Menelisik Hukum Inseminasi

Julia Perez, hampir semua mengenal nama itu. Artis papan atas, penyanyi dangdut, model seksi kesohor,
yang selalu mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontorversi dalam jagad hiburan tanah air. Sulit rasanya untuk tidak mengenal segala seluk-beluk tingkah laku dan jalan hidupnya, sebab hampir seluruh media, cetak maupun elektronik dan lebih khusus yang punya program infotainment memberitakan atau menyiarkan apa saja yang dilakukan dan diucapkan sang pelantun tembang "Belah Duren" itu.

Suntik sperma, adalah pernyataan teranyarnya, Jupe berhasrat untuk melakukan suntik sperma sebab ia telah divonis menderita kanker rahim. Biduanita itu pun sudah berencana ke luar negeri untuk melakukan suntik sperma, tidak hanya sampai di situ, Jupe bahkan menyebut bila sudah ada laki-laki yang bersedia mendonorkan spermanya, dan pasti laki-laki itu bukan suaminya sebab, sebagaimana diketahui, ia kini berstatus janda.

***

Bayi tabung atau inseminasi buatan telah menjadi pembahasan dalam kalangan ulama kontemporer. Sebelum lebih jauh menggali hukumnya, sebaiknya dimulai dengan mengenal cara-cara dalam proses inseminasi tersebut.

Pertama, sperma diambil dari suami dan disuntikkan ke rahim istrinya karena ada masalah dalam pembuahan normal. Kedua, sperma diambil dari lelaki lain lalu disuntikkan ke rahim wanita yang tidak memiliki hubungan suami-istri. Ketiga, sperma diambil dari seorang suami, disemaikan ke indung telur wanita lain yang bukan istrinya, kemudian dicangkokkan ke rahim istrinya. Keempat. Sperma dan sel telur diambil dari sepasang suami-istri lalu dicangkokkan ke rahim wanita lain. Kelima, sperma dan sel telur diambil dari laki-laki dan wanita lain, lalu dicangkokkan ke rahim sang istri, dan keenam, sperma dan sel telur diambil dari pasangan suami istri kemudian disuntikkan ke rahim istri lain sang suami.

Menanggapi qadhaya mu'ashirah, problematika kontemporer di atas, ulama dunia pernah berkumpul di Amman Yordania tahun 1986 untuk memutuskan hukum inseminasi buatan dalam forum 'Majma'ul Fiqhi Islamy". Dalam putusan berjudul 'Athfaalul Anaabiib' (bayi tabung), forum yang saat itu juga dihadiri ulama dari Indonesia memutuskan beberapa hal.

Untuk poin pertama, dalam inseminasi buatan, sperma diambil dari suami dan telur diambil dari istri, lalu disuntikkan di rahim istri, maka itu dibolehkan dengan syarat tindakan tersebut darurat, atau sangat dibutuhkan, karena keinginan besar memiliki anak dengan cara normal tidak menghasilkan. Selain itu, tindakan inseminasi buatan harus memastikan keselamatan dan keamanan. Syarat berikutnya adalah, aurat vital sang wanita harus tetap tertutup. Tidak boleh pula memastikan jika inseminasi buatan tersebut pasti berhasil, bahkan kegagalan proses operasi perlu diperhitungkan, termasuk antisipasi pelanggaran amanah dari orang-orang rumah sakit yang sengaja mengganti sperma atau sel telur milik orang lain.

Selain itu, forum tersebut mutlak melarang proses inseminasi buatan poin kedua hingga keenam. Antara alasannya, yaitu melibatkan orang lain yang tidak terikat dengan tali pernikahan.

Para ulama muktabar Indonesia yang berkecimpung di MUI juga pernah memutuskan perkara ini pada tahun 1978. MUI yang saat itu diketuai oleh Prof. Hamka, berpendapat hampir sama dengan keputusan Majma'ul Fiqhil Islamy. Jika sperma dan sel telur berasal dari suami istri diperbolehkan sebab termasuk ikhtiar berdasarkan kaidah agama.

Jika bayi tabung pasangan suami istri dititipkan ke rahim istri lain, maka tidak diperbolehkan alias haram. Alasannya, akan menimbulkan masalah yang rumit dalam kaitan dengan harta warisan, khususnya antara anak dan ibu yang memiliki sel telur dengan ibu yang telah melahirkannya.

MUI bahkan menambahkan, ada pula proses inseminasi buatan dengan sperma suami yang sudah meninggal. Komisi Fatwa MUI yang saat itu diketuai KH Syukri Ghazali berpendapat bahwa haram hukumnya. Alasannya, seperti halnya dititiplan ke rahim istri lain, akan muncul masalah nasab terkait ayah dan masalah waris.

MUI juga dengan tegas menyatakan, jika inseminasi buatan melibatkan pihak kedua atau ketiga yang tidak ada hubungan pernikahan maka hukumnya disamakan dengan zina. Dengan kaidah "sadduz-zariah" atau menutup celah terhadap kerusakan, termasuk menghindari zina yang sesungguhnya.

Dasarnya dalam kitab "Hikmatut-Tasyri' wal Falsafatuhu" terdapat hadis, Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat maka janganlah sekali-kali menyiramkan air spermanya ke rahim [kebun] sauddaranya.

Nahdlatul Ulama, ormas Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia terkenal dengan keilmuan ualamanya, dalam Munas Alim Ulama di Kaliurang, Yogyakarta, pada tahun 1981 juga menelurkan fatwa tentang bayi tabung. Secara umum ulama NU sejalan dengan Majma'ul Fiqhil Islamy dan Majelis Ulama Indonesia tentang kebolehan jika sperma dan sel telur berasal dari suami-istri dan disuntik ke dalam rahim istri.

Titik yang ditekankan NU adalah, bagaimanakah cara mengeluarkan mani sang suami, apakah dengan cara yang tidak dilarang dengan syariat? Jika sesuai syariat maka NU menghukum boleh, jika tidak, maka hukumnya haram.

Setelah menelisik berbagai pandaangan para ulama, nasional maupun internasional, nampaknya tidak ada yang sesuai dengan kehendak Jupe, karena bukan saja caranya yang dipertanyakan, tapi laki-laki yang akan mendonorkan spermanya adalah orang lain yang tidak memiliki ikatan pernikahan dengannya. Jelas keharamannya, dapat disamakan dengan zina.

Memiliki anak memang merupakan dambaan setiap wanita normal, namun tidak semua wanita diberi kesempatan, sangat tergantung dengan ketetapan Allah. Dan perlu diingat, harta dan anak hanyalah titipan dari Allah, dan suatu saat akan dikembalikan jika telah sampai masanya. Wamal malu wal banun illa wada'i fala budda minal ayyami antaruddal wada'i, demikian kata ahli hikmah dari Arab. Bagi yang tidak dikarunia keturunan berupa anak, janganlah bersedih, sesungguhnya Allah menyayangi Anda, dengan mengurangi beban Anda di hari kiamat. Wallahu a'lam!

Dimuat harian Cakrawala Makassar, Jumat, 7 Nop. 2014.

AQL, Tebet-Jaksel, 10 Okt. 2014. Ilham Kadir, Peserta Kaderisasi Seribu Ulama (KSU); Kandidat Doktor UIKA Bogor.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an