Salman Al-Farisi dalam Pandangan Penganut Syiah

Sebagaimana dikisahkan Ibnu Abbas, bahwa Salman Al-Farisi adalah seorang laki-laki Persia, dari kota Asfahan, putra seorang kepala Negeri, dan sangat disukai oleh ayahnya, ia didudukkan di rumah laksana gadis pingitan, namun dia tetap sungguh-sungguh belajar ilmu Persia dan ilmu agama Majusyi yang merupakan anutan rakyat Persia.

Salman Al-Farisi menuturkan testimoni akan dirinya, Ayahku memiliki ladang yang luas, di sana ia mendirikan bangunan yang digunakan untuk mengawasi ladangnya. Pada suatu hari, ayah berkata padaku, Anakku, seperti yang kamu lihat, aku ini sangat sibuk. Pergilah ke ladang. Jangan kamu mengurung diri, hal itu akan membuat ayah repot sendiri di ladang untuk masa depanmu!

Aku pun keluar menuju ladang, di tengah perjalanan, aku melewati gereja umat Kristen. Saat itu mereka sedang beribadah di dalam. Aku pun masuk ke dalam gereja, apa yang mereka lakukan membuatku kagum. Aku berkata dalam hati, Demi Allah, agama ini lebih baik daripada agama kami! Aku berada di gereja hingga sore hari, dan tidak pergi ke ladang, tidak juga pulang ke rumah, sehingga ayah mengirim utusan untuk mencariku.

Karena aku kagum kepada agama Kristen, maka aku bertanya kepada mereka, Dari manakah asal agama ini? Mereka menjawab, Dari negeri Syam (Syiaria). Aku lalu pulang menemui ayah, dia berkata, Anakku, ayah telah mengirim utusan untuk mencarimu. Aku menjawab, Aku melihat suatu kaum yang beribadah dalam gereja. Apa yang mereka lakukan itu membuatku kagum. Aku tau, agama mereka lebih baik daripada agama kita. Ayah menjawab, Anakku, agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik daripada agama mereka! Aku menimpali dengan berkata, Tidak!

Ayahku menakut-nakuti, lalu mengikatku, tapi aku mengirim utusan untuk menemui Kristen itu. Aku sampaikan pesan kepada mereka bahwa aku setuju dengan agama mereka. Aku meminta memberitahu, siapa yang akan pergi ke negeri Syam, permintaanku pun dikabulkan.

Aku lepaskan belenggu besi yang memasung kakiku, lalu keluar bersama kaum Kristen itu, untuk meninggalkan Persia, menuju negeri Syam. Di sana aku bertanya kepada kaum Kristen mengenai ulama mereka. Mereka pun mengatakan, Ulama kami adalah uskup. Aku menemui uskup, dan berkata padanya, Aku ingin bersamamu, aku akan berkhidmat padamu, dan beribadah bersamamu! Uskup berkata, Berdirilah!

Ternyata aku mengabdi pada seorang yang buruk. Uskup itu memerintah umatnya untuk besedekah, namun, di saat umat bersedekah, uskup itu menyimpan sedekah jamaah untuk kepentingan pribadinya, hingga akhirnya ia berhasil mengumpulkan tujuh pundi-pundi yang penuh berisi emas dan perak. Kemudian uskup itu meninggal dunia. Kukabarkan kepada umatnya, prihal apa yang telah di lakukan sang uskup. Mereka mencela diriku, lalu kutunjukkan pada mereka harta uskup. Setelah mereka tau, mereka pun menyalib sang uskup, lalu, membuang dan merajamnya. Mereka pun menunjuk penggati uskup, dengan sosok yang saleh, zuhud, cinta kehidupan akhirat, dan baik. Allah membuatku simpati padanya, sampai ia meninggal dunia. Menjelang ajal menjemput, aku bertanya padanya, Tinggalkan pesan untukku! Dia menunjukkan padaku tentang sosok laki-laki di kota Mosul.

Aku pergi ke Mosul, untuk menemui laki-laki yang diceritakan sang uskup. Kuceritakan kabarku, kukatakan padanya bahwa seorang memerintahkan aku untuk menemuimu di Mosul. Laki-laki itu berkata, Berdirilah! Aku mengabdi padanya, sampai ia meninggal dunia, sebelum wafat, aku berkata padanya, Tinggalkan pesan untukku! Dia menjawab, Aku tidak mengenal seseorang yang menempuh jalan kami, kecuali seorang yang berada di Ammuriyah.  Aku menemui orang itu di Ammuriyah. Kuceritakan padanya kisahku. Ia memerintahkanku untuk tinggal bersamanya, dan memberiku beberapa imbalan. Darinya, aku berhasil mengumpulkan sejumlah harta dan sapi. Kemudian laki-laki itu meninggal dunia. Aku bertanya padanya, Siapa yang aku temui setelah Engkau? Dia menjawab, Aku tidak tau sosok orang pada zaman ini yang menempuh jalan kami. Tetapi, akan mengayomimu seorang Nabi yang diutus untuk membawa agama Ibrahim yang hanif. Ia berhijrah ke negeri yang kaya akan tanaman kurma. Nabi itu memiliki tanda-tanda yang tak tersembunyi. Di pundaknya ditutupi misi seluruh para nabi. Ia mau makan harta hadiah, tetapi tidak mau makan harta sedekah. Jika kamu mampu, temuilah dia! Kemudian laki-laki itu meninggal dunia.

Aku berpapasan dengan kafilah Arab dari Bani Kalab. Aku berkata pada rombongan itu, Izinkan aku ikut bersama kalian. Sebagai imbalan, aku berikan sapi dan kambingku. Ajaklah aku ke negeri kalian! Mereka membawaku ke Wadil Qura, tetapi, mereka menjualku kepada seorang laki-laki Yahudi. Melalui Yahudi itu, aku tiba di negeri yang kaya akan kurma. Aku tau, inilah negeri yang dikisahkan uskup Ammuriyah itu. Di sana, aku tinggal bersama seorang Yahudi yang telah membeli diriku. Kemudian, datanglah seorang laki-laki Yahudi dari Bani Quraizhah, lalu membeliku dari majikanku. Ia membawaku ke Madinah, dan aku mengenali kota dari ciri-ciri yang diceritakan Uskup Ammuriyah. Aku tinggal bersama laki-laki Bani Quraizhah itu dan bekerja di kebun kurmanya.
 Allah mengutus Nabi-Nya di Makkah. Aku mengabaikan hal itu hingga beliau hijrah ke Madinah. Beliau singgah di rumah Bani Amru bin Auf. Saat itu, aku sedang berada di atas pohon kurma. Putra paman temanku menemuiku. Ia berkata, Hai Fulan! Semoga Allah melaknat Bani Qailah. Aku baru saja berpapasan dengan mereka, kulihat mereka mengerumuni seorang laki-laki yang datang dari Makkah. Dia menganggap dirinya Nabi Allah.

Demi Allah. Mendengar berita itu, badanku menggigil. Aku gemetaran di atas pohon kurma, sampai-sampai aku nyaris terjatuh. Aku pun turun dengan cepat, aku bertanya-tanya dalam hati, Kabar apa gerangan ini? Majikanku menghujaniku dengan kata-kata, Apa hubunganmu dengan orang itu? Lanjutkan kerjamu!

Aku pun lanjutkan pekerjaanku hingga sore. Kukumpulkan makanan, lalu aku bawa menghadap sang Nabi. Saat itu, ia berada di Quba para sahabatnya. Aku berkata padanya, Terimalah ini. Aku ingin bersedekah dengan makanan ini. Aku dengar, engkau adalah laki-laki saleh. Engkau dan para sahabatmu sedang membutuhkan makanan ini. Menurut pendapatku, engkau yang paling berhak menerimanya.

Kuletakkah makanan itu di depannya. Dia menahan tangannya, lalu berkata pada sahabatnya, Makanlah! Aku berkata dalam hati, Inilah tanda yang pertama. Aku pun lalu kembali ke rumah. Dia berangkat ke Madinah. Aku pun mengumpulkan makanan dan kubawa padanya, aku berkata pada Muhammad, Aku menyukai kemuliaanmu. Maka aku hadiahkan makanan ini padamu. Ini bukanlah sedekah. Dia pun mengambil makanan itu, dan memakannya. Para sahabat juga ikut makan. Aku berkata dalam hati, Ini tanda yang kedua.

Aku pulang dan keesokan harinya, aku jumpainya sedang melawat jenazah di pamakaman Baqi'. Para sahabat berada di sekelilingnya. Kuucapkan salam padanya. Aku hendak melihat tanda pada punggungnya. Dia tau yang kuinginkan. Kemudian melepaskan selendangnya. Aku lihat tanda pada panggungnya, dan aku lalu  menciumnya sambil menangis, Rasulullah mendudukkanku di hadapannya.

Wahai Ibnu Abbas! Aku ceritakan padanya segala yang terkait denganku, sebagaimana telah kuceritakan padamu. Beliau merasa takjub dengan kisahku. Dia ingin pula para sahabat mendengarkan. Aku tidak sempat mengikuti beliau dalam Perang Badar dan Uhud karena aku masih menjadi budak. Kemudian beliau bersabda, Merdekakan dirimu Wahai Salman! Aku masih ikut tuanku sampai bisa memerdekakan diriku sendiri. Kutebus diriku dengan syarat menanam 300 pohon kurma kecil dan membayar 40 waqiyah (timbangan emas). Rasul bersabda, Bantulah teman kalian menanam kurma!

Para sahabat membantu dengan memberikan lima dan sepuluh bibit kurma, sampai semua syarat yang dibutuhkan untuk memerdekakan diri terpenuhi. Kemudian Rasulullah bersabda, Galilah tanah, jangan kamu taruh tanamanmu di galian itu sebelum aku menanamnya terlebih dahulu. Aku melakukan perintah beliau, para sahabat membantu hingga pekerjaan selesai. Kutemuinya dengan membawa bibit pohon kurma, lalu menanamnya dengan tangannya, kemudian meratakan tanah di atas tanaman itu. Setelah itu, beliau pergi. Demi Allah, yang telah mengutusnya dengan benar, tidak ada satu pun tanaman itu yang mati layu.

Kini tinggallah emas. Saat beliau sedang duduk, datanglah padanya salah seorang sahabat membawa sebuah benda emas berbentuk telur. Dia mendapatkannya dari sebuah lokasi penambangan. Beliau berkata, Panggil Salman yang miskin dari Persia, yang ingin memerdekakan dirinya! Beliau bersabda padaku, Gunakan ini untuk memerdekakan dirimu!

Aku pun menjawab, Wahai Rasulullah, bagaimana aku mengembalikan semua ini kelak? Dalam riwayat lain, Abu Thufail mendengar Salman berkata, Rasulullah membantuku dengan memberi sebuah emas berbentuk telur. Jika aku menimbang emas itu dengan satu orang, niscaya emas itu lebih berat. (Mahmud Musthafa Sa'ad & Nashir Abu Hamid al-Humaidi, trj. Golden Stories, 2013: 322).

***

Kisah heroik, penuh inspirasi di atas mengajarkan kita akan kegigihan, perjuangan, pengorbanan, kesabaran, serta waktu yang penjang dalam mencari kebenaran. Terlepas dari apa yang dilakukan Salman Al-Farisi sebagai garis Tuhan pada dirinya, namun proses pencarian kebenaran adalah bagian penting dari cerita di atas.

Bahwa Allah menentukan takdir seseorang, namun takdir itu, dapat hilang jika tidak diiringi dengan perjuangan untuk menggapainya, atau takdir jahat dapat menimpa siapun jika tidak berusaha mengindar darinya.

Pengembaraan Al-Farisi dalam menemukan kebenaran adalah bagian dari proses meraih kebenaran, walau harus mengorbankan kesenangan hidup berupa kekayaan dan harta benda yang dimilikinya. Jika diadopsi dalam konteks kekinian, nampaknya generasi muda Islam kian hari kian jauh dari ajaran dan kebenaran yang telah dicari oleh Al-Farisi melalui perjuangan dan perjalanan yang 5payah. Generasi masa kini, lebih suka dengan kehidupan yang penuh dengan kelalaian, jauh dari perjuangan dan pengorbanan, bahkan tidak sedikit yang terperangkat gaya hidup hedonisme.

Jati diri mereka telah hilang sebagai mukmin sejati, tidak lagi mengenal kata 'jihad' baik bil mal, apalagi bin-nafs, mereka bahkan ikut arus pemahaman bahwa jihad itu adalah teroris.

Salman Al-Farisi telah menjadi dari bagian penting buku sejarah peradaban Islam, namanya ditulis dengan tinta emas. Ia bahkan pernah menjadi arsitek perang handak, ketika menghadang gempuran kaum kafir qurasy Makkah berkolaborasi dengan  Yahudi Madinah, kemenagan umat Islam pun dapat diraih. Ide beriliannya itu menjadikan dirinya sebagai salah satu sahabat yang menjadi prototype pilar peradaban. Namun perlu dicatat. Bahwa Salman Al-Farisi hanyalah satu di antara sekian banyak batu-bata bangunan peradaban Islam, tidak ada monopoli sama sekali.

Karena itu, pandangan dan anggapan penganut sekte sesat Syiah, bahwa hanya Salman Al-Farisi dan segelintir sahabat lainnya yang tidak murtad selepas Nabi meninggal harus diluruskan. Pernyataan itu, tidak hanya tanpa asas, tapi dapat merontokkan sendi-sendi agama Islam, sebab, para manusia mulia yang memimpin umat Islam setelah Rasulullah wafat, seperti Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Al-Khattab, hingga Utsman bin Affan, dianggap telah murtad, kecuali Ali radhiallau 'anhu yang dimuliakan melebihi maqam Rasulullah.

Pandangan di atas tentu saja sesat dan menyesatkan. Mendudukkan Salman Al-Farisi di tempatnya yang mulia sejajar dengan sahabat-sahabat lainnya adalah tindakan yang adil dan tepat, sebagaimana ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah. Terlalu melampau, irrasional, dan buta akan kebenaran telah menjadi asas keyakinan penganut Syiah. Sebuah kesesatan yang terangnya ibarat matahari di siang bolong. Semoga kita terhindar dari godaan Syiah yang terkutuk. Wallahu A'lam!

Setu-Bekasi, 15 Sep. 2014. Ilham Kadir, Kandidat Doktor Pemikiran Pendidikan Islam Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), Bogor.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena