KH. Jamaluddin Amien; Membela Ahlussunah Melawan Syiah

Diskursus terkait kemuliaan ulama dan peranannya di tengah masyarakat telah ada sejak zaman Rasulullah. Berdasarkan penegasan beliau bahwa keutamaan ulama atas ahli ibadah seperti antara kedudukanku dengan orang yang paling rendah di antara kalian. Lalu beliau melanjutkan sabdanya, Sesungguhnya para malaikat, penduduk langit dan bumi, para semut yang berada di liangnya, bahkan ikan pun turut mendoakan kebaikan kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, (HR. Tirmidzi).

Mungkin saja ada yang bertanya, mengapa ulama lebih mulia dari ahli ibadah? Pertanyaan semacam itu akan terjawab jika dipahami bahwa seorang ahli ibadah yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, bisa sesat bahkan dapat menyesatkan orang lain.

Sebagaimana yang tercatat dalam Al-Qur'an bahwa pada awal kedatangan Islam, sebagian penduduk Makkah mengakui jika mereka beribadah kepada Allah tanpa ilmu, dan mereka pun berada dalam kesesatan bahkan kekafiran, sebagaimana firman Allah, Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah berkata, Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya, (QS. Az-Zumar: 3).

Setali tiga uang dengan mereka yang beribadah hanya berdasarkan prasangka yang salah, tentu saja ibadah mereka akan tertolak, dan hanya akan mengalami kerugian, Dan yang demikian itu adalah prasangka yang telah kamu sangka kepada Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi, (QS. Fushshilat: 23).

Imam Ad-Darimi menarasikan bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah mengirim surat kepada penduduk Madinah yang isinya, Sesungguhnya orang yang beribadah tanpa ilmu maka dampak kerusakannya lebih banyak daripada kemaslahatannya.Tidak hanya itu, Abdullah bin Mas'ud bahkan menyatakan jika kedudukan ulama lebih utama daripada para mujahid, beliau berkata, Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya orang yang mati syahid di jalan Allah mengharapkan agar Allah mengutus kepada mereka ulama karena mengetahui keutamaannya. Dan Hasan Al-Bashri mengomentari keutamaan ulama, Ketika tinta ulama ditimbang dengan tinta syuhada', maka tinta ulama lebih unggul.

Dapat dipahami, sebab keutamaan jihad tak akan diketahui kecuali dengan ulama, syarat-syarat, rukun, dan adab-adab jihad juga tidak dapat dimengerti kecuali dengan ilmu yang disampaikan oleh para ulama. Dan, jika orang jahil turun berjihad, tanpa mengetahui ilmu jihad, bisa saja tidak mendapatkan apa-apa kecuali dosa dan mati konyol.

Contoh kasus: Golongan sesat dari Khawarij, mereka adalah ahli ibadah, menegakkan kewajiban syariat dan berjihad di jalan Allah. Sayang, apa yang mereka lakukan dilandasi dengan kebodohan dan tanpa ilmu yang bisa mengeluarkan mereka dari agama Islam, dan anehnya, mereka beranggapan bahwa berada dalam golongan yang paling mulia di sisi Allah.

Kesalahan dan kekonyolan terbesar bagi golongan Khawarij adalah berjihad modal jidat alias tanpa ilmu yang menggiring mereka berjihad di jalan yang batil walau merasa berada di jalan Allah. Di antara tokoh mereka, Abdurrahman bin Muljam menyangka bahwa pembunuhan Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib yang dilakukannya merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah, padahal Ali radhiallahu 'anhu merupakan menantu kesayangan Rasulullah dan termasuk dari sahabat yang mendapat kabar gembira akan dimasukkan ke surga, minal mubasy-syarin bil-jannah.

Kerusakan akidah mereka begitu kuat sehingga salah satu penyair Khawarij memuji pembunuh Ali bin Abi Thalib, katanya: Suatu tebasan dari seseorang yang bertakwa yang tidak menginginkan...kecuali menggapai ridha Pemilik Asry; Sungguh suatu ketika aku mengingatnya dan aku kira...itu merupakan perbuatan terbaik di sisi Allah ketika ditimbang!

Melawan Syiah

Jika kaum Khawarij begitu tolol dalam agamanya sehingga buta hatinya dan gelap dalam menerima kebenaran. Maka golongan Syiah juga demikian. Hanya saja, jika Khawarij membunuh Khalifah Ali dengan menganggap sebagai jihad dan berpahala besar, sedangkan Syiah, khususnya Syiah Imamiyah yang sedang berkembang di Indonesia menganggap bahwa Ali bin Abi Thalib beserta dua belas keturunannya yang dipilih sesuka hati mereka adalah imam yang makshum, atau terlepas dari segala dosa baik kecil maupun besar.

Tidak hanya itu, Syiah juga merasa bahwa hanya merekalah golongan yang selamat, terutama yang mengenal dan mengikuti imam dua belas itu, dan, siapa pun yang mati tanpa mengenal para imam-imam itu, akan dipastikan matinya mati jahiliah, dan sudah pasti berada di neraka.

Jika golongan Khawarij adalah orang-orang jahil, maka Syiah adalah golongan sufaha' berupa kelompok manusia berwatak Yahudi, tau bahwa dirinya salah namun tidak mau mengakui kesalahannya, serta paham akan kebenaran namun tidak mau menerima kebenaran bahkan berlaku congkak. Yang sama persis dengan watak iblis, aba wastakbara, enggan dan sombong.

Saat ini, golongan Syiah yang sedang tumbuh dan berkembang melalui beberapa 'peternakan' di Indonesia dengan dukungan Iran yang menjadikan Syiah sebagai komuditas ekspor utamanya. Masuk ke negara Ahlussunnah seperti Indonesia, lebih khusus Makassar dengan membawa slogan "at-taqrib" atau pendekatan, agar dengan leluasa ajaran mereka dipasarkan secara bebas tanpa hambatan.
Banyak yang terkecoh, tidak hanya golongan awam, tapi para pelajar, kaum intelektual, aktivis hingga ulama. Mereka mendukung segala bentuk aktifitas dakwah Syiah, memberi ruang selebar-lebarnya untuk tampil di forum-forum resmi, media massa, hingga di masjid-masjid besar yang mejadi simbol daerah seperti Masjid Raya Makassar bahkan simbol negara sebagaimana Masjid Istiqlal.

Dengan adanya kesempatan untuk menyampaikan gagasan di depan publik dan masyarakat Indonesia yang beraliran Ahlussunnah, Syiah-Iran ini dengan mudah diakui sebagai umat Islam sebagaimana umumnya. Apalagi dilengkapi dengan aksesoris surban dan jubah.

Hanya sedikit yang menyadari akan kesesatan Syiah, dan berusaha untuk melakukan penangkalan. Di antara sedikit itu adalah KH. Jamaluddin Amien yang sangat konsisten melawan aliran yang telah difatwakan kesesatannya oleh para ulama muktabar dari dahulu kala hingga sekarang.

Kegigihan KH. Jamaluddin Amien dalam memerangi Syiah dapat dilihat dalam posisinya sebagai Ketua Dewan Penasehat Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Makassar. Bahkan dalam "Rapat Kerja Tahunan LPPI Makassa" pada tanggal 3 Februari 2014 di Masjid Sultan Alauddin, Perumahan Dosen UMI, Jln. Prof. Abdurrahman Basalamah, KH. Jamaluddin Amien menegaskan, Syiah itu asal mulanya datang dari seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’ yang pura-pura masuk Islam, lalu menanamkan ajaran bahwa setiap nabi yang diturunkan Allah ke bumi ini memiliki washiyun –seseorang yang mendapat wasiat khusus dari sang nabi— dalam agama Islam menurut Abdullah bin Saba yang mendapat wasiat itu, di antara sekian banyak sahabat Rassulullah cuma satu, yakni Ali ra. Jadi ketika Rasulullah wafat,  maka dalam pandangan pengikut Abdullah bin Saba yang disebut Syiah ini, yang berhak menjadi khalifah adalah Ali ra, bukan Abu Bakar, Umar, apalagi Utsman. Mereka inilah yang dikatakan merampas hak kekhalifahan Ali ra. Jelas ini adalah pemahaman yang sesat dan menyesatkan, mereka harus dilawan, lanjutnya.

Selanjutnya, mantan Rektor UNISMUH Makassar itu menegaskan bahwa Allah SWT memberikan dua jaminan pada agama-Nya. Jaminan pertama, bahwa Allah menjaga agama-Nya (Islam) dalam artian tidak akan lenyap di muka bumi dan agama ini dapat dilihat dari kitab suci Alquran sebagai sumber ajaran. Dan Allah menegaskan dalam firman-Nya bahwa Alquran itu tak pernah berubah, "Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran dan Kami pula yang menjaganya" (QS. [15]: 9). Kata 'Innaa' berarti sesungguhnya 'Kami' menunjukkan bahwa yang menjaga agama ini adalah Allah beserta aparat-Nya, termasuk dalam hal ini Malaikat, Nabi, Rasul-rasul, para sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in, para ulama mu'tabar, termasuk juga LPPI Makassar. Jaminan kedua -lanjut mantan Ketua PW. Muhammadiyah Sulsel ini- Allah menjaga agama-Nya dari para musuh-musuh Islam yang senantiasa ingin menghancurkan dari masa ke masa karena memang Islam-lah satu-satunya agama yang diridhai dan diterima oleh Allah. Beliau juga mengutip perkataan KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, "Islam ini tidak akan hilang dari muka bumi, tapi tidak mustahil hilang dari Indonesia".

Padahal menurut KH. Jamaluddin Amien, kalau kita mau jujur, hanya Abu Bakar-lah sahabat Nabi satu-satunya yang disebut sahabat dalam Alquran karena kesetiaan dan kebersamaannya bersama Rasulullah, terutama dalam keadaan duka, sebagaimana disebut dalam Alquran ketika peristiwa hijrahnya Rasul bersama Abu Bakar yang didahului dengan bersembunyi di Goa Hira. “Idzhuma fil Ghari, idz yaqulu lishahibihi, la tahzan innallah ma’ana, [ketika mereka beruda ‘Rasulullah dan Abu Bakar’ dalam goa, Rasulullah berkata kepada Abu Bakar, jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita]”. Untuk itu, lanjut Pak Kiyai, LPPI jangan merasa sendirian dalam berjuang, kita semua harus bersatu membantu LPPI untuk melawan aliran sesat, seperti Syiah karena LPPI telah menjadi pewaris dan penjaga ajaran para nabi, tegasnya. “Ingatlah bahwa pertolongan Allah itu selalu ada, dan kemenangan kian mendekat, nasrun minallah wa fathun qarib.”

Begitulah ketegasan KH. Jamaluddin Amien terhadap sempalan Syiah, demikian pula, dukungannya terhadap perjuangan LPPI Makassar. Pengalaman pribadi saya selama akitf di LPPI sejak tahun 2011-2013 menyaksikan bagaimana keras dan besarnya semangat beliau dalam mendukung dan menopang  perjuangan LPPI yang konsen melawan segala bentuk penyesatan umat seperti Syiah dan tokoh utamanya, Jalaluddin Rakhmat, atau aliran sempalan lainnya yang melakukan penodaan agama. Ulama besar yang saya ceritakan di atas hanyalah secuil dari sisi perjuangannya dalam menegakkan kebenaran, dan mereduksi kemungkaran. KH. Jamaluddin Amien, adalah sosok yang berusaha menegakkan kebenaran dengan landasan akidah yang benar Ahlussunnah wal-Jamaah, dan menerapkan syariat yang bebas dari khurafat dan bid'ah.

KH. Jamaluddin Amien, lahir di Sinjai tahun 1935, dan wafat di Makassar 16 Nopember 2014. Semasa hidupnya, selain sekolah di Sekolah Muhammadiyah, beliau juga pernah berguru pada ulama kharismatik, KH. Marzuki Hasan. Pernah menjabat sebagai Ketua Pengurus Muhammadiyah Sulsel (1990-2000), Ketua Dewan Penasihat Muhammadiyah Sulsel (2000-wafat); Rektor Unismuh (1995); Ketua Dewan Penasihat LPPI Makassar, dan tidak banyak yang tahu jika, KH Jamaluddin Amien rahimahullah adalah pendiri Partai Amanat Nasional. Ia bahkan pernah berkata, Saya ini pendiri PAN, Amien Rais itu hanya pelanjut. Tidak banyak yang tahu saya.

Setiap yang bernyawa pasti akan menemui kematian, namun tidak semua yang bernyawa, terutama umat manusia yang dikarunia akal untuk berpikir dan hati untuk memahami kebenaran meninggalkan pemikiran dan warisan yang barharga, terutama semangat juang, membela Ahlussunnah dan membelah Syiah. Semangat itulah yang diwariskan KH Jamaluddin Amien kepada segenap umat Islam Indonesia.

Terkuburnya sang kiyai bersama ilmu dan semangat juangnya menyisakan kesedihan yang mendalam, khususnya keluarga, kaum kerabat, Muhammadiyah, Unismuh, hingga LPPI Makassar. Dan saya, atas nama Majelis Intelektual & Ulama Muda (MIUMI) Sulsel, mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya. Semoga beliau diampuni dosa-dosanya, dilimpahkan rahmat, dan dilapangkan kuburannya oleh Allah. Allhummagfir lahu, war-hamhu, wa 'afihi, wa'fu 'anhu.

Setu-Bekasi, 26 Nopember 2014. Ilham Kadir. Peneliti MIUMI Sulsel & Mahasiswa Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibnu Khaldun Bogor.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena