Mengenal Syariat Sumpah

Sumpah dalam bahasa Arab disebut "al-qasam" yang bermakna "al-yamin" atau "al-half" berupa penguatan sesuatu dengan menggunakan huruf tertentu sebagai perangkat sumpah.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sumpah diartikan sebagai, pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan saksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci, untuk menguatkan kebenaran, kesungguhan, dan sebagainya; pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenaran atau berani menderita kalau pernyataan itu tidak benar; janji atau ikrar yang teguh.Ada pun sumpah menurut syariat Islam berarti menguatkan sesuatu dengan menyebut nama Allah seperti: Wallahi, Tallahi, dan Billahi, dengan syarat dan rukun tertentu.Syariat sumpah tertera dalam Al-Qur'an, Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud untuk bersumpah, tetapi Allah menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang disengaja oleh hatimu, (QS. Al-Baqarah: 225).

Karena itu, bagi yang telah bersumpah atas nama Allah untuk sesuatu perkara, agar memegang teguh dan memelihara sumpahnya, (QS. Al-Maidah: 89).Ada pun syarat sumpah adalah, orang yang telah akil balig serta sehat jiwanya alias tidak gila. Sedangkan rukun sumpah setidaknya ada empat yaitu, pelaku sumpah (muqsim); sesuatu yang dipakai sumpah (muqsam bih); alat untuk bersumpah (adatul-qasam); dan berita yang dijadikan isi sumpah (muqsam 'alaih).

Ada pun hukum sumpah, maka, para ulama berbeda pendapat, Imam Malik berpandangan bahwa hukum asal sumpah adalah ‘jaiz‘ (boleh), namun dapat meningkat  menjadi sunnah apabila dimaksudkan untuk menekankan suatu masalah keagamaan atau untuk mendorong orang melakukan sesuatu yang diperintahkan agama, atau melarang orang berbuat sesuatu yang diperintahkan agama, atau melarang orang berbuat sesuatu yang dilarang agama.

 Jika sumpah hukumnya mubah, maka melanggarnya pun mubah, tetapi harus membayar kafarat (denda), kecuali jika pelanggaran sumpah itu lebih baik. Imam Hambali berpendapat bahwa hukum bersumpah itu tergantung pada keadaan. Bisa wajib, haram, makruh, sunnah ataupun mubah. Jika yang disumpahkan itu menyangkut masalah yang wajib dilakukan, maka hukum bersumpahnya adalah wajib.

Sebaliknya jika bersumpah untuk hal-hal yang diharamkan maka wajib dilanggar, jika sumpahnya itu sunnah, maka sunnah pula untuk melaksanakannya, dan seterusnya.Imam Syafi’i berpendapat hukum asal sumpah adalah makruh. Tetapi bisa saja hukum bersumpah menjadi sunnah, wajib, haram, atau mubah. Tergantung pada situasi dan kondisinya.Menurut Imam Abu Hanifah, asal hukum bersumpah adalah ‘jaiz‘, tetapi lebih baik tidak terlalu banyak melakukan sumpah. Jika seseorang bersumpah akan melakukan maksiat, wajib ia melanggar sumpahnya. Jika seseorang bersumpah akan meninggalkan maksiat maka ia wajib melakukan sesuai dengan sumpahnya. 

Sejak zaman dahulu sumpah telah dikenal umat manusia, bahkan pada era pra Islam sudah menjadi kebiasaan bangsa Arab untuk meyakinkan lawan bicaranya (mukhatab) atau untuk menegaskan bahwa yang dikatakannya itu benar. Setelah Islam datang, sumpah boleh dilakukan hanya dengan nama Allah, dan bagi seorang muslim tidak bisa bersumpah selain dengan nama Allah sesuai sabda Nabi, Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla melarang kalian bersumpah atas nama nenek moyang kalian, barangsiapa yang ingin bersumpah, maka bersumpahlah atas nama Allah atau lebih baik diam”. [Al-Bukhari secara ringkas dalam kitab Manaqib Al-Anshar 3836; Muslim di dalam kitab Al-Iman III : 1646]. Selain itu, Rasulullah juga bersabda, Man halafa bighairillah faqad kafara aw asyraka. Barangsiapa yang bersumpah atas nama selain Allah maka dia telah berbuat kekufuran atau kesyirikan. [Abu Daud dalam kitab Al-Iman 3251; At-Tirmidzi dalam kitab An-Nudzur 1535].

Berbeda dengan al-Qur’an, Allah secara absolut menggunakan dua cara yaitu dengan menyebut diri­Nya yang Maha Agung atau dengan menyebut ciptaan-Nya. Sisanya bersumpah dengan nama makhluk-Nya. Maksud menyebutkan ciptaan-Nya itu untuk menegaskan keutamaan (fadlilah) dan manfaat bagi kesejahteraan manusia.Adapun macam-macam sumpah menurut Mazhab Hanafi itu ada tiga, yaitu, Al-yamin al-laghwu yaitu sumpah yang diucapkan tanpa ada niat untuk bersumpah. Pelanggaran atas sumpah ini tidak berdosa dan tidak wajib membayar kafarat; Al-yamin al-mu’akkidah yaitu sumpah yang diniatkan untuk bersumpah. Sumpah semacam ini wajib dilaksanakan. Jika dilanggar harus membayar kafarat; Al-yamin al-gamus yaitu sumpah palsu yang mengakibatkan hak-hak orang tak terlindungi atau sumpah fasik dan khianat. Sumpah semacam termasuk dosa besar.

***

Dua bulan terakhir ini, pelantikan demi pelantikan aggota dewan terhormat berbagai daerah dilakukan, puncaknya ketika anggota DPR, MPR, dan Presiden Republik Indonesia terpilih 2014-2019 diambil sumpah dan janjinya. Khusus untuk para anggota dewan yang kerap mendapat sorotan karena ulahnya yang sensional, non profesional, hingga kekanak-kanakan. Mereka disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung (MA) Hatta Ali.Saat itu (1/10/2014), sejumlah perwakilan anggota DPR maju ke depan sidang. Masing-masing tokoh agama berdiri di samping para perwakilan anggota DPR terpilih itu dengan membawa kitab suci.Hatta membacakan sumpah yang diikuti seluruh Wakil Rakyat. Berikut isi sumpahnya: "Demi Allah (Tuhan) saya bersumpah/berjanji: bahwa saya, akan memenuhi kewajiban saya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dengan berpedoman pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; bahwa saya dalam menjalankan kewajiban akan bekerja dengan sungguh-sungguh, demi tegaknya kehidupan demokrasi, serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi, seseorang, dan golongan; bahwa saya akan memperjuangkan aspirasi rakyat yang saya wakili untuk mewujudkan tujuan nasional demi kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia!" Mencermati redaksi dan subtansi sumpah di atas, nampaknya tidak sesuai dengan rukun sumpah menurut syariat Islam.

Setidaknya ada tiga poin yang harus diluruskan. Pertama, sumpah adalah tauqify, atau sebuah ketetapan dengan harus menggunakan kata, Wallahi, Billahi, dan Tallahi, tidak boleh diganti dengan kata, Demi Allah. Sebagaimana orang salat, tidak boleh mengganti takbiratul ihram, "Allahu Akbar" dengan "Allah Maha Besar". Dengan itu, sumpah DPR ataupun pejabat lainnya yang baru dilantik hanya dengan menggunakan "Demi Allah" gugur secara pasti, dan tidak ada konsekwensi logis maupun teologis bagi pelanggarnya. Apalagi dalam redaksinya sumpah disatukan dengan janji yang sangat jauh berbeda. Karenanya, jangan banyak berharap akan kesetiaan para anggota dewan dalam memegang teguh sumpahnya. Sekadar acara seremonial belaka.

Kedua, yang menyumpah bukanlah pihak MA karena bukan MA yang diwakili, melaikan rakyat, jadi rakyatlah yang harus menyumpah wakilnya. Caranya, cukup dengan mengambil beberapa tokoh agama dan masyarakat dari setiap Dapil masing-masing anggota dewan terpilih. Berbeda dengan menteri yang disumpah oleh presiden karena memang kedudukan menteri adalah pelaksana tugas presiden.

Ketiga, Sumpah yang ideal menurut syariat harus bersedia menerima konsekwensi teologis jika melanggar. Maka inilah isi sumpah yang tepat: "Wallahi, saya akan melaksanakan tugas sebagai anggota DPR dengan sebaik-baiknya sesuai ketentuan dan undang-undang. Jika saya tidak melaksanakan tugas dengan baik, atau korupsi walaupun hanya seribu rupiah maka laknat Allah dunia-akhirat akan menimpa saya dan seluruh keluarga saya!"

Semoga para wakil rakyat yang duduk di kursi dewan terhormat, baik daerah maupun pusat benar-benar amanah dan teguh memegang sumpah dan janjinya. Jika mereka khianat dan korupsi, semoga laknat Allah dunia-akhirat akan menimpa mereka. Demikian pula, dengan momentum tahun baru Hijriah 1436 ini, penduduk Indonesia berharap supaya para dewan terhormat, dari daerah sampai pusat, para pemerintah dari Kepala Desa hingga Presiden dapat menjalankan tugasnya dengan penuh amanah dan khidmat. Demi terciptanya masyarakat Indonesia yang adil dan beradab, bukan zalim dan biadab. Selamat Tinggal tahun 1435 Hijriah, dan selamat datang tahun 1436 Hijriah!  Dimuat harian Cakrawala 1 Muharram 1436 H/25 Okt. 2014

Ilham Kadir, Peserta Kaderisasi Seribu Ulama BAZNAS DDII/Kandidat Doktor Pascasarjana UIKA Bogor.Terkirim dari tablet Samsung

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi