MIUMI Sebagai Generasi Pelanjut MUI

Silaturrahmi Nasional Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) dirangkaikan dengan Pelantikan Pengurus MIUMI Cabang Wilayah Jawa Timur, Malang, Kediri, Pasuruan, Jombang, Mojokerto, dan Madura, di Hotel Dalwa, Bangil, Pasuruan, 5 Dzul Hijjah 1434 H/29 September 2014.

Acara Silatnas berlangsung di Hotel Dalwa lantai dua. Para ulama dan intelektual muda duduk di kursi yang telah disediakan, dengan meja berbentuk huruf "U", saya sendiri mendapatkan tempat duduk bersebelahan dengan Dr. Syamsuddin Arif, beliau adalah Peneliti INSIST dan dosen di Universisy Teknologi Malaysia (UTM) yang sengaja datang demi menghadiri Silatnas MIUMI kali ini.  Dimulai dengan sambutan Pimpinan MIUMI Jatim, Dr. Zaenuddin. Ia memulai dengan mengomentari kata "intelektual" dari kata "MIUMI", bahwa intelektual itu menandakan kecerdasan dan kedewasaan seseorang. Dengan kapasitas intelektual yang tinggi, seseorang dapat menyelesaikan masalah tanpa masalah. Sebagaimana yang terjadi pada Rasulullah dan para sahabatnya. Karena itu, kita sangat memerlukan program-program seperti ini, dan semoga mendapatkan ridha dan rahmat dari Allah.  Dilanjutkan dengan agenda pelantikan pengurus beberapa kota dan kabupaten Jawa Timur. Seperti, Malang, Pasuruan, Kediri, Jombang, Madura, dan Mojokerto.

Pelantikan dibacakan langsung oleh Ust. Bachtiar Nasir sebagai Sekjend MIUMI, didampingi oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi.  Usai pelantikan, Dr. Fahmy Zarksyi naik memberikan sambutan, dengan menekankan bahwa saat ini Indonesia terutama umat Islam dalam situasi yang tidak jelas, dan dalam situasi seperti itu kita memiliki kesadaran untuk berbuat. Dengan majelis ini, kita melakukan sesuatu, ada pun berhasil tidaknya, masalah belakang.

Andai saja kita berbuat, lalu prosentase keberhasilannya hanya 10% maka kita sudah berhasil. Tak apa, kita menanam pohon kurma sehari sebelum meninggal. Yang penting ada usaha, dan itu dicatat oleh Allah.

Selanjutnya, sambutan dari MUI Jatim, KH Abdurrahman Nafis, katanya, MUI bersyukur pada Allah berkat munculnya MIUMI, karena saat ini MUI belum punya kader, karena itu MIUMI sudah dipastikan akan menjadi kader MUI karena memiliki visi dan misi yang sama.  Dakwah tidak hanya dibebankan kepada para ulama, tetapi intelektual juga dilibatkan khususnya yang menguasai ilmu-ilmu khusus (takhasus) pada satu bidang, jadi perpaduan antara penguasaan ilmu syar'i dan ilmu umum. Jika ini terjadi, maka bangsa ini akan semakin besar.  Karena itu, penting melakukan upaya-upaya persatuan fikrah, agar dapat bersatu padu.  Ulama harus dilakukan regenerasi, kalau di MUI itu kabanyakan pengurusnya sudah tua dan berumur, kalau sudah tua, biasanya cuma tiga pembahasannya, menceritakan kejayaan masa lalu, menceritakan kesuksesan dirinya, dan tentang penyakitnya.

 Maka ulama muda harus ke depan, tanpil penuh energi, mempersatukan umat dalam satu tujuan, memasarkan dan menjaga kemurnian Ahlussunnah wal Jama'ah.

Karena itu, teori-teori Walisongo penting dipelajari, milsanya, Sunan Kali Jaga, pada masanya, wayang identik dengan maksiat, maka dirubah dengan wadah dakwah. Dakwah-dakwah kultural harus dipasarkan untuk menyatukan umat. Begitulah manhaj dakwah Wali Songo sehingga dapat berhasil dengan baik dan singkat.

 Tujuan kita adalah bagaimana menyatukan visi bahwa musuh bersama kita golongan sesat seperti Syiah Rafidhah, lalu kesesatan dan penyimpangan mereka dipasarkan kepada masyarakat umum dengan bahasa dan cara yang mendidik. Demikian pula paham Sekularisme Pluralisme, dan Liberalisme (Sepilis). 

Dengan itu, saya selaku perwakilan dari MUI Jatim mengucapkan, Selamat datang kepada peserta Silatnas, semoga dapat merumuskan agenda kerja yang dapat memberi manfaat kepada umat. 

Sedangkan road map MIUMI yang disampaikan oleh Dr. Adian Husaini. Beliau mengurai beberapa masalah umat Islam dan orang beriman yang seharusnya dimuliakan oleh penduduk bumi, namun nyatanya tidak, ini semua bersumber dari ketidak-adilan. Tidak adil menempatkan sesuatu pada tempatnya, artis dan pelawak, bahkan preman pun tidak menghargai orang beriman.

Bahkan ulama dilecehkan, karena itu ulama harus tampil memimpin umat, mengajarkan kitab dan hikmah, wayuallimuhumul kitab wal-hikmah. Kita ingin agar ulama menjadi panutan dan pemimpin. Tampilnya ulama su' juga jadi problem tersendiri, karena itu MIUMI harus tampil ke depan meluruskan hal-hal yang sesat dan menyimpang.  Kepemimpinan ulama juga harus diklasifikasi, ada ulama yang bergerak di bidang politik; pendidikan, dakwah, dan sejenisnya. Karena itu MIUMI harus punya data base ulama-ulama di daerah, untuk dikembangkan potensinya.

Harus membangun kepemimpinan otoritas ilmu. Punya spesifikasi keilmuan, karena kita ini adalah organisasi keilmuan. Selain itu, MIUMI harus punya peta dan data kristenisasi di Indonesia.  Untuk membangun otoritas ulama, maka harus memiliki program pengkaderan, termasuk memiliki kemampuan menulis berbagai disiplin ilmu, sesuai minat dan kecendrungan masing-masing ulama. Membangun opini juga jangan diabaikan, karena media saat ini benar-benar efektif untuk menggalang kekuatan. Karena itu, media dan sumber daya medianya harus dibenahi dari sekarang. Rata-rata aktivis Islam yang melek informasi merujuk pada website Islam, mereka sudah tidak percaya pada media-media sekuler. 

Silatnas kali ini terasa spesial karena MIUMI telah merilis Fatwa no. 01/Silatnas-3/MIUMI/IX/2014 tentang Paham Kesetaraan Gender, sebagai tindak lanjut Fatwa MUI tentang Paham Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme Agama dan Fatwa MUI tentang Kriteria Maslahat tahun 2005. 

Ini adalah fatwa kedua di Indonesia yang menyoroti paham-paham liberal yang merusak sendi-sendi syariat Islam. Semoga Allah meridhai dan memberkahi sebagai pedoman umat Islam dalam menolak kesetaraan gender. Dampak paham yang merusak ini antara lain adalah, menggugat berbagai aturan dalam warisan, talak, iddah, solat/khutbah jumat, shaf solat, ketentuan kambing aqiqah, batasan aurat, lesbianisme, penghalalan kawin beda agama, yang berbasis pembedaan ketentuan hukum syariat bagi laki-laki dan perempuan.

Bangil, 5 Dzulhijah 1435 H/24 September 2014 M. Ilham Kadir, Sekretariat MIUMI Pusat.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an