Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat



Perlu ada usaha serius untuk menangkal virus liberalisme. Sebuah penyakit yang sengaja ditularkan kepada umat Islam agar jauh dari agama, dan rela menjadi budak Barat.
 
Tersebutlah, Dr. Adian Husaini, cendekiawan muslim Indonesia yang sangat produktif adalah contoh intelektual masa kini dalam memerangi dan menangkal bahaya liberalisme. Berbagai publikasi ilmiah telah ia hasilkan demi melawan bahaya liberalisme, sebut saja buku, Wajah Peradaban Barat. Jakarta: Gema Insani, 2005; Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi. Jakarta: Gema Insani, 2006; Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi. Gema Insani: Jakarta, 2009; Muslimlah daripada Liberal. Gema Insani: Jakarta, 2010.

Buku-buku karya alumni International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) itu, semuanya dikemas dengan metodologi penulisan ilmiah, lengkap dengan catatan kaki (foot note) dengan gaya bahasa yang ilmiah pula, untuk menyasar golongan terdidik, baik pro liberalisme yang merasa sok ilmiah agar mereka tercerahkan lalu kembali sadar, atau yang anti liberalisme agar terus istiqamah di jalan yang benar.

Karena itu, karya Dr. Adian Husaini, dalam bentuk novel memiliki keistimewaan tersendiri. Maka novel "Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat. Jakarta: Gema Insani, 2010" adalah senjata baru penangkal liberalisme yang dapat digunakan oleh berbagai kalangan, khususnya para pemuda dan remaja yang malas membaca buku-buku berat dengan bahasa yang sangat akademis.
Kemi, dikemas dengan khas gaya novel, dialogis dan mudah dicerna, alur bahasanya sangat ringan untuk dimengerti dan siapa pun dapat meniru susunan kata yang terbangun dalam "Kemi".

Secara umum, novel memiliki empat komponen utama berupa bahasa yang sastrawi, tokoh yang dibangun dalam cerita, deskripsi lokasi, tema-tema cerita, dan target yang diinginkan dari para pembaca.

***

Kyai Aminuddin Rois, yang akrab disapa "Kyai Rois" pimpinan Pesantren Minhajul Abidin, Madiun Jawa Timur, memiliki dua santri cerdas dan tekun belajar, yaitu Kemi dan Rahmat. Cerita bermula ketika Kemi tiba-tiba minta izin untuk meninggalkan pondok dengan alasan ingin menambah wawasan di luar, atau di perguruan tinggi. Akhirnya, Kemi ditemani Rahmat untuk minta izin pada Kyai Rois, dengan terpaksa sang Kyai mengizinkan.

Ada pun Rahmat, setelah Kemi keluar dari pondok, sudah mencium gelagat yang tidak beres, bahwa Kemi dijemput dengan Mas Farsan, alumni Minhajul Abidin yang telah menjadi akrifis liberal di Ibu Kota. Rahmat dengan Kyai Rois sangat yakin jika Kemi akan bergabung dan ikut terseret dalam arus deras liberalisme bersama Farsan. 

Kyai Rois dan Rahmat pun menyusun strategi untuk mengembalikan Kemi ke jalan yang benar, namun di lain pihak, Kemi sudah terlampau jauh masuk ke lingkaran akifitas dan aktivis liberalisme dan juga berencana untuk menarik Rahmat bergabung bersamanya, sebab salah satu target para akitivis liberal adalah menggaet sebanyak-banyaknya para santri cerdas untuk ikut tersesat lalu kembali memasarkan kesesatan liberalisme di pesantren kelak.

Karena itulah, Kiyai Rois berusaha membekali rahmat dengan pemahaman yang mumpuni terkait apa itu liberalisme, bagaimana gagasan mereka, apa targetnya, dan sejauh mana bahayanya, serta siapa saja yang dijadikan sasaran utama.

Waktu terus bergulir, Kemi sudah jauh masuk dalam lingkungan dan lingkaran para pengusung liberalisme di bawah yayasan "She-cooler Foundation". Sementara Rahmat tetap tekun belajar bersama Kyai Rois berbagai macam materi yang intinya berusaha melawan liberalisme.

Hingga, suatu ketika, Rahmat mengirim SMS dan meminta Kemi menjemputnya, karena ia hendak singgah di Jakarta beberapa saat sebelum bertolak ke Sukabumi untuk mengantar adiknya, Ruqayah yang akan melanjutkan sekolah di SMA Islam al-Insan. Ruqayah adalah anak cerdas yang mendapatkan beasiswa.

Ketika Kemi menjemput Rahmat dan adiknya, di sanalah terjadi diskusi panjang lebar. Kemi yang sudah populer dan sering tampil di media, baik cetak maupun elektornik sebagai icon baru pemasar liberalisme.
Ketika terjadi dialog, Kemi dengan tegas membela mati-matian pemahamannya yang dikritik habis-habisan oleh Rahmat. "Persepsi Kamu salah... Memang apa salahnya menjadi orang liberal?" Sahut Kemi.
"Menurut saya, Kemi, istilahnya saja sudah salah. Islam kok liberal. Islam itu artinya tunduk dan patuh pada Allah. Kalau ditambah 'liberal', Islam menjadi lain maknanya karena liberal artinya bebas tanpa hambatan. Kata kyai kita, Islam liberal itu artinya islam 'sak karepe dhewe'. Islam semaunya sendiri. Mau halal, dibikin halal. Mau haram bisa dibikin haram".

"Itu salah. Liberal di situ artinya bukan 'semaunya sendiri', tetapi artinya 'membebaskan'. Jadi, Islam liberal itu adalah Islam membebaskan dari kejumudan, kekolotan, kekakuan, kefanatikan, dan kesempitan berfikir seperti banyak terjadi pada beberapa kelompok Islam sekarang ini, yang berfikirnya sempit."

Rahmat menukas kata-kata Kemi, "Tetapi juga membebaskan dari Islam itu sendiri kan? ...ha ha ha. Itu tidak sesuai dengan kenyataan. Wong Islam liberal seperti yang kamu omongkan dan kamu tulis adalah Islam yang baru, Islam tidak sama dengan Islam yang ada. Kamu kan buat-buat pemahaman yang baru, yang aneh. Makanya banyak kyai kita yang marah sama pemikiran liberal seperti yang kamu sebarkan."

"Ah... Coba tunjukkan, pemamahan yang mana yang salah dan aneh dari liberal, supaya jelas tidak salah paham! Pemikiran itu dianggap aneh, mungkin karena hanya kamu belum terbiasa saja. Lama-lama, kalau sudah biasa juga akan terbiasa dan tidak aneh." Sahut Kemi.

Rahmat kembali menegaskan, "Lho, masa kamu nggak tahu, apa pura-pura nggak tahu. Kita sama-sama di pesantren. Kita kan sama-sama tahu, kita ngaji bareng. Kitab-kitab yang kita kaji dulu sudah jelas posisinya. Para guru kita mengajarkan bahwa hanya agama Islam yang diterima Allah. Tetapi orang liberal bilang, semua agama benar, semuanya jalan sah menuju Tuhan. Bagaimana bisa begitu? Jadi, tidak ada bedanya menjadi orang Islam dengan orang kafir. Malah ada yang bilang, yang penting berbuat baik pada sesama manusia, tidak peduli iman atau tidak. Kan itu pikiran jelas-jelas ngawur dalam pandangan aqidah Islam. Kamu buka lagi kitab 'Sullamut Taufiq'. Jelas sekali digambarkan bagaimana bahayanya paham dan tindakan murtad. Orang murtad yang keluar dari Islam yang akidahnya rusak, tidak diterima amalanya oleh Allah. Ini kan ajaran yang sangat mendasar dalam Islam, dan kitab-kitab kita di pesantren sudah mengajarkan seperti itu sejak tingkat ibtidai'yah."
Diskusi kedua sahabat yang sekarang sudah jauh beda ideologi namun tetap akrab secara personal pun tak kunjung selesai, hingga Rahmat menegaskan, bahwa sahabatnya itu, bukan lagi Islam sebenarnya tapi Islam liberal. "Berarti kamu bukan Islam, tapi Islam liberal. Islam liberal kan tidak sama dengan Islam".

Kemi menantang, "Rahmat... Rahmat... di sinilah perlunya kamu banyak bergaul. Kalau kamu di pondok terus, kapan kamu akan maju. Saya yakin, kalau kamu bergaul dengan banyak orang dari berbagai agama, kamu pasti akan berubah. Tidak kolot seperti ini. Tidak ekslusif. Nanti kamu akan sampai pada kesimpulan bahwa Islam itu ya seperti agama-agama lain. Tidak perlu diistimewakan dari agama lain. Saya tidak melihat ada yang perlu diistimewakan dari agama Islam. Itu yang terjadi pada banyak teolog, tokoh agama, dan ilmuan, kalau pergaulannya sempit, ya pikirannya sempit juga. Cobalah... Jangan hanya berani tinggal di 'kandang' saja. Coba buktikan bahwa kamu tidak bisa berubah setelah kamu teribat dalam pergaulan dengan berbagai jenis manusia. Berani nggak? Jangan hanya menyalahkan orang lain dan hanya berteori!"

Setelah berfikir sejenak, Rahmat menjawab tantangan Kemi, "Okelah Kemi. Nanti kita buktikan, teori kamu itu benar atau tidak. Insya Allah, saya tidak takut bertemu dengan berbagai orang dari berbagai agama. Saya yakin tidak akan berubah seperti kamu.

***

Rahmat kembali ke Pondok Pesantren Minhajul Abidin bertemu Kyai Rois, dan melaporkan pertemuannya dengan Kemi yang sudah menjadi pentolan liberal di ibu kota. Ia juga menyampaikan kesanggupannya memenuhi tantangan Kemi untuk bergabung dengan Kemi dan lingkarannya di "She-cooler Foundation".

Kyai Rois lalu menyusun strategi, membekali Rahmat dengan pengetahuan mendalam terkait paham sekularisme, liberalisme, dan pluralisme (Sipilis). Yang menjadikan Kyai Rois begitu antusias melawan Kemi karena ia membawa nama pesantren. "Saya paham itu, Rahmat, saya paham pemikiran-pemikiran Kemi. Masalahnya, ia membawa nama pesantren. Ia sering mangaku sebagai alumni pesantren Minhajul Abidin sehingga ada wali santri yang menanyatakan kepada saya, apakah pemikiran Kemi itu diajarkan juga di pesantren ini?". 

Rahmat lalu diajak masuk ke dalam ruangan khusus Kyai Rois yang penuh dengan koleksi ragam buku-buku, beberapa di antaranya sangat penting untuk dibaca dan dipahami Rahmat agar mengerti betul secara historis dan filosofis apa itu liberalisme. Rahmat diminta untuk membaca menelaah beberapa buku, lalu membuat resensi setiap buku yang telah ia baca.

Setelah dilihat mampu menguasai materi liberalisme, sebelum berangkat untuk bergabung dengan kelompok Kemi, Rahmat diarahkan oleh Kyai Rois untuk berguru ke Kyai Fahim di Ponorogo. Kyai Fahim adalah ulama dan intelektual muda yang sangat produktif, tulisan-tulisannya terkait liberalisme sudah begitu banyak, dipublikasikan, baik di dalam maupun di luar negeri. Sudah setahun lebih Kyai Fahim memimpin satu program khusus kaderisasi ulama pesantren dalam bidang pemikiran Islam.

Pada awalnya, Rahmat harus berdiam di pondok Kyai Fahim selama enam bulan, mengikuti pelatihan sebagai kader ulama muda se-Indonesia, namun karena dinilai kemampuannya di atas rata-rata, maka cukup satu minggu saja, ia sudah mampu menguasai materi liberalisme dengan baik, lalu Rahmat pun dinyatakan lulus dan bisa melanjutkan petualangannya, menyadarkan Kemi dan mengajak ia kembali ke Pondok Minhajul Abidin.

Kemi pun menuju Ibu Kota, lalu tinggal menetap di pinggiran Jakarta, tepatnya di kota Depok. Di sana ia tinggal bersama Kemi, dan mendaftar masuk di kampus Damai-Sentosa. Rahmat menyaksikan suasana kampus sangat terbuka dan akrab satu sama lainnya. Dari mahasiswa, dosen, sekretaris rektor, sampai rektornya seperti teman-teman dekat saja. Hampir tidak ada jarak di antara mereka.

Ketika Kemi memperkenalkan Rahmat kepada Pak Malikan sebagai rektor kampus Damai-Sentosa, ia begitu cepat akrab. Rektor yang sudah tahu bahwa Rahmat akan kuliah di sini memberi pertimbangan.

"Kamu jangan terburu-buru masuk, Rahmat. Pikirkan dulu masak-masak. Saya dengar dari Kemi bahwa kamu seorang ustadz yang hebat dan sangat taat ibadah. Kuliah di sini tidak akan mengubah apa-apa dari kamu. Kamu tetap tetap seperti sekarang, tidak perlu berubah. Kami menghargai semua jenis keyakinan dan ibadah. Kami ingin menunjukkan bahwa semua manusia bisa hidup damai-sentosa dalam kayakinan dan agama apa pun."

Katanya, di sini orang ateis juga ada, Pak? Tanya Rahmat.
Ya, Ada. Mereka juga manusia yang harus kita berikan hak dan kebebasan untuk meyakini kepercayaannya. Mereka bukan tidak percaya pada Tuhan. Hanya Tuhan mereka itu tidak mengikuti konsep Tuhan agama tertentu. Mereka buka anti-Tuhan. Tuhannya saja yang konsepnya beda karena setiap manusia merumuskan konsep Tuhannya, sesuai dengan pengalaman dan tradisi agama atau kepercayaannya masing-masing, jawab Pak Malikan.
Tapi, maaf Pak, konsep Tuhan dalam Islam yang saya pahami bukanlan bikinan manusia, tapi berasal dari wahyu, yaitu Al-Qur'an, jawab Rahmat dengan tenang.

Yang mengumpulkan Al-Qur'an itu kan juga manusia, Pak Malikan menukas.
Tapi, bukan manusia sembarangan kan Pak. Mereka manusia-manusia pilihan, dan diputuskan secara kolektif [Ijma']," tukas Rahmat.

Diskusi selesai dan Rahmat resmi diterima sebagai mahasiswa di kampus Damai-Sentosa. Kampus ini dikelolah dengan sistem mirip konsep homeschooling untuk anak sekolah dasar dan menengah. Kampus ini berafiliasi dengan sejumlah kampus di luar negeri. Tidak terlalu menginduk ke Depdiknas, namun ijazahnya diakui di beberapa negara.

Rahmat sendiri tidak sangka begitu muda ia diterima sebagai mahasiswa dan mendapatkan beasiswa dari yayasan She-cooler Foundation. Hanya sepuluh mahasiswa yang dapat kehormatan menerima beasiswa.

Di kampus Damai-Sentosa, Rahmat bertemu dengan Siti Murtafiah yang akrab dipanggil "Siti", putri salah seorang Kyai kesohor dari Serang Banten yang menjadi pelopor gerakan penolakan terhadap RUU Anti-Pornografi, ia juga telah mengajukan permohonan ke Mahkamah Konstitusi untuk mencabut UU Penodaan agama, dan Siti adalah pengusung ide-ide liberalisme yang menuduh para ulama telah bersikap diskrimanatif terhadap para perempuan, atau menindas perempuan. Ulama terlalu maskulin, begitu kata Siti.
Karena itu, ketika Siti melayankan SMS untuk ketemu dengan Rahmat di Masjid Muslihun milik Kampus Damai-Sentosa, Rahmat tertanya-tanya, apa sebenarnya keinginan Siti.

Pertemuan pun berlangsung, Siti ingin tahu, apa misi yang melatari Rahmat sehingga ia terdampar di kampus pemasok ide-ide liberalisme ini?
"Misi saya sudah jelas, saya ke sini karena terjebak omongan saya sendiri, menerima tantangan Kemi untuk masuk ke kampusnya dan ke lingkungan pergaulannya. Ia punya teori bahwa orang akan berubah pikirannya kalau masuk ke lingkungan yang berbeda. Saya katakan, tidak mesti. Bergantung pada orangnya. Maka, ia tantang saya untuk masuk ke lingkungannya, untuk membuktiikan apakah saya akan berubah atau tidak. Saya sanggupi tantangannya." Jawab Rahmat.

Karena Siti pernah mengatakan pada Rahmat bahwa Farsan, Kemi, dan dirinya adalah korban, maka Rahmat mendesak Siti, "Yang kamu bilang korban itu siapa?"

"Saya sekarang sadar. Bahwa Kemi dan saya telah menjadi korban ketidak-tahuan dan tergoda impian kebebasan. Semula saya berfikir, aktivitas ini ini sekadar latihan dan coba-coba. Saya melihat di sini ada kebebasan yang jauh berbeda dengan yang saya alami di pesantren... Cobalah perhatikan, saya juga baru menyadari belakangan ini. Saya sudah tersesat semakin jauh. Dulu saya tertarik karena selalu dikatakan bahwa kita mengembangkan sikap terbuka, kritis, rasional, tidak partisan. Tapi, ketika masuk ke lingkungan ini, kita tidak punya pilihan, kita juga dididik untuk menjadi partisan. Jika dulu ilmuan muslim mengutip pendapat Imam Syafi'I, Imam Al-Gazali dan sebagainya, maka sekarang justru yang dibangga-banggakan adalah ilmuan-ilmuan orientalis. Bahkan karya-karya para ulama itu diakal-akali agar sesuai dengan pikiran mereka. Tanpa sadar kita disuruh membenci sesama muslim... Perhatikan juga apa yang selalu diomongkannya ia tidak lagi bicara tentang akidah Islam. Tidak pernah ia mengatakan iman itu penting, kesalehan itu penting. Tidak bicara lagi tentang bahaya kemusyrikan dan kemurtadan. 

Bahkan kata syirik, kafir, itu sudah dicoret dari kosakatanya. Syirik dan iman dianggap sama saja. Mukmin tidak mukmin dianggap sama, Islam bukan Islam disama-samakan. Padahal Al-Qur'an jelas-jelas membedakan derajat orang mukmin dengan derajat orang kafir. Saya kadang bertanya, mengapa saya menjadi begini. Bahkan kepala saya yang ada bukan lagi bagaimana memahami Al-Qur'an dengan baik dan benar, tetapi bagaimana agar Al-Qur'an bisa saya gunakan untuk mendukung pemahaman saya tentang pluralisme..."
Setelah Rahmat mendengar penjelasan dan curahan hati Siti begitu panjang lebar. Seakan telah membuka tabir gelap dan kotak pandora yang selama ini menyelimuti dunia Kemi dan kawan-kawannya, juga tentang kebebasan yang diusung kampus Damai-Sentosa.

Nampaknya Siti sangat percaya sama Rahmat, karena dinilai memiliki penampilan yang kontras dengan Kemi, Rahmat adalah tipe santri yang saleh, cerdas, pintar, tanpan, dan berpostur tegap. Wanita normal mana pun dapat terpikat dibuatnya. Namun, kemampuannya mementalkan logika-logika yang dibangun Prof. Malikan adalah awal dari ketenarannya, dan menjadi buah bibir para mahasiswi.

Rahmat bahkan melangkah lebih jauh. Ketika sebuah diskusi diadakan oleh kampus Damai-Sentosa dengan menghadirkan seorang Kyai hebat yang dikenal lantang membela faham liberalisme, Rahmat berhasil mementalkan argumen-argumen Kyai Dulpikir yang berasal dari Jawa Barat itu.
Sang Kyai, menjustifikasi paham liberalnya dengan mengutif ayat, Sesungguhnya orang-orang yang beriman dari Yahudi, Nasrani, shabi'in, dan siapa saja di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir, melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati, (QS. Al-Baqarah: 62).
Dulpikir menafsirkan ayat ini dengan merujuk pada 'Tafsir Al-Manar" karya Rasyid Ridha. Katanya, Jadi, untuk meraih keselamatan seseorang hanya disyaratkan beriman kepada Allah, iman kepada hari pembalasan, dan beramal saleh tanpa wajib beriman kepada kenabian Muhammad SAW."

Mendengar pendapat Kyai Dulpikir yang nyeleneh itu, Rahmat berani tampil meluruskan, "Maaf, Pak Kyai yang saya hormati, apa yang Pak Kyai sampaikan itu jelas-jelas keliru. Rasyid Ridha sama sekali tidak berpendapat seperti itu. Saya sudah mengecek Tafsir Al-Manar. Penjelasan tentang keselamatan kaum Yahudi dan Nasrani dibahas dalam jilid IV. Disebutkan bahwa, surah al-Baqarah ayat 62 dan al-Maa'idah ayat 69 adalah membicarakan keselamatan Ahlul-Kitab yang kepada mereka dakwah Nabi (Islam) tidak sampai menurut yang sebenarnya, dan kebenaran agama Islam tidak tampak bagi mereka. Karena itu, mereka diperlukan seperti Ahlul-Kitab yang hidup sebelum kedatangan Nabi," jelas Rahmat.

Tidak hanya itu, Rahmat menjelaskan secara gamblang bahwa untuk kaum Yahudi dan Nasrani yang telah sampai dakwah Islam pada mereka berdasarkan "Tafsir al-Manar" maka yang berlaku adalah ketentuan surah Ali Imran ayat ke-199, Rasyid Ridha menetapkan lima syarat. Pertama, beriman kepada Allah dengan iman yang benar, yakni iman yang tidak bercampur dengan kemusyrikan dan disertai dengan ketundukan yang mendorong untuk melakukan kebaikan. Kedua, beriman kepada Al-Qur'an yang diwahyukan kepada nabi Muhammad. Mereka mengatakan bahwa syarat ini disebutkan lebih dahulu daripada tiga syarat lainnya, karena Al-Qur'an merupakan landasan untuk berbuat dan menjadi pemberi koreksi serta kata putus ketika terjadi perbedaan. Hal ini lantaran kitab itu terjamin keutuhannya, tidak ada yang hilang dan tidak mengalami pengubahan. Ketiga, beriman kepada kitab-kitab yang diwahyukan pada mereka. Keempat, rendah hati (khusyu) yang merupakan buah dari iman yang benar dan membantu untuk melakukan perbuatan karena iman. Kelima, tidak menjual ayat-ayat Allah dengan apa pun dari kesenangan dunia.

Rahmat menambahkan, Kalau Pak Kyai punya pendapat, katakan itu pendapat saya. Jangan memitnah ulama. Itu tidak baik, apalagi bagi orang yang bergelar kyai. Dosa Pak Kyai dobel. Satu dosa salah tafsir dan kedua dosa memitnah ulama. Saya mohon Pak Kyai tidak mengulangi lagi!"
Mendengar sanggahan Rahmat, Kyai Dulpikir walaupun dipermalukan, ia mulai menyadari akan kesalahannya, dan kembali ke jalan yang benar. Namun, secara tiba-tiba, ia terjatuh dari kursinya, lalu meninggal. 

Berbagai media massa mengangkat berita meninggalnya Kyai Dulpikir sebagai headlines news, bahkan salah satu media Islam menulis tema berita, 'Kyai Liberal Meninggal Setelah Bertobat".

***

Sebelum terkapar, Kyai Dulpikir sempat bebicara kepada Kemi, karena itu hanya Kemi yang tau jika sang Kyai sudah menyadari kesalahannya dan bertobat.

Namun, kematian Kyai Dulpikir sekaligus membawa petaka bagi Kemi dan kelompoknya. Ia dinilai gagal mengarahkan Rahmat agar ikut serta membela liberalisme. Malah ia berbalik menjadi senjata makan tuan, mengobrak-abrik agenda Kemi dan She-cooler Foundation.

Roman, yang menjadi motor dan agen penggerak liberalisme meradang akibat meninggalnya Kyai Dulpikir, dan Kemi dianggap telah gagal padahal selama ini dana-dana yang dicairkan Roman terus mengalir dan melimpah.
Siti, yang tempo hari menemui Rahmat untuk curhat terkait keadaan dirinya, serta program-program liberalisme ternyata dimata-matai oleh orang-orang Roman.

Akhirnya, Siti dan Kemi diculik lalu disiksa. Siti beruntung karena cepat diselamatkan oleh Rahmat, sementara Kemi tidak hanya terkapar di rumah sakit, bahkan ia sampai hilang ingatan dan dimasukkan ke rumah sakit Jiwa di Bogor.

Peran Rahmat dalam menyelamatkan Siti dari komplotan Roman serta kemampuannya menjadi penghubung pada orangtuanya, Kyai Haji Amin Ma'rifat, seorang ahli fikih tersohor di Serang Banten dengan meyakinkan orang tua Siti bahwa Siti benar-benar telah insyaf dan kembali ke jalan yang benar, dan sekarang masih dalam kondisi rawat inaf di Rumah Sakit Al-Razi Depok. Dan sang kyai dan keluarganya pun percaya pada Rahmat sehingga mereka bergegas menemui Siti.

Benih-benih cinta antara Siti dan Rahmat tak terbendung lagi, bahkan Kyai Amin, sangat mendambakan jika Rahmat kelak menjadi menantunya.
Dalam suratnya kepada Rahmat, Siti sangat berterimah kasih, karena telah menyadarkan dirinya, Saya terpesona oleh fatamorgana kebebasan dan kegemerlapan, laksana istri Aladin yang terpukau dengan kilau lampu baru yang tidak berkhasiat apa-apa, tulis Siti. Dan mengisyaratkan jika dirinya memang jatuh cinta pada Rahmat, namun ia untuk sementara ingin fokus pada dakwah.

Ilham Kadir, Penulis Novel "Petuah Panrita" dan Mahasiswa Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor.
***

Judul Novel : Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat
Jenis Novel : Pemikiran
Penulis: Dr. Adian Husaini
Penerbit : Gema Insani
Cetakan ke-5. Thn.  2013
Halaman : 316.
ISBN : 978-879-077-220-5.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena