Kecerdasan Ibnu Abbas dan Ulama Syiah Penjahat Kelamin

Raja Heraklius, penguasa Romawi, pernah mengirim surat kepada Muawiyah bin Abi Sofyan, dalam surat itu, Sang Raja menanyakan 16 perkara, yaitu:


  1. Apa asal-muasal dari setiap sesuatu; 
  2. Apa yang tidak dianggap sebagai wujud; 
  3. Agama apa yang diterima oleh Allah; 
  4. Apa pembuka salat; 
  5. Apa tanaman surga; 
  6. Bagaimana salatnya seluruh mahluk;
  7. Ada empat mahluk yang memiliki ruh tapi tidak pernah melewati tulang rusuk laki-laki maupun rahim wanita, apakah itu?; 
  8. Siapakah laki-laki yang tidak memiliki seorang ayah?; 
  9. Kuburan apa yang berjalan bersama penghuninya; 
  10. Apa pelangi itu?; 
  11. Tempat apa yang hanya sekali terkena sinar matahari?; 
  12. Apakah sesuatu yang hanya sekali terbang dan tidak pernah sebelum atau sesudahnya?;
  13. Mahluk apakah yang bernafas tapi tidak memiliki ruh?; 
  14. Apakah hikmah hari ini, kemarin, esok, dan lusa?; 
  15. Bagaimana kilat dan petir terjadi berikut suaranya yang menggelegar?; dan 
  16. Mengapa bulan dapat susut dan hilang?


Setelah membaca surat yang aneh dan rumit tersebut, Muawiyah menulis surat balasan kepada Raja Heraklius yang isinya sebagai berikut, Aku tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Cobalah kirim pertanyaan itu kepada Ibnu Abbas. Insya Allah, beliau akan menjawabnya dengan sangat baik.

Setelah menerima dan membaca surat balasan di atas, tanpa pikir panjang, Raja Heraklius langsung melayangkan pertanyaan itu pada Ibnu Abbas. Sepupu sekali Rasulullah itu, usai menerima surat yang berisi pertanyaan, langsung dijawab sebagaimana berikut:


  1. Asal-muasal dari sesuatu adalah air, sebagaimana firman Allah, Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Waj'alna minal ma'i kulla syai'in hayyin; 
  2. Sesuatu yang tidak dianggap sebagai wujud adalah dunia, karena ia akan rusak dan binasa; 
  3. Agama yang hanya diterima Allah adalah, La ilaha illallah wa Muhammadurrasulullah; 
  4. Pembuka salat adalah Allahu Akbar; 
  5. Tanaman surga adalah, La haula wala quwwata illa billahhil 'aliyyil 'azhim;
  6. Salatnya seluruh mahluk adalah, Subhanallah wabihamdihi; 
  7. Empat mahluk yang memiliki ruh tapi tapi tidak pernah melewati tulang rusuk laki-laki maupun rahim wanita adalah: Adam, Hawa, tongkat Nabi Musa yang dapat berubah jadi ular, dan kambing yang dijadikan tebusan untuk Nabi Ismail; 
  8. Laki-laki yang tidak memiliki seorang ayah adalah Nabi Isa; 
  9. Kuburan yang berjalan bersama penghuninya adalah ikan hiu yang berjalan di lautan (berenang) bersama Nabi Yunus ketika berada dalam perutnya; 
  10. Pelangi tanda bahwa Allah menyelamatkan hamba-Nya dari musibah tenggelam; 
  11. Tempat yang hanya sekali terkena sinar matahari dan tidak pernah sebelum atau sesudahnya adalah laut yang terbelah sehingga menjadi jalan bagi Nabi Musa dan pengikutnya; 
  12. Sesuatu yang terbang dan tidak pernah sebelum atau sesudahnya adalah bukit Tursina yang jaraknya dari Baitul Maqdis sekitar empat malam perjalanan. Ketika kaum Bani Israil durhaka pada Allah, maka Allah menerbangkan bukit Tursina dengan dua sayapnya. Tiba-tiba terdengar suara berkata, Jika kalian menerima Kitab Taurat, maka bukit ini akan kusingkirkan dari kalian, tetapi jika kalian menolaknya, maka aku akan menjatuhkan bukit ini di atas kepala kalian. Mereka pun akhirnya menerima kitab Taurat dengan terpaksa sehingga bukit Tursina dikembalikan ketempat asalanya;
  13. Sesuatu yang bernafas namun tidak memiliki ruh adalah waktu subu, Dan demi subuh apabila fajarnya mulai bernafas (menyingsing). Was shubhi idza tanaffas, (QS. At-Takwir: 18); 
  14. Hikmah hari ini adalah untuk beramal, hari kematian untuk dijadikan pelajaran dan perumpamaan, hari esok untuk dihadapi, hari lusa untuk merencanakan sesuatu; 
  15. Kilat dan petir merupakan angin di tangan malaikat yang dipukulkan pada awan sehingga terjadilah suara menggelegar; dan 
  16. Bulan dapat susut dan hilang, berdasarkan Firman Allah, Dan kami jadikan malam, lalu Kami jadikan tanda siang itu terang, (Al-Isra': 12). Seandainya bulan tidak disusutkan, maka manusia tidak akan dapat memebedakan antara siang dan malam. (Al-Amili, Al-Kasykul, jld. 1/300).


***
Ibnu Abbas, atau anak dari Abbas, adalas sahabat Nabi sekaligus sepupu sekalinya. Ia pernah didoakan oleh Nabi, Allahumma 'allimhu at-ta'wil wafaqqihhu fid-din. Ya, Allah berikanlah karunia Ibnu Abbas untuk mengetahui ta'wil dan pemahaman dalam agama.  Doa Nabi benar-benar mujarab, lambat laun terlihat jelas akan kemampuan menakwil dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an, terutanam ayat-ayat mutasyabihat. Misalnya saja, ketika menafsirkan "alif-lam-mim" pada awal surah Al-Baqarah. Menurutnya, alif ditakwilkan dengan Allah, lam dengan Jibril dan mim dengan Muhammad. Jadi alif-lam-mim ditakwilkan dengan, Allah menurunkan Al-Qur'an melalui Jibril kepada Nabi Muhammad.

Tak syak lagi, jawaban atas pertanyaan yang diajukan Heraklius merupakan bagian dari kecerdasan Ibnu Abbas. Menjawab pertanyaan seperti di atas tentu saja memerlukan penghayatan lebih dalam terhadap ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis. Hanya dengan banyak bertadabbur, baik kepada ayat-ayat Al-Qur'an maupun kepada alam sebagai ayat kauniah, seorang dapat mengasah mata batinnya, bertambah pengetahuannya, dan akidahnya kian mantap.

Namun, sehebat mana pun pengetahuan kita, tapi dalam beribadah tidak didasari dengan keikhlasan dan mutaba'atussunnah, atau mengikuti sunnah, maka ibadah kita akan tertolak, dan boleh jadi hanya mendatangkan dosa. Fenomena inilah yang terjadi pada sekte sesat Syiah. Nampak ulamanya dibalut jubah dengan sorban, tapi akidahnya sesat, syariatnya menyimpang. Kesesatan akidahnya dimulai dengan perbedaan rukun Islam dan Iman sebagaimana diyakini Ahlussunnah wal-Jamaah, sedangkan dari sisi syariat, salah satunya adalah prilaku nikah mut'ah alias kawin kontrak. Menikahi wanita dalam jangka masa tertentu, setelah kontraknya habis, ia pun dicampakkan, maka tidak heran jika para ulama Syiah yang bergelar Ayatullah sekali pun telah menjadi penjahat kelamin. 

Gonta-ganti pasangan dari satu gadis ke lain gadis. Sungguh perbuatan yang keji. Di sinilah letak perbedaan Ibnu Abbas dan para ulama su' Syiah, yang pertama dengan ilmua yang dimilikinya ia telah melakukan pencerahan pada umat sepajang sejarah kaum muslimin, dan yang kedua, ulama penghuni neraka, kerjanya hanya menyesatkan umat dari masa ke masa, ajaran dan agama mereka dibentuk dan dibangun di atas dendam, kebohongan, celaan, dan segala jenis prilaku iblis telah menyatu dalam ajaran mereka: Syiah-Rafidhah. Wallahu A'lam!

Ciawi-Bogor, 24 Sep. 2014. Ilham Kadir, Peserta Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) BAZNAS-DDII 2014; Kandidat Doktor Pascasarjana UIKA Bogor.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an