Pada hadis lain dari Abu Umamah, diriwayatkan Ath-Thabrani, Orang yang membaca surah ad-Dukhan pada siang atau malam Jumat, Allah pasti membangun sebuah istana di surga untuknya. Wallahu A'lam!

AQL, Tebet-Jakarta, 22 April 2015.

Kolom Cahaya Ilmu, Inilah Sulsel, 24 April 2015.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an