Cinta Karena Allah



Lumrah jika manusia selalu berbicara tentang cinta, sebab, tanpa cinta, jangankan, saya, Anda, dunia, dan seisinya pun tak akan wujud tanpanya. Ibnul Qayyem dalam "Al-Jawab Al-Kafi Liman Sa'ala 'an Dawa' Asy-Syafi" menulis, Pergerakan alam semesta berpangkal pada cinta.

Begitu pula, kehidupan setelah kematian yang dalam diskursus teologis disebut akhirat akan bermuara kepada satu kata, yaitu cinta. Karena cinta, sehingga alam akhirat yang terdiri dari dua tempat, surga dan neraka tercipta.

Agama mengajarkan bahwa para pegiat cinta karena Allah adalah manusia-manusia saleh yang kelak akan mendapatkan surga. Manusia saleh adalah yang selalu taat menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya karena didasari rasa cinta yang mendalam pada tuntunan agama.

Cinta itulah yang selalu mewujud dalam aktifitas sehari-hari, bahkan, saling mencintai antarsesama manusia pun karena Allah. Dalam sebuah riwayat kitab shahih Bukhari-Muslim bahwa ada tujuh golongan manusia di hari akhirat yang akan mendapatkan naungan dari Allah, yang saat itu, tidak ada naungan kecuali dari-Nya, dalam keadaan matahari hanya sejengkal dari kepala, dan banyak manusia berenang di atas keringatnya sendiri akibat kepanasan, di antara tujuh golongan yang mendapat payung itu adalah, dua orang lelaki yang saling mencintai karena Allah, bersama dan berpisah karena Allah.

Cinta dengan dorongan agama seperti di atas akan melahirkan energi dahsyat untuk terus-menerus bermuamalat dengan dasar cinta. Sebaliknya, para penyembah thagut adalah golongan yang melakukan ibadah selain Allah karena dorongan cinta pada sesembahan selain-Nya. Cinta mereka pada hakikatnya adalah semu dan berujung pada penyesalan tak berakhir. Apa yang mereka kejar hanyalah fatamorgana, laksana orang haus yang meminum air laut, hanya akan mendatangkan kehausan tak berkesudahan. Energi yang dilahirkan dari cinta dunia dan penyembah thagut hanyalah energi negatif dalam pandangan agama, sebab mereka berada dalam kesesatan yang nyata.

Suatu ketika Nabi menangis, para sahabat pun bertanya-tanya, Apa yang membuatmu menangis wahai Rasulullah? Aku kangen pada kesasih-kekasihku, jawab Nabi. Bukankah kami ini para kekasihmu Ya Rasulullah? Protes Sahabat. Rasul menjawab, Bukan. Kalian adalah para sahabatku, ada pun kekasihku adalah mereka yang datang setelah aku meninggal, beriman kepadaku, padahal mereka belum pernah melihatku. Begitu narasi sebuah hadis sahih tentang cinta Nabi pada kekasihnya, yang mungkin saja, manusia itu adalah kita semua, selama kita beriman dan cinta pada beliau walau terpaut waktu belasan abad lamanya.

Memang, inti dakwah Nabi dari awal hingga akhir adalah penyembahan kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya, yang mencakup kesempurnaan cinta, tunduk dan merasa hina di hadapan-Nya, pengagungan dan penghormatan, hingga taat dan takwa.

Hadis bersumber dari Anas yang diriwayatkan Bukhari-Muslim, bisa menjadi pegangan, Rasul bersabda, Demi Zat yang diriku kehidupanku dalam genggaman-Nya, tidaklah sempurna iman di antara kalian, hingga aku menjadi orang yang paling dia cintai melebihi anak, orang tuanya, dan seluruh umat manusia.

Hadis lain, Umar bin Khattab barkata, Rasulullah, demi Allah, engkau orang yang paling aku cintai melebihi segala sesuatu, kecuali diriku sendiri. Rasul menjawab, Tidak Umar! Hingga aku menjadi orang yang lebih engkau cintai dari dirimu sendiri. Umar menjawab, Demi Zat yang telah mengutusmu dengan hak, sungguh engkau adalah orang yang paling aku cintai melebihi diriku sendiri. Maka Rasulullah bersabda, "Umar, sekarang baru sempurna imanmu!" (H.R. Bukhari).

Selain mencintai diri pribadi Rasulullah, cinta pada ajarannya adalah yang paling utama, sebab, Nabi ada batas umurnya, hanya peninggalan berupa wahyu yang tertuang dalam Al-Qur'an Sunnah-sunnahnya masih tersisa.

Menurut Ibnul Qayyem dalam "Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul-Musytaqqin", Kebaikan hamba yang paling besar ialah jika dia mengalihkan semua kekuatan cinta kepada Allah semata, sehingga dia mencintai Allah segenap hati, ruh, dan raganya. Dia menunggalkan kekasih dan cintanya, yang sejatinya, cinta tak akan istiqamah kecuali dengan cara demikian. Cinta seperti ini pula yang akan menjadi tujuan kebaikan manusia, puncak kenikmatan dan kesenangannya, hatinya tidak merasa memiliki kenikmatan kecuali menjadikan Allah dan Rasul-Nya yang paling dia cintai. Cintanya murni karena Allah, sebagaimana tertuang dalam hadis yang diriwayatkan, Bukhari-Tirmidzi-Nasa'I, bahwa, Tiga perkara, siapa yang tiga perkara itu ada padanya, maka dia mendapatkan manisnya iman: Siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya; Siapa yang mencintai seseorang dia tidak mencintai melainkan karena Allah; Siapa yang enggan kembali dalam kekufuran setelah Allah menyelamatkan dari kekufuran itu, sebagaimana dia enggan untuk dilemparkan ke dalam neraka.

Bahkan, menurut Ibnul Qayyem, Kenikmatan yang ada di dunia ini terbagi menjadi tiga macam. Pertama, Kenikmatan fisik, meliputi, makan, minum, dan bersetubuh. Kenikmatan ini, sama persis dengan kenikmatan yang dirasakan oleh binatang. Kedua, Kenikmatan khayalan dan angan-angan, berupa kenimatan kekuasaan, kemapanan hidup di depan manusia, serta kemampuannya membanggakan diri atau menyombong kepada mereka. Ketiga, berupa kenikmatan intelektual dan rohani, berupa kenikmatan ilmu pengetahuan, memiliki sifat kesempurnaan seperti murah hati, dermawan, menjaga kehormatan diri, pemberani, sabar, lemah lembut, dan sejenisnya. Ini termasuk kenikmatan yang terbesar, menjadikan jiwa terpandang dan terhormat. Jika kehormatan ini disempurnakan dengan kenikmatan ma'rifatullah, mencintai Allah, menyembah-Nya semata tidak menyekutukan-Nya, ridha pada-Nya, maka orang yang berada pada tahap ini telah berada di surga dunia.

***

Pertengan Februari ini, tepatnya tanggal 14, yang jatuh esok hari, selalu mendatangkan polemik bagi umat Islam Indonesia. Betapa tidak, sebuah ritual tahunan milik umat Kristiani yang disebut Hari Kasih Sayang atau Valentine's Day juga kerap dilakukan  umat Islam Indonesia, khususnya muda-mudi.

Event ini, dalam pantauan penulis mendapat dukungan dari berbagai pihak. Hotel Sahid Makassar misalnya, menyediakan paket khusus untuk pasangan kekasih yang merayakan Valentine, seperti makan dengan menu dan harga khusus. Ini baru satu contoh, belum termasuk pusat perbelanjaan lainnya, atau pelesiran yang memberikan wadah sebesar-besarnya kepada muda-mudi demi merayakan hari Kasih Sayang.

Masalahnya tidak sesederhana itu. Mayoritas yang merayakan Valentine adalah mereka yang belum diikat tali pernikahan, itu berarti membebaskan muda-mudi kita untuk melakukan perbuatan zina yang jelas terlarang, baik budaya bangsa kita, apalagi agama.

Sejujurnya, Valentine's Day adalah bagian dari propaganda Barat yang didukung Yahudi untuk menyesatkan para generasi kita, supaya mereka terus berkubang dalam dosa dan maksiat yang tak berkesudahan. Mereka pun dipancing dengan cokelat, lalu disempurnakan dengan kondom. Target mereka jelas, menjauhkan kita dari cinta pada Allah dan berbalik mencintai hawa nafsu yang dibungai-bungai oleh iblis, setan, dan laskar-laskarnya.

Ibnu Hazm dalam "Thauq Al-Hamamad fi Ilfah wal Ullaf" mengajarkan kita batas-batas cinta, katanya, Antara perbuatan-perbuatan utama yang harus dikerjakan oleh manusia, terutama oleh mereka yang sedang jatuh cinta adalah memelihara kesucian diri, menjauhi kemungkaran dan kemaksiatan, menjalankan dan tidak melanggar ketentuan-ketentuan Allah, dan tidak pula menyimpang dari perintah-Nya

Cinta dalam Islam berbeda dengan apa yang dipahami manusia sekuler seperti ucapan Nietzche sebagaimana dikutif Ibrahim Nafie dalam "Kalam fil Hubb wa ash-Sabr", ilmuan bersar itu menulis, Cinta adalah penyakit. Ia membuat orang lemah di hadapan insan yang dicintainya. Cinta membuat orang menjadi tawanannya. Ia menyembabkan candu kehidupan, seakan-akan hidup tak punya arti tanpanya, dan seseorang harus memiliki kebergantungan dengannya, oleh sebab itu, aku tidak mau terjerat cinta. Dan tidak akan menoleransi diriku terjebak cinta untuk selama-lamanya.

Itu karena Nietzche memahami bahwa cinta hanya berdimensi sekuleristik sebuah kondisi yang hanya terjadi pada masa kini di sini, tidak menyisakan dimensi ukhrawi, bahwa cinta bisa dibawa sampai mati sebagaimana pesan agama, siapa yang kita cintai, maka dengan itulah kita akan dibangkitkan. Jika mencintai setan, iblis dan para laskarnya, maka dengan merekalah kita dibangkitkan. Tetapi jika cinta yang kita miliki dengan landasan agama dan karena Allah, maka, semua itu akan terasa indah, dan kelak kita akan dibangkaitkan dengan mereka. Jangan sia-siakan umur Anda dengan melakukan perayaan cinta di tanggal 14 Februari ini. Wallahu A'lam!

Enrekang, 11 Februari 2015.

Ilham Kadir, Peserta Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) BAZNAS-DDII/Mahasiswa Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an