Keutamaan Memelihara Jenggot

Tanggapan atas tulisan Mamhmud Suyuti dalam harian Tribun Timur, Jumat 29 Agustus 2014 dengan judul "Jenggot Bukan Sunnah Rasul". Ini adalah tanggapan sekaligus bantahan kedua, setelah saya menulis artikel berjudul "Jenggot Tetap Sunnah Rasul", yang sudah masuk di bilik redaksi Tribun Timur.

Artikel di bawah ini semuanya bersumber dari KH. Muhammad Yusran Ansar, Lc., M.A., ulama muda dalam bidang hadis, menjabat sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA) Makassar, selain sebagai pengurus DPP Wahdah Islamiyah dan Dewan Fatwa Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia perwakilan Sulawesi Selatan.

Latar belakang keilmuan hadisnya tak perlu diragukan lagi, selain sebagai alumni Fakultas Hadis Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia yang terkenal kaya akan khazanah hadisnya, juga alumni magister bidang hadis di Universitas Omdurman, Sudan.

Bantahan ini wujud tidak lepas dari permintaan saya agar kiranya hadis jenggot yang pernah saya kemukakan pada artikel "Membela 'Jenggot' Sunnah Rasul", Tribun Timur, 22 Agustus 2014, mohon ditakhrij hadisnya, yang kata Mahmud Suyuti tidak lengkap, hanya sepotong, dan cuma matannya.

Bahkan, si penanggap, jujur menyebut saya sebagai bukan ahli hadis. Sebuah profesi yang tidak mungkin rasanya saya capai, jangankan hadis, ilmu-ilmu lainnya pun, saya tidak ahli. Saya adalah tipe penulis yang 'knowing something about everything not everything about something'. Serba tau, tetapi tidak mendetail, bukan mengetahui satu perkara dengan sedetail mungkin.

Mungkin, ini adalah imbas dari latar belakang pendidikan saya yang tidak konsisten. Pernah kuliah, di enam perguruan tinggi dengan beda jurusan, mulai dari Tarbiyah, Syariah, Tafsir, Dakwah, hingga pemikiran pendidikan.

Karena itu, tanggapan KH. Muhammad Yusran Ansar. L.c., M.A., terkait hadis jenggot yang dipermasalahkan Mahmud Suyuti, yang menyebut dirinya sebagai pakar hadis dan kaya akan perbendaharan hadis, dan memang menjabat sebagai Ketua Laboratorium Hadis UIM Makassar, akan saya paparkan secara utuh dan sedikit perbaikan dari saya.

***

Mahmud Sayuti menulis, “...Matan hadis yang dikutipnya tidak lengkap ...Matan hadis tentang itu berdasarkan hasil takhrij...

Tanggapan :  Beliau keliru dalam menggabungkan antara beberapa hadis tentang jenggot dan menyangka semua hadis tentang ini kaitannya dengan perintah untuk berbeda dengan Majusi.

Dalil yang disebutkan Ilham Kadir sudah tepat dan lanjutan hadisnya tidak ada sama sekali menyinggung persoalan berbeda dengan Majusi. Ini matan lengkapnya sesuai yang diriwayatkan oleh imam Muslim,

"Ada sepuluh hal yang merupakan bagian dari fitrah : Memotong kumis, memelihara jenggot, siwak, menghirup air ke hidung, memotong kuku, membasuh ruas jari, mencabut bulu ketiak, mencukur rambut di sekitar kemaluan, istinja’. Zakariyya (salah seorang perowi hadits ini) berkata bahwa Mushab (Ibn Syaibah salah seorang perowi hadits ini) berkata : Saya lupa yang kesepuluh namun mungkin berkumur-kumur.”

Dalam hadis di atas disebutkan bahwa memelihara jenggot terrmasuk bagian dari fitrah dan tidak dikaitkan sama sekali dengan menyelisihi orang Majusi. Imam Nawawi rahimahullah dalam kitabnya "al-Minhaj" ketika mensyarah hadis ini menyebutkan ada beberapa makna dari kata fitrah dalam hadis tersebut antaranya: Sunnah, kebiasaan para Nabi alaihim as salam dan ad-dien itu sendiri. Kesimpulan dari hadis tersebut bahwa jenggot adalah bagian dari sunnah yang juga merupakan kebiasaan para Nabi dan Rasul serta jenggot adalah bagian dari dien itu sendiri bukan sekadar adat kebiasaan.

Mahmud Suyuti menulis, “Bahkan sebagian besar diantara kita tidak bisa tumbuh jenggotnya padahal agamawan”.

Tanggapan : Hadis tentang memelihara jenggot menggunakan kata “I’faau al lihyah” yang artinya membiarkan jenggot tumbuh secara natural sebagaimana yang dijelaskan imam Nawawi dan Ibnu Daqiq al-Ied. Dengan demikian difahami bahwa yang dituntut bagi kita adalah jika jenggot tumbuh maka dibiarkan jangan dicabut atau dicukur dan tidak ada perintah untuk memaksakan menumbuhkan jenggot dengan obat atau cara-cara tertentu karena kaidah yang diperpegangi dalam hal ini adalah firman Allah, “Fattaqullaaha mastatha’tum”. Bertakwalah semampumu, (QS. 64: 16) dan “Laa yukallifullohu nafsan illa wus’ahaa” (Allah tidak membebani seorang hamba melainkan sesuai kesanggupannya, (QS. 2: 286). Oleh karena itu tidak mungkin bagi kita menyalahkan serta menganggap dosa seseorang yang tidak berjenggot hanya dikarenakan jenggotnya memang tidak bisa tumbuh sama sekali.

Mahmud Suyuti, “Kembali pada definisi hadis, adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan  Nabi saw. Jenggot tidak masuk dalam definisi tsb , tetapi masuk pada ciri khas fisik Nabi dan ciri ini tidak mengikat pada semua umat Islam”.

Tanggapan : Setidaknya ada dua hal yang perlu dikritisi di sini :

Pertama, “Jenggot tidak masuk dalam definisi ini”. Apa yang beliau katakan tidak tepat bahkan memelihara jenggot masuk ke dalam definisi hadis yang disebutkan di atas karena perintah memelihara jenggot lewat sabda (perkataan) Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam yang banyak, seperti, “Inhakuu asy-syawarib wa a’fuu al-lihaa” dan “ahfuu asy-syawaarib wa a’fuu al-lihaa”, (HR. Muslim. No.623).

Memelihara jenggot juga merupakan perbuatan beliau dan itu bisa dipahami dari perkataan Jabir bin Samuroh radhiyallohu anhu yang diriwayatkan oleh imam Muslim bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki jenggot yang lebat dan tambahan dari Aisyah radhiyallohu anha, sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam Tirmidzi bahwa jenggot beliau memenuhi dadanya.

Memelihara jenggot juga termasuk persetujuan beliau, karena paling tidak beliau telah mendiamkan para sahabatnya yang memiliki jenggot panjang dan lebat seperti Abu Bakar, Usman, Ali bin Abi Tholib dan yang lainnya.

Kedua : Pernyataan, “...tetapi masuk pada ciri khas fisik Nabi...”. Dalam  kitab mushtholah hadits kontemporer lagi muktabar tersebut bahwa, ciri khas fisik Nabi juga masuk dalam definisi hadis, sebagai contoh, kitab, "As Sunnah wa Makanatuha fit Tasyri’ al Islami", oleh Dr. Mushtafa as Siba’iy; "Qawaid at Tahdits oleh Syekh Jamaluddin al Qasimi" dan kitab "Taysir Mushthaalah al Hadits" oleh Dr. Mahmuud ath Thohhan, dan banyak lagi.

Mahmud Suyuti, “Sama halnya  denggan perintah menikahi empat  orang (QS. Al Nisa/4:3) bukan kewajiban bagi semua kaum laki-laki sehingga perintah tersebut tidak bisa mengikat pada semua ummat Islam”.

Tanggapan : Qiyas atau analogi yang beliau lakukan tidak tepat karena dalam persoalan ta’addud (poligami) Allah sendiri menegaskan dalam ayat di atas bahwa jika kalian takut atau khawatir tidak mampu adil maka cukup satu saja. Jadi jelas, bahwa memang perintah menikahi empat tidak mutlak dan mengikat berbeda dengan perintah jenggot yang tidak disebutkan dalam satu dalil pun bahwa jika engkau malu atau tidak suka umpamanya, maka tidak usah kamu memelihara jenggot.

Mahmud Suyuti, “Konteks kekinian, hal tersebut dianggap tidak relevan dengan melihat banyak pula ummat non-muslim yang memanjangkan jenggotnya”.

Tanggapan : Ada dua catatan atas pernyataan di atas. Pertama, Benar bahwa non muslim ada juga memanjangkan jenggot namun itu tidak banyak dan yang dijadikan ciri. Kaidah dalam menetapkan standar hukum adalah yang kebanyakannya bukan yang sedikit (al ‘ibrah bil gholib wan naadir laa hukma lahu). Karena itu tidak salah jika kita mengatakan bahwa kaum Yahudi adalah kaum pengkhianat dan pengecut walaupun dalam kenyataannya ada saja diantara orang Yahudi yang tidak pengkhianat dan tidak pengecut. Maka, sangat keliru jika kita mengatakan bahwa dalam konteks kekinian sudah tidak relevan jika dikatakan kaum Yahudi pengkhianat dan pengecut hanya dengan alasan keberadaan sebagian kecil diantara mereka yang jujur dan pemberani.

Kedua, non muslim yangg memelihara jengot ada dua kemungkinan: entah alasan duniawi yaitu hanya sekadar trend atau modis, maka ini tidak bermanfaat sama sekali, atau mungkin karena alasan agama dimana mereka memelihara keaslian agama mereka yang mereka warisi dari Nabi Ibrahim alaihi as salam karena pada hakikatnya seluruh Nabi dan Rasul dahulu berjenggot sebagaimana non muslim berkhitan karena masih konsisten mengikuti ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim a.s.

Keutamaan Memelihara Jenggot

Ada beberapa keutamaan dalam memelihara jenggot, dan penting untuk diketahui, antara lain: (1) Termasuk fitrah; (2) Menyelisihi non muslim; (3) Mengikuti sunnah Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam dan para Nabi sebelum beliau; (4) Mencukur jenggot termasuk dalam pelarangan merubah ciptaan Allah, (lihat QS. 3: 119). At Tahanuwi dalam tafsir beliau yang berjudul "Bayan al Quran" menyebutkan bahwa mencukur jenggot termasuk merubah ciptaan Allah; (5) Mencukur jenggot terjatuh pada larangan menyerupai lawan jenis. Aisyah r.a., pernah berkata, “Subhanallah yang memperindah wajah kaum lelaki dengan jenggot”. juga, Syaikh Albani rahimahullah ahli hadis di abad ini menegaskan bahwa mencukur jenggot menjatuhkan seseorang kepada tasyabbuh (menyerupai lawan jenis). Sedangkan Imam Nawawi dalam kitabnya "al-Minhaj" juga menegaskan, “Jika seorang wanita tumbuh jenggotnya maka wajib atasnya mencukurnya”.

Demikian pula sangat banyak penjelasan Ulama Besar yang menjelaskan bahwa jenggot adalah bagian dari sunnah dan syariat Islam, namun dalam kesempatan terbatas ini kami kutipkan sebagian kecil dari perkatan mereka, di antaranya: (1) Imam Ibnu Abdil Barr (wafat tahun 463 H) dalam kitab "At Tamhid" menyatakan, “Diharamkan mencukur jenggot dan tidak ada yang melakukannya kecuali kaum banci”; (2) Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya "Maratibul ijma’" mengatakan, “Mereka (para  ulama) sepakat bahwa mencukur jenggot termasuk mutslah (memotong bagian tubuh) yang tidak dibolehkan”; (3) Imam Al Qurthubi  dalam kitab beliau "Al-Mufhim" yang mensyarah hadis-hadis Shohih Muslim menyatakan, “Tidak boleh mencukur jenggot, mencabutnya dan memotong banyak dari jenggot”. Sekadar mengingatkan ketiga ulama besar di atas berasal dari Andalus (Spanyol) namun demikian tidak seorang pun di antara mereka yang mengatakan bahwa Jenggot terkhusus untuk orang Arab; (4) Imam Al Iraqy dalam kitab beliau "Tharhu at Tatsrib" mengatakan, ”Jumhur ulama berdalilkann dengan hadis-hadis tersebut bahwa sebaiknya jenggot dibiarkan sebagaimana dia tumbuh dan tidak dipotong sedikitpun, dan ini adalah pendapat imam Syafi'i dan madzhabnya”; (5) Syekh Ali Mahfuzh, salah seorang ulama besar Al Azhar dalam kitab beliau "Al Ibda’ fii Madhaar al Ibtida’" menyatakan, “Sepakat keempat madzhab tentang kewajiban memelihara jenggot dan haramnya mencukur”.

***

Karena itu, pendapat Mahmud Suyuti bahwa jenggot bukan sunnah Rasul, jika bersandar dan merujuk pada nash hadis, atau pandangan para ulama muktabar, terbantahkan. Yang tepat, bagi yang dikaruniai tumbuh jenggot, maka sebaiknya dirawat. Jika punya alasan, satu dan lain hal, maka tidak boleh melakukan ijtihad batil dan mengatakan bahwa itu bukan sunnah.

Seorang muslim lebih baik berterus terang tentang kekurangannya dalam menjalankan sunnah Rasul seraya bermuhasabah, dan terus berupaya, daripada mengeluarkan pernyataan yang menyesatkan seperti Mahmud Suyuti, bahwa Jenggot bukan sunnah Rasul. Wallahu a'lam.

Ilham Kadir (e.d), Peneliti MIUMI Sulsel / Calon Doktor UIKA Bogor

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an