Hijrah Demi Kesuksesan

Sejarah mencatat, orang-orang yang berhasil dalam hidupnya adalah mereka yang pernah melakukan perjalan dengan meninggalkan tempat tinggal atau kampung halaman bahkan negaranya untuk berhijrah demi meraih kesuksesan.

Bahkan manusia pertama, Nabi Adam dikisahkan, sewaktu dibuang dari surga setelah terjadinya pristiwa 'pohon khuldi', ia terdampar di India lalu berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya, hingga bertemu kembali dengan pasangannya, Hawwa di Padang Arafah. Andai saja, Adam 'alaihissalam tidak beranjak dari tempat dimana ia dilempar, nihil akan ketemu istrinya, dan jika itu terjadi, maka sejarah perkembangan umat manusia akan lain kisahnya.

Bapak Para Nabi, atau Ibrahim 'alaihissalam, adalah rasul yang kisahnya diliputi dengan hijrah dari Palestina ke Makkah, perjalanan yang melelahkan karena saat itu belum ada teknologi tranportasi sebagaimana sekarang ini. Normalnya, perjalanan dengan kafilah onta paling cepat memakan waktu sebulan lebih (40 hari). Ibrahim dan istrinya Hajar, serta anak balitanya Ismail, bersama-sama mengarungi panasnya terik matahari di gurun pasir, serta dinginnya malam demi sebuah hijrah yang berlandaskan wahyu ilahi.

Sejarah lalu mencatat, Siti Hajar bersama anaknya Ismail tinggal di Makkah, di sana, sang putra dibesarkan, hingga diewasa, diangkat menjadi Rasul, berkeluarga, hingga memiliki ketururunan yang kita kenal dengan bangsa Arab. Sementara, istri lain Ibrahim, Sarah, yang berdiam di Palestina, melahirkan anak bernama Nabi Ishaq yang kelak memiliki keturunan dikenal dengan sebutan bangsaYahudi.

Nabi Musa, yang akrab dengan kisah-kisah petualangannya dalam kitab samawi, seperti Taurat, Injil, dan Alquran menarik untuk diangkat kisahnya. Betapa tidak, sejak awal kelahirannya ia sudah menjadi seorang muhajir dengan artian, meninggalkan ibunya dengan cara dimasukkan dalam keranjang lalu dihanyutkan ke sungai Nil, harapan bundanya, agar ia selamat dari genosida massal bayi yang sedang dilakukan Raja Fir'aun dengan bala tentaranya.

Fir'aun murka sebab tukang sihir sekaligus tukang bisiknya menyampaikan bahwa kandidat penggantinya sebagai raja telah lahir yang kini telah jadi bayi. Maka, seluruh bayi seantero Mesir pun dihabisi satu demi satu, kecuali Musa kecil yang dibuang bersama keranjang melalui aliran sungai Nil. Kelak, Musa justru dipelihara oleh Fir'aun, tumbuh menjadi lelaki dewasa, perkasa, cerdas, dan diangkat menjadi Nabi dan Rasul untuk menyelamatkan Bani Israil dari jajahan Fir'aun sekaligus mematahkan segenap keangkuhan Fir'aun bahwa dirinya adalah tuhan yang lebih tinggi. 

Allah berfirman pada Musa, Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, katakan padanya, Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri dari kesesatan? Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu supaya takut pada-Nya. Lalu Musa menampakkan kepadanya mukjizat besar, tetapi Fir'aun mendustakan dan mendurhakai, (QS. An-Naziat: 17-20).

Nabi Isa juga demikian, semenjak dalam kandungan, ibunya sudah berhijrah meninggalkan kaumnya yang mencemooh karena dianggap mengandung anak zina. Maka ceritakanlah kisah Maryam di dalam Alquran, ketika ia menjauhkan diri dari kelurganya ke suatu tempat di sebelah timur. Maka, Maryam mengandung (Isa) lalu menyisihkan diri dengan kandungannya ke suatu tempat, (QS. Maryam: 16 & 22). Maryam akhirnya berhasil melahirkan Nabi Isa dengan selamat berkat hijrahnya meninggalkan kaumnya yang berusaha mengintimidasi dan terus mengangganggunya.

Nabi Muhammad, sebagai rasul pamungkas, perjalanan hidup dan perjuangannya sangat kental dengan nuansa hijrah dari satu tempat ke tempat lainnya.  Kaumnya, khususnya bangsa Qurasy tidak bisa menerima ajaran dan ideologi yang dibawa sang nabi. Walau pada hakikatnya, jati diri Rasulullah yang terkenal al-amin atau penuh amanah, jujur, ramah, dan sangat dermawan dicintai oleh kaumnya. Tapi ajarannya yang monotheis itu, tidak bersahabat dengan kaum quraisy yang memiliki dewa untuk disembah di sekitar ka'bah dengan jumlah lebih dari 300 patung.

Selain itu, Nabi juga dianggap akan merusak tatanan ekonomi kapitalis para pemuka Qurasy. Adanya ka'bah sebagai pusat ziarah dan ibadah otomatis mengundang turis untuk datang, menginap, bersenang-senang, dan belanja aneka ragam keperluan dan souvenir. Ajaran Nabi yang monotheis itu akan mengancam ekonomi yang bersumber dari pariwisata. Karena itu, Nabi Muhammad, ajaran, dan pengikutnya harus ditumpas.

Melihat situasi itu, Nabi menginstruksikan para pengikutnya untuk hijrah, pertama ke Habasyah (Afrika), selanjutkanya ia sendiri hijrah ke Tha'if, dan hijrah yang paling dikenang adalah, eksodus besar-besaran umat Islam dari Makkah ke Yasrib atau Madinah.

Berkat hijrah, ajaran Rasulullah terus berlanjut, diterimah oleh masyarakat, baik mereka yang berhijrah dari Makkah dengan julukan muhajirin, maupun yang menyambut para pendatang dengan sebutan "Anshar" atau para penolong. Di Madinah, Nabi menata kehidupan umat dan masyarakat luas, di sana ia diangkat sebagai kepala negara, dan memimpin selama dua belas tahun lebih, dan sanggup melakukan perubahan yang terdahsyat dalam sejarah umat manusia.

Sejarah juga mencatat, salah seorang sahabat Nabi yang fenomenal, Salman Al-Farisi, hidupnya penuh dengan lika-liku dan petualangan. Ia berasal dari keluarga bangsawan, ayahnya adalah salah satu penguasa di kerajaan Persia, dan Salman adalah purta mahkota. Ia bahkan bisa bersenang-senang sambil dikelilingi pelayan-pelayan cantik. Anehnya, semua itu ia tinggalkan, berhijrah dari satu negara ke negara lainnya, demi mencari sebuah kebenaran. Perjalannya melintasi satu kota ke kota lainnya memakan waktu bertahun-tahun, hingga akhirnya dia terdampar di Madinah sebagai seorang budak. Namun justru di situlah ia menemukan kepuasan setelah bertemu dengan Rasulullah, ia masuk Islam, lalu dibebaskan sebagai budak lewat bantuan Nabi dan para sahabat. Kelak, ia tercatat sebagai sahabat yang cerdas dan menjadi arisitek perang Parit (handaq) yang dimenangi oleh kaum muslimin.

***

Dalam hijrah terkandung banyak manfaat. Ia adalah amalan para nabi dan orang-orang saleh umat ini. Banyak ayat yang menyeru umat Islam untuk melakukan hijrah, agar kiranya dapat membuka tabir rahasia ilahi, serta belajar banyak dari ayat-ayat kauniyah yang berbentuk alam, bahkan orang yang hijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya, kemudia kematian menimpanya sebelum sampai tujuan, maka sesungguhnya telah tetap pahalanya di sisi Allah, (QS. An-Nisa': 100).

Para pendiri bangsa ini adalah muhajir ulung, lihatlah, Bung Hatta rela meninggalkan kampung halamannya di Padang-Sumatera demi meraih cita-citanya, menuntut ilmu hingga ke Belanda, dan kembali menjadi penggerak bangsa. Demikian pula Sukarno, ia tinggalkan Surabaya untuk selanjutnya tinggal dan belajar di ITB Bandung, kelak, ia menjadi pemimpin bangsa yang dikenang selamanya. Bersama Bung Hatta, Sukarno memproklamirkan berdirinya Republik Indonesia.

Ada pula M. Nasir, perdana menteri pertama RI. Ia juga bersal dari Padang, melanglang buana di Jawa, pikiran-pikirannya, hingga kini tetap aktual, terutama konsep negara dan agama. Bahkan lembanga dakwah yang ia dirikan, seperti Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia (DDII) dan Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) masih eksis sampai sekarang, maka, amal jariahnya pun terus mengalir.

Terlalu banyak contoh tentang keutamaan hijrah. Yang jelas esensi hijrah adalah perubahan, kemajuan, bahkan kesuksesan dunia akhirat. Para pemuda yang ingin maju dan berkembang, mereka harus berhijrah, meninggalkan keluarga, hidup mandiri, dan belajar mengentaskan masalah sendiri.

Mereka yang hanya tinggal di bawa ketiak orang tuanya, akan susah berkembang dan lambat dewasa. Dengan momen sumpah pemuda yang akan jatuh pada tanggal 28 Oktober, sekaligus Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1436, yang jatuh pada 25 Oktober, seakan mengajak para pemuda untuk bangkit dari hura-hura, menuju perjuangan agar menjadi pemuda tangguh, berilmu, dan beradab.

Meninggalkan kehidupan yang sia-sia seperti dugem, narkoba, seks bebas, premanisme, kriminalitas, menuju kesalehan individu dan sosial. Jika demikian halnya, maka pemuda Indonesia sudah siap menjadi generasi pembaru, memimpin bangsa penuh hikmat, berkeadilan sosial dan beradab. Korupsi tinggal menjadi kenangan, kesejahteraan menjadi milik seluruh bangsa Indonsia bukan golongan tertentu sebagaimana yang terjadi saat ini.

Untuk para pemuda, ada nasihat dari Imam Syafi'i, katanya, Berhijrahlah, engkau akan mendapatkan ganti apa saja yang engkau tinggalkan. Berleha-lehalah, karena manisnya hidup ada dalam perjalanan. Aku melihat air menjadi rusak karena dia tergenam. Jika mengalir akan jernih, jika diam akan keruh. Singa, tanpa meninggalkan hutan tidak akan dapat mangsa, dan anak panah, jika tidak dilepas oleh busurnya, tidak akan mendapat sasaran. Selamat Tahun Baru, 1436 Hijriyah!

Dimuat, Sindo Nasional 1 Muharram 1436 H/25 Okt. 2014 M.
Ilham Kadir, Peserta Kaderisasi Seribu Ulama, Baznas-DDII; Kandidat Doktor Pascasarjana UIKA Bogor.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi