Jihad Harta di Surabaya

Surabaya, menyebutnya, mengingatkan kita pada pertarungan 'sura' ikan hiu, dan 'baya' atau buaya. Begitulah mitologi orang Jawa Timur yang diabadikan dalam bentuk lambang dan nama kota.

Kita kenal pula, sungainya dengan sebutan "Kalimas" dan pelabuhan "Tanjung Perak", maka dikenal pula kota ini, lumbung emas dan perak. Ada satu lagi, Surabaya, adalah kota pahlawan, arek-arek suroboyo, di bawah komando Bung Tomo melawan dan mengusir penjajah Belanda dengan pekikan "Allahu Akbar", mereka, arek-arek Suroboyo itu telah berjuang dengan jiwa dan raganya. Perjuangan mereka mengusir penjajah adalah bagian dari ibadah, bagi yang meninggal otomatis akan dinilai sebagai syahid, sebuah kemuliaan bagi pelakunya dan akan diganjar surga yang dipenuhi oleh bidadari cantik.

*** 

Beribadah Dengan Harta, itulah tajuk acara Gala Infaq kali ini yang diadakan di Ballroom Hotel Mercure Surabaya, Senin 29 Sep. 2014. Ustad Bachtiar Nasir datang mengetuk pintu hati para agniya agar tertarik untuk beribadah dan berjihad dengan harta. Jika dulu Bung Tomo dan arek-arek Suroboyo berjuang dengan jiwa dan raga, maka kali ini, cukup dengan harta yang levelnya tak kalah mulia dengan jiwa dan raga.  Bakda Isya, para hadirin mulai berdatangan dan dipersilahkan langsung menyicipi makanan di meja prasmanan, berbagai jenis makanan yang telah disediakan panita tabung infak.  Begitu hadirin sudah mengambil tempatnya masing-masing, acara pun dimulai dengan pembukaan oleh protokol lalu dilanjutkan dengan mukaddimah oleh Ustad Bachtiar, ia memulai ceritanya dengan menuturkan tetangganya yang tuan tanah dan kaya raya namun terkena stroke lalu meninggal. Sebelum meninggal, ia sering menyebut-nyebut kata, "duit Nasir", nama terakhir adalah ayah dari Ustad Bachtiar.  Ketika hendak dikuburkan, orang kaya itu, kuburannya kebanjiran, berkali-kali dipindahkan, berkali-kali pula kuburan banjir, karena itu, dikuburkan dalam keadaan banjir dan air memenuhi liang lahad, itu pun menjelang malam. 

Beberapa hari setelah meninggal, orang ramai mengahadiri tahlilan, dan kerap dijumpai telur busuk sebelum dimakan. Tak begitu lama setelah meninggal, rumahnya terbakar, dan hartanya jadi rebutan keluarga dan anak-anakya. Orang itu, semasa hidupnya dikenal dengan sifat kikirnya, dan enggan berbagi.

Pernah ada kisah di Timur Tengah seorang kaya yang tiba-tiba sakit di tengah perjalanan, maka ditolonglah oleh orang yang ada di sekitarnya. Setelah ditolong Si Kaya itu pun meninggal. Para orang sekampung patungan membeli kain kafan, dan dimakamkan pada TPU milik rakyat umum, bukan kalangan orang-orang kelas atas. Kekayaan, ternyata kadang tak mampu menolong seseorang. Di sinilah letak keistimewaan orang-orang dermanwan yang rela berjihad dengan harta.

Bandingkan dengan kisah ini, ketika kaum Quraisy berhijrah ke Madinah, di sana mereka kekurangan air, padahal ketika di Makkah, para muhajirin itu terbiasa minum air zam-zam yang begitu melimpah. Mereka pun datang mengadu, Ya Rasulullah, kami kekurangan air, dan saya dapati ada sumur milik Yahudi bakhil.  Nabi pun ketemu Yahudi itu, mendoakan kiranya dia diberkahi hidup dan hartanya, atau agar masuk Islam. Tapi Yahudi itu dengan congkak dan angkuhnya, menolak Rasul dan doanya, karena ia tak butuh doa, hanya butuh harta.  Maka Rasul berdoa agar ada umat Islam yang mampu membeli sumur itu, terdengarlah masalah ini kepada Usman bin Affan. Usman pun ketemu Yahudi itu, setelah negosiasi, ia memutuskan untuk membeli sumur itu, dengan harga 5 Miliar, itu pun hanya separuh.  Usman lalu minta agar sumur itu dibeli separuhnya saja. Dengan cara bergantian, sehari milik Yahudi dan hari berikutnya milik seluruh penduduk Madinah.  Kemudian Usman memberi pemberitahuan pada masyarakat Madinah untuk menggunakan sumur itu dengan cara bergantian. Namun banyaknya kaum Muhajirin dan Anshar datang MCK di sumur itu, maka si Yahudi pun merasa rugi jika harus berkongsi, karena itu terjadilah renegosiasi, berupa pembelian sumur secara total termasuk lahan yang terdapat di sekitarnya, dengan nominal 5 M. Maka total uang sudah digelontorkan Usman untuk satu sumur berjumlah 10 M dalam kurs mata uang saat ini.

Bersama Ustadz Bachtiar Natsir
Karena air mengalir di sekitar sumur itu, maka tumbuhlah pohon kurma, lalu mendatangkan rezeki lain bagi Usman yang jauh lebih banyak dari harga sumur tadi, berupa buah-buahan kurma dengan jumlah yang fantastis, namun, dengan kedermawanannya, menantu Nabi itu mewakafkan seluruh pohon kurmanya yang ada disekitar sumur. Dan begitulah keistimewaan orang yang telah berjuang di jalan Allah.

Sampai saat ini, setelah berlalu sekitar lima belas abad, Allah tetap menjaga harta Usman bin Affan, dan dimanfaatkan untuk kepentingan umat, bahkan tanah wakafnya pun dibanguni hotel tempat menginap, yang menguntungkan miliaran rupiah per tahun, dan hasilnya dikembalikan pada umat. Demikian penjagaan Allah pada harta Usman bin Affan yang sangat dermawan.  Firman Allah, wama anfaqtum min syai'in fahua yakhlifuhu wahua khaerurrazikin. Apa saja yang engkau infakkan di jalan Allah,  maka Allah akan menggantinya, dan Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.  Para sahabat Nabi itu tidak pernah su'u-dzon kepada Allah. Karena itu mereka rela berinfak tanpa batas, dan apa pun yang diinfakkan pasti akan terganti. Khaerurradzikin adalah manifestasi kekuasaan Allah.

Cerita lain, ada seorang teman muallaf dari Bali. Dia adalah orang asing, awalnya hanya memiliki catering kecil-kecilan. Si Muallaf tadi yakin pada surah Al-Maun. Ia pun memiliki kebiasaan dengan menyediakan makanan sebanyak 300 bungkus setiap Jumat dengan sasaran para jama'ah Jum'at di Bali dan berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lain. Dengan kebiasaannya itu, kini berkat berkah dari Allah, usahanya telah menjadi catering halal terbaik di Bali, bahkan sudah mulai ekspansi ke Jakarta. Begitulah keajaiban sedekah.

Kembali ke Timur Tengah. Seorang saleh dan kaya, selalu bermimpi, mimpinya, disuruh mengumrahkan tetangganya. Masalahnya, tetangganya itu tidak pernah terlihat salat. Maka Si Kaya saleh itu menjumpai syaikhnya, dan syaikhnya itu berkata, Kalau setelah ini engkau masih saja bermimpi mendapatkan perintah untuk mengumrahkan tetanggamu, maka lakukanlan, kalau dia tidak bisa maka ajarkanlah dia salat dan umrah.

Malamnya, lelaki itu kembali bermimpi mendapat perintah untuk membawa umrah tetangganya, begitu tetangganya dia ajak, merasa keberatan karena jangankan umrah salat saja belum terlalu paham. Maka diajarilah ia salat, dan dituntunlah pergi berumrah. Allah menakdirkan pada tetangganya, ketika berdada di Masjidil Haram, dan melakukan salat, dalam sujudnya itu ia menghembuskan nafas terakhirnya. Wafat.

Lelaki saleh itu ingin tau, ada apa gerangan dengan tetangganya, apa keistimewaannya, bukankah ia tak pernah salat. Istrinya pun ditanya, ia menuturkan bahwa suaminya itu, semasa hidupnya, memiliki sifat mulia, tiap hari selalu membawakan makanan kepada seorang tua renta di pinggir kota yang sebetulnya tidak ada hubungan keluarga sama sekali. Hanya kemanusian dan keikhlasan lillahi ta'ala membuatnya ia rutin memberi makan orang lain.

***

Saya hanya ingin mengajak Bapak dan Ibu untuk melepaskan diri dari penghambaan pada materi. Dan saya ingin jelaskan juga, tentang tabung infak yang saya pimpin. Dinamakan tabung, bukan tabungan, karena itu tidak ada iming-iming keduniaan, murni orientasi akhirat. Maka, tabung infak tidak menerima investasi dunia, bahkan juga tidak menerima zakat.  Saya ingin mengankat derjat kita semua, zakat dan infak mungkin sudah bagus, karena itu saya mengajak untuk berjihad dengan harta. Jihad harta manfaatnya tidak hanya teritorial. Di Sudan, ada tempat yang butuh sumur dengan harga lima ribu dollar, kita bantu. Padahal kita juga butuh, namun di sana lebih butuh, karena itu kita dahulukan yang lebih membutuhkan. Di sinilah letak solidaritas kita selaku orang Islam yang diikat oleh sebuah ukhuwah islamiyah.  Kami juga hari ini mengumpulkan para intelektual dan ulama muda untuk berjuang dengan ilmu dan harta, datang ke sini dengan ongkos maing-masing. Saya percaya, hanya dengan tampilnya ulama sehingga umat akan baik, dan jika ulama rusak maka rusaklah masyarakat. Kita mengobati masyarakat melalui ulama.  Puncak dari jihad harta. Berjuang menegakkan agama Allah dan membangun bangsa yang membutuhkan tekad dan mental juang yang kuat. Infak nyawa adalah bodinya, sedangkan infak harta dalah ruhnya. Mudah-mudahan di sini lahir orang-orang yang rela berjuang dengan hartanya. 

Targhib atau dorangan berinfak dengan janji dan imbalan dari Allah di atas, sebagaimana diutarakan dan dinarasikan Ustad Bachtiar Nasir benar-benar mampu mendorong dan menggugah hati para hadirin agar rela berjihad dengan hartanya. 

Buktinya, satu persatu berlomba-lomba menitipkan hartanya di tabung infaq, mulai dari uang tunai sejumlah seratus ribu hingga seratus juta rupiah. Atau mereka yang berkomitmen untuk terus menerus berjihad dengan harta tiap bulannya, dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Total dana cash terkumpul sebanyak tujuh ratus enam puluh lima juta rupiah, di luar mereka yang berkomitmen untuk menabung tiap bulannya secara reguler.

Ya Allah, berkatilah rezeki mereka, permudahlah urusannya, angkatlah penyakitnya, sehatkan jiwa dan raganya, karuniakanlah kebahagiaan dunia akhirat, lancarkanlah usahanya. Amin Ya Rabbal 'Alamin!  

Surabaya, 30 September 2014. Ilham Kadir, melaporkan untuk Arrahman.com.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena