RS Internasional Awal Bross atau Awal Boros?

Bermula ketika saya terserang sakit gigi yang akut pada bagian ujung sebelah kanang bawah. Saya pun ke Puskesmas Enrekang, setelah diperiksa oleh dokter gigi (drg), didapati bahwa saya mengalami kropos gigi, mahkotanya telah tanggal, yang tersisa hanya mail dan akarnya.

Karena posisi giginya yang rumit, di samping mahkotanya telah hilang, maka tak semua drg mampu mengambil tindakan pencabutan, hanya yang ahli dan spesialis memiliki kualifikasi untuk mengangkat gigi borok seperti ini.

Gigi seperti ini tidak bisa dibiarkan tinggal, karena, menurut drg dapat menjadi sumber pembiakan bakteri, sisa-sisa makanan akan mengendap, membusuk, dan membiakkan bakteri, dan pada saatnya akan melahirkan pembengkakan, yang akan merusak sel-sel di sekitar mulut dan organ kepala lainnya. Mengerikan!

Saya lalu dirujuk ke RS Massenrengpulu, Enrekang, kembali dicek oleh drg, ternyata mereka tetap tidak bisa mengambil tindakan karena rumitnya posisi gigi yang borok itu. Saya pun harus dirujuk ke Makassar. Sambil dipilihkan, apakah ke RS Ibnu Sina atau ke RS Internasional Awal Bross. Saya pilih yang kedua, karena ini adalah rumah sakit internasional pasti pelayannya lebih baik, begitu pertimbangan saya.

Maka surat rujukan dari RS Massenrempulu pun keluar, pada tanggal 25 Agustus, yang berlaku selama sebulan. Pada tanggal 27/8/2014 saya tiba di Makassar, dan langsung ke RS Internasional Awal Bross, setelah antre selama tiga jam, saya pun di arahkan ke poliklinik Awal Bross, setelah menunggu giliran, saya pun diperiksa.

Dokter spesialis gigi Awal Bross melihat bahwa posisi gigi saya memang susah untuk diambil tindakan, atau dicabut, kecuali melalui pembedahan, dan harus dibius total. Karena itu, tidak dapat dikerjakan di poliklinik gigi melainkan di ruang operasi. Tidak hanya itu, Ibu dokter juga berkata, "Kalau bedah gigi seperti ini tidak bisa menggunakan Askes, tapi harus bayar sendiri, kalau Bapak mau, bisa diambil tindakan sekarang!" Saya pun menolak.

Sebelum keluar, saya menandatangani kertas sebagai bukti bahwa saya pernah konsultasi. Namun kembali saya bertanya, Kenapa mesti saya dibius total, padahal hanya sekadar mengangkat sebiji gigi? dokter gigi itu menjawab, Sebenarnya bisa tidak dibius total, di sini juga bisa saya kerjakan, hanya saja harus menggunakan biaya sendiri, tidak bisa pakai Askes. Saya tanyakan, berapa kira-kira dana yang dibutuhkan? Ia pun menoleh pada asistennya, si asisten langsung menyebut, antara Rp. 3.000.000., hingga Rp. 5.000.000., dokter gigi Awal Bross itu mengiyakan, bahwa segitu biaya yang saya butuhkan jika gigi saya ingin dicabut di RS Internasional ini. Saya tentu saja menolak, berdasarkan beberapa teman yang drg menyatakan bahwa pencabutan gigi di klinik ahli THT di Makassar estimasi biayanya tidak sebesar itu.

Seorang teman yang mengantar ke Awal Bross mendengarkan cerita saya. Dia langsung menyarankan agar membuat surat rujukan ulang, dan pindah rumah sakit, Sebaiknya ke RS Plamonia saja, karena saya pernah terkena kasus seperti kamu, dan dicabut di sana, cukup pergunakan kartu Askes! Sarannya.

Keesokan harinya, saya ke Puskesmas Pallangga Gowa, setelah diperiksa, langsung dikasi rujukan ke RS Syekh Yusuf Gowa. Di sana kembali dicek, lalu dirotgen, di dapati, tidak hanya kropos, tapi bentuk gigi saya yang disebut 'impaksi', yaitu miring ke samping dan mendorong gigi di sebelahnya, gigi semacam ini dapat menyebabkan sakit kepala, pusing-pusing, dan tak bisa konsentrasi.

Saya pun dirujuk ke Pusat Pelayanan Gigi dan Mulut. Saya minta ke RS Plamonia, tapi dokternya bilang, cukup di Pusat Pelayanan Gigi dan Mulut yang beralamat di Jln. Lanto Dg Pasewang, Makassar.

Hari Jumat tanggal 29 pagi, berbekal rujukan dan hasil rotgen dari RS Syekh Yusuf Gowa, saya pun ke Pusat Perawatan Gigi dan Mulut, setelah mendaftar, lalu diperiksa beberapa saat, dan di arahkan ke kamar bedah.

Sampai di kamar bedah, saya disambut dengan drg Ika Nugraha, setelah melihat surat pengantar dan beberapa dokumen lainnya, ia mengarahkan saya ke dental unit, memeriksa, lalu bertanya. Apakah Bapak punya riwayat penyakit jantung? Saya jawab, tidak. Apakah sudah sarapan? Sudah, jawab saya. Kalau begitu saya bedah sekarang juga, kata dokter yang ayu dan berparas cantik itu.

Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit, gigi borok saya diangkat oleh drg Ika, semua proses pendaftaran hingga pengambilan tindakan tidak lebih dari 20 menit. Allah memang menakdirkan saya untuk sakit gigi, tapi Allah juga menakdirkan drg Ika Nugraha mengangkat penyakit saya.

Karena itu, bagi siapa saja yang mengalami nasib sakit gigi yang rumit seperti saya, dimana tidak bisa diatasi oleh sembarang dokter gigi, sebaiknya menempuh langkah kedua yang saya lewati, mengambil rujukan dari RSUD setempat untuk dibawa ke Pusat Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut Makassar. Cukup bawa Askes atau Jamkesmas, maka Anda akan dilayani dengan cekatan dan gratis, tanpa harus keluar uang sepeser pun. Di sanalah tangan-tangan terampil akan mencongkel keluar gigi borok Anda dengan cakap dan ahli.

Ada pun RS Internasional Awal Bross, khusus masalah borok gigi yang rumit, maka jangan sekali-kali ikuti saran dokternya, karena bisa saja menjadi awal dari pemborosan! 

Ilham Kadir, Pemegang Kartu Askes / Kandidat Doktor UIKA Bogor

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena