Memperkosa Makna Cinta

Bulan Ferbruari datang, Hari Valentine tiba, muda-mudi siap-siap memadu kasih. Media massa, cetak dan elektronik berlomba mengangkat tema kasih cinta, menjadi corong informasi dan promosi Valentine. Belum cukup, pernak-pernik kasih cinta yang katanya, puncak perayaannya jatuh pada 14 Ferbruari itu dilengkapi dengan aneka promo khusus dari pusat-pusat perbelanjaan. Lebih gila lagi, ada tempat pelesiran menyediakan diskon khusus bagi pasangan muda-mudi luar nikah untuk menginap dan memadu cinta sesat.
 
Begitulah realitas yang ada di sekitar kita, di negeri Indonesia, negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia, yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila yang sarat dengan pesan-pesan moral belandaskan agama. Seperti beradab, berkeadilan, bijaksana, dan penuh dengan hikmah. Nampaknya, para pemuja cinta di hari Valentine adalah manusia-manusia yang tidak beradab dan pasti tidak adil, bahasa vulgarnya, biadab dan zalim. Biadab karena melakukan perbuatan melanggar agama dan norma-norma adat, atau pun adab dalam konteks keindonesiaan. 

Zalim karena mereka yang terjebak dalam alam Valentine dan lalu turut merayakan, sejujurnya telah memperkosa makna cinta secara hakiki. Belum terlambat untuk kembali ke jalan yang benar, memaknai cinta secara proporsional, tidak melanggar aturan agama dan budaya bangsa Indonesia. Agar tidak salah kaprah dalam memaknai dan memperlakukan cinta maka, akan lebih baik kita menyelami dalamnya makna lautan cinta. Apa itu cinta? Cinta adalah kata yang menyejukkan hati siapa saja yang mendengarnya. Kapan pun dan di mana pun. Hal terindah dalam hidup di alam realitas ini adalah mencintai dan dicintai. Cinta melintasi batas teritorial, menembus dimensi ruang dan waktu. 

Cinta tidak terwujud sebagai satu bahasa bagi mereka yang diharu-biru asmara, karena ia adalah bahasa tanpa kata, namun terlembagakan dalam rasa, karsa, dan perasaan batin yang dalamnya melebihi lautan, cinta suci menebarkan nilai-nilai luhur karena kasih sayang, kesantunan, kemaafan, kepedualian, pengorbanan, toleransi, dan berkah bagi kemanusiaan universal. Cinta, lazimnya menjelma dalam gelora pengorbanan demi terciptanya kemaslahatan antarsesama. Andai bumi ini kering dari cinta, niscaya tidak lahir ksatria-ksartia agung di jagad ini. Dengan cinta, Allah menciptakan alam dan isinya, dengan cinta, tegaklan sendi-sendi keadilan dan tampaklah kebenaran. Wajah nyata cinta ialah perilaku ketaatan, kesantuanan, kesetiaan, dan pengorbanan tak terhingga untuk sang pujaan.

Cinta adalah anugerah, maka berbahagialan! Demikian kata Doel Sumbang dalam syair lagunya. Cinta tanpa nilai-nilai luhur kehidupan laksana mawar tanpa siraman air, kata Rabindramnath Tagore. Cinta tidak berkunjung ke tempatmu, dan kau pun tidak bertamu ke tempat cinta. Kau dan cinta akan bertemu di persimpangan, kata Sophia Loren. Tapi, cinta butuh ikatan, seperti kata Michael Ramon, satu-satunya tali pengikat yang memberikan kebebasan kepadamu di dunia ini ialah tali ikatan cinta. Perjuangan menemukan cinta luar memang luar biasa, buta mata tapi melek hati, lihatlah, apa yang dikatakan Dessemona pada kekasihnya yang pengangguran, Pergilah dunia untuk diriku. Bertarunglah melawan musuh-musuhmu. Arungi samudera, taklukkan binatang-binatang buas yang ada di lautan dan daratan. Kemudian, datanglah kepadaku, aku akan menjadi pendamping hidupmu hingga akhir hayatku. Dan cukuplah dengan teka-teki dari Larry King, Pahami perbedaan dua kalimat berikut ini: 'Aku mencintai dirimu' dengan 'Aku ingin menikahi dirimu'. Maha Suci Allah yang telah berfirman, Dialah yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu. Dan, darinya Dia menciptakan isterinya agar dia merasa senang kepadanya, (QS. 7:187).

Jujur, saya suka apa yang diutarakan Marilyn Monroe terhadap mereka yang mengartikulasikan ragam makna cinta, katanya, Aku relakan separuh hidupku untuk mengetahui apa yang dikatakan para pria terhadap wanita yang mereka cintai sebelum mereka menyusun kalimat dalam bait puisi, menulis karya cinta, atau membuat skenario film romantis. Tapi, cinta juga bisa berubah, sebagaimana cuaca, dan jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, akan berubah jadi musibah, ibarat kata Congrive, Tidak ada pergantian yang lebih dahsyat di jagad raya ini, melebihi perubahan cinta di hati wanita berganti kebencian.

 Dalam Islam, Cinta adalah anugerah teragung yang diturunkan Allah ke dalam hati setiap hamba-Nya. Tingkatan cinta paling top alias tertinggi adalah hubbullah (cinta Allah), sebagaimana yang ditradisikan dan diteladankan para salafus-shaleh hadzihil ummah alias generasi terbaik umat ini, para sahabat Nabi, tabi'in, dan pengikut para tabi'in. Begitu pula yang dilalui para manusia sufi yang saleh akidahnya, jauh dari tindakan tahyul, bid'ah dan khurafat, lagi zuhud kehidupan dunianya, namun tamak dan selalu meminta apa yang ada pada Allah. Mereka, telah berhasil meraih kesejatian maqam spritual cinta, sebuah epos cinta yang menembus dimensi ruang dan waktu.

Cinta, memiliki saudara kembar yang selalu melangkah beriringan pada semua wacana dimensi kehidupan ini. Kembaran cinta adalah nilai-nilai luhur kehidupan, seperti tauhid "la ilaha illallah" yang berarti "la ma'bud illallah. Tiada sesembahan berhak disembaha selain Allah", keadilan antar sesama, memperlakukan cinta tanpa zalim, dan tentu saja, cinta tak akan dizalimi dengan memadu kasih tanpa ikatan yang sah lagi halal, termasuk, membuang jauh-jauh perayaan hari Valentine adalah saudara kembar cinta yang sejati. Manusia normal, pasti mengalami dan memiliki kisah cinta dalam hidupnya. Ia tentu meyakini bahwa lazuardi cintanya adalah kisah cinta terdahsyat, paling romantis, dan terluhur tingkat pengorbanannya.

 Setiap orang pasti pernah diharu-biru asmara. Ia dengan bangga, mengajarkan dirinya dengan pangeran atau dewi cinta. Ia merasa dirinya seakan menjadi pahlawan cinta yang siap mempertaruhkan nyawa demi wanita atau pria yang dicintainya. Manusia normal pasti pernah merasakan 'getar' lain di relung kalbunya. Hari-hari dibalut kegalauan, keresahan, pikiran, dan jiwa hanya terfokus kepada sang kekasih. Itulah manifestasi sifat 'Pengasih' Allah kepada segenap hamba-Nya yang bukan berupa kenikmatan jasadiah, melainkan kenikmatan cinta dan mencintai. Keindahan adalah mahkota cinta penguasanya, titahnya dipatuhi, amar perintahnya dijalankan. 

Dengan nilai-nilai luhur ini, cinta menebar kemuliaan, dan keutamaan di hati pegiatnya. Cinta yang bersendikan nilai-nilai utama agama dari wahyu ilahi akan menggelorakan dan menenangkan hidup insani. Sebuah kehidupan yang bertaburkan kasih sayang. Jika terlepas dari nilai-nilai luhur kehidupan, cinta tak ubahnya laksana bunga mawar yang layu karena tidak lagi memeroleh siraman air. Dan, para pemuja Valentine adalah golongan yang tidak hanya melayukan hakikat cinta, tetapi justru membakar dan mencabut cinta dari akar-akarnya, lalu dicampakkan dalam jurang kenistaan. 

Segenap umat Islam Indonesia, terlebih yang berdomisili di negeri Serambi Madinah, Makassar, mari bersama memaknai cinta dengan benar berdasarkan tuntunan agama yang tidak membenarkan untuk memperkosa hakikat makna cinta. Wallahu A'lam!

 Dimuat Harian Tribun Timur 6 Feb 2015. RS. Massenrengpulu-Enrekang, 2 Februari 2015. Ilham Kadir, Pengamat Cinta & Sekretaris Pemuda KPPSI Pusat.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi