Sejarah Tahun Hijriyah

Tidak ada yang lebih mahal dan berharga melebihi waktu. Orang sakit rela membelanjakan seluruh hartnya demi untuk memperpanjang waktu hidupnya. Para pekerja bergegas ke tempat kerjanya karena takut
kesuntukan waktu, sementara yang sedang bekerja harus bertempur dengan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan sebelum batas akhir 'dead line'  tiba. Orang kampung, yang hidup sederhana pun kejar-mengejar dengan waktu. Menunggu waktu sambil mempersiapkan benih sebelum musim hujan, begitu langit bocor, benih tinggal disemai. Nelayan pun demikian, mengenal musim-musim yang terkait dengan waktu dan penanggalan. Ada musim Barat, musim Timur, dan musim teduh.

Yang lajang sedang menunggu waktu menikah tiba, bagi yang telah menikah ingin cepat punya punya momongan, bagi yang hamil tak kuasa rasanya menanti waktu persalinan. Sang ibu begitu bahagia dan sabar mengasuh anaknya hingga tumbuh dewasa dan pada waktunya siap berkeluarga. Hidup manusia memang terkait dengan waktu, karena itu, Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian! Kecuali orang-orang beriman, beramal saleh, dan saling nasehat-menasehati dalam kesabaran dan kebenaran, (QS. Al-Ashr: 1-3). Imam Syafi'i rahimahullah mengomentari surah yang cuma tiga ayat ini, katanya, andai saja manusia tahu kandungannya, nicaya surah ini cukup baginya.

Kini, kita telah berada pada detik-detik penghujung tahun 1435 H, menuju 1436 H. Lalu bagaimana waktu dapat diketahui? Tergantung. Ada per detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dan seterunya. Fokus pembahasan kali ini, terkait dengan bulan dan tahun.

***

Perhitungan waktu dapat mengacu pada dua sumber utama, matahari dan bulan, sinkron dengan Firman Tuhan, Asy-syamsu wal-qamaru bihusban. Matahari dan bulan beredar sesuai perhitungan (QS. Arrahman: 5). Kemudiaan Kami hapus tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang, agar kamu danpat mencari karunia Tuhanmu, dan agar dapat mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu (QS. Al-Isra': ).

Setidaknya ada dua bentuk penanggalan yang kerap kita pakai, tahun Masehi yang kini sudah masuk tanggal 24 Oktober 2014 dan tahun Hijriah yang akan bermula nanti malam, 1 Muharram 1436. Hitungan berdasarkan matahari disinonimkan juga dengan penanggalan berdasarkan kelahiran Yesus yang dituhankan umat Nasrani (Kristen), sedang penanggalan Hijriah yang berdasarkan dengan bulan terkait erat dengan agama Islam.

Sejarah awalnya ide pembuatan kalender Hijriyah pertama kali terlontar oleh Gubernur Basrah Abu Musa al-Asy'ari. Ide itu tertuang dalam surat balasannya kepada Khalifah Umar bin Khattab. Abu Musa mengawali suratnya dengan kalimat, "Menjawab surat dari tuan yang tidak bertanggal."

Khalifah Umar r.a., merasa tersindir dan menganggap soal penanggalan sangatlah penting bagi umat Islam. Ia lalu mengumpulkan para sahabat senior untuk bermusyawarah agar umat Islam memiliki kalender dan sistem penanggalan sendiri. Mereka adalah Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrhaman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Pertemuan yang awalnya sangat alot itu, akhirnya berujung pada kesepakatan bahwa awal perhitungan kalender Islam disesuikan pada awal waktu hijrah Rasulullah dari Makkah ke Yatsrib (Madinah). Ide ini berasal dari Ali bin Abi Thalin r.a., kalender ini lalu dinamai "Hijriyah". Perhitungan tanggal bulannya dimulai dari 1 Muharram, walau sebenarnya hijrah terjadi pada bulan Shafar.

Alasan penetapan Muharram sebagai awal tahun Hijriyah memiliki banyak pertimbangan, antara lain, pada bulan itulah Rasulullah bertekad sambil menyusun rencana untuk pindah ke Yatsrib; karena setelah Ramadhan adalah Syawal, Dzulqa'dah, dan Dzulhijjah yang lazim disebut "asyhurul-hajj" atau bulan-bulan haji. Kesibukan persiapan haji telah dimulai sejak Syawal hingga pertengahan Dzulhijjah, setelah itu umat Islam diharap membuka lalu memulai lembaran baru dalam hidupnya pada bulan  Muharram.

Khalifah Umar bin Khattab akhirnya secara resmi menetapkan awal tahun Hijriayh 1 Muharram bertepatan dengan tanggal 15 Juli 622 Masehi yang jatuh pada hari Kamis, sebagaimana disepakati para pakar ilmu hisab.

Ada pun sistem penghitungan kalender Islam tersebut berpatokan pada lunar sistem, yakni disusun berdasakan peredaran bulan mengelilingi bumi (qamariyah). Dalam Alquran, model perhitungan telah ditetapkan Allah, Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah 12 bulan, (QS. At-Taubah: 36), berdasarkan ayat ini, maka ditetapkanlah bahwa kalender Hirjriyah memiliki 12 bulan. Bilangan tiap hari dalam setahun adalah 12 x 29 (kurang-kebih) sama dengan 354 hari. Ini juga menjadi penjelasan bahwa satu tahun kalender Hijriyah lebih pendek 11 hari berbanding kalender Masehi.

Siklus sinodik bulan kalender Hijriyah bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam kalender Hijriyah  tergantung pada posisi bulan, bumi, dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuian dengan terjadinya bulan bari dititik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, pada bersamaan bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion).

Sementara, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan perhitungan bumi berada pada titik terjauhnya dari matahari (aphelion). Dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap alias berubah-ubah antara 29-30 hari sesuai dengan kedudukan bulan, bumi, dan matahari.
Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan bulan sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi). Pada fase ini, bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya matahari, sehingga posisi hilal beraada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada ketetapan, bulan apa saja yang berjumlah 29 atau 30 hari, semuanya tergantung pada hilal.

Sebelum ditetapkannya kalender Hijriah, masyarakat Arab memang sudah memiliki nama-nama bulan dan hari sendiri. Nama bulan, umumnya diambill dari peristiwa, musim, atau kegiatan besar yang pernah terjadi pada bulan tersebut. Demikian pula, tidak sedikit hadis menerangkan keutamaan bulan-bulan tertentu seperti Ramadhan, Dzulhijjah, Muharram, dan lainnya.

Tapi masyarakat Arab belum memiliki satu sistem penanggalan yang rapi dan baku, perhitungan juga belum sampai setahun. Jadi nama-nama bulan dalam kelender hijriyah diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku di Walilayah Arab, (Republika, 10/10/1014).

Setiap nama bulan memiliki arti khusus, Muharaam berarti yang diharamkan, atau bulan yang padanya diharamkan untuk berperang, dan kosensus ini berlaku hingga Islam datang. Shafar, berarti 'shifr', kosong atau 'kuning', karena pada bulan itu orang-orang masa lampau biasa meninggalkan rumah untuk melakukan perjalanan dan berperang, berdagang, berburu, dan sebagainya. Maka, rumah-rumah mereka pun kosong menguning.

Rabiul Awal, berarti menetap yang pertama karena para lelaki Arab masa lalu pada bulan itu, yang tadinya meninggalkan rumah, kini kembali dan menetap. Rabiul Akhir artinya, yang menetap di rumah untuk kali terakhir.

Jumadil Awal, artinya, kering, beku, atau padat yang pertama. Nama ini disesuakin dengan keadaan air pada bulan itu yang membeku. Jumadil Akhir: kering  pada yang terkahir, masa kekeringan memang berlangsung selama dua bulan, dan ini yang terakhir.

Rajab berarti mulia, karena bangsa Arab tempo dulu memuliakannya, terutama pada tanggal 10, merayakan dengan berkurban anak unta. Tanggal satu rajab juga dimuliakan dengan adanya upacara membuka pintu Ka'bah.

Sya'ban artinya berpencar, orang-orang Arab dahulu senang berpencar dan merantau untuk mencari kehidupan di tempat lain, sedangkan bulan Ramadhan berarti panas terik atau terbakar. Pada bulan ini, jazirah Arab sangat panas, dan terik matahari begitu membakar. Belakangan, para dai memaknai Ramadhan dengan bulan yang sesuai untuk membakar dosa-dosa.

Syawal berarti naik, karena di bulan ini unta dan ternak lainnya menaikkan ekornya sebagai tanda penolakan ketika diajak senggama atau kawin dengan si jantan, yang anehnya, di dunia Bugis-Melayu justru dijadikan bulan afdhal melangsungkan prosesi pernikahan. Syawal juga dimaknai sebagai bulan peningkatan amal ibadah setelah melalui puasa Ramadhan.

Dzulqaidah artinya, si empunya duduk, karena para lelaki Arab zaman dahulu, memanfaatkan bulan ini untuk tidak bepergian, hanya duduk di rumah. Sedang Dzulhijjah adalah si pemiliki haji karena bulan ini, sejak zaman Nabi Ibrahim, orang-orang melakukan ibadah haji atau ziarah ke Baitullah, Makkah sambil beribadah. Teradisi ini dilanjutkan oleh agama Islam.

Terlihat jelas bahwa agama Islam datang dengan tetap menjaga warisan dan khazanah yang dipandang berguna dan bermanfaat bagi bangsa Arab dan masyarakat umum, sehingga ajarannya sangat dinamis dan proses asimilasi berjalan secara natural. Selamat Tahun Baru, 1436 Hijriyah.

Dimuat Harian Tribun Timur, 24 Okt. 2014.
Tebet, 10 Okt. 2014. Ilham Kadir, Peneliti MIUMI Sulsel; Kandidat Doktor Pascasarjana UIKA Bogor.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi