Rasulullah dan Sakratul Maut

Ketika Nabi Muhammad pulang sehabis menunaikan 'haji wada'' atau haji perpisahan, ia jatuh sakit. Hari demi hari penyakitnya kian parah, terlihat dari ucapan dan pandangan matanya, seolah ia akan meninggalkan dunia dan umatnya. Ketika demam yang dideritanya semakin parah, firasatnya mengatakan jika dirinya akan segera berpindah alam, dan berpesan kepada para sahabatnya.

Sang Nabi, membalut kepalanya, lalu menyuruh Fadhl bin Abbas untuk mengumpulkan manusia di masjid, setelah berkumpul, ia dipapah oleh Fadhl menaiki mimbar, memuji Allah, lalu bersabda, Amma ba'du. Masa pergantian itu telah dekat, dan kalian tidak akan melihatku kembali ke tempat ini. Maka siapa saja yang aku telah memukul punggungnya, inilah punggungku, hendaknya ia membalasnya. Barangsiapa aku ambil hartanya, inilah hartaku dan ambillah. Barangsiapa aku cela kehormatannya, maka hendaklah ia membalasnya. Jangan sampai salah seorang dari kalian khawatir aku akan dengki padanya. Kedengkian bukan sifat dan karakterku. Yang paling aku sukai dari kalian adalah yang berani mengambil kembali haknya yang mungkin telah aku rampas, atau memaafkan aku. Sehingga kelak aku menghadap Allah dalam keadaan tidak menzalimi seorang pun.

Rasulullah kemudian balik kerumah. Masih demam tinggi, dengan susah payah ia berusaha keluar untuk salat berjamaah di masjid bersama para sahabat. Waktu itu salat Magrib di hari Jumat, setelah salat, ia pun kembali ke rumahnya. Demamya terus meninggi, para sahabat menyediakan kasur tempat ia berbaring. Dan sakitnya kian parah.

Para sahabat lainnya telah berkumpul di masjid untuk menunaikan salat Isya. Mereka menunggu Rasulullah untuk keluar mengimami salat sebagaimana waktu Magrib. Di lain pihak sakit Nabi semakin parah, tetap berusaha bangkit, namun tak mampu, mencoba kembali berdiri dengan sangat pelan. Sebagian orang berseru, Salat... Salat...!

Rasulullah menatap orang sebelahnya dan bertanya, Apakah orang-orang sudah salat? Belum. Mereka menunggumu, Wahai Rasulullah, jawab mereka. Demam yang disertai panas badan yang begitu tinggi membuatnya tak mampu bangkit. Beliau berkata, Tuangkan air dalam bejana. Para sahabat pun memenuhi permintaannya dengan menuangkan air dingin dan meletakkan dekatnya untuk mengompres badan Nabi. Dan suhu badannya pun menurun. Ketika agak sedikit merasa segar, beliau meminta agar bejana itu disingkirkan dari tubuhnya.

Lalu mencoba bangkit dengan kedua tangannya, dan, terjatuh pingsan. Begitu siuman, pertama kali ia tanyakan, Apakah orang-orang sudah salat? Mereka menjawab, Belum, Wahai Rasulullah. Mereka menunggumu. Tuangkan air dalam bejana agar aku dapat membasuh, pinta Rasul. Para sahabat memenuhinya.

Ketika sedikit merasa lebih enak, beliau hendak berdiri, namun kembali pingsan untuk kedua kalinya. Ketika siuman, pertama kali ia tanyakan, Apakah orang-orang sudah salat? Mereka menjawab, Belum. Mereka menunggumu wahai Rasulullah.

Peristiwa ketiga terjadi seperti yang kedua. Kembali pingsan. Maka untuk yang keempat kalinya, Rasulullah sudah menyadari bahwa jasadnya tak mungkin mampu untuk bangkit, ia lalu menoleh ke arah kanang sambil bersabda, Suruh Abu Bakar untuk mengimami mereka. Abu Bakar pun bergerak memenuhi permintaan sang Rasul yang dipandu dengan wahyu. Abu Bakar menjadi imam salat, diiringi dengan tangis kesedihan yang membuat para makmun tidak mampu mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur'an dengan jelas. Akhirnya salat Isya rampung ditunaikan. Lalu mereka kembali berkumpul pada subuh harinya untuk melaksanakan salat berjamaah yang kembali diimami oleh Abu Bakar as-Shiddiq, mertua Rasulullah.

Begitulah yang terjadi pada hari berikutnya. Para sahabat salat di bawah kepemimpinan Abu Bakar. Sementara Rasulullah tetap tidak berdaya di atas kasur, hingga ketika salat Zuhur atau Asar tiba pada hari Senin, Rasulullah merasa kondisinya agak membaik. Beliau lalu memanggil Abbas dan Ali, untuk memapahnya keluar dari kamar. Perlahan, kedua kakinya menapaki jalan, menyingkap tabir yang memisahkan kediamannya dengan masjid. Ternyata, para sahabat sedang menunaikan salat berjamaah.

Rasulullah memerhatikan sahabatnya yang berjejer rapi dalam shaf salat. Ia terpaku memandang mereka, wajah-wajah yang penuh dengan berkah, dan jasad-jasad penuh dengan kemuliaan. Setiap orang dari mereka pasti pernah mendapat musibah di jalan Allah. Di antara mereka ada yang tangannya terpotong, matanya tercongkel, dan ada pula yang tubuhnya dipenuhi bekas luka.

Beliau selalu salat, berjihad, dan bermajlis bersama mereka. Berapa pun malam yang beliau gunakan untuk salat malam, mereka pasti melaluinya dengan salat. Berapa pun jumlah hari yang beliau lalui dengan puasa, mereka pasti melaluinya bersama. Betapa mereka sabar menerima ujian bersama Rasulullah, memanjatkan doa yang tulus bersama beliau.

Berapa banyak dari mereka yang rela berpisah dengan keluarga dan saudaranya, demi menolong agama Allah. Mereka tinggalkan orang-orang tercinta dan tanah air. Di antara mereka ada yang telah berkorban, sementara yang lain dengan setia menunggu giliran. Mereka tidak sekali pun mengubah kesetiaan untuk  berkorban di jalan Allah.

Tapi hari ini, Rasulullah akan meninggalkan mereka, menuju alam abadi. Alam yang para sahabatnya pun rindu untuk segera menghuninya. Nabi tersenyum melihat para sahabatnya sedang khusyuk dalam salat. Senyuman itu cukup membuat wajahnya berseri bak bulan purnama. Lalu, kembali menutup tabir, dan berbaring di atas kasur, setelah itu, mulailah sakratul maut menghampiri.

Aisyah yang menyaksikan peristiwa detik-detik paling bersejarah itu, menuturkan, Aku menyaksikan Rasulullah hendak wafat. Ketika itu, di dekatnya ada mangkuk berisi air. Beliau celupkan tangannya ke mangkuk lalu mengusap wajahnya sambil berkata, La Ilaha Illallah, sesungguhnya dalam kematian ada fase yang menyakitkan.

Fatimah, sang puteri juga menyaksikan, sambil menangis dan bertanya, Bagitu Sakitkah wahai ayah? Baginda menoleh ke puterinya dan menjawab, Tidak ada lagi rasa sakit yang diderita ayahmu setelah ini. Fatimah lalu mengusap wajah ayahnya dan mendoakan kesembuhan. Tetapi beliau bersabda, Tidak. Aku malah mengharap segera bertemu dengan Allah, bersama Jibril, Mikail, dan Israfil.

Tubuh sang Nabi pamungkasi itu mulai lunglai, dalam sakratul maut yang dahsyat itu, beliau mengulang-ulang sabda yang ia pesankan pada umatnya sepeninggalnya nanti, "Sesungguhnua Allah melaknat Yahudi dan Nasrani. Mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid. Allah sangat murka sekali kepada suatu kaum yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.

Dan, sebelum ruh meninggalkan jasadnya, kalimat terakhir yang ia ucapkan adalah, "Salat... Salat... Dan, budak-budak kalian!"

Telah wafat punggawa para nabi dan rasul, pemimpin orang-orang bertakwa serta kekasih Tuhan semesta Alam. Beliau wafat tanpa menzalimi atau melukai seorang pun, tanpa ternoda oleh harta yang haram, tanpa korupsi, tanpa ghibah dan dosa, bahkan di saat-saat terakhir nafasnya, ia masih memikirkan umatnya.

Maka Allah pun memuji lewat firman-Nya, Telah datang pada kalian seorang Rasul dari dirimu sendiri. Ia merasa berat dengan apa yang kalian derita, sangat sayang kepadamu, lemah lembut kepada orang-orang yang beriman.

Demikian pula orang-orang saleh, dari para sahabat, pengikut sahabat, dan segenap pendahulu umat ini, bahkan, hingga datangnya hari pembalasan. Mereka berlomba-lomba mempersiapkan datangnya hari kematian dengan amal ketaatan dan saling berkompetisi meraih pahala dari Allah. Dengan modal amal yang berlimpah, tingkah laku yang baik, maka rahmat Allah pun terkucur.

Penghujung tahun 2014 Masehi ini, umat Nabi Muhammad selayaknya lebih banyak mengingat sakratul maut, ketimbang berlomba-lomba melakukan berbagai kemaksiatan, tak terkecuali memborong kondom untuk melampiaskan nafsu birahi yang bukan pada tempatnya. Wallahu A'lam!

Harian Cakrawala, 19 Desember 2014. Ilham Kadir, Peserta Kaderisasi Seribu Ulama Baznas-DDII/Kandidat Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena